
Suara yang saling bersahutan bergema di ruangan itu. Rumah lantai dua yang menjadi hunian Cindy setelah dia diusir Andre. Rumah ini adalah rumah yang sengaja dibangun Rian untuk mereka. Rumah ini, tidak berubah sejak pertama kali Cindy menginjak kaki di sini. Bagian luar juga belum di cat, gerbang juga belum ada bahkan perabotan juga belum terisi dengan sempurna. Sangat jauh berbeda dengan rumah Andre yang sudah ditinggalkannya.
Bukan Cindy yang tidak mau membeli perabotan, tapi Rian tidak memberinya uang lebih. Jangankan untuk membeli perabotan, untuk kebutuhan pribadinya saja dan kebutuhan Alexa Cindy harus berhemat. Satu hal yang paling dibencinya di dunia ini adalah berhemat. Tetapi sejak Rian membawanya kemari, Cindy hampir setiap hari harus berhemat.
Lebih satu bulan tinggal di rumah ini. Cindy dijatah oleh Rian. Bukan seperti Andi yang royal memberikan materi kepada Cindy. Apalagi Cindy tidak punya penghasilan sendiri. Jadilah keuangan Cindy sekarang terbatas. Cindy menyesal karena harus bercerai dari Andre. Apalagi Andre tidak memberi kompensasi perceraian sepeserpun. Hingga membuat Cindy nekat untuk menjumpai Andre. Dan itu pemicu Cindy dan Rian adu mulut.
"Harusnya kamu malu menjumpai Andre," kata Rian keras. Dia menunjuk muka Cindy yang duduk di sofa. Cindy balik menatap tajam Rian. Rian semakin marah dengan tatapan itu.
"Kamu yang membuat aku menjumpai Andre. Kamu terlalu pelit. Untuk kebutuhan aku dan Alexa tidak cukup dengan apa yang kamu berikan. Aku hanya meminta pembagian penjualan rumah. Apa itu salah?"
"Iya salah. Sangat salah. Kamu tidak tahu menuntut apa yang harusnya kamu tuntut. Ingat, Andre menceraikan kamu karena ketahuan berselingkuh dengan aku, harusnya kamu tahu diri. Bukannya terus menganggunya," jawab Rian masih dengan suara yang kencang. Mengetahui Cindy menjumpai Andre membuat Rian marah dan merasa harga dirinya tidak ada. Sebagai sesama laki laki, Rian tahu betapa sakit hatinya Andre karena harus melihat langsung perselingkuhan Cindy dengan dirinya.
"Kalau begitu, berikan aku uang yang cukup. Aku paling benci kalau harus berhemat," kata Cindy dengan tersenyum sinis. Dia menengadahkan tangannya ke Rian. Rian mengusap wajahnya frustasi. Dia belum menikahi Cindy, tapi cara Cindy seperti mau mengatur semua hidup Rian.
"Keuangan aku masih belum stabil Cindy. Bersabarlah, ada saatnya kamu nanti bisa hidup mewah,"
"Alasan kamu, dasar pelit. Punya perusahaan tapi pelitnya minta ampun," jawab Cindy sinis.
"Ya ampun Cindy, kamu kan tahu bahwa perusahaan aku masih baru merintis. Harusnya kamu mendukung aku bukan seperti ini, mengatai pelit,"
"Terserah deh, aku mau cari kerja saja. Mengandalkan kamu sama saja pasrah hidup susah," gerutu Cindy. Hidup berhemat membuat Cindy memutuskan untuk mencari kerja. Rian menatapnya tajam. Dia tidak menyangka Cindy akan mencari kerja. Padahal sebelumnya Rian sudah melarang.
__ADS_1
"Cari kerjanya nanti saja. Kita harus menikah segera. Aku tidak mau terus kumpul kebo seperti ini," jawab Rian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Cindy. Walau sudah berselingkuh dengan Rian, masih jauh di pikirannya untuk menikah apalagi menikah dengan Rian.
"Fokuslah merintis usaha mu, kita bisa menikah setelah keuangan kamu stabil," jawab Cindy beralasan. Cindy berusaha mengulur waktu. Walau tidak mau menikah dalam waktu cepat ini, Cindy masih berusaha menahan Rian di sisinya. Tapi lain bagi Rian, perkataan Cindy merupakan penolakan atas dirinya.
"Apa maksud kamu Cindy, apa kamu masih berusaha mengejar Andre. Aku yakin sekeras apapun kamu berusaha Andre tidak akan mau lagi bersama kamu,"
"Aku yang tahu hatinya Rian. Bukan kamu," jawab Cindy tenang tanpa membantah ucapan Rian. Perkataan tersirat, bahwa Cindy memang masih menginginkan Andre.
"Baiklah Cindy, jika nanti aku tidak mau lagi menikah dengan kamu. Jangan salahkan aku. Kita jalani hubungan ini seperti kemauan kamu," kata Rian pasrah. Dia mencintai Cindy tapi Cindy menolak menikah dengannya. Rian akan berusaha menuruti kemauan Cindy. Walau hatinya selalu dibayangi dosa setiap selesai bercinta dengan Cindy. Rian masuk ke dalam kamar hanya untuk mengambil kunci mobil. Sebelum jam menunjukkan angka dua, Rian harus segera tiba di kantornya karena harus mengadakan rapat dengan partner bisnisnya.
Setelah memastikan Rian pergi, Cindy memanggil pembantunya. Pembantu merangkap baby sitter. Cindy menitipkan Alexa ke pembantunya. Sedangkan Cindy masuk ke kamar untuk membasuh tubuhnya.
Cindy berdandan sangat cantik. Setelah puas melihat hasil riasan wajahnya. Cindy keluar dari kamar.
"Ambilkan sepatu warna merah bibi. Aku mau keluar," kata Cindy. Dia tidak memegang apa apa, tapi masih tega menyuruh bibi yang menggendong Alexa. Bibi itu menurut mengambil sepatu Cindy.
"Aku pulang malam, kalau Rian duluan pulang. Bilang saja aku ke rumah mamaku," kata Cindy lagi. Bibi hanya mengangguk.
"Nyonya, bisa aku meminta gaji aku bulan ini. Terhitung tanggal masuk, hari ini sudah lewat satu minggu nyonya," kata bibi takut. Cindy menghela nafas panjang. Uang yang seharusnya gaji bibi sudah dititipkan Rian kepadanya. Tetapi karena merasa kurang dengan uang pemberian Rian, akhirnya Cindy memakai uang tersebut.
"Nanti setelah aku pulang, aku akan memberikan gaji kamu," kata Cindy bernegosiasi. Dia menahan kesalnya kepada pembantu tersebut karena menanyakan gaji. Seandainya dia tidak ada rencana keluar hari ini, sudah bisa dipastikan bibi tersebut kena omelan dirinya. Bibi itu mengangguk. Tanpa menoleh ke bibi dan Alexa, Cindy keluar dari rumah.
__ADS_1
Dia masuk ke dalam mobilnya. Menjalankan ke tempat yang dituju. Hingga Cindy tiba ditempat yang diinginkannya. Cindy disambut oleh seorang wanita cantik di rumah berlantai tiga. Sekilas rumah tersebut seperti rumah penduduk lainnya. Tetapi di dalam rumah, rumah itu bukanlah layak disebut rumah melainkan tempat yang seharusnya dibasmi. Ya tempat itu adalah tempat para wanita malam menunggu para hidung belang.
"Kamu boleh naik ke atas seperti biasa, kalau ada pelanggan. Aku menghubungi kamu," kata wanita cantik itu kepada Cindy. Cindy mengangguk tanda mengerti dan langsung berjalan menuju tangga.
"Kalau bisa yang tajir ya mi," kata Cindy yang sudah menaiki tangga. Mami yang dimaksudkan Cindy mengangguk dan tersenyum. Dengan langkah pasti Cindy menaiki tangga tersebut. Cindy tidak ingat bahwa ada seseorang mengetahui pekerjaannya ini. Dia tidak berpikir panjang, jika Rian mengetahui ini. Di pikirannya selain uang, Cindy merasa bangga dan puas jika bermain dengan lelaki dengan ukuran yang berbeda.
Cindy membuka kamar kosong yang dimaksudkan mami. Sebelum mami memberi informasi Cindy berbaring dan memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian, Cindy tersenyum ketika melihat pesan mami bahwa pelanggan ada yang akan segera ke kamarnya. Cindy bangkit dan berjalan ke arah lemari di ruangan itu. Cindy memilih lingerie berwarna merah menyala. Cindy segera memakai lingerie tersebut dan berbaring di ranjang dengan pose yang menggoda.
Tidak ada raut wajah khawatir atau takut di wajah Cindy. Hampir dua tahun melakoni pekerjaan ini sebelum menikah dengan Andre, semua aman dan terkendali. Apalagi jam operasional Cindy memilih siang. Selain aman, orangtuanya juga tidak curiga.
Cindy memasang wajah tersenyum, ketika mendengar suara pintu dibuka. Cindy berdiri dan bangkit dari ranjang menyambut tamunya. Cindy menarik tangan pelanggan tersebut menuju ranjang. Menggoda dengan sentuhan berharap si pelanggan cepat memainkan perannya. Pelanggan tersebut hanya diam dan tiba tiba memegang tangan Cindy dengan kuat. Cindy yang tidak biasa sebelumnya mendapat pelanggan seperti itu merasa heran. Hingga rasa heran itu terjawab dengan suara gaduh para wanita yang berteriak histeris.
Tiba tiba Cindy merasa takut, pelanggannya bukanlah laki laki hidung belang melainkan aparat yang menyamar sebagai pelanggan. Aparat itu mendorong Cindy keluar, Cindy memohon untuk memakai pakaian terlebih dahulu. Aparat itu masih punya rasa kasihan dan mengijinkan Cindy untuk mengenakan pakaiannya.
Cindy dan lainnya digiring beberapa petugas menuruni tangga. Para wanita **** tersebut berusaha memohon untuk dilepaskan. Bahkan janji keluar dari mulut mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Tetapi tugas tetaplah tugas. Tidak ada ampun, mereka tetap dimasukkan ke mobil kotak berventilasi.
Cindy hanya dapat menangis. Menyesal tentu saja menyesal. Sebelum melangkah dari rumah, Rian sudah melarang untuk mencari kerja. Tapi kenikmatan duniawi mengantarkannya ke rumah yang dia sebut rumah mami.
Bayang bayang pernikahan bersama Andre terlintas di pikirannya. Perlakuan baik dan bertabur materi yang diterima dari Andre membuat Cindy semakin menyesal dan menangis mengingat perselingkuhannya.
Cindy memeluk dirinya sendiri. Wajah kecewa kedua orangtuanya juga terlintas di pikirannya. Juga Alexa yang sudah pintar memanggilnya mama. Bayangan itu silih berganti di pikirannya. Membuat Cindy menangis semakin kencang sejalan dengan mobil kotak itu yang melaju kencang menuju panti penampungan sosial.
__ADS_1
Besok harinya, para wanita malam itu diberikan pengarahan. Pengarahan untuk berubah dan meninggalkan pekerjaan haram itu. Bahkan wanita malam itu ditawari beberapa pelatihan keterampilan. Untuk bekal memulai hidup baru tanpa menjual diri. Satu dari pengarahan itu, tak satupun masuk ke telinga Cindy. Dia berpikir siapa yang akan menjaminnya keluar dari panti penampungan sosial ini. Karena setelah pengarahan ini, mereka akan diperbolehkan pulang tapi dengan syarat ada penjamin.
Cindy terus berpikir dan berpikir. Tidak mungkin orangtuanya yang akan menjaminnya keluar. Mengetahui Cindy terjaring razia wanita malam, sudah pasti membuta orang tuanya shock. Walau bejat begini, Cindy tidak mau mengorbankan orang tuanya. Hingga terbersit di pikirannya untuk menghubungi seseorang. Dia yakin bahwa orang itu akan bersedia menjaminnya dari panti penampungan sosial ini.