
Pagi hari menjelang siang di rumah keluarga papa Rahmat. Semua anggota keluarga itu berkumpul. Tidak kurang satupun. Semua lengkap dengan formasi keluarga masing masing. Karena perayaan ulangtahun papa Rahmat tadi malam. Bayu, Andi, Andre dan masing masing anak istrinya menginap di rumah papa Rahmat. Tentu saja pasangan tua itu merasa senang.
Biasanya hanya ditemani Agnes. Kini rumah itu ramai dengan hadirnya ketiga cucu mereka. Apalagi Airia yang sudah pintar berceloteh, membuat pasangan tua semakin berbahagia. Kenzo dan Rey juga sangat menyayangi Airia. Kedua sepupu Airia itu tidak bisa mendengar Airia menangis. Mereka berdua pasti berusaha membujuk Airia supaya diam. Papa Rahmat dan Mama Ningsih sangat senang melihat tiga cucunya itu saling menyayangi.
Bukan hanya kakek dan neneknya yang senang melihat Kenzo dan Rey menyayangi Airia. Bayu dan Andi juga sangat senang. Bahkan kedua kakaknya beradik itu mengajari anaknya masing masing untuk selalu menjaga dan melindungi Airia sampai mereka besar nanti.
"Rey, ambilkan cake!. Adik Airia juga mau," kata Kenzo kepada Rey yang mau mengambil cake pisang di meja sofa. Kenzo menyuapkan cake ke mulut Airia dan bayi itu mau dan terlihat sangat suka dengan cake itu.
"Iya bang, tapi tinggal sedikit lagi. Ini untuk aku saja ya," kata Rey. Dia menunjukkan cake yang tinggal sepotong. Tapi karena Airia mengulurkan tangannya. Akhirnya Rey membagi cake itu separuh untuk Airia. Semua yang ada disitu tersenyum melihat perlakuan manis Rey ke Airia.
"Sudah habis?, padahal Abang masih mau," kata Kenzo kecewa. Dia sudah terbiasa memakan cake pisang tapi cake pisang yang ini rasanya berbeda bagi Kenzo. Bella yang tadi bermain ponsel spontan melirik ke meja. Dia juga kecewa. Karena dari tadi dia sibuk membalas chat dari karyawannya sehingga tidak sempat untuk mengambil cake itu.
"Samalah bang Kenzo. Tante juga mau. Tapi sudah keburu habis. Kelihatannya tadi enak ya," kata Bella juga kecewa.
"Beli dimana tadi ini?. Aku mau membeli untuk istriku. Aku tidak mau calon anakku ileran gara gara cake itu," tanya Andi. Semua langsung menatap Bella. Bella tersipu. Dia ingin memberitahukan kehamilannya nanti. Tapi suaminya sudah keceplosan.
"Bella hamil?" tanya mama Ningsih senang. Bella mengangguk.
"Wah, tahun ini berarti papa dan mama dapat dua cucu sekaligus donk, Maya juga hamil sudah dua bulan," kata Bayu lagi. Membuat mama Ningsih dan papa Rahmat senang. Mama Ningsih beranjak dari duduknya. Dia mendekati Bella dan memeluknya. Begitu juga ke Maya. Mama Ningsih melakukan hal yang sama. Sinta dan Andre mengucapkan selamat kepada kedua kakak dan kakak ipar mereka
"Loh, kok ikutan aku dipeluk ma?" tanya Sinta heran. Dia tidak hamil tapi mama Ningsih melakukan hal yang sama kepada Sinta.
"Biar kamu juga ikutan hamil," jawab mama Ningsih santai. Mendengar itu. Bayu dan Andi mendukung ucapan mamanya.
"Ayo Andre, semangat menggarap sawahnya," kata Andi tersenyum jahil ke Andre. Andre menatap Andi dengan tajam. Dia takut, Andi menceritakan kejadian semalam.
"Hajar terus bro," kata Bayu sambil menyenggol lengan Andre yang duduk di sampingnya. Sinta yang merasa malu karena tidak langsung bahwa dia adalah topik pembicaraan akhirnya pergi ke dapur. Sinta mengambil cake pisang. Dan membawanya ke ruang keluarga.
"Siapa yang buat ini Sinta?" tanya Bella dengan mata berbinar.
"Aku mbak, silahkan dicoba mbak, semoga suka," kata Bella sambil meletakkan cake tersebut di meja. Kenzo juga langsung mendekat dan mengambil beberapa potong kue tersebut.
"Kalau begini enaknya. Sudah bisa buka toko Sinta," kata papa Rahmat memuji Sinta. Sinta tersipu. Dia tidak berani menjawab perkataan mertuanya. Kalau Sinta mengiyakan, sudah pasti papa Rahmat mau membantu Sinta untuk membuka toko kue. Jauh di lubuk hatinya dia juga ingin mempunyai usaha berupa toko kue.
Pembicaraan itu terhenti ketika ponsel Andre berdering. Andre melihat ponselnya kemudian menghela nafas panjang. Andre kembali meletakkan ponsel itu di meja. Tetapi lagi lagi ponsel itu kembali berdering.
__ADS_1
"Angkat saja, mana tahu penting," saran Bayu. sambil menikmati cake buatan Sinta.
"Malas kak, entah mau apa lagi dia menghubungi aku," jawab Andre kesal. Andi yang mendengar perkataan Andre spontan mengambil ponsel Andre dan melihat siapa yang menelepon.
"Angkat tetapi harus di sini. Aktifkan speakernya. Kita akan mendengar apa kemauan iblis betina itu?" kata Andre kemudian menekan tombol hijau di ponsel Andre kemudian memberikan ponsel itu ke Andre.
"Ya tidak bisa Cindy. Kamu bisa pulang sendiri. Kenapa harus minta tolong kepada aku. Aku tidak bisa lagi kamu tipu," kata Andre setelah mendengar permintaan Cindy untuk dijemput ke panti penampungan sosial.
"Intinya aku tidak bisa, aku akan menghubungi om Dion untuk menjemput kamu," jawab Andre kemudian memutuskan panggilannya.
"Akhirnya kena batunya dia," kata Andi senang.
"Maksud kamu?" tanya Bayu penasaran. Selain Andi mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya kepada Cindy.
"Tempat yang dimaksudkan dia tadi itulah adalah tempat penampungan sosial. Termasuk Cindy. Dia kembali ke pekerjaannya dan terkena razia. Cindy adalah wanita malam," kata Andi menjelaskan. Semua yang ada di ruangan itu terkejut. Mama Ningsih sampai lemas mendengar perkataan Andi.
"Andre, apa maksud semua ini. Apa kamu sudah mengetahui profesi Cindy sebelumnya?" tanya papa Rahmat marah. Dia tidak menyangka bahwa mantan menantunya adalah wanita malam. Andre menggelengkan kepala. Dia merasa malu pernah menjadi suami Cindy.
Sedangkan mama Ningsih masih shock. Dia bahkan membayangkan yang tidak tidak. Mendengar Cindy adalah wanita malam. Dia membayangkan penyakit yang diakibatkan oleh hubungan bebas seperti itu.
"Untung mereka sudah bercerai," kata Bayu. Tetapi hal itu tidak membuat mama Ningsih lega.
"Sudah papa, tidak ada masalah dengan kesehatan aku," jawab Andre membuat mama Ningsih lega.
"Terima kasih Sinta, walau alasan pernikahan kamu dengan Andre bukan karena cinta. Tapi aku yakin, kamu adalah wanita yang dikirimkan Tuhan untuk membebaskan Andre dari Cindy," kata mama Ningsih lembut. Sinta hanya tersenyum.
"Sayang, aku juga mau cake nya," kata Andre kepada Sinta. Sinta mengambilkan Andre cake dan memberinya ke Andre.
"Sayang, sayang tapi aku tidak melihat ada makna dari panggilan kamu itu kak, ganti saja," kata Agnes sinis. Dia tidak suka Andre memanggil Sinta dengan sayang tetapi belum menaruh rasa untuk kakak iparnya itu.
"Kamu kan biasanya sok tahu. Cari pacar sana biar ada yang memanggil kamu dengan sebutan sayang," jawab Andre juga tak kalah sinis. Dia takut perkataan Agnes mempengaruhi Sinta. Andre melirik Sinta. Wanita itu pura pura sibuk dengan Airia, Kenzo dan Rey.
Cukup lama mereka bersantai di ruang keluarga itu. Waktu yang terbatas membuat papa Rahmat memanfaatkan momen ulang tahunnya untuk berkumpul dengan anak, mantu dan cucu.
Hingga satu pesan membuat wajah papa Rahmat berubah sedih.
__ADS_1
"Dion meninggal," kata papa Rahmat sedih. Dia memberikan ponsel itu ke Bayu. Bayu membaca pesan itu. Mama Ningsih yang mendengar itu langsung menghubungi Ratih lewat ponselnya. Bagaimana pun kelakuan Cindy, tapi Dion dan Ratih tetap saja masih sahabat mereka. Mereka tahu bagaimana Dion dan Ratih mendidik Cindy. Memang dasar Cindy yang tidak mau mendengar nasehat orang tuanya.
Mereka semua bisa mendengar Isak tangis Ratih di seberang. Dion yang sempat dibawa ke rumah sakit tidak bisa diselamatkan karena serangan jantung setelah mendengar Cindy di panti penampungan sosial. Sungguh malang nasib Dion. Dia harus menghembuskan nafas terakhirnya hanya karena mendengar kelakuan buruk putri semata wayangnya.
Kabar duka itu membuat keluarga papa Rahmat bersedih. Tak terkecuali Andi. Walau dia sangat membenci kelakuan Cindy. Tetapi tidak untuk Dion dan Ratih. Andi masih menghormati mereka sebagai sahabat orangtuanya. Sinta juga demikian, walau sakit hati karena perlakuan dan fitnahan dari Cindy. Sinta juga merasakan duka.
"Kita harus memberitahu Cindy, setidaknya mengetahui papanya meninggal karena kelakuannya mana tahu bisa mengubah kelakuan buruknya," kata papa Rahmat. Papa Rahmat menyuruh Andre untuk menghubungi Cindy.
"Biar aku saja pa," kata Andi. Dia meminta ponsel papanya dan menghubungi Cindy.
"Cindy, kamu sudah tahu karena kelakuan buruk kamu, om Dion sudah meninggal setengah jam yang lalu," kata Andi tanpa basa basi. Dia juga langsung memutuskan panggilan itu. Papa Rahmat menggelengkan kepala mendengar Andi menyampaikan kabar duka dengan cara Andi itu.
"Harus kamu pakai kata kata yang tepat Andi. Bagaimana kalau Cindy juga terkena serangan jantung mendengar perkataan kamu tadi," kata Bayu.
"Biar saja kak, itu lebih bagus. Hidup juga dia, hanya memberi contoh yang tidak bagus untuk Alexa. Kalau berubah lumayan. Kalau tidak berubah bagaimana?"
"Berubah atau tidak berubah. Dia bukan urusan kita lagi. Dan kamu Andre, jangan pernah mama mendengar kamu berurusan dengan dia lagi," kata mama Ningsih tegas. Andre menganggukkan kepala. Hal itu tidak luput dari penglihatan Sinta. Dia berharap, Andre dapat mengambil hikmah dari semua kejadian yang menimpa Cindy ini.
"Kak Andi, ini yang aku takutkan mengapa aku tidak mau Cindy dijebloskan ke penjara. Dengan begini, om Dion meninggal murni karena mengetahui kelakuan buruk Cindy. Aku tidak dapat membayangkan jika kita jadi menjebloskan Cindy ke penjara dan om Dion meninggal karena itu," kata Andre datar. Wajahnya juga menunjukan rasa sedih.
"Kalau dipikir pikir. Betul juga alasan kamu Andre. Tapi baru kali ini kamu kelihatan pintar. Ke depannya makin pintar ya adik kesayangan aku," sindir Andi halus. Entah mengapa dia berkata seperti itu. Hanya Andi yang tahu.
Papa Rahmat dan Bayu pergi ke rumah sakit. Sedangkan mama Ningsih dan Andi langsung menuju kediaman Ratih. Mereka akan menunggu jenasah Dion di sana. Sedangkan Andre tidak mau ikut ke sana. Sinta juga sudah menyuruhnya. Tapi entah mengapa Andre menolak. Akhirnya mereka tidak memaksa Andre sedangkan Maya dan Bella karena hamil muda, tidak diperbolehkan mama Ningsih untuk ikut.
"Kenapa tidak mau ikut ke sana mas?" tanya Sinta setelah mereka sudah di kamar.
"Aku malas harus bertemu dengan Cindy. Biar saja mereka yang ke sana. Tante Ratih pasti maklum karena aku tidak ikut."
"Apa kamu takut cinta kamu tumbuh lagi ketika bersama Cindy?" tanya Sinta pelan.
"Apa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Andre membalikkan pertanyaan ke Sinta. Sinta menatap Andre.
"Kamu pernah mencintainya begitu dalam mas. Aku yakin tidak mudah menghapus cinta itu dari hati kamu,"
"Itu ketika aku masih buta hati dan buta mata. Tetapi mata aku sudah berfungsi dengan baik,"
__ADS_1
"Tetapi hati masih buta, gitu kan mas?" tanya Sinta sinis. Ketika mendengar Andre mengatakan matanya udah berfungsi dengan baik. Tetapi tidak menyatakan hati juga sudah berfungsi dengan baik.
"Duanya sudah berfungsi dengan baik sayang," jawab Andre sambil menatap wajah Sinta.