Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Hampir Berganti Peran


__ADS_3

Vina berjalan tergesa ke depan pintu ketika baru saja mendengar suara mobil yang berhenti di garasi. Suami dan anak anaknya baru tiba dari rutinitas sore. Setiap sore di akhir pekan, Radit membawa ketiga putra putrinya untuk menikmati angin sore. Terkadang Radit membawa mereka ke taman atau bahkan ke swalayan terdekat untuk memanjakan ketiga putra putrinya dengan jajanan yang mereka sukai.


Biasanya, Vina selalu ikut. Tapi karena tadi Vina sedang membutuhkan kue dengan bibi Ina. Vina melewatkan rutinitas itu.


Vina membuka pintu. Ketiga putra putrinya buang sudah berumur hampir lima tahun berhamburan keluar dari mobil dengan tentengan plastik putih berlogo swalayan terkenal. Masing masing putra putrinya memegang jajanan masing-masing.


"Bun, lihat apa yang kami bawa," kata Kalina sambil menunjukkan plastik tempat belanjaannya. Vina melirik ke dalam plastik yang sudah dibuka itu. Vina menggelengkan kepalanya melihat banyaknya aneka jajanan itu.


"Jangan dibiasakan banyak jajanan seperti ini ya. Itu tidak bagus," kata Vina ketika melihat Radit membawa dua kantong besar sudah mendekat ke dirinya.


"Hanya sekali seminggu. Aku rasa itu tidak apa apa Bun. Lagi pula mereka membeli jajanan yang sehat," jawab Radit sambil melewati tubuh Vina dan langsung masuk ke dalam rumah. Radit memberikan kedua kantong besar itu kepada bibi Ina setelah terlebih dahulu mengambil kantong kecil dari salah satu kantong tersebut. Sedangkan ketiga anak kembar itu sudah duduk santai di ruang keluarga dengan ponsel di tangan masing masing. Ketiga anak kembar itu sedang belajar online bahasa Prancis. Mereka sudah fasih berbahasa Inggris. Bahasa Prancis adalah bahasa asing ketiga yang mereka pelajari. Ketiga anak kembar itu juga fasih berbahasa Mandarin.


"Favorit kamu Bun," kata Radit sambil menyerahkan kantong plastik berisi keripik kentang. Vina meraih kantong itu sambil tersenyum.


"Makasih yah."


"Yah, aku cari kerja ya!. Kata Sinta, Di universitas milik kak Andre. Ada lowongan dosen. Aku disarankan oleh Sinta untuk melamar," kata Vina sambil membuka salah satu kemasan keripik kentang itu.


"Tidak bisa Bun. Untuk apa kamu kerja. Di rumah sudah sibuk mengurus si kembar. Kalau kamu masih kerja di luar pasti lebih lelah lagi. Si kembar dan aku bisa tidak terurus jadinya," jawab Radit tegas. Sejak lulus kuliah dari S2, Vina sudah selalu minta ijin ke Radit untuk bekerja. Tapi Radit tidak mengijinkannya.


"Yah, aku juga ingin berkembang seperti Sinta dan Tini. Sinta sudah seorang dosen di Perguruan tinggi negeri. Tini sukses menjalankan perusahaannya. Sedangkan aku?. Aku hanya sukses membuat kue kue setiap hari," jawab Vina kesal. Dia juga ingin seperti kedua sahabatnya yang menjadi wanita karir.

__ADS_1


"Kamu bukan hanya sukses membuat kue Bun. Tapi kamu sudah hampir sukses menjadi bunda yang sempurna. Lihat ketiga buah hati kita. Mereka menjadi anak anak yang membanggakan. Setiap perlombaan mereka selalu menang. Di usia mereka, mereka sudah fasih berbahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Dan mungkin sebentar lagi mereka akan fasih berbicara Prancis," kata Radit sambil menunjuk ketiga buah hatinya yang bisa dilihat dari ruang tamu itu. Ketiga anak kembar itu sedang mempraktekkan berbicara dalam bahasa Prancis.


Vina menoleh ke buah hatinya. Putra putrinya sedang mengucapkan kata kata yang Vina sendiri tidak mengerti.


"Yah, kalau mengajar di kampus itu kan tidak setiap hari mengajar. Aku janji akan membagi waktuku dengan baik tanpa melupakan kewajiban aku," kata Vina berusaha meyakinkan suaminya. Sungguh, Vina tidak ingin melewatkan kesempatan itu.


"Bun, aku mau tanya. Apa uang yang aku" kasih ke kamu kurang. Hingga kamu perlu bekerja?" tanya Radit sambil menatap wajah istrinya.


"Tidak yah. Sama sekali tidak kurang. Aku hanya ingin mempergunakan ilmu yang aku peroleh selama ini supaya berguna untuk orang lain," kata Vina jujur. Jatah bulanan yang diberikan oleh Radit kepadanya melebihi dari cukup. Radit sudah bisa memanjakan Vina dengan materi yang lumayan melimpah. Perusahaannya sudah cukup berkembang. Bukan hanya perusahaan milik Rio, kakaknya Tini dan Handoko yang bekerja sama dengan perusahaannya. Sudah banyak pengusaha yang mengakui kehebatan Radit mengelola perusahaannya. Bahkan Radit juga sudah membuka beberapa cabang di luar kota.


Vina tentu saja ikut mencicipi keberhasilan suaminya. Hampir empat tahun sejak keadaan perusahaan membaik. Dan setiap tahun selama empat tahun ini, Vina dan Radit beserta ketiga buah hatinya mereka berlibur ke luar negeri. Dan jika ada waktu yang memungkinkan, mereka juga berlibur di beberapa kota wisata di dalam negeri. Bukan hanya itu. Vina juga sering dihadihi oleh Radit dengan perhiasan mahal, tas bermerek dan juga mobil mewah.


"Kalau begitu. Keputusan aku tetap seperti sebelumnya. Aku tidak mengijinkan kamu untuk bekerja," kata Radit tegas. Vina memajukan bibirnya beberapa centi karena kesal. Dia merasa sia sia sekolah tinggi tinggi tapi ilmu dan ijazahnya tidak bisa digunakan untuk menghasilkan uang.


"Kuliah bertahun tahun tapi hanya menjadi ibu rumah tangga biasa," kata Vina kesal kemudian menghembuskan nafasnya kasar.


"Tapi aku akan tetap kerja yah. Aku tetap akan melamar di universitas itu dan mengikuti test," jawab Vina lagi. Radit merapatkan tubuhnya ke tubuh Vina. Kemudian memegang bahu kedua istrinya supaya menatap wajahnya.


"Baiklah kalau kamu tetap harus bekerja. Besok aku akan menemui Andre supaya kamu diterima secepatnya mengajar di sana," kata Radit tenang. Vina tersenyum senang dan langsung memeluk tubuh suaminya.


"Terima kasih yah. Terima kasih sayang," kata Vina.

__ADS_1


"Sama sama Bun. Tapi setelah kamu diterima bekerja di universitas itu. Maka kita harus berganti peran. Kamu bekerja di luar. Dan aku yang harus di rumah untuk mengurus rumah tangga kita. Aku juga tidak perlu ke kantor lagi. Karena tugas kamu yang di rumah akan aku ambil alih," kata Radit masih tenang. Setelah itu dia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Vina di ruang tamu itu.


Radit tidak main-main dengan apa yang dikatakannya. Dia sungguh tidak rela jika ketiga buah hatinya harus terlepas pengawasan dari mereka orang tuanya. Apalagi harus kekurangan kasih sayang karena mereka berdua sibuk bekerja. Ketiga buah hatinya adalah harta yang paling berharga bagi dirinya. Dia tidak ingin salah satu dari mereka melewatkan pertumbuhan tiga anak kembar tersebut.


Setiap malam sebelum tidur d ia selalu menanyakan perkembangan anak anaknya kepada Vina. Radit menyadari jika dia tidak bisa melihat langsung kemajuan kemajuan yang dialami oleh anak-anaknya setiap hari karena dirinya yang sangat sibuk. Tapi Radit bisa mendengar kemajuan apa saja yang dialami oleh anak anaknya dari mulut sang istri.


Vina terpaku di tempat duduknya. Di terbodoh mendengar perkataan suaminya. Radit memang berkata dengan sangat tenang. Tapi Vina dapat merasakan kekecewaan Radit terhadap dirinya. Vina seketika merasa bersalah karena keras kepalanya. Vina juga akhirnya beranjak dari duduknya. Dia masuk ke kamar dan melihat Radit yang duduk di tepi ranjang.


"Yah, aku minta maaf," kata Vina setelah duduk di sebelah Radit. Radit masih diam dan menundukkan kepalanya. Vina sengaja menyenggol tubuh suaminya karena merasa tidak ada respon.


"Kejarlah cita cita bun. Aku tidak melarang kamu lagi untuk berkarir."


Vina semakin merasa bersalah mendengar perkataan suaminya yang sangat pelan.


"Kamu bahkan boleh menggantikan aku di perusahaan. Aku siap menjadi ayah rumah tangga untuk keluarga kecil kita," kata Radit lagi.


"Yah. Jangan marah donk. Aku janji. Tidak akan mengulangi keras kepalaku seperti tadi. Tapi dimaafkan ya!" kata Vina sambil meraih jemari suamiku. Vina menautkan jemarinya di tangan Radit. Radit sudah sangat senang di dalam hati karena Vina berjanji tidak akan berniat meminta ijin untuk bekerja.


"Apa perlu aku membawa masyarakat satu kelurahan ini untuk meminta maaf supaya dimaafkan?" tanya Vina karena Radit masih terdiam. Tapi mendengar perkataan Vina barusan. Radit tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.


"Iya Bun, dimaafkan. Tapi untuk permintaan kamu untuk bekerja jangan diulangi lagi ya," kata Radit sambil merangkul bahu istrinya. Vina mengangguk kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2