
Tidak ada manusia yang tidak punya hati sekalipun itu pembunuh. Begitu juga dengan Andre, walau mulutnya menolak kehamilan Sinta, tapi jauh di lubuk hatinya Andre juga memikirkan masa depan anaknya yang dikandung Sinta.
Andre sedikit frustasi, memikirkan kehamilan Sinta. Sebagai manusia biasa, rasa bersalah itu ada. Tapi apalah artinya rasa bersalah kalau tidak ada pengakuan dan tanggung jawab. Andre sanggup memberi materi yang cukup buat Sinta dan calon anaknya. Tetapi tidak sanggup bertanggungjawab secara penuh sebagai mana seorang ayah atau suami terhadap keluarganya.
Andre mengagungkan materi yang dia punya. Andre berpikir, Sinta dan calon anaknya hanya butuh materi darinya. Dengan materi yang dia beri, Sinta pasti bisa menjalani kehidupannya seperti ibu hamil lainnya. Pemikiran yang sangat kolot berbanding terbalik dengan perlakuannya terhadap Cindy.
Setelah lama berpikir sendiri, Andre akhirnya berniat bernegosiasi dengan Sinta. Karena perkuliahan belum aktif, siang hari Andre sudah keluar dari kampus.
Andre mengendarai mobilnya dengan cepat, entah kenapa dia ingin cepat bertemu dengan Sinta. Andre yakin Sinta pasti di rumah.
Dengan kunci yang dia punya, Andre membuka gerbang rumah dan memasukkan mobilnya. Melihat motor Sinta yang tidak ada di samping rumah, Andre meyakini bahwa Sinta belum pulang dari kampus. Andre memutuskan untuk menunggu Sinta.
Andre masuk ke kamar Sinta. Kamar yang menjadi saksi bisu percintaannya dengan Sinta. Di kamar ini, Andre pertama kali merasakan nikmatnya bercinta. Kamar pengantin tanpa taburan bunga yang indah. Andre masih bisa mengingat, ketika Sinta menangis merasakan sakit ketika Andre berhasil membobol keperawanannya.
Andre mengedarkan pandangannya ke seluruh penjara kamar. Bukan hanya bercinta, di kamar ini juga mereka biasa bercanda. Hingga kadang mereka sampai tertawa lepas.
Andre merasakan hatinya berdenyut, ketika dia mengingat perlakuannya yang kasar terhadap Sinta. Kala itu Andre bisa dikatakan memperkosa Sinta hanya karena Sinta meminta Andre untuk membuka hatinya untuk Sinta.
__ADS_1
Tidak ingin mengingat kenangannya bersama Sinta, Andre keluar dari kamar dan menutup pintu. Merasa lapar, Andre ke dapur dan memasak.
Satu jam berlalu, Sinta juga belum kembali. Menunggu Sinta pulang, Andre merebahkan badannya di sofa dan tertidur. Karena kelelahan dan tidurnya yang sering terganggu membuat Andre cepat terlelap.
Andre terbangun ketika mendengar suara gerbang yang dibuka. Cepat cepat Andre membuka matanya. Melihat sekelilingnya gelap Andre mengambil ponsel dari saku celananya. Andre menghela nafas ketika layar ponsel menunjukkan pukul tujuh.
Andre duduk di sofa, tidak berniat untuk menyalakan lampu sebab dia yakin bahwa yang datang itu adalah Sinta. Andre duduk santai dan tidak menoleh ketika lampu menyala.
Sementara itu, Sinta terkejut ketika melihat Andre duduk santai di sofa. Mengingat pria itu sudah jarang ke rumah membuat Sinta merasa heran dan penasaran. Dari hati yang paling dalam, Sinta berharap kedatangan Andre adalah sesuatu yang baik untuknya. Sejenak tatapan mereka bertemu. Sinta buru buru memalingkan wajahnya ke samping. Hati Sinta kembali berdenyut nyeri. Penolakan Andre masih jelas di ingatannya.
Sinta melewati Andre di ruang tamu dan masuk ke kamarnya. Setelah mengunci pintu kamar, Sinta masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sinta tidak akan membiarkan Andre masuk ke kamarnya. Bagi Sinta, sejak Andre menolak janinnya, Andre adalah orang lain baginya.
Sinta duduk di depan Andre. Sinta yakin kedatangan Andre pasti karena ada sesuatu. Sinta diam. Sinta menunggu Andre yang berbicara duluan.
Andre juga masih diam dan menunduk. Mencari kata yang tepat supaya untuk mengutarakan keputusannya. Hingga beberapa menit kemudian mereka masih diam. Melihat Andre yang belum berbicara, Sinta bangkit dari duduknya dan hendak ke dapur.
"Sinta...duduklah dulu!. Aku ingin berbicara penting," kata Andre pelan dan mendongak ke Sinta yang sudah berdiri. Sinta duduk kembali dan masih diam.
__ADS_1
"Sebelumnya, aku minta maaf. Karena telah menjadikanmu istri siri dan sampai kamu saat ini hamil anakku. Aku mengakui janin yang kamu kandung itu anakku, tapi aku tidak bisa berbuat banyak seperti yang kamu inginkan. Ada hati istriku yang harus aku jaga. Dia juga hamil muda. Selain itu orangtuaku juga akan murka bila mengetahui ini. Banyak hati yang harus aku jaga Sinta. Tolong kamu mengerti." Andre berkata pelan dan berkali kali menarik nafas panjang.
Kata kata yang dianggapnya sudah tepat, malah membuat hati Sinta semakin sakit. Andre memandang Sinta yang duduk di hadapannya. Wanita itu masih diam dan menunduk.
Sinta menghapus air matanya dengan kasar dan berkata " Aku cukup mengerti Pak Andre, aku juga sudah mengatakan sebelumnya supaya kamu menjaga hati istrimu, aku dan anakku memang tidak layak untuk diperjuangkan. Aku cukup tahu diri yang hanya berstatus simpanan. Dan anakku hanya berstatus dari anak seorang wanita simpanan. Aku tahu, bagimu aku dan anakku hanya kamu nilai dari segi materi. Sedangkan istrimu itu adalah wanita yang paling sempurna yang harus kamu jaga perasaannya. Tidakkah kamu pernah berpikir pak?, Bagaimana psikis anak yang yang lahir tanpa kasih sayang seorang ayah?. Dan tentang pengakuan mu terhadap anak yang ku kandung ini, aku mengucapkan terima kasih."
Sinta tidak memanggil Andre dengan sebutan mas. Baginya Andre saat ini, hanyalah sebagai dosen untuknya. Kata kata Andre barusan cukup meyakinkan Sinta, bahwa Andre tidak akan berubah. Sinta tidak mau lagi memohon, cukup bagi Sinta tiga kali memohon kepada Andre. Andre kembali melihat Sinta. Andre merasa asing ketika Sinta memanggilnya tidak seperti biasanya. Wanita itu duduk tenang di hadapannya. Air matanya juga tidak terlihat lagi. Andre mengeluarkan kertas kecil dari kantong kemejanya dan meletakkan kertas tersebut di atas sofa.
"Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening mu. Aku rasa uang sebanyak itu cukup sampai kamu melahirkan." Andre berkata tanpa menatap Sinta. Sinta masih membiarkan kertas itu di atas sofa. Sinta kembali sakit hati, lagi lagi Andre hanya memberinya materi.
"Kamu menganggap uang adalah solusi dari segala masalah pak, kamu menganggap aku bagaikan ******. Setelah kamu puas, kamu buang aku dan anakku seperti sampah, ingat pak! karma itu ada," kata Sinta berapi api dan sangat marah. Sejumlah uang yang diberikan Andre bagaikan bom yang menghancurkan harga dirinya.
"Aku hanya berusaha menepati janjiku kepadamu Sinta, dan juga bertanggungjawab kepada anak yang kamu kandung. Hanya ini yang bisa ku lakukan. Jika kamu meminta lebih, aku tidak bisa," jawab Andre pelan.
"Aku tidak pernah memintamu lebih, kamu saja yang lupa pernah menikahi ku secara siri sehingga kamu tidak mengerti arti tanggung jawab seorang suami. Jadi jangan berbicara tanggungjawab pak, walau kamu seorang dosen tapi kamu tidak mengerti arti dari tanggung jawab," kata Sinta marah dan setengah berteriak. Andre merasa tersinggung dengan perkataan Sinta.
"Sinta, jangan membuat aku marah. Tolong jaga ucapan mu." Andre berkata setengah berteriak dan menahan amarah.
__ADS_1
"Dan satu lagi, aku datang kemari juga untuk menceraikan mu," kata Andre masih marah dan menatap tajam Sinta. Sinta terkejut, dia tidak menyangka bahwa kedatangan Andre untuk menceraikannya. Sinta memang pernah meminta Andre menceraikannya. Dan saat ini Andre akan mengabulkannya.