
Mendapat penolakan dari papa mertuanya membuat Radit tidak bersemangat. Wajahnya lesu seperti tidak ada semangat hidup. Radit ingin mengetuk pintu itu kembali. Tapi ponselnya yang berdering membuat niatnya urung. Tanpa menjawab, Radit memasukkan ponsel itu ke saku dan mundur dari depan pintu rumah Vina. Radit mengambil kunci motornya. Dan segera menaiki motornya yang masih terparkir di halaman itu.
Radit masuk ke rumahnya sendiri dengan lesu. Langkainya gontai seperti tidak bertulang. Donna sudah menunggu Radit di ruang tamu rumah itu. Tidak seperti biasanya, Radit hanya diam melihat Donna dan ikut duduk di sofa. Donna semakin khawatir, niatnya untuk membujuk Radit untuk melanjutkan pernikahan sepertinya tidak akan berhasil.
Tapi bukan Donna namanya kalau tidak menyukai tantangan. Melihat wajah lesu Radit, Donna merasa itu adalah tantangan baginya untuk membuat wajah itu kembali ceria. Donna menatap Radit yang bersandar ke sofa. Posisi mereka saling berhadapan. Melihat mata Radit yang terpejam, Donna tahu bahwa kekasihnya itu sedang berpikir. Donna tidak mau tahu apa yang dipikirkan Radit. Yang diinginkannya sekarang Radit bisa mengalihkan pikiran itu dengan kehadirannya saat ini.
Donna tentu saja sangat kecewa. Dua hari menjelang pernikahannya. Tanpa sebab Radit membatalkan pernikahan tersebut. Donna sungguh tidak tahu, bahwa pikiran Radit hanya dipenuhi dengan janin kembarnya. Donna bertekad dalam hati. Pernikahannya harus berlangsung walau posisinya nanti hanya menjadi istri kedua. Donna memang belum mengetahui apapun yang terjadi dengan Vina. Niatnya balas dendam hanya akan tercapai bila dia menjadi istri kedua Radit. Sejak Vina mengusirnya pagi itu, Donna bertekad akan membalas perbuatan Vina setelah dirinya menikah dengan Radit.
Donna berdehem, dia sengaja melakukan itu untuk menyadarkan keberadaannya di tempat itu kepada Radit. Radit sama sekali tidak membuka matanya. Donna merasa diabaikan. Sangat jarang Radit melakukan hal itu padanya. Membuat Donna merasa kesal. Donna mengepalkan tangannya. Tapi Donna tidak ingin menyerah. Donna beranjak dari duduknya dan duduk di samping Radit.
"Untuk apa kamu datang ke rumahku Donna," kata Radit pelan, Radit masih dengan posisi bersandar dan memejamkan mata.
"Kenapa pernikahan kita, kamu batalkan Radit. Kamu tahu, bukan hanya aku yang kecewa dan malu tapi orangtuaku juga," jawab Donna sedih. Pihak dari Donna memang sudah menebar undangan di sekitar tetangga dan kerabat dekat. Mendengar pernikahan Donna dan Radit dibatalkan, orang tua Donna tidak terima dan menyuruh Donna untuk konfirmasi langsung ke Radit.
"Tidak ada penjelasan untuk itu. Aku kira hubungan kita lebih baik begini saja," jawab Radit pelan. Pesan Andre dan perkataan papanya terlintas ketika Donna menanyakan perihal pembatalan pernikahan. Donna menelan ludahnya kecewa. Dia sudah paham sifat Radit. Pria tidak bisa dibantah itu tidak akan memberikan penjelasan kalau sudah berkata begitu. Untuk bertanya yang lain pun, Donna sudah tidak berani lagi.
Donna terdiam. Itu lebih bagus daripada berkata kata yang akan membuat Radit marah. Sedangkan Radit, dia masih betah dengan posisinya yang seperti itu.
"Donna, pulanglah," kata Radit setelah membuka matanya. Donna menoleh dan mengangguk.
"Oke kalau begitu. Aku harap pembatalan pernikahan hanya bersifat sementara sayang," jawab Donna sambil meletakkan tangannya di paha Radit. Donna sengaja meremasnya kemudian merabanya pelan. Melihat tidak ada penolakan, Donna semakin berani meraba hingga ke pangkal paha milik Radit.
Hampir sepuluh hari Radit tidak merasakan sentuhan wanita. Sejak Vina kabur dari rumah, perhatian Radit hanya tertuju untuk menemukannya. Hingga Vina kembali ke rumah, Radit juga sibuk dengan membawa Vina kembali ke rumah sakit. Sentuhan Donna di area pahanya seakan mengingatkan Radit akan kenikmatan duniawi. Radit tidak bisa menolak sentuhan sensual itu. Bahkan bisa dikategorikan Radit menikmatinya. Dan menginginkan lebih dari sentuhan di pahanya.
Donna tersenyum melihat Radit yang menikmati sentuhannya. Pancingannya berhasil. Donna sudah paham tentang Radit luar dalam. Bagaimana menghadapi pria itu jika marah dan juga untuk menyenangkan hatinya disaat banyak pikiran seperti ini. Donna tidak perlu tahu apa yang dipikirkan Radit. Dia hanya tahu untuk mengalihkan pikiran itu. Donna semakin bersemangat. Jika hari ini, Radit membatalkan pernikahan mereka. Donna berjanji dalam hati, bahwa bulan depan Radit tidak akan bisa menolak pernikahan tersebut.
Donna semakin bersemangat. Radit yang kembali memejamkan mata dan mendesis, Donna tahu, bahwa pria itu sudah horny. Donna semakin memepetkan tubuhnya dan mencium bibir Radit tanpa malu. Donna semakin senang karena Radit menyambut bibirnya.
"**** ***," kata Radit memerintah ketika Donna sudah melepaskan benang di bagian atas tubuh Radit. Donna semakin mengembangkan senyumnya ketika Radit sudah memberikan akses baginya untuk **** ***.
"Kita sebaiknya ke kamar," bisik Radit lagi. Bibi Ina masih di dapur dan Radit tidak ingin bibi Ina memergoki mereka sedang bercinta. Donna menulikan pendengarannya. Donna langsung melakukan apa yang diperintahkan Radit lagi.
Radit lupa akan ajakannya untuk ke kamar. Kenikmatan yang diberikan Donna memabukkan dirinya. Kini Radit duduk bersandar dan memejamkan mata. Bukan karena berpikir akan hubungannya dengan Vina dan janinnya kembarnya melainkan menikmati rasa nikmat akibat kecupan dan ciuman di area terlarangnya. Donna memang melakukan perintah Radit semaksimal mungkin. Dan dia ingin memuaskan Radit di sofa ini. Donna berharap, kali ini Radit lupa untuk memakai pengaman. Dan itu akan menjadi alasannya untuk menjerat Radit dalam pernikahan bulan depan.
Donna sudah melepaskan semua benang yang ada di tubuhnya. Ekor matanya bisa melihat bibi Ina yang terkejut melihat mereka berdua tanpa busana. Donna tidak perduli. Ambisinya untuk memiliki Radit seutuhnya menghilangkan rasa malu di hatinya. Atau bisa saja memang dia tidak mempunyai urat malu sama sekali.
__ADS_1
Donna tersenyum ketika melihat bibi Ina sudah berlalu. Tangannya dan mulutnya masih aktif. Sedangkan Radit, masih memejamkan mata. Radit tidak tahu bahwa apa yang ditakutkan tadi sudah terjadi. Bibi Ina sudah melihat mereka.
Donna naik ke pangkuan Radit. Donna memposisikan dirinya untuk memimpin percintaan mereka. Radit membuka mata dan tidak sengaja melihat foto pernikahannya dengan Vina. Bayangan Vina yang merintih karena kesakitan akibat pemerkosaan yang dilakukannya sepuluh hari yang lalu terlintas di pikirannya. Bukan hanya rintihan kesakitan itu. Perkataan perkataan Vina dan tangisannya di tengah malam ikut juga berkelebat di pikiran Radit. Entah kenapa Radit merasakan perasaan asing di hatinya. Perasaan bersalah kembali hinggap di hatinya. Perasaan itu membuat batang kebanggaannya menjadi loyo dan mengecil.
Radit menahan pinggul Donna. Kemudian mengangkat tubuh itu untuk turun dari pangkuannya. Donna sangat kecewa dan ingin protes, tapi melihat batang keras itu sudah loyo. Donna heran. Baru kali ini Radit mau berhenti di tengah permainan mereka. Biasanya pria itu tidak cukup hanya sekali merengkuh kenikmatan dari dirinya. Donna menarik nafas panjang dan belum berniat memakai pakaiannya kembali. Sedangkan Radit memungut pakaian dan mengenakannya.
"Pakailah," kata Radit sambil memberikan pakaian Donna yang sudah dipungutnya. Donna cemberut dan menerima pakaian itu dengan kecewa.
"Kenapa kamu menolak aku?" tanya Donna kecewa. Sebagai wanita yang sudah lihai memuaskan Radit, Donna merasa ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran Radit. Donna takut, Radit sudah tertarik kepada Vina.
"Jangan banyak bertanya. Cepat kenakan pakaian kamu dan pergi dari sini. Aku masih ada urusan yang lebih penting daripada harus bercinta denganmu," jawab Radit sambil memperhatikan foto pernikahannya dengan Vina. Di foto itu Vina tersenyum sedangkan Radit memasang wajah datar.
Sambil mengenakan pakaiannya, mata Donna tidak lepas dari Radit.
"Apa yang kamu lihat Radit, apakah gara gara dia, kamu membatalkan pernikahan kita?" tanya Donna marah. Dia menunjuk foto itu tepat ke arah Vina.
"Itu bukan urusan kamu,"
"Ini sudah jelas urusan aku Radit, aku yang dirugikan di sini," jawab Donna sedih. Tangannya bergerak menghapus air matanya yang sudah menetes.
"Aku korban,"
"Korban apa?" tanya Radit lagi.
"Aku korban dari janji palsu mu Radit. Di hadapan orang tuaku kamu mengatakan akan menikahi aku. Tapi nyatanya apa. Kamu membatalkan secara sepihak. Aku dan keluargaku akan menanggung malu,"
"Yang maksa mau menikah siapa?. Aku sudah suruh kamu untuk bersabar menunggu. Tapi kamu maksa untuk menikahi kamu bulan ini," jawab Radit tidak mau kalah.
"Tapi sampai kapan aku menunggu, kita sudah lama menjalin hubungan. Aku bahkan rela menjadi istri kedua dan menikah siri," jawab Donna sambil terisak. Bertahun tahun menjalin hubungan dengan Radit, Radit tidak pernah serius diajak berbicara soal pernikahan. Dua minggu yang lalu Radit berjanji akan menikahi Donna, tapi hari ini Radit membatalkannya.
"Kamu tidak perlu menunggu lagi Donna. Seharusnya sejak mengetahui aku sudah menikah. Kamu harusnya berhenti mengejar aku. Bukannya malah mau menjadi istri kedua," kata Radit pelan. Dia juga sadar, keputusan untuk menikahi Donna dan kemudian membatalkannya adalah salah. Tapi sejak dirinya mengetahui Vina hamil. Radit jadi ragu.
"Kamu menyalahkan aku?. Yang mengkhianati hubungan ini siapa?" tanya Donna marah. Dia merasa dipermainkan oleh Radit. Nafasnya naik turun mendengar perkataan Radit.
"Aku tidak merasa mengkhianati kamu. Karena apa yang kita jalani selama ini adalah saling membutuhkan. Tidak ada komitmen di antara kita. Aku membayar kamu setiap mendapatkan kenikmatan dari kamu. Entah apa yang kamu lakukan hingga aku bisa mengatakan akan bersedia menikahi kamu," jawab Radit juga marah. Dia menunjuk wajah Donna yang juga marah. Donna menepis tangan itu dengan kasar. Donna semakin marah dan semakin terhina. Benar dia dibayar oleh Radit. Tapi Donna sudah mengkhususkan dirinya hanya untuk melayani Radit seorang. Dan itu permintaan Radit.
__ADS_1
"Jahat kamu Radit. Seenaknya kamu mencampakkan aku. Kamu lupa bahwa hanya aku yang dapat memuaskan kamu," kata Donna semakin marah. Dia tidak perduli bibi Ina yang sudah muncul dari arah dapur. Radit terdiam. Benar, dari sekian banyak wanita hanya Donna yang mengerti dirinya di ranjang. Tapi Radit juga bingung, respon tubuhnya ketika mengingat Vina di tengah percintaannya dengan Donna.
Donna membuat dirinya sesedih mungkin. Melihat Radit terdiam, Donna berharap Radit berubah pikiran. Donna tidak tahu, bahwa Radit berusaha mengingat apa yang dialaminya sejak tadi pagi hingga malam ini yang gagal bercinta.
"Pulanglah Donna. Lupakan apa yang pernah terjadi antara kita. Aku sudah menjadi suami Vina. Kejarlah laki laki yang belum menikah," kata Radit pelan. Pesan yang dikirimkan Andre dan pesan papanya tadi mendorong Radit menyudahi hubungannya dengan Donna. Radit ingin menuruti apa yang dipesankan Andre, Sean dan papanya. Tidak bisa mencintai Vina setidaknya tidak membawa orang ketiga di pernikahan mereka. Radit juga akan belajar menghargai Vina demi janin kembarnya. Radit berencana akan mempergunakan waktu enam bulan ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Vina dan keluarga.
Donna membulatkan matanya terkejut mendengar perkataan Radit. Bukan seperti ini harapan dan keinginannya. Donna rela jika tidak dinikahi oleh Radit. Tapi untuk melupakan, jelas Donna tidak bisa. Radit adalah lahan basah baginya. Donna tidak bisa membayangkan jika dia dan Radit saling melupakan. Itu artinya Donna akan kehilangan mata pencahariannya.
"Radit, jangan seperti ini. Kamu tahu aku sangat mencintaimu. Aku bahkan rela jika kamu tidak menikahi aku dalam waktu dekat ini. Tapi tolong jangan sudahi hubungan kita."
Radit menggelengkan kepalanya mendengar permohonan Donna. Keputusannya sudah bulat. Donna harus dilepas.
"Apa gara gara wanita berengsek itu kamu menyudahi hubungan ini Radit,"
"Namanya Vina dan dia istriku. Sekali lagi kamu mengucapkan kata kata seperti itu. Jangan salahkan aku berbuat kasar kepadamu," jawab Radit marah. Radit menatap tajam ke Donna. Dia tidak senang ketika Donna menyebut Vina sebagai wanita brengsek.
"Sejak kapan kamu mengakui dia istrimu. Bahkan setelah menikahi Vina. Aku yang masih memenuhi kebutuhan kamu di ranjang," tanya Donna sengit. Donna berusaha mengingatkan Radit akan kelihaiannya di atas ranjang. Benar dugaannya. Bahwa Vina lah penyebab Radit berubah. Kebenciannya kepada Vina semakin menjadi jadi.
Radit terdiam. Hatinya diliputi perasaan bersalah. Bukan merasa bersalah kepada Donna. Tapi Radit merasa bersalah kepada Vina. Apa yang dikatakan Donna adalah benar. Dia tidak pernah mengakui Vina sebagai istrinya. Dia tidak pernah menganggapnya. Radit bahkan melampiaskan kemarahannya dengan memperkosa Vina. Kejadian sepuluh hari yang lalu melintas di pikirannya. Dan itu terjadi karena kedatangan Donna ke rumah ini. Niat Vina untuk menyadarkan Radit berakhir dengan pemerkosaan.
Mengingat itu semua, Radit kembali merasakan hatinya berdenyut nyeri. Apalagi karena ulahnya itu, janin kembarnya terancam gugur. Radit kemvali memandang Donna tajam yang duduk di hadapannya.
"Pergi kamu Donna," bentak Radit kemudian. Radit benar benar marah. Matanya sudah memerah dan rahangnya mengeras. Donna merasakan jantungnya berdegup kencang mendengar bentakan Radit yang belum pernah didengarnya.
"Donna. Pergi," bentak Radit lagi sambil menunjuk pintu keluar. Demi apapun Donna sangat takut. Dia meraba ke bawah sofa. setelah mendapatkan yang dirabanya, Donna beranjak berdiri dan hendak melangkah.
"Tinggalkan kantong plastik itu," kata Radit tajam. Kantong plastik itu adalah kantong plastik berisi uang yang dikembalikan oleh Hendrik tadi siang. Radit lupa menyimpannya karena terburu buru untuk memastikan Vina kembali ke rumahnya.
Donna gugup dan malu. Dia tidak menyangka bahwa aksinya diketahui Radit. Sebelum Radit tiba di rumah itu tadi. Donna melihat kantong plastik itu dan membukanya. Donna terkejut melihat tumpukan uang yang banyak penuh satu kantong plastik itu. Dia berniat untuk pulang sebelum Radit tiba dengan membawa kantong plastik tersebut. Tapi suara motor Radit membuat Donna harus duduk tenang seakan akan tidak mengetahui tentang kantong plastik tersebut.
"Ini bukan apa apa Radit," kata Donna tenang. Donna menyangka bahwa Radit tidak mengetahui sama sekali tentang kantong plastik tersebut. Radit dan berdiri. Dia merampas kasar kantong plastik tersebut.
"Ternyata yang ada di otakmu adalah uang. Hari ini aku merasa mengambil keputusan yang tepat. Cinta yang kamu ucapkan itu bukan cinta kepadaku. Tetapi cinta ke harta yang aku punya. Kamu bahkan tidak merasa puas dengan apa yang sudah kamu terima,"
Radit meninggalkan Donna yang masih berdiri termangu mendengar perkataan Radit. Harapannya tidak ada lagi untuk menjangkau Radit. Radit semakin melangkah menjauh menaiki tangga. Dalam hati Radit berjanji akan mengembalikan uang tersebut ke papa mertua bagaimana pun caranya. Radit berjanji akan berusaha.
__ADS_1