Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Wisuda


__ADS_3

Vina dan Sinta bersamaan membuka helm mereka. Mereka baru saja tiba di kampus setelah memburu pak Joni ke Universitas lain. Tapi dosen itu tidak ada di sana. Padahal sebelumnya Sinta dan Tini sudah melihat jadwal pak Joni. Jadwalnya bukan di kampus mereka. Tapi setelah dicari ke sana. Justru salah satu teman mengabari mereka jika pak Joni sedang berada di kampus mereka. Sinta langsung tancap gas menuju kampus. Sejak menyusun skripsi Sinta memang akhirnya membawa motor ke kampus. Tujuan supaya bisa memburu dosen killer yang mengajar di tiga universitas. Sinta dan Vina berhasil. Mereka sudah melewati seminar bab satu dan bab dua. Kini mereka sedang bimbingan bab bab selanjutnya.


Sinta dan Vina benar benar mengerjakan skripsi mereka sendiri tanpa bantuan dari suami masing masing. Radit sangat sibuk dengan perusahaan yang semakin berkembang dengan relasi yang semakin bertambah. Tidak ada waktunya untuk membantu Vina seperti Tini yang dibantu oleh Sean.


Sedangkan Andre. Bukannya tidak mau membantu Sinta. Tapi Sinta yang tidak bersedia dibantu. Sinta bertekad bahwa skripsi harus hasil otaknya sendiri. Andre mendukung tekad istrinya. Apalagi Sinta sangat gigih ingin cepat menyelesaikan skripsinya. Andre sangat yakin jika istrinya pasti bisa menyelesaikan skripsi tersebut.


Kesabaran dua wanita itu kembali diuji. Pak Joni berada di ruangan setelah susah ditemui. Tetapi dia tidak sendiri. Ada dosen lain yaitu pak Bambang di ruangan itu dan mereka terlihat berbicara santai dan kadang terdengar tertawa. Sinta dan Vina berdiri di depan ruangan sang dosen yang tidak ditutup itu. Mereka berharap bisa bimbingan sekarang. Mereka harap harap cemas jika pak Joni akan mengajar setelah ini.


Dan benar saja. Ketika pak Bambang berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu. Pak Joni juga berdiri dan berjalan. Di tangannya sudah ada buku. Dan sepertinya pak Joni akan masuk ke kelas untuk mengajar.


"Selamat siang pak," sapa Vina dan Sinta bersamaan.


"Siang," jawab pak Joni singkat sambil mengunci pintunya. Vina sudah tidak bersemangat lagi. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding.


"Pak, kami hendak bimbingan skripsi. Kapan kami bisa bimbingan pak," tanya Sinta sopan. Pak Joni menatap Sinta sekilas.


"Kalau saya punya waktu."


Sinta dan Vina kembali menahan sabar mendengar perkataan sang dosen. Dosen itu jelas mengetahui jika Sinta adalah istri dari rekan kerjanya. Tapi tidak ada sedikitpun istimewanya sebagai istri dosen di kampus ini. Semua diberlakukan sama. Sinta dan Vina hanya bisa menatap punggung dosen itu yang menghilang di balik tembok.


"Kita tungguin di sini," kata Vina. Mereka duduk di lantai itu menunggu sang dosen. Mereka akan menunggu satu jam setengah. Tapi mereka tidak peduli. Bisa lulus semester ini adalah tekad mereka. Apalagi Tini sampai bersedia menunggu mereka untuk wisuda. Mereka semakin bertekad jika mereka harus bisa wisuda tahun ini.


Satu jam setengah kemudian. Sinta dan Vina langsung berdiri. Sang dosen sudah terlihat semakin mendekat kepada mereka. Sudah hampir dua bulan menyusun skripsi hanya mereka yang paling sering menunggu pak Joni di tempat itu.


"Pak kami menunggu bapak. Jika bapak punya waktu, kami ingin bimbingan skripsi Pak," kata Vina. Sesuai dengan kesepakatan jika mereka harus bergantian berbicara dengan pak Joni. Berbicara dengan pak Joni. Bagi mereka seperti berbicara dengan hantu. Sangat menakutkan.


"Masuk," kaya pak Joni singkat. Dua sahabat itu langsung mengulum senyum dan masuk ke dalam ruangan pak Joni. Sinta yang terlebih dahulu menyerahkan draf nya kepada pak Joni. Pak Joni memeriksa draf itu dan membaca. Kemudian mencoret sebagian yang tidak perlu. Pak Joni berbicara apa yang seharusnya tertulis di paragraf yang dia baca.

__ADS_1


"Semua sudah lengkap. Pengolahan data juga akurat. Aku menyetujui skripsi kamu ini untuk disidangkan," kata pak Joni. Sinta menutup mulutnya supaya tidak bersorak karena kegirangan. Dia berkali kali mengucapkan terimakasih. Hanya beberapa kali bimbingan. Skripsinya langsung disetujui. Vina yang duduk di sebelahnya hanya bisa berharap jika skripsi juga seperti skripsi Sinta.


Vina mengulurkan tangannya untuk memberikan skripsi itu. Pak dosen akhirnya melihat lihat skripsi tersebut. Dan mencoret beberapa kata setiap paragraf. Yang membuat Vina merasa tidak yakin itu karena skripsi banyak mendapat coretan lebih banyak daripada milik Sinta.


"Kamu masih perlu bimbingan satu kali lagi dan perlu buku referensi lebih banyak lagi," kata pak Joni. Vina sudah melemas. Entah bagaimana nanti dia memburu pak Joni sendirian. Sinta hanya tinggal mengatur jadwal untuk meja hijaunya.


"Dimana saya bisa menjumpai bapak untuk bimbingan selanjutnya pak," tanya Vina pura pura bodoh.


"Di ruangan ini saja."


Vina menarik nafas panjang berbeda dengan Sinta yang menarik nafas lega. Keduanya sudah berada di luar ruangan pak Joni.


"Ternyata menjadi sarjana itu tidak gampang ya Sinta," kata Vina. Memang benar menjadi sarjana itu tidak gampang. Selain belajar keras juga harus sabar menghadapi sikap dosen yang seakan tidak punya waktu untuk bimbingan skripsi.


"Itulah Vina. Menjadi sarjana itu ternyata butuh proses yang panjang. Tidak mudah dan harus menyelesaikan penelitian dan skripsi. Tapi manusia di luar sana kadang seenaknya mengatakan percuma sarjana jika ada seorang sarjana yang kadang terpeleset kalau berbicara," jawab Sinta. Dia jadi teringat seorang sarjana di kampungnya yang bekerja di ladang orangtuanya. Para masyarakat kampung tidak henti hentinya mengatakan jika dia percuma sarjana. Belum lagi kalau terpeleset berbicara. Jika berantem dengan tetangga maka dua kata keramat itu akan selalu terdengar. Dan anehnya yang mengatakan itu justru tidak sarjana dan tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana.


Di rumah, Vina berusaha keras untuk mengejar ketertinggalannya dari Sinta. Vina melahap buku buku yang dipinjamnya dari perpustakaan dan juga buku dari perpustakaan pribadi Andre.


"Belum yah."


"Belum jelas waktu meja hijau?" tanya Radit sambil menoleh ke jam dinding. Sudah jam sepuluh lewat.


"Belum yah. Skripsi milikku belum disetujui. Sinta sudah."


"Kendalanya dimana?, Kok skripsi Sinta bisa duluan di setujui. Sini, ayah lihat dulu."


Radit membaca skripsi itu. Radit mengajari Vina untuk pengolahan data hasil penelitiannya. Dan benar saja. Hasil dari pengolahan data tersebut sudah akurat. Vina tersenyum dia memeluk suaminya sebagai ucapan terimakasih. Sarjana sudah di depan mata hanya perlu satu langkah lagi.

__ADS_1


Disinilah mereka sekarang. Di gedung auditorium kampus mereka. Sinta, Vina dan Tini duduk berjejer. Dari tempat mereka duduk. Sinta bisa mengawasi kedua orangtuanya yang datang dari kampung demi perayaan wisuda ini. Kartu undangan hanya dua untuk setiap satu mahasiswi. Kartu undangan itu khusus untuk orang tua. Andre juga di ruangan itu. Dia memegang peranan penting dalam wisuda ini. Dia yang akan memberikan kata sambutan mewakili papa Rahmat. Selain itu orang tua dari Tini dan Vina juga menjadi tamu undangan di ruangan itu. Sedangkan para anak anak dan suami mereka menunggu di mobil.


Hingga satu persatu nama dari wisudawan disebut setelah rangkaian acara yang membosankan. Tiga sahabat itu sama sama merasakan detak jantung yang kencang. Mereka dipanggil berurutan. Mereka maju ke depan dengan langkah yang sedikit gugup.


Di bangku tamu, kedua orang tua dari Sinta menitikkan air mata. Air mata bahagia melihat putri mereka yang sudah sah menjadi sarjana. Keinginan kuat yang mengantarkan Sinta pindah ke kota. Dan kebahagiaan itu bukan hanya karena melihat Sinta menjadi sarjana. Tapi melihat kebahagiaan Sinta yang sudah memiliki keluarga kecil dengan kebahagiaan dan kesejahteraan yang melimpah.


"Selamat dan sukses."


Dua kata dari orang orang tercinta ketika Sinta, Vina dan Tini keluar dari gedung auditorium. Radit mendekati istrinya dengan mawar yang sudah ditata sangat indah di tangannya. Vina tersenyum menerima bunga itu kemudian mereka berpelukan.


"Selamat istriku," kata Radit bersemangat dan mencium wajah istrinya.


Sean juga tidak kalah. Dia membawa bunga sama seperti yang dibawa Radit kepada Vina.


"Selamat sayang," kata Radit juga memeluk Tini.


Andre juga demikian. Setelah keluar dari auditorium. Dia bergegas mencari Sinta di luar. Di tangannya juga sudah ada bunga mawar sama persis seperti yang sudah di pegang oleh Vina dan Tini. Mereka bertiga memang bersama sama memesan bunga indah itu untuk istri masing masing.


"Sayang. Selamat ya. Yeah sudah sah jadi sarjana. Di tunggu traktirannya," kata Andre. Dia juga memeluk Sinta. Andre melepaskan pelukan ketika menyadari Sinta menangis.


"Mi, ada apa?" tanya Andre bingung. Hari ini adalah hari berbahagia dan yang ditunggu oleh Sinta selama ini. Tentu saja Andre heran melihat Sinta yang menangis.


"Ini air mata bahagia Pi. Terima kasih karena sudah menjadikan aku istrimu," jawab Sinta kembali memeluk Andre. Sinta tentu saja terharu. Jika Andre tidak menjadikan istri simpanan belum tentu dia wisuda hari ini. Sinta semakin menyadari jika pernikahan sirinya adalah jalan untuk kesuksesannya.


"Sudah sudah jangan menangis. Saatnya kita foto sekarang. Kita harus menunjukkan hasil belajar keras dan bekerja keras kita selama ini," kata Tini yang sudah berada di dekat Sinta dan Andre.


Tini dan Sean mengambil tempat untuk berfoto di depan papan bunga bertuliskan ucapan selamat dan sukses untuk Tini.

__ADS_1


"Hasil belajar keras di kampus dan hasil bekerja keras di ranjang," kata Tini sambil menunjukkan toga wisuda kemudian menunjuk Ayu Dewi yang ada di gendongan Sean. Spontan semua yang mendengar perkataan itu tertawa terbahak-bahak. Orang tua mereka, Radit, Andre, Sean bahkan sang fotografer. Sedangkan Sinta dan Vina hanya mengulum senyum dan menunduk.


Mereka mengambil foto yang banyak di tempat itu. Dan setelah berfoto di tempat itu. Tiga pasang suami istri itu juga menuju sebuah studio untuk pemotretan khusus mengabadikan momen berbahagia mereka.


__ADS_2