Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Canda Di Siang Hari


__ADS_3

"Kak Sean." Tini memanggil Sean yang fokus melihat ponselnya. Sean menoleh dan menggerakkan kepalanya ke Tini.


"Boleh nanya?" tanya Tini lagi. Matanya memandang Sean tidak berkedip.


"Mau nanya apa?, mau nanya kamar mandi?. Tuh di sana!" jawab Sean sambil menunjuk kamar mandi dekat dapur.


"Kalau itu aku tahu," jawab Tini sewot. Sean masih menunduk melihat ponselnya. Wajahnya mengulum senyum karena berhasil membuat Tini sewot.


"Iya tanya saja, selagi bisa kakak jawab pasti dijawab," kata Sean akhirnya. Sekilas Sean menatap Tini yang bertopang dagu di hadapannya.


"Perasaan kakak ke Sinta itu, gimana sih kak?. Sepertinya gerakan kakak lambat deh. Kalau ada yang menikung gimana?" tanya Tini lagi.


"Kalau jodoh tidak akan kemana Tini, aku tidak mau Sinta tidak nyaman dengan aku hanya karena aku terburu buru," jawab Sean pelan. Dia melihat ke arah kamar Sinta yang tertutup. Tini mengangguk sambil menjentikkan jarinya ke meja.


"Yee, keburu tua baru tahu,"


"Makin tua kan makin hot," jawab Sean masih bercanda. Tini memutar matanya malas.


"Menurut kakak, Sinta itu ada perasaan tidak sama kakak?" tanya Tini sambil menatap wajah Sean.


"Kok tanya ke aku, tanya ke orangnya donk," jawab Sean santai.


"Tuh orangnya, tanya saja langsung," kata Sean lagi melihat Sinta keluar dari kamar. Tini menoleh ke belakangnya. Nampak olehnya Sinta yang menutup pintu kamar.


"Mau tanya apa Tini?" tanya Sinta. Dia sudah duduk dekat Tini.


"Kamu masih mau gak balikan sama pak Andre?" tanya Tini. Sean mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Tini. Jelas tadi bukan itu yang ingin ditanyakan Tini. Sinta hanya terdiam.


"Ya udah kalau tidak mau jawab. Mungkin masih pertimbangan untuk rujuk dengan mantan," kata Tini menggoda Sinta. Sinta melotot ke Tini. Sean melihat kedua sahabat itu. Tapi matanya lebih lama memandang wajah Sinta. Tanpa disadari wajah Sean tersenyum melihat Sinta yang melotot. Baginya Sinta semakin cantik dan menggemaskan ketika melotot ke Tini.


"Ingat kedip kak," kata Tini mengibaskan tangannya ke wajah Sean. Sean tergagap dan akhirnya terkekeh.


"Kak Sean tumben, agak siang gini mampir. Biasa juga pagi atau sore," kata Sinta.


"Kerjaan kakak tidak terlalu banyak hari ini, jadi bisa pulang cepat. Rindu baby Airia tapi ternyata malah tidur," jawab Sean. Sudah hampir satu jam dia di rumah Sinta. Tapi bayi cantik itu terlalu anteng bobok siang.


"Rindu baby Airia atau bundanya. Atau malah rindu Tini," kata Tini sambil mengedipkan matanya. Sinta tertawa mendengar perkataan sahabat nya.


"Rindu Tini sajalah, biar hati kamu senang," jawab Sean lagi. Dia juga mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum ke Tini. Bersama gadis tomboi itu sisi lain dari Sean muncul. Terbiasa serius tapi kalau bersama Tini. Sean bisa bercanda.


"Oh kak Sean ku yang ganteng sejagat raya. Hatiku berdetak kencang. Hatiku berbunga," kata Tini bercanda. Sean dan Sinta sampai tertawa terbahak-bahak.


"Itu apa?" tanya Sean melihat tiga bungkusan plastik hitam di kamar tamu. Sean bisa melihat ke situ karena kebetulan pintu kamar tamu terbuka.


"Itu pakaian kak, aku sama Tini akan berjualan online,"


"Bagus donk," kata Sean sambil mengacungkan kedua jempolnya ke Sinta dan ke Tini.


Sinta akhirnya memutuskan berjualan online daripada harus kerja. Tini yang sudah hampir satu Minggu menginap di rumah Sinta. Selalu memberi Sinta penjelasan tentang pengaruh. bayi yang sering ditinggal ibunya. Walaupun itu ditinggal untuk kerja.


Saran Tini sangat masuk akal baginya. Selain berjualan online dari rumah, dia juga bisa sambil menjaga bayinya.

__ADS_1


"Kapan mulai?" tanya Sean lagi.


"Mulai besok kak,"


"Kenapa tidak mulai sekarang saja." Sinta dan Tini saling berpandangan. Mereka sepertinya satu ide dan keduanya hampir bersamaan tersenyum. Tini beranjak duduk dari duduknya. Menarik tangan Sean dan Sean bingung.


"Ayo!, bantuin. Tadi nyaranin sekarang kan. Jadi harus tanggung jawab," kata Tini lagi. Sean berdiri dan mengikuti Tini masuk ke kamar tamu. Kamar tamu sudah di kosongkan kini yang ada di dalam hanya lemari plastik dan tiga bungkusan plastik hitam.


Sean dan Tini membuka tiga kantong plastik hitam tersebut dan mengeluarkan isinya. Mengelompokkan pakaian itu sesuai ukuran dan warna sedangkan Sinta terlihat menyiapkan tripod pulpen dan buku.


"Kantong plastik dan timbangan mana?" tanya Tini. Sinta berlari kecil keluar kamar untuk mengambil yang disebutkan Tini tadi.


"Siapa yang akan cuap cuap?" tanya Sean.


"Tini kak,"


"Kamu saja Sinta, wajahku kurang enak dipandang. Gak lihat jerawat sebesar jagung ini?" kata Tini sambil menunjukan jerawat yang di hidungnya.


"Untung nyadar," jawab Sean sambil terkekeh. Tini memukul badan Sean dengan pakaian yang dipegangnya.


"Awas nanti kalau sudah budak cinta ya!"


"Budak cinta sama siapa?" tanya Sean. Sean merasa geli dengan perkataan Tini.


"Budak cinta sama kamu." Sean menunjuk Tini. Tini mengibaskan rambutnya.


"Mimpi kali yee," kata Sean lagi membuat Sinta dan Sean tertawa. Tini menjulurkan lidahnya ke Sean. Sean menjewer telinga Tini.


"Ayo tin, sudah bisa dimulai. Aku bagian tulis tulisnya saja. Bagian kamu yang cuap cuap. Dari awal kan begitu perjanjian kita," kata Sinta sambil membuka ponselnya dan meletakkan di tripod. Tini tidak bisa berbuat apa selain menurut karena memang begitu dari awal perjanjian mereka.


Tini bersiap di depan kamera. Dia sudah mulai cuap cuap dan memegang bungkusan kain. Sesekali nampak dia tersenyum ke kamar kemudian senyum itu meredup. Dengan kesal dia mematikan siaran langsung di ponsel yang ada di tripod.


"Kenapa di matikan?" tanya Sean yang dari tadi sedikit berdebar menunggu pembeli pertama.


"Itu kak, baru saja tambah penonton, tapi langsung cepat menghilang," kata Tini kesal.


"Kamu juga tidak ada lembutnya ngomong,"


"Kurang lembut apa lagi kak?, mungkin karena jerawat aku ini."


"Sinta, coba kamu. Mumpung aku di sini. Kalau baby Airia bangun. Biar aku yang jagain." Sinta kembali menghidupkan siaran langsung di ponselnya. Sinta bersiap untuk cuap cuap. Awalnya Sinta grogi tetapi lama kelamaan Sinta terlihat santai.


Pembeli pertama membuat ketiga orang itu tersenyum. Dengan cekatan Tini menuliskan nama dan nomor ponsel pembeli. Hingga pembeli kesekian, tidak ada satu pun terlewat dari catatan Tini.


Setelah lebih satu jam, Sinta menyudahi siaran langsung. Dia tidak tega melihat baby Airia yang rewel di tangan Sean. Kalau dilihat dari semangatnya Sinta belum ingin menyudahi siaran langsung tersebut.


Sinta dan Tini tersenyum puas melihat tumpukan pakaian pesanan pembeli. Hampir satu plastik besar. Setelah mematikan siaran langsung di ponselnya, Sinta mengambil baby Airia dari tangan Sean.


"Sukses buat kalian berdua!" kata Sean memberi semangat ke Sinta dan Tini. Keduanya tersenyum.


"Terima kasih kak Sean," kata Tini dan Sinta hampir bersamaan. Sean menarik bangku plastik ke kamar utama yang berganti jadi tempat berjualan online Tini dan Sinta. Menyuruh Sinta duduk dengan bayinya. Sedangkan Tini dan Sean mulai merekap barang barang yang sudah dipesan tadi.

__ADS_1


"Sinta, apa Andre pernah kemari?" tanya Sean. Tangannya sibuk merapikan kemasan.


"Pernah kak, seminggu yang lalu,"


"Hanya datang saja?"


"Maksud kakak,"


"Aku mengenal Andre cukup lama Sinta. Sebenarnya dia orang baik. Aku pun terkejut ketika mengetahui status kalian. Kalau boleh kakak kasih saran, jangan jauhkan Andre dengan Airia. Airia berhak mendapat kasih sayang ayahnya walau status kalian sudah mantan. Dan aku yakin Andre sangat menyayangi baby Airia,"


"Kakak tidak tahu bagaimana sakitnya ketika dia mencampakkan aku kak,"


"Apa kamu masih mencintainya?"


"Pertanyaan apa itu kak, aku berbicara tentang sakit hati tapi kakak bertanya yang lain."


"Biasanya sakit hati itu ada, karena ada cinta," jawab Sean. Pandangannya beralih ke Sinta. Sinta memilih tidak menjawab pertanyaan Sean. Sinta memainkan jari baby Airia untuk menghindari pertanyaan Sean. Jauh di lubuk hati Sean, Dia berharap jawaban Sinta sesuai dengan yang diharapkannya. Yaitu tidak mencintai Andre. Dengan diamnya Sinta, Sean tidak bisa menyimpulkan perasaan Sinta ke Andre. Sean hanya menarik nafas panjang.


"Kenapa kak?, kakak berharap jawaban Sinta tidak mencintai pak Andre lagi. Begitu?" tanya Tini enteng. Tangannya masih menari di atas ponsel chat dengan pembeli. Sinta menoleh ke Sean. Dengan jengkel, Sean memukul tangan Tini dengan pakaian yang dipegangnya. Tini terkekeh.


"Mungkin, dia masih cinta mati sama mantan suaminya kak. Pak Andre ganteng, mapan dan modis. Siapa yang tidak mau dengan dia?. Di kampus saja banyak yang tergila gila kepada pak Andre," kata Tini lagi. Sean menatap wajah Sinta ingin melihat ekspresi wajah Sinta ketika Tini memuji Andre. Tetapi tetap saja wajah Sinta terlihat biasa.


"Sok tahu kamu Tini," kata Sinta jengkel.


"Kalau tidak cinta apa namanya?, harusnya kamu move on donk Sinta, kalau tidak cinta lagi , buka hati untuk yang lain. Nih, kakak Sean siap mengisi hati dan hari hari mu." Tini menunjuk Sean yang duduk dekatnya. Sean melotot ke Tini. Tini tidak perduli.


"Yang lain saja kita bahas," kata Sinta akhirnya. Dia merasa tidak enak hati ke Sean dengan semua perkataan Tini barusan.


"Kak Sean, sepertinya Sinta memang masih mau rujuk dengan pak Andre. Kak Sean, sama aku saja ya. Aku siap menghias hatimu dengan cintaku," kata Tini sambil menatap Sean. Suaranya dibuat mendayu Dayu. Sean yang tahu bahwa Tini menjahilinya kembali memukul tangan Tini dengan pakaian.


"Bersama kamu, sama saja jeruk makan jeruk," balas Sean. Sinta tertawa sedangkan Tini cemberut.


"Jeruk makan jeruk apa maksud kak Sean?. Kak Sean buta ya!. Gak lihat di tubuh Tini ada dua gundukan," gerutu Tini. Sinta dan Sean kembali tertawa.


"Makanya sifat tomboi itu dikurangi," kata Sinta. Tini memonyongkan bibirnya.


"Pas itu Tini, jadi wanita itu jangan terlalu barbar," kata Sean. Tini menatap Sean sebentar.


"Baiklah demi kak Sean aku akan berubah dari Spiderman menjadi Catwoman," canda Tini. Tangannya dibuat seperti mau mencakar sesuatu.


"Makin parah," gumam Sinta. Tini menjulurkan lidahnya ke Sinta.


"Kak, relakan saja Sinta rujuk dengan pak Andre. Percayalah selain baby Airia akan ada yang mau bersedia memanggil kakak dengan Daddy." Sinta memutar matanya malas ketika Tini kembali membahas dirinya dan Andre.


"Maksudmu apa Tini?" tanya Sean heran dan penasaran atas perkataan Tini.


"Kelak anak anak kita yang akan memanggil kak Sean daddy," kata Tini sambil berdiri. Setelah dia selesai mengucapkan perkataannya Tini berlari ke luar kamar.


"Kabur..."


Sinta dan Sean hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Tini. Mereka tidak tahu bahwa di kamar mandi. Gadis tomboi itu memegang dadanya yang berdebar sangat kencang. Bercanda bersama Sean hanya untuk menutupi kegugupannya ketika berdekatan dengan Sean.

__ADS_1


__ADS_2