
Teras rumah Andre berubah menjadi panggung musik. Andre yang awalnya meminta Sinta untuk menjadi penyanyi menghibur mereka justru Andre yang menjadi penyanyi di panggung itu. Sinta berkali kali menyunggingkan senyumnya. Melihat Andre bernyanyi seperti penyanyi profesional. Walau suaranya tidak sebagus suara penyanyi profesional tetapi suara Andre masih enak untuk didengar.
Bukan hanya Andre. Hampir semua laki laki yang ada di tempat itu menyanyikan sebuah lagu termasuk papanya Sinta. Sinta merasakan hatinya sangat bahagia. Rasa khawatir yang tadi ditunjukkan papanya seakan hilang setelah menyanyikan sebuah lagu.
Tempat itu semakin semarak dengan kedatangan dua pasang suami istri. Vina Radit dan Tini Sean.
"Yah, bisa nyanyi?" tanya Vina ketika mereka sudah duduk di bangku plastik. Radit menatap Vina dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu bun. Bisa nyanyi tidak?" tanya Radit balik. Vina juga menggelengkan kepalanya. Radit terkekeh.
"Kalau begitu kita tinggal menikmati saja," kata Radit lagi. Mereka duduk santai sambil bersandar menikmati lagu yang dibawakan oleh papa Rahmat dan mama Ningsih.
"Tapi yang aku lihat, kita kalah dari om Rahmat dan Tante Ningsih yah. Melihat mereka bernyanyi seperti itu. Aku juga ingin menyanyikan lagu romantis bersama kamu," bisik Vina.
"Kalau tidak bisa menyanyi jangan dipaksain Bun. Nanti yang ada malu maluin," bisik Radit lagi. Vina hanya mengangguk saja dan mengarahkan pandangannya terus ke pasangan lansia itu. Melihat keromantisan pasangan papa Rahmat dan mama Ningsih. Vina juga berharap rumah tangganya bersama dengan Radit bisa langgeng seperti itu sampai tua.
"Tenang saja Bun. Kita akan seperti mereka kelak," bisik Radit kemudian meraih tangan Vina dan menggenggamnya. Vina juga tersenyum. Radit seakan bisa membaca pikirannya.
Sepasang suami itu sama sama tertawa ketika melihat Tini sudah maju ke depan. Mereka tergelak ketika mendengar suara Tini yang meneriakkan judul lagu yang akan dibawanya.
"Bento," teriak Tini sambil mengacungkan tangannya ke atas. Sean yang duluan bertepuk tangan mendengar suara sang istri.
Namaku bento rumah real estate
Mobilku banyak rusak semua
Orang memanggilku si gadis tomboi.
__ADS_1
Suara tawa riuh terdengar di tempat itu mendengar suara Tini yang mempelesetkan lirik lagu. Hingga lagu itu selesai. Tini bisa membuat orang orang tertawa dengan tingkah konyolnya. Apalagi Tini berjoged dengan gerakan seperti orang mabuk. Sean sampai memegang perutnya karena melihat sang istri yang mampu membuat mereka semua terhibur.
Bukan hanya satu lagi. Lagi lagi Tini membawakan satu lagi karena permintaan penonton. Para penonton bersorak dan tertawa terbahak-bahak ketika menyadari bahwa lagu kedua yang dibawakan Tini hanya berisi lima kata sampai selesai. Lagu bukan lautan hanya kolam susu menjadi lagu yang membuat para penonton tidak bisa berhenti tertawa apalagi dengan tingkah Tini seperti penyanyi dangdut.
Tini ikut tertawa ketika para penonton masih saja tertawa sementara dirinya sudah duduk di samping suaminya. Sean meletakkan tangannya di bahu Tini dan mengelusnya.
Sekarang giliran Radit dan Vina yang diminta oleh Andre untuk menyanyikan sebuah lagu. Tapi sepasang suami istri itu kompak menggerakkan tangannya pertanda menolak permintaan Andre. Andre bertanya kepada penonton yang bersedia untuk menyumbangkan lagu. Tak disangka yang maju ke depan justru papa Rahmat dan papa Panji.
Sinta semakin mengembangkan senyumnya. Dia tidak menyangka acara kampungan seperti ini sanggup membuat keluarga besar dan para sahabatnya bisa bergembira. Apalagi acara ini khusus untuk merayakan wisuda.
"Kenapa senyum senyum sayang?" tanya Andre yabg sudah duduk di sebelah Sinta. Sinta menunjuk dua pria yang sangat dihormatinya itu. Papa dan papa mertuanya sudah menyanyikan lagu lama tapi masih enak di dengar.
"Aku senang melihat mereka kompak seperti itu pa," kata Sinta. Sungguh dirinya tidak pernah membayangkan punya suami dari keluarga kaya dan menghargai kedua orangtuanya dengan tulus.
"Kamu akan lebih senang lagi jika mengetahui sesuatu," kata Andre membuat Sinta menjadi penasaran.
"Sesuatu apa pa?.
Dua Minggu kemudian. Suasana rumah Sinta sangat berbeda dengan situasi di mana ketika mereka merayakan wisuda Sinta. Keceriaan dan kegembiraan yang tercipta kala itu berbanding terbalik dengan situasi saat ini. Sinta dan Andre merasakan kesedihan yang luar biasa karena harus meninggalkan orang orang tercinta dan para sahabatnya dalam waktu yang cukup lama.
Yang membuat Sinta dan Andre paling sedih karena Airia putri mereka tidak bersedia ikut ke luar negeri. Batita itu menangis jika mendengar akan berangkat ke luar negeri. Padahal semua surat surat yang diperlukan untuk keberangkatan dan tinggal di luar negeri sudah selesai diurus. Tapi Airia justru memilih tinggal dengan para om, Tante, Abang dan juga kakek neneknya.
"Pa, gimana donk. Masa Airia tidak ikut," kata Sinta tidak bersemangat. Satu jam lagi mereka akan berangkat ke Bandara. Barang barang yang akan dibawa sudah dimasukkan ke dalam mobil. Dan keluarga juga para sahabat mereka juga sudah berkumpul di rumah itu untuk melakukan perpisahan sementara dengan Andre dan Sinta. Sama seperti Sinta. Andre juga sudah tidak bersemangat lagi. Putrinya itu justru tertawa riang berada di pangkuan Andi. Agnes yang berusaha membujuk Airia. Juga tidak berhasil. Airia justru mengalungkan tangannya di leher Andi.
Papa Rahmat dan mama Ningsih juga melakukan hal yang sama. Membujuk Airia. Tapi batita itu tetap pada pendirian. Dia menggelengkan kepalanya pertanda tidak mau ikut dengan kedua orangtuanya dan adik kecilnya.
"Sudah Andre, Sinta. Kalian jangan khawatir. Jika Airia rewel. Aku akan segera mengantarnya ke sana," kata Andi. Yang dikhawatirkan oleh Andre bukan karena Airia yang rewel. Tapi Andre khawatir jika Airia justru tidak merasa kehilangan jika mereka meninggalkan Airia. Selama ini Airia sudah terbiasa menginap di rumah para om dan kakek neneknya. Airia tidak akan rewel jika ditinggal. Andre yang tidak bisa menahan rindu nantinya.
__ADS_1
"Tolong bujuk Airia kak. Biasanya bujukan kamu ampuh bagi dia," kata Andre. Andi juga terdengar membujuk Airia. Tapi tetap saja Airia tidak mau ikut.
"Bagaimana kalau kak Andi ikut mengantar Airia ke luar negeri," saran Tini. Semua mata mengarah ke Andi. Andi berbicara sebentar dengan Bella istrinya. Kemudian Andi mengangguk setuju. Tapi itu tidak langsung membuat Andre dan Sinta merasa lega. Justru Airia menangis dan turun dari pangkuan Andi. Airia mencari perlindungan kepada sang kakek.
Papa Rahmat mendekap tubuh cucunya. Dia mengerti akan perasaan Andre jika Airia tidak ikut. Tapi melihat penolakan Airia. Papa Rahmat juga tidak tega untuk membujuk.
Melihat Airia yang memang tidak ingin ikut ke luar negeri. Akhirnya diputuskan bahwa hanya mereka berempat yang akan berangkat. Sinta, Andre, Agnes dan Andra. Andre dan Sinta dengan sangat berat hati menerima keputusan itu.
Kini tibalah mereka akan berangkat. Semua menuju mobil masing-masing. Papa Panji dan mama Mia ikut mobil Papa Rahmat. Sedangkan Airia justru ikut ke mobil bayu dan Maya. Gadis kecil itu takut satu mobil dengan orangtuanya. Dia seakan takut dibawa kabur. Mereka semua memutuskan untuk mengantar sampai ke bandara.
Sepanjang perjalanan menuju Bandara. Sinta dipenuhi dengan pikiran pikiran sedih membayangkan hidup di luar negeri tanpa putrinya. Dia juga tidak menyangka jika Airia terlihat lebih menyayangi para om dan juga kakek neneknya dibandingkan mereka berdua sebagai orang tua kandungnya.
Setelah di bandara. Sinta dan Andre bergantian menciumi wajah Airia yang kini sudah berada kembali di gendongan Andi. Batita itu juga mencium pipi kedua orangtuanya dan Andra. Airia tidak seperti anak kecil lainnya yang menangis ditinggal pergi kedua orangtuanya. Bayi itu justru terlihat senang melihat keramaian di bandara itu.
Semua yang mengantar mereka dapat merasakan kesedihan Sinta dan Andre yang harus meninggalkan putri tercinta mereka di sini.
Sinta menyeka air matanya. Kini dia memeluk satu persatu para keluarga dan para sahabatnya. Sinta tidak bisa menahan air matanya ketika memeluk kedua orangtuanya. Perpisahan itu kembali terjadi demi pendidikan. Begitu juga dengan kedua orangtuanya. Papa Panji dan mama Ria juga tidak dapat menahan air mata mereka. Melepas kembali putri sulung mereka ke negeri orang yang berbeda negara.
Sinta merentangkan kedua tangannya ketika hendak berpelukan dengan dua sahabat karibnya. Tiga sahabat itu saling berpelukan dengan suara terisak menahan tangis. Mereka memang berpisah hanya beberapa tahun. Tapi membayangkan empat tahun ketiga sahabat itu seakan tidak rela untuk berpisah. Kebersamaan mereka terlalu indah dan sangat sayang jika dipisahkan oleh jarak.
"Sudah ma. Kita harus ke ruang keberangkatan," kata Andre. Tiga sahabat itu seakan tidak rela untuk melepaskan pelukan mereka.
"Kita akan berkunjung ke sana Bun. Aku sudah membicarakan itu dengan Sean," kata Radit membuat tiga wanita itu saling melepaskan pelukan dan sama mengusap air mata.
"Iya Tini, Vina. Liburan kalian akan hemat nantinya. Aku akan menampung kalian di apartemen kami," kata Andre bercanda.
"Enak saja bilang menampung. Kami bukan anak anak terlantar ya," jawab Tini kesal. Baik Radit dan Sean sama sama langsung merangkul istri mereka. Sedangkan Andre dan Sinta juga Andra sudah berjalan menuju eskalator. Sedangkan Agnes masih berpelukan dengan Ronal. Sama seperti yang lainnya. Ronal juga terlihat sedih berpisah dengan Agnes kekasih hatinya.
__ADS_1
Sinta, Andra dan Andre sudah di ruang keberangkatan. Sinta terus mendongak ke lantai dua. Dari ruang keberangkatan itu mereka bisa melihat para keluarga dan sahabat yang mengantar mereka. Sinta berkali kali melambaikan tangan kepada keluarga dan sahabat terutama Airia. Air matanya kembali mengalir melihat Airia yang juga melambaikan tangan kepada mereka.
Air mata itu semakin deras ketika pemberitahuan terdengar untuk memasuki pesawat. Sinta berhenti melangkah dan berbalik sebelum keluar dari ruang keberangkatan itu. Hatinya berdenyut nyeri. Keberangkatan ke kota beberapa tahun lalu tidak sesedih ini yang harus meninggalkan buah hatinya. Melihat hal itu. Andre merangkul bahu istrinya untuk segera memasuki pesawat. Andre tidak berani untuk berbalik dan mendongak ke lantai dua. Sama seperti Sinta. Andre juga merasakan kesedihan yang mendalam karena harus meninggalkan Airia.