Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Gara Gara Mangga Muda


__ADS_3

Rasa bahagia yang sempurna ketika kita melihat orang yang kita cintai sangat bahagia. Begitu juga dengan Andre, melihat Cindy bahagia dia pun sangat bahagia. Apapun permintaan Cindy pasti dituruti Andre. Seperti halnya dengan rumah pemberian orang tua Andre, awalnya Andre menolak tapi karena saran dari Bayu dan rengekan Cindy jadilah mereka tinggal di sini.


Rumah berlantai dua yang mewah dengan pekarangan yang sangat luas. Sangat jauh beda dengan rumah Sinta pemberian Andre. Selain luas, di belakang rumah juga dilengkapi dengan taman yang penuh dengan lampu warna warni. Taman ini jadi tempat favorit Cindy.


Cindy juga melengkapi rumah dengan perabot pilihannya sendiri. Perabot dengan harga fantastis. Andre tidak mempermasalahkan harga yang penting Cindy senang dan bahagia.


Kini mereka sudah hampir satu bulan tinggal di sini. Cindy si nyonya rumah sangat bahagia. Selain suami yang perhatian dan siaga, Cindy juga dilayani oleh tiga orang asisten rumah. Kalau mau sesuatu Cindy tinggal meminta dan menyuruh.


Andre semakin mencintai Cindy, wanita itu mampu membuat Andre melupakan Sinta. Sudah hampir sebulan juga Andre tidak mengunjungi Sinta. Kepuasan yang didapatnya dari Cindy benar benar mampu melupakan Sinta. Kapan saja Andre mau, Cindy pasti melayani Andre dengan senang hati. Cindy sejak menikah memilih resign dari kantor membuat keduanya banyak waktu bersama.


Sore itu karena pekerjaan Andre tidak terlalu padat, Andre pulang cepat. Melihat istrinya tidak ada di ruang tamu, bisa dipastikan Cindy di taman.


Andre segera ke taman dan mengunci pintu yang menghubungkan rumah dengan taman. Mengedarkan pandangannya ke penjuru taman dan terlihat Cindy duduk di bangku panjang dekat pohon mangga sedang memainkan ponselnya.


"Sayang," sapa Andre dan Cindy menoleh. Andre menelan ludahnya kasar ketika melihat Cindy. Wanita hamil itu hanya memakai baju rumahan bertali satu dan di atas lutut, belum lagi cara duduknya dengan kaki sebelah menimpa kaki satunya. Membuat sesuatu yang harusnya loyo kini berdiri tegak dan meronta dari sangkarnya. Andre semakin mendekat dan duduk kemudian mengangkat tubuh Cindy dan mendudukkan Cindy di pahanya. Cindy tersenyum menggoda. Hanya menarik pakaian Cindy ke atas dan menurunkan celana Andre sedikit, kepuasan dan kenikmatan itu bisa mereka raih bersama.


Cindy terus menari di pangkuan Andre sehingga Andre merasakan sensasi yang luar biasa, begitu juga dengan Cindy. Ini pengalaman pertama mereka bercinta di alam terbuka. Keduanya kembali menormalkan nafasnya setelah percintaan itu. Cindy turun dari pangkuan Andre dan duduk di sebelahnya.


"Makasih sayang," kata Andre dan Cindy tersenyum manis.


"Jangan makasih doang mas, Tuh lihat!" jawab Cindy menunjuk mangga muda.


"Kamu mau?" tanya Andre. Cindy mengangguk.


"Tapi harus kamu yang ambil mas. Ini keinginan anakmu," kata Cindy sambil mengelus perutnya yang masih rata. Andre sebenarnya keberatan karena dia tidak pandai memanjat pohon. Tahunya cuma panjat tubuh Sinta dan tubuh Cindy. Kini istri kesayangannya meminta mangga muda dan dia harus panjat sendiri membuatnya sedikit pusing. Tidak mau melihat Cindy bersedih akhirnya Andre bersedia.

__ADS_1


"Bentar, ambil tangga dulu," kata Andre.


"Ga usah pakai tangga mas, pakai bangku itu saja. Percuma. Kamu harus naik ke atas. Kalau pakai tangga sama saja tidak bisa dijangkau" jawab Cindy. Benar kata Cindy tidak perlu pakai tangga karena buah mangga itu agak jauh di atas.


"Baiklah demi kau dan si buah hati," kata Andre sambil mengelus lembut perut Cindy. Andre menitipkan dompet dan ponselnya ke Cindy.


"Mas, aku rekam ya!. Biar anakmu tahu perjuanganmu mas mulai dia di kandungan," kata Cindy dan Andre hanya memberikan jempol dan bersiap untuk naik.


Tak sesulit yang dibayangkan, Andre berhasil naik ke pohon. Dahan demi dahan dilewati demi mangga muda yang harus diambilnya. Ponsel Andre berdering berkali kali, Cindy yang sibuk merekam Andre mengabaikannya di tambah lagi panggilan itu tanpa nama hanya nomor. Cindy berpikir itu hanya pekerjaan orang iseng.


Beberapa menit kemudian, ponsel itu kembali berdering. Cindy melihat ponsel dan nomor tanpa nama. Dengan tangan kanan yang merekam, Cindy menerima panggilan itu dengan tangan kirinya setelah terlebih dahulu meletakkan dompet Andre di bangku.


"Halo...." Tidak ada jawaban dari seberang dan kemudian panggilan terputus.


"Kurang kerjaan." Cindy mengomel yang berpikir bahwa panggilan tadi kerjaan orang iseng.


"Kerjaan orang iseng mas. Nomor tanpa nama. 081xxxxxx," jawab Cindy menyebutkan nomor ponsel yang memanggil tadi satu persatu.


Deg


Nomer ponsel yang sangat dihafal Andre. Nomor ponsel Sinta. Andre sengaja tidak menyimpan nomor Sinta. Sejak menikah dengan Cindy nomor itu dihapus karena Andre juga sudah hafal mati dengan nomor itu. Selain itu Andre berjaga jaga. Takut Sinta menghubungi ketika bersama Cindy. Dan hal itu terjadi sekarang.


"Mas, kog jadi melamun. Cepat ambil buah mangganya!" kata Cindy yang melihat Andre diam di atas sana. Andre kembali berusaha menjangkau buah mangga. Tangan kiri Andre berpegangan ke ranting dan tangan kanan berusaha menjangkau. Tinggal sedikit lagi. Tangan kiri Andre terlepas dan Andre kehilangan keseimbangannya sehingga..


Bruk.

__ADS_1


Andre terjatuh dan Cindy panik. Andre merasakan sekujur tubuhnya sakit sehingga tidak mampu untuk duduk. Seketika Cindy langsung mendekatinya dan meletakan kedua ponsel itu di samping Andre.


"Aduh mas, mana yang sakit mas. Kita ke dokter ya!" kata Cindy panik dan sedih. Cindy berusaha membantu Andre duduk. Andre yang merasa sakit masih betah berbaring di tanah.


"Panggil Kasman. Kamu tidak sanggup memapahku sendiri. Apalagi kamu hamil. aku takut terjadi apa apa sama kamu," kata Andre menyuruh Cindy memanggil Kasman. Kasman adalah orang yang bertugas merawat taman. Di saat masih sakit pun Andre masih tetap memikirkan Cindy. Cinta luar biasa.


Setelah Cindy berlalu dari taman Andre meraih ponselnya. Di tengah rasa sakitnya Andre menghubungi Sinta. Panggilan masuk dan terdengar suara Sinta.


"Halo..."


"Ada apa menghubungiku?"


"Mas, aku mau berbicara sesuatu. Bisakah kamu datang kemari?"


"Hari ini tidak bisa. Nanti kalau ada waktu aku ke sana. Jangan pernah menghubungiku terlebih dahulu. Takut istriku salah paham," kata Andre sambil menahan sakit.


"Iya mas. Aku tunggu. Tolong datanglah secepatnya!"


Andre mematikan panggilannya, setelah terlihat Cindy, Kasman dan Tuti si asisten rumah menghampirinya. Kasman dan Tuti setengah berlari dan sudah sampai di depan Andre.


"Tuan, kenapa bisa sampai begini?" tanya Tuti sambil menutup mulutnya melihat Andre berbaring pasrah di tanah. Pak Kasman dan Tuti segera memapah Andre.


"A uwuuh sakit sekali." Andre merintih. Cindy merasa bersalah karena menyuruh dan terkesan memaksa, Andre mengambil mangga muda. Dengan hati hati Pak Kasman dan Tuti tetap memapah Andre dan Cindy hanya membawa ponsel dan dompet Andre.


Andre terus merintih sepanjang jalan menuju mobilnya. Andre dibaringkan di bangku penumpang dan Cindy yang membawa mobil. Pak Kasman ikut bersama mereka. Goncangan yang diakibatkan mobil yang berjalan membuat Andre kesakitan dan merintih sepanjang jalan.

__ADS_1


"Setelah mendesah kenikmatan kini merintih kesakitan," batin Kasman yang tidak sengaja melihat adegan Andre dan Cindy di taman.


__ADS_2