Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pacaran


__ADS_3

Suara yang awalnya terdengar dengan suara yang tertawa terbahak-bahak kini berganti dengan suara suara aneh yang memabukkan. Suara suara itu bersahutan sambil menyebut nama lawan main. Radit dan Vina melupakan masalah keuangan rumah tangga sejenak dengan menyalurkan hasrat yang saling memuaskan. Kegiatan mereka tidak hanya sekali permainan. Radit dan Vina seakan tidak lelah mengejar apa yang mereka inginkan. Mereka tidak ingin membuang kesempatan yang ada.


"Yah, aku lelah," kata Vina yang duduk di pangkuan Radit. Akhirnya Vina bisa juga merasakan lelah setelah dirinya melakukan kegiatan itu lebih aktif dibandingkan sang suami. Tubuhnya menghadap Radit. Mereka baru saja menyudahi kegiatan panas dan Vina sebagai pemegang kendali. Radit mendekap tubuh istrinya dengan erat. Pengalaman bercinta untuk pertama kali di tempat terbuka seperti ini. Membuat Radit merasakan sensasi yang berbeda.


"Tapi aku belum lelah Bun," jawab Radit sambil tersenyum mesum. Tangannya sudah mulai aktif menjelajah tubuh Vina. Vina mencium bibir Radit dengan rakus kemudian melepaskannya.


"Dasar tenaga banteng. Satu harian seperti ini aku yakin kamu masih sanggup yah. Tapi disini yang lecet," gerutu Vina menunjuk area intinya kemudian berjalan di tepi kolam renang itu. Radit terkekeh dan mengejar langkah Vina. Vina memunguti onderdil dalam mereka yang dicampakkan asal tadi.


Baru saja Vina hendak memakai pakaiannya. Vina merasakan tubuhnya melayang dan kini berada di gendong sang suami. Radit membawa Vina ke dalam rumah hingga menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Kita bagaikan hidup di jaman purba," kata Vina lagi. Mereka sama sama tidak mengenakan pakaian hingga ke kamar. Radit kembali terkekeh. Radit membawa istrinya sampai ke kamar mandi.


"Aku akan memandikan kamu Bun. Murni hanya mandi. Tenang saja," kata Radit sambil mengambil sabun. Dibandingkan sabun cair Vina lebih suka pakai sabun mandi batangan. Radit menggosokkan sabun itu di sekujur tubuh Vina.


"Tangan dikondisikan," kata Vina sambil memukul tangan suaminya yang mulai nakal. Radit kembali terkekeh kemudian membasuh tubuh Vina. Radit mengambil handuk dan melilitkan ke tubuh istrinya.


"Pakai pakaian yang bagus. Setelah ini kita keluar sebentar," kata Radit sambil mendorong tubuh Vina keluar dari kamar mandi.


"Kita hendak kemana yah?.


"Kita mau pacaran." jawab Radit. Vina tersenyum.


"Siap bos."


Vina senang dan merasa bahagia. Vina sudah membayangkan jalan jalan bersama suaminya. Dengan semangat Vina memilih baju yang cocok dipakai untuk jalan jalan keluar. Vina juga merias wajahnya.


"Itu baju kamu yah," kata Vina ketika melihat Radit keluar dari kamar mandi. Radit tersenyum dan mendekat ke meja rias tempat Vina duduk. Radit mencium pipi istrinya sebagai ucapan terima kasih atas servis yang didapatkan selama satu hari ini. Setelah mencium pipi istrinya, Radit mengenakan pakaiannya.


"Naik mobil atau naik motor?" tanya Radit setelah mereka sudah berdiri di depan garasi.


"Naik mobil saja yah. Aku takut kulitku gosong kalau naik motor di jam begini," kata Vina. Ucapannya itu mendapat ciuman kembali di pipinya. Radit masuk ke dalam garasi untuk mengeluarkan mobil.


Sepanjang perjalanan Vina dan Radit tidak henti hentinya berbicara. Pembahasan mereka hanya seputar bayi kembar. Radit terkadang memuji istrinya yang sangat baik dan telaten mengurus bayi bayi itu. Vina memang memakai tenaga baby sitter tapi Vina tidak langsung lepas tangan tentang bayinya. Bagi Radit, Vina adalah sosok istri dan ibu yang sempurna.


Di usianya yang masih tergolong sangat muda. Vina bisa menempatkan diri sebagai istri yang baik. Ibu yang penuh kasih sayang terhadap anak anaknya. Vina juga bisa menempatkan dirinya menjadi anak yang baik untuk kedua orangtuanya dan kedua mertuanya. Bahkan Vina juga menjadi majikan yang baik terhadap para pekerja pekerjanya. Radit benar benar merasa beruntung bisa mempunyai istri seperti Vina.


"Kita ke sini yah?" tanya Vina ketika mobil Radit sudah mengarah masuk ke mall. Radit mengangguk. Radit ingin mereka berpacaran seperti anak muda lainnya. Membawa pacar jalan jalan keliling mall dan menonton.


"Hanya ke sini yang bisa aku bawa Bun. Nanti kalau keuangan kita membaik. Aku janji akan membawa kamu bulan madu ke luar negeri."


"Apa yang tadi di kolam renang itu tidak bisa disebut bulan madu?" tanya Vina sambil tertawa. Pemikirannya tentang bulan madu adalah tidur bersama dan melakukan hal hal seperti yang mereka tadi.


"Itu bukan bulan madu Bun. Yang kita lakukan tadi hari madu. Mereguk madu satu hari. Kalau bulan madu itu mereguk madu selama satu bulan penuh."


"Sejak kapan pengertian bulan madu seperti itu," tanya Vina. Jika yang dikatakan suaminya benar itu artinya mereka akan bepergian ke luar negeri hanya untuk melakukan hal hal seperti itu selama satu bulan penuh.


"Sejak aku mereguk madu kamu Bun. Aku jadi kepikiran untuk berbulan madu ke luar negeri."

__ADS_1


"Kalau begitu aku tunggu janji kamu yah," kata Vina menantang suaminya. Perkataannya mempunyai maksud tersembunyi. Bukan hanya sekedar menginginkan jalan jalan ke luar negeri dan bercinta. Tetapi Vina ingin memotivasi Radit supaya tetap semangat untuk berusaha membangkitkan perusahaan jika Handoko tidak menyetujui kerja sama yang ditawarkan papa Jack. Radit tersenyum. Seperti keinginan Vina. Radit merasakan semangat yang menggelora untuk membahagiakan keluarga kecilnya.


"Semangat mencari uang ayahnya si kembar tiga," kata Vina lantang di dalam mobil itu. Tangannya juga bergerak menyemangati sang suami. Ketika mobil itu berhenti. Radit meraih tangan Vina dan menciumnya sangat lama.


"Terimakasih kasih bunda. Ayah pasti semangat," jawab Radit. Radit mengisyaratkan Vina untuk tidak turun dulu. Radit turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Silahkan turun istriku. Perlakuan istimewa untuk wanita yang istimewa," kata Radit sambil membungkuk mempersilahkan istrinya turun. Radit kemudian mengulurkan tangannya membantu Vina turun dari mobil. Vina tersenyum. Baru kali ini dia mendapat perlakuan istimewa seperti yang dikatakan oleh suaminya.


Setelah turun dari mobil. Mereka keluar dari basement menuju lantai satu mall itu dengan bergandengan tangan. Radit menggenggam tangan istrinya dengan erat seakan takut terlepas. Mereka seperti pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara. Memang begitu kenyataannya. Tapi orang orang yang tidak mengenal mereka pasti tidak menyangka jika pasangan romantis itu sudah menikah dan mempunyai tiga bayi kembar.


"Yah, kita nonton yuk," kata Vina setelah mereka sudah berada di lantai tiga. Radit mengangguk. Mereka melihat lihat film yang akan diputar di jam waktu dekat ini. Mereka sepakat untuk menonton film barat bernuansa romansa modern.


"Tunggu di sini Bun. Aku akan beli karcisnya," kata Radit. Tapi tangannya cepat dicekal oleh Vina.


"Mau tebar pesona dengan para wanita itu?" tanya Vina galak sambil menunjuk para wanita yang sedang antri membeli karcis. Radit terkekeh. Dicemburui seperti ini, membuat Radit merasa sangat dicintai dan berharga. Radit sangat menyukai istrinya yang posesif. Sungguh tidak ada niatnya untuk itu. Jangankan tebar pesona, melihat wanita cantik secantik apapun Radit tidak berniat melirik. Bagi Radit hanya Vina segalanya. Dan hanya Vina wanita yang terbaik untuk dirinya. Radit mengeluarkan dompetnya dan hendak memberi uang kepada Vina supaya sang istri yang membeli tiket mereka.


"Simpan saja yah. Kalau untuk nonton kita berdua masih ada sisa belanja bulan ini," kata Vina sambil mendorong tangan Radit. Radit tersenyum dan mencubit gemas hidung istrinya. Vina tidak ingin suaminya hanya mengantongi dompet kosong sementara uangnya masih cukup untuk beberapa bulan. Beberapa bulan mendapat jatah bulanan dari Radit. Vina mempergunakan uang itu sebaik baiknya.


"Ayah jalan ke sana bentar. Boleh?" tunjuk Radit ke arah toko di depan mereka. Vina mengangguk. Antrian masih panjang. Radit juga pasti bosan menunggu kalau hanya duduk saja.


"Silahkan yah. Nanti kalau sudah dapat karcis aku beritahu lewat pesan," jawab Vina. Radit mengelus kepala istrinya dan berlalu dari hadapan Vina.


"Ayah saja yang bawa Bun," kata Radit ketika Vina menerima popcorn dan minuman penjaga toko itu. Vina menoleh terkejut. Baru saja dia mengirim pesan. Suaminya sudah berdiri di sampingnya. Vina menerima bungkusan plastik yang disodorkan Radit. Radit pun menerima pesanan popcorn dan minuman itu dari penjaga toko.


"Apa ini yah?" tanya Vina sambil berjalan mengikuti langkah Radit menuju bioskop.


"Ayah membeli buku ini untuk aku?" tanya Vina senang. Vina bahkan mencium buku itu karena sangat senang. Radit hanya mengangguk dan tersenyum. Dia sangat senang melihat Vina yang kegirangan mendapatkan buku itu. Beberapa malam yang lalu, dia tidak sengaja melihat buku yang seperti itu di meja belajar Vina. Tapi yang empunya bukan Vina melainkan nama Sinta yang tertulis di buku itu.


Dan ketika tadi terpikir untuk membeli buku itu. Radit langsung mencari toko buku. Radit merasakan hatinya berdenyut nyeri ketika melihat harga buku yang tergolong mahal. Mungkin itulah sebabnya Vina tidak membeli buku itu mengingat situasi keuangan mereka. Radit sebenarnya menangis ketika melihat harga buku itu. Segitu besarnya cinta Vina untuk dirinya sehingga rela berkorban demi rumah tangga mereka. Bahkan memilih meminjam buku daripada memilikinya.


"Seharusnya tidak perlu membeli buku ini yah. Harganya sampai bisa membeli beras dua goni," jawab Vina akhirnya.


"Jangan berkata begitu Bun. Bukankah kamu tadi bilang arti mimpiku itu akan mendapat rejeki yang banyak. Tetap yakini itu. Dan pasti terjadi," jawab Radit sambil memberikan tangannya untuk digandeng Vina. Tangannya berisi dua kantong plastik. Sehingga dia tidak bisa langsung menarik Vina masuk ke bioskop.


Bukannya menyambut uluran tangan Radit. Vina justru berjinjit dan mencium pipi suaminya. Radit semakin tersenyum lebar. Cara Vina berterimakasih sungguh membuat dirinya semakin bahagia dan merasa disayang. Radit memberikan pipinya yang sebelah lagi untuk dicium. Vina kembali berjinjit kemudian mencium pipi suaminya.


Radit dan Vina mendapat tempat duduk yang strategis. Mereka duduk di bangku paling belakang. Pasangan suami istri itu masih saja romantis. Radit sengaja tidak membuka popcorn miliknya. Jadilah Vina selalu memasukkan jagung itu ke mulutnya sendiri dan mulut sang suami. Sedangkan minuman juga begitu. Untuk bagian ini Radit yang mengambil tugas.


"Lebih keren yang kita lakukan di kolam renang tadi Bun," kata Radit. Tangannya sudah membelai tangan Vina tapi matanya masih fokus ke layar bioskop. Vina spontan mengedarkan pandangannya ke ke kiri dan kanan. Adegan semi hot yang mereka tonton membuat penonton lainnya tidak mendengar perkataan Radit.


"Yah, tangan tolong dikondisikan," bisik Vina. Radit kembali terkekeh. Sejak beberapa jam yang lalu entah sudah berapa kali dia terkekeh. Vina membungkam mulut itu dengan beberapa popcorn.


Pacaran suami istri itu tidak cukup hanya dengan menonton bioskop. Mereka juga berkeliling mall itu walau hanya sekedar melihat lihat. Terkadang keduanya bergandengan tangan dan terkadang juga Radit yang merangkul bahu Vina. Setiap melihat toko apapun. Radit sebenarnya ingin membelikan Vina banyak hal. Tapi kondisi kantongnya tidak mendukung.


"Yah, aku ke swalayan sebentar."


"Ayo, kita masuk sama sama." jawab Radit mereka kini berdiri di depan swalayan.

__ADS_1


"Kamu ikut?. Aku sih hanya membeli stok susu untuk si kembar. Mumpung kita kemari," kata Vina.


Radit akhirnya menurut membiarkan Vina masuk ke dalam. Radit menggerakkan kakinya masuk ke toko perhiasan yang ada di depan swalayan itu. Radit melihat lihat perhiasan itu hingga matanya melihat sepasang cincin yang sangat indah. Andaikan dia punya uang saat ini. Dia tidak hanya melihat. Sepasang cincin itu pasti sudah berpindah ke tangannya. Tapi lagi lagi Radit hanya bisa menahan keinginan untuk memberikan sesuatu kepada sang istri.


Bukan hanya cincin yang menarik di matanya. Kalung, gelang dan bahkan perhiasan lainnya yang mendukung penampilan wanita semakin cantik dan elegan. Radit segera keluar dari toko itu ketika melihat Vina sudah mengantri di kasir.


"Untuk apa masuk ke sana yah?" tanya Vina ketika mereka sudah saling berhubungan. Radit mengulurkan tangan mengambil kotak kotak susu itu dari tangan Vina.


"Hanya melihat saya Bun."


"Jangan berkecil hati karena belum bisa memberikan aku berlian atau emas. Mas yang di depan aku ini sudah cukup buat aku," kata Vina


"Emas yang mana?" tanya Radit sambil melihat tangan Vina. Di jari itu memang masih ada cincin berlian pernikahan mereka.


"Mas Radit sudah cukup untuk aku. Tidak perlu mas mas yang lain," jawab Vina. Radit tertawa.


"Apalagi mas Ronal. Tidak penting sama kamu kan Bun?"


"Ya tidaklah yah. Aku sudah istrimu dan aku mencintaimu. Tidak mungkin Ronal penting sama aku. Itu hanya masa lalu."


Radit tersenyum mendengar jawaban istrinya. Hatinya semakin lega. Selama ini dia mendengar dari Tini bahwa Ronal dan Vina saling mencintai sebelum mereka menikah. Mendengarnya perkataan istrinya. Radit percaya.


"Sebentar Bun. Tolong pegang bentar," kata Radit memberikan kantong plastik berisi buku yang ada di tangan kanannya. Sedangkan kantong berisi kotak susu ada di tangan kirinya. Radit meraba saku celananya untuk mengambil ponselnya yang berdering.


"Ya ma. Aku dan Vina lagi di mall."


"Ya. Pacaran lah ma. Mama seperti tidak pernah muda saja."


"Oke mamaku sayang. Terimakasih. Aku menyayangimu. Tolong anak anak aku dijaga dengan baik," kata Radit menyudahi pembicaraan dengan mama Annisa. Radit menyimpan ponsel itu kembali ke sakunya sambil bersiul.


"Mama bilang apa yah?" tanya Vina.


"Mama bilang, si kembar tiga menginap di rumah mereka malam ini," jawab Radit sambil tersenyum.


"Loh. Apa itu tidak merepotkan mama dan papa?"


"Biar saja Bun. Itu salah satu bentuk rasa kasih sayang papa dan mama ke cucu cucunya. Mama menyuruh kita untuk berpacaran sepuasnya sebelum si kembar pulang ke rumah."


"Ya itu sih keinginan kamu yah. Tapi tetap saja aku khawatir," jawab Vina. Dia takut kedua baby sitter itu tertidur. Karena selama ini. Vina dan Radit selalu terbangun lebih awal dibandingkan kedua baby sitter itu jika salah satu si kembar menangis.


"Tenang saja. Papa itu. Pendengarannya tajam. Si kembar tidak akan kehausan tengah malam."


Vina hanya bisa mengangguk. Dia sebenarnya tidak rela jika ketiga bayi itu jauh darinya apalagi sampai terpisah rumah. Tapi Vina juga menghargai permintaan sang mama mertua. Sementara Radit sudah dari tadi bersiul menuju restoran pizza tempat yang mereka sepakati untuk makan.


"Malam semakin panjang Bun," bisik Radit ketika mereka sudah selesai memesan makanan.


"Iya. Iya. Tahu yah," jawab Vina juga tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2