Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Handoko yang Sebenarnya


__ADS_3

"Minggir, aku mau bertemu tiga keponakan aku yang lucu," kata Tini bercanda sambil tersenyum. Tini kini berdiri di depan pintu rumah Radit dan Vina. Sean mengekor di belakangnya sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang istri. Vina dan Radit yang berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan sahabat mereka spontan menyingkir setelah mendengar perkataan minggir.


"Elvano."


"Kalina."


"Karina."


Tini berteriak memanggil satu persatu nama ketiga bayi kembar tersebut. Sean, Radit dan Vina sudah mengekor di belakang Tini. Mereka tidak bisa melarang Tini berteriak. Karena akan percuma. Tini pasti tidak akan memperdulikannya.


"Mana kamar mereka Vina?" tanya Tini sambil membalikkan badannya. Dia bingung untuk memasuki pintu kamar yang mana. Dari semua pintu tidak ada ciri khusus jika salah satu kamar di lantai bawah itu kamar si kembar tiga.


"Kasih tahu gak ya," jawab Vina cuek sambil mendaratkan bokongnya di sofa.


"Jangan kasih tahu Bun. Biar tahu rasa dia. Kita tidak dianggap yang sudah menyambut kedatangan dia," kata Radit mengompori Vina. Tini berdecak kesal dan menatap tajam Radit dan Vina. Tini tidak sabaran lagi melihat tiga kembar yang lucu lucu itu.


"Kalian kira, aku meluangkan waktu kemari untuk kalian berdua. Aku hanya ingin melihat si kembar," kata Tini lagi. Dia menunjuk satu persatu pintu kamar untuk menebak kamar si kembar. Tini tersenyum lebar, dari salah satu kamar terdengar suara si kembar. Tini merasa menang dari Vina dan Radit. Tini langsung mengambil langkah panjang menuju kamar tersebut.


"Hati hati sayang," teriak Sean dari sofa. Tini hanya mengangkat tangannya ke atas tanpa berbalik menanggapi peringatan dari Sean.


Tini bersorak gembira melihat si kembar yang sangat menggemaskan itu. Diusia si kembar yang sudah enam bulan sudah bisa mengoceh dan telungkup. Bahkan Elvano sudah bisa duduk tetapi masih harus butuh sandaran. Sedangkan dua bayi perempuan sedang telungkup sambil berusaha menggapai apa saja yang di dekat mereka. Tini mendekati bayi bayi itu. Tini berjongkok untuk mengambil Kalina ke gendongannya. Tapi bayi itu sontak menangis kencang. Sang baby sitter langsung sigap mengambil Kalina dari tangan Tini.


Tini kembali mengulurkan tangannya untuk mengambil Karina. Sebelum tangannya menyentuh Karina bayi itu juga langsung menangis. Tini cemberut, tujuannya untuk menggendong bayi bayi itu ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Tidak seperti Airia putrinya Sinta dan Andre yang lengket kepadanya. Dua bayi perempuan putrinya Vina dan Radit seakan takut melihatnya.


"Mbak, aku seram ya?" tanya Tini kepada sang baby sitter. Kedua baby sitter tersebut menggelengkan kepalanya. Tini memang tidak seram. Hanya saja, kedua bayi kembar itu sudah bisa mengenali orang orang yang terbiasa dekat mereka.


"Kalau tidak seram. Kenapa mereka berdua tidak mau sama aku," tanya Vina.


"Itu karena mereka berdua jarang melihat kamu non," jawab salah satu baby sitter itu. Tini merasa lega. Dia mendekati Elvano yabg duduk santai. Dia bersandar di dinding tapi kiri kanan dan depan dikelilingi oleh bantal dan guling.


Tini mengulurkan tangannya kepada bayi itu. Bayi Elvano tidak merasa takut sama sekali. Bahkan dia terlihat menggerakkan tangannya dan mengoceh. Tini semakin bersemangat membawa bayi itu ke gendongannya. Dan bayi Elvano tidak seperti dua kembarannya. Elvano bahkan terlihat senang di tangan Tini menciumi wajah bayi itu. Tini membawa Elvano keluar dari kamar menuju sofa.


"Hanya Elvano yang mau aku gendong. Kalina dan Karina tidak bisa dipinjam. Mulutnya langsung terbuka lebar," kata Tini setelah duduk di sofa. Sean terlihat mengulurkan tangannya ke Elvano. Dan bayi itu juga bersedia berpindah tangan. Tini sungguh gemas dengan bayi Elvano.


"Tini, aku ambil nastarnya sekarang mau?" tanya Vina. Tini mengangguk senang.


"Begini nih kalau punya sahabat the best. Makasih Vin. Aku mau sekarang," jawab Tini senang dan bersemangat. Sejak mengenal Vina. Tini selalu menyukai kue kue kering buatan Vina.


"Itu karena kamu hamil. Mau tidak mau aku tidak bisa menolak. Jangan memuji berlebihan," kata Vina sambil meletakkan toples berisi nastar. Tadi malam sepulang dari mall. Vina menyempatkan diri untuk membuat nastar itu. Beruntung dia mempunyai suami seperti Radit. Radit membantu Vina membuat kue itu demi mewujudkan keinginan Tini untuk memakan nastar. Prosesnya yang lumayan lama untuk satu kilo tepung membuat keduanya tidak bisa bercinta. Malam panjang yang diinginkan Radit gagal karena sudah lelah.

__ADS_1


"Makan yang banyak Tini. Kamu tahu tidak. Gara gara nastar itu. Aku harus mengorbankan malam panjang kami berdua. Asal kamu tahu. Tadi malam si kembar menginap di rumah kakek neneknya. Tapi karena nastar ini. Kami tidak bisa menghabiskan malam sebagaimana suami istri lainnya," kata Radit. Tini tersenyum mendengar perkataan Radit itu.


"Makasih ya kak Radit. Kamu memang kakakku yang paling baik," jawab Tini tulus. Radit hanya mengangguk sambil tersenyum. Melihat Tini makan nastar itu, Radit juga senang. Hanya permintaan kecil seperti ini yang bisa membalas kebaikan Tini selama ini.


"Jangan kebanyakan sayang. Nanti sakit perut," larang Sean yang melihat Tini sudah memakan banyak nastar itu. Tini mengangguk dan menutup toples.


"Melihat Elvano seperti ini, aku jadi ingin janinku berjenis kelamin perempuan," kata Tini sambil mengelus perutnya. Usia kandungannya yang masih tiga bulan belum bisa diketahui jenis kelamin janin tersebut.


"Aku tahu maksud kamu. Kamu mau menjodohkan dengan putraku kan?" tanya Vina. Tini mengangguk. Vina menggelengkan kepalanya. Bukan karena tidak setuju hanya saja Tini dan Radit mempunyai keinginan yang sama untuk menjodohkan anak anaknya dengan anak Andre. Menurut Vina itu terlalu dini untuk direncanakan.


"Ya aku setuju Tini. Kalau laki laki juga tidak apa apa. Nanti kita bisa jodohkan dengan Karina. Kalau Kalina sudah sama Andra putranya Andre," jawab Radit semangat. Dia senang karena mempunyai pemikiran yang sama dengan Tini. Mengetahui Tini hamil beberapa hari yang lalu Radit sangat berharap, kelak dia bisa besanan dengan sahabatnya itu.


"Aku setuju kak. Tapi aku lebih senang kalau bayi ini perempuan," jawab Tini lagi.


"Ya semoga saja perempuan. Kakak akan turut mendoakan supaya keponakan kakak yang ada di perut kamu itu perempuan," kata Radit lagi. Sean dan Vina hanya diam mendengar pembicaraan dua manusia itu. Pembicaraan yang terdengar konyol bagi Vina dan Sean. Mereka terlihat akur membicarakan tentang perjodohan anak anak yang bahkan anak satunya masih berusia hitungan bulan di dalam kandungan Tini.


"Kamu mau minta apa lagi. Kamu tinggal bilang," kata Radit lagi membuat Tini tersenyum senang.


"Kakak mau memenuhi permintaan aku. Makasih kak, aku sih ingin buah buah segar yang ada di depan rumah Sinta dulu. Bisa kakak ambil sekarang?. Naik motor pasti cepat," jawab Tini.


"Maksud aku bukan aku yang ambil. Tapi suami kamu ini. Dimana harga diri dia kalau aku yang memenuhi mengidam kamu."


"Sialan kamu bro. Tak kira tadi mau memenuhi permintaan istriku," kata Sean sambil terkekeh. Dia tidak kesal sama sekali dengan candaan Radit.


Satu jam kemudian


Radit menentang kantong plastik besar berisi bermacam-macam buah buahan yang diambilnya dari rumah Andre dulu. Ketika Radit minta ijin untuk mengambil buah buahan tersebut, Andre dan Sinta tidak keberatan. Bahkan mereka senang ketika mengetahui jika buah buahan itu untuk Tini. Hanya saja mereka tidak bisa ikut bergabung di rumah Radit hari ini karena ada sesuatu yang tidak bisa mereka tinggalkan.


"Terimakasih banyak kak. Dengan apa aku membalas kebaikan kamu ini," kata Vina ketika mereka bersama sama menikmati buah buahan itu. Vina meracik bumbunya sehingga Sean dan Radit terlihat lahap makan jambu, kedondong, mangga muda dan juga pepaya.


Radit seketika mengingat mimpinya. Dia menatap Tini sebentar sebelum mengutarakan niatnya.


"Tin, jangan bicara seperti itu. Aku memang lagi butuh bantuan kamu sekarang. Bukan berarti karena butuh bantuan. Aku bersedia mengambil buah buahan ini. Ini murni untuk calon ponakan aku."


"Bantuan apa kak?"


"Aku butuh investor sekarang di perusahaan Tini. Aku minta bantuan kamu untuk merekomendasikan perusahaan aku ke om Indra. Untuk mendatangi kantor pak Indra aku malu tin. Aku belum mengenal beliau."


"Apa belum ada kemajuan bro?" tanya Sean. Radit menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sebenarnya papaku sudah mengajukan proposal kerjasama dengan kenalannya. Tapi sampai saat ini. Belum ada kejelasan. Jika adapun kejelasan. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan untuk sementara," kata Radit. Dia menatap Tini penuh harap yang sedang asyik menikmati buah buahan itu.


"Loh, kenapa seperti itu bro?" tanya Sean heran. Tini juga menatap Radit heran. Tapi kenikmatan memakan buah itu membuat Tini untuk tidak langsung menjawab permintaan Radit. Radit menunduk. Dia malu jika harus menceritakan masa lalunya yang berkaitan dengan Handoko dan Intan. Vina juga terlihat kasihan melihat suaminya yang merasa malu.


"Kenapa kak. Cerita saja," kata Tini.


"Ini berkaitan dengan masa lalu yang pernah aku ceritakan ke kamu dan Sinta Tini. Wanita yang aku ceritakan itu adalah istri simpanan dari kenalan papaku. Pengusaha itu namanya Handoko."


Tini meletakkan garpu di piring buah itu. Jantungnya berdetak kencang mendengar nama Handoko. Tetapi Tini masih berusaha tenang.


"Kakak tahu nama lengkap dari Handoko itu?" tanya Tini. Radit menggelengkan kepalanya. Karena ketika dia memergoki Intan dengan pria itu. Pria itu hanya menyebut nama Handoko.


"Kakak masih ingat wajahnya?" tanya Tini lagi. Radit mengangguk. Tini meraih tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari tas tersebut. Radit sudah senang. Dia mengira Tini menghubungi pak Indra untuk menceritakan permintaan Radit.


"Inikah orangnya?" tanya Tini sambil menunjukkan sebuah photo laki laki. Radit mengangguk bingung. Tini seketika melemas. Tubuhnya bersandar ke sofa dengan wajah yang sudah berubah. Jantungnya semakin tidak terkendali berdetak.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Sean sambil menyentuh layar ponsel Tini. Foto mertuanya terpampang memenuhi layar ponsel itu. Mendengar cerita Radit dan menghubungkan ke foto itu, Sean bisa menarik kesimpulan.


"Ternyata papa mempunyai istri simpanan," kata Tini lemas. Radit dan Vina terlihat bingung dan saling berpandangan.


"Maksudnya?" tanya Radit.


"Yang kamu sebutkan tadi papa mertua aku Radit. Namanya Indra Handoko. Di dunia bisnis, papa memang menggunakan nama Handoko," jawab Sean. Radit dan Vina terkejut kemudian terdiam. Sepasang suami istri tidak berkata apa apa lagi. Radit jadi merasa bersalah karena Tini mengetahui perselingkuhan itu dari dirinya. Dia memang tidak pernah bertemu dengan papanya Tini. Seandainya Tini dan Sean tidak menikah diam diam. Sudah dipastikan Radit mengetahui siapa papanya Tini. Bahkan sampai saat ini Sean dan Tini belum mengadakan resepsi pernikahan.


Tini merasakan sakit hati, hancur dan juga marah di hatinya. Dia tidak menyangka papa Indra yang terlihat sempurna di matanya ternyata mempunyai istri lain selain mamanya. Tini marah. Tini kecewa. Dia sangat membenci laki laki yang brengsek dan yang menyakiti hati wanita. Ternyata papanya sendiri adalah pria brengsek. Tini selalu membela dua sahabatnya Sinta dan Vina. Di selalu berdiri di depan untuk menjaga dan melindungi dua sahabatnya itu. Tapi mamanya sendiri adalah korban pria brengsek yang telah mengkhianati dan menduakan cinta sang mama.


Wanita tomboi yang selalu terlihat ceria itu kini meneteskan air mata. Papa yang selalu dibanggakannya ternyata tidak bisa menjadi panutan untuk dua orang kakak laki-lakinya. Sean dengan sabar mengusap air mata istrinya. Dengan penuh kasih sayang, Sean memeluk tubuh Tini. Sean dapat merasakan hancurnya hati Tini mengetahui kenyataan ini.


Sementara itu, Radit sudah terlihat berkali kali mengusap wajahnya. Dia juga tidak menyangka jika laki laki yang menjadi suami dari mantan kekasihnya Intan dulu adalah papanya Tini. Wanita yang sangat membencinya di awal perkenalan. Tetapi wanita yang banyak membantunya untuk mendapatkan cinta Vina.


Radit juga sedih melihat Tini yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Radit menatap Tini yang masih terdiam dan bersandar di dada Sean. Wanita itu seperti kehabisan kata kata setelah mengetahui kenyataan tentang papanya.


"Tini, jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus menjaga kandungan kamu," kata Radit prihatin.


"Aku jadi malu kepada kakak dan kak Andre. Aku sangat membenci kalian waktu itu bahkan memberikan julukan tidak bagus untuk kalian berdua. Sementara papaku bertahun tahun mengkhianati mamaku," kata Tini sambil terisak. Dia membayangkan jika mamanya mengetahui perselingkuhan sang papa. Selama ini kedua orang tuanya selalu terlihat mesra dan saling mencintai. Tapi di balik itu ternyata sudah ada wanita lain di hati sang papa.


"Jangan seperti itu Tini. Justru sikap kamu itu yang menyadarkan kami," kata Radit serius.


"Tini, jangan sedih gini donk. Kalau kamu bisa menjaga kami Sahabatmu. Aku yakin kamu juga bisa menjaga dan melindungi tante Mia. Jangan terburu buru untuk memberikan tahukan ini ke Tante. Cari waktu yang tepat," saran Vina.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus berbuat apa Vina. Mamaku wanita yang lembut dan baik. Dan selama ini juga papa terlihat sangat mencintai mama," kata Tini sedih. Kata katanya terdengar putus asa.


Radit juga menunduk. Kerja sama yang sudah dibayangkan dengan pak Indra. Kini hanya tinggal angan yang tidak mungkin terwujud lagi.


__ADS_2