
"Sinta, apa kabar?" tanya Vina senang setelah ponselnya dipenuhi wajah Sinta. Sinta tersenyum.
"Kabar baik Vina. Kamu makin cantik saja setelah menjadi mama muda," goda Sinta sambil tersenyum. Vina mengerucutkan bibirnya pertanda tidak setuju dengan perkataan sahabatnya itu. Beratnya badannya belum normal sejak melahirkan. Pipinya juga masih terlihat tembem.
"Cantik darimana?. Kamu gak lihat ini wajah masih membengkak,"
"Aku serius loh Vina, walau tembem seperti itu, kamu kelihatan sangat manis,"
"Jangan mengejek kamu Sinta, aku tahu kamu menghiburku. Tapi gak gitu juga kali."
Sinta tertawa. Dia mengatakan yang sejujurnya tapi Vina tidak percaya.
"Vina, aku mau mengundang kamu sama kak Radit besok. Ada acara kecil kecilan di rumah kami yang baru," kata Sinta. Dia sudah mengetahui bahwa Andre sudah mengundang Radit. Tetapi sebagai sahabat tidak sah rasanya untuk mengundang Vina secara langsung. Sinta dan Andre memang belum mengetahui perkembangan hubungan Vina dan Radit. Karena kesibukan masing-masing, mereka memang tidak pernah bertemu dalam satu bulan ini. Bahkan Vina dan Radit belum pernah melihat anak kedua dari Andre dan Sinta.
"Ngundangnya kok mendadak gini sih Sinta?," tanya Vina. Ketika mendengar Sinta mengundangnya. Yang ada di pikiran Vina adalah penampilannya. Bajunya sudah tidak ada yang muat semua. Dan selama tiga bulan setelah melahirkan, Vina terlalu sibuk mengurus ketiga buah hatinya. Dia tidak pernah keluar untuk refreshing maupun belanja. Sebagaimana dulu sewaktu gadis. Memburu barang diskon bersama sahabat sahabatnya.
"Sori Vina. Kamu tahu aku juga punya bayi. Aku juga sangat sibuk sekarang. Tapi kamu harus datang ya. Bila penting bawa si kembar tiga."
Wajah Sinta terlihat merasa bersalah. Vina hanya mengangguk. Obrolan lewat video call itu masih terus berlanjut. Baik Vina dan Sinta terkadang bergantian untuk mengaktifkan kamera belakang untuk menunjukkan bayi masing masing. Keduanya tertawa riang ketika melihat kelucuan bayi bayi tersebut. Apalagi bayi Vina yang sudah beranjak tiga bulan. Jelas sekali terlihat lucu dengan gerakan tangan, kaki dan mulutnya. Sedangkan bayi Sinta yang kedua yang berumur satu bulan itu masih tertidur pulas sama sekali tidak terganggu dengan suara bundanya.
Setelah bercerita tentang bayi masing-masing. Dua sahabat itu bertanya tentang kelanjutan kuliah mereka. Baik Sinta dan Vina berencana akan melanjutkan kuliah mereka semester depan yang tinggal tiga bulan lagi. Setelah puas bercerita akhirnya kedua sahabat itu sepakat untuk mengakhiri panggilan video tersebut.
Vina melangkah ke arah lemarinya. Mencari beberapa dress yang mungkin masih muat untuk dirinya. Hingga beberapa dress berserakan di ranjang. Satupun tidak ada lagi yang muat di tubuhnya. Vina menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Memikirkan dress yang harus dipakainya besok. Untuk belanja malam ini juga tidak mungkin. Sudah jam sembilan sebentar lagi mall atau butik akan tutup sedangkan untuk besok juga tidak mungkin. Acara di rumah Sinta dimulai jam sebelas.
Hanya ada satu cara yang tiba-tiba hinggap di pikiran Vina. Menyuruh Radit singgah di butik untuk membeli dress untuknya. Setelah merasa yakin dengan cara tersebut. Vina menghubungi Radit dengan panggilan suara.
Vina menarik nafas lega. Radit tidak keberatan dengan permintaannya. Bahkan Vina meminta dua dress dengan ukuran yang berbeda yaitu L dan XL. Sebelumnya Vina memakai dress ukuran M. Untuk berjaga jaga Vina meminta dua ukuran itu.
Baru saja Vina menutup ponselnya. Pintu kamarnya sudah terbuka. Yang membuat Vina terkejut adalah Radit yang masuk ke dalam kamar dengan menenteng beberapa paper bag. Vina tentu saja heran, baru beberapa menit dia dan Radit berbicara dengan Radit tetapi pria itu sudah muncul di depan matanya.
"Kenapa bunda, terkejut?" tanya Radit sambil tersenyum. Vina mengangguk dan menerima paper bag yang di sodorkan oleh Radit. Radit melepas dasinya setelah dan meletakkannya di sandaran kursi. Kemudian seperti biasa, setelah mencuci tangan. Radit menghampiri ketiga boks bayinya. Radit menatap ketiga bayi kembar tersebut. Sedangkan Vina mengintip isi dari paper bag tersebut.
"Ayah kapan belanjanya? bukankah baru saja aku meminta kamu untuk singgah di butik?" tanya Vina heran. Vina memang tidak memanggil Radit dengan namanya lagi. Karena Radit tidak akan menyahut jika Vina memanggil dirinya dengan menyebut nama. Radit meminta Vina untuk merubah panggilan diantara mereka berdua. Ayah dan bunda. Radit beralasan untuk mengajarkan putra putrinya memanggil ayah dan bunda untuk mereka sedari kecil. Vina awalnya menolak dan risih dengan panggilan seperti itu tetapi sejak sebulan yang lalu mereka mencoba untuk mengawali rumah tangga mereka. Vina semakin terbiasa dan tidak canggung.
"Tadi sepulang kerja bun. Makanya aku telat pulang," jawab Radit tanpa menoleh. Radit mengeluarkan Elvano dari boksnya. Bayi laki laki itu mengulurkan tangannya dan Radit mengartikan itu untuk digendong. Diantara bayinya hanya Elvano yang masih bangun. Radit membawa Elvano ke ranjang dan menidurkan di ranjang tersebut.
Vina mengeluarkan semua pakaian yang ada di paper bag tersebut. Ada tiga dress dengan ukuran yang sama dan satu kemeja. Kemeja batik warna dasar merah maron dan satu dress yang warna dan motifnya sama.
"Coba saja dulu Bun, aku beli baju couple untuk kita. Jika kamu berkenan memakainya. Jika tidak juga aku tidak memaksa," kata Radit sambil berbaring di ranjang. Dia sangat berharap mereka memakai baju couple itu besok ke acara Andre dan Sinta. Tapi jika Vina juga tidak berkenan. Vina sudah menyiapkan hatinya untuk tidak kecewa. Radit memiringkan tubuh dengan satu tangan menopang kepalanya. Dia menatap Elvano yang masih saja belum tidur. Elvano menggerakkan kaki dan tangannya. Radit menangkap kedua tangan Elvano dan menggesekkan tangan bayi itu di brewok yang sudah dicukur rapi. Elvano tertawa tanpa mengeluarkan suara.
"Iya, mandi dulu sana yah. Bau seperti itu harusnya jangan dekat dulu dengan anak anak,"
__ADS_1
"Malas Bun, mandi juga toh kamu tidur di ujung ranjang. Jadi kalau tidak mandi juga kan tidak apa apa," jawab Radit acuh. Satu bulan sudah mereka mengawali rumah tangga ini. Hanya komunikasi yang lancar dan sedikit bercanda. Untuk tidur tetap saja mereka memeluk guling masing masing.
"Kalau begitu, kamu tidur di bawah saja nanti. Mandi saja malas," gerutu Vina sambil mengamati satu persatu dress tersebut. Dia pun sebenarnya tidak sabaran untuk mencoba dress itu. Tapi karena Radit masih di kamar. Vina mengurungkan niatnya. Dia malu jika harus membuka bajunya di hadapan Radit.
Vina tersenyum ketika melihat Radit turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Pria itu tanpa berkata langsung menurut apa yang dikatakan Vina. Radit memang sudah jauh berubah. Tapi Vina masih ragu dan belum membuka hatinya. Dia takut kembali kecewa. Vina cepat cepat membuka bajunya dan mencoba dress itu. Semuanya terlihat pas di tubuhnya. Vina kemudian menyimpan semua dress dan kemeja Radit ke dalam lemari.
"Sudah mencoba dress-nya bun?" tanya Radit setelah keluar dari kamar mandi. Dia berdiri tepat di belakang Vina yang hendak menutup pintu lemari. Aroma nafas Radit yang berhembus dari belakang telinga milik Vina membuat bulunya merinding. Vina masih berdiri seperti posisi semula, Aroma sabun yang masih melekat di tubuh Radit, sedikit memanjakan penciuman Vina. Vina hendak berbalik, tapi tubuhnya terbentur dengan tubuh Radit yang dibelakangnya.
Radit tersungkur dan memegang senjata pamungkasnya. Entah tubuh Vina yang mana mengenai senjata itu. Yang pasti sekarang Radit meringis kesakitan.
"Kamu kenapa yah," tanya Vina khawatir. Wajah Radit sudah terlihat memucat. Keringat dingin juga sudah terlihat menetes dari pelipisnya. Vina membantu Radit untuk berdiri. Radit kembali meringis.
"Senjataku terbentur tubuh kamu Bun, sakit sekali," jawab Radit. Dia lebih nyaman duduk daripada harus berdiri. Vina terkejut. Dia memang bisa merasakan jika tubuh membentur tubuh Radit. Tapi dia tidak menyangka jika hal itu menyebabkan Radit sampai kesakitan seperti ini. Vina tahu jika Radit benar benar merasakan sakit di area terlarang itu.
"Ayo bangun. Aku bantu kamu duduk di ranjang," kata Vina sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Radit berdiri.
"Masih sakit?" tanya Vina setelah Radit duduk di tepi ranjang. Wajahnya yang memucat belum juga menghilang. Radit menyuruh Vina untuk mengambil pakaiannya dari lemari karena saat ini Radit hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
"Bengkak Bun," kata Radit setelah mengintip senjata yang ada dibalik handuk itu. Vina yang sedang mengambil pakaian Radit membalikkan tubuhnya dan menatap Radit.
"Apanya yang bengkak,"
Vina terkejut. Dia tidak menyangka jika senjata milik Radit sampai membengkak. Melihat Radit masih meringis kesakitan seperti itu. Vina merasa kasihan. Vina cepat cepat mengambil pakaian Radit dan memberikan ke Radit.
Vina memindahkan Elvano ke boks bayi. Dia berlama lama membelakangi Radit yang menurutnya sedang memakai pakaiannya. Ketika Vina merasa bahwa Radit selesai memakai pakaian itu, Vina membalikkan badannya. Vina kembali terkejut. Radit berbaring telentang dengan wajah seputih kapas. Handuknya sedikit tersingkap.
Karena panik, Vina mendekat ke ranjang. Dia bisa melihat senjata itu membengkak kemerahan dengan bentuk yang sulit dijabarkan. Vina menutup mulutnya. Dia mengambil sarung dan memakaikan sarung itu ke Radit. Biasanya Vina akan malu melihat Radit yang hanya bertelanjang dada. Kali ini urat malu itu seakan menghilang ketika melihat bentuk senjata yang sangat mengkhawatirkan itu.
"Ayah, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Vina khawatir. Dia hendak keluar kamar tapi Radit menahan tangannya. Radit tahu bahwa Vina hendak memanggil papa mertuanya. Radit merasa malu jika Hendrik mengetahui hal ini.
"Kamu bisa bawa mobil?" tanya Radit pelan. Vina menggelengkan kepalanya.
"Ambil ponsel aku Bun, cukup telepon dokter saja." Vina mengambil ponsel Radit dan memberikannya ke Radit. Radit terlihat menghubungi seseorang dan menceritakan keadaannya.
"Katanya untuk meredakan nyeri. Bisa dengan parasetamol Bun. Dan harus di kompres juga. Jika sulit untuk buang air kecil harus konsultasi ke dokter spesialis secepatnya," kata Radit pelan. Vina langsung ke luar kamar dan menyuruh salah satu baby sitter untuk ke apotik membeli parasetamol.
Vina masuk ke kamar dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ini adalah kesalahan yang tidak disengaja olehnya. Dan sepantasnya jika Vina harus bertanggung jawab.
"Yah, aku bawa air hangat untuk kompres. Kamu kompres sendiri yah," kata Vina sambil memberikan handuk kecil tersebut. Vina memalingkan wajahnya ketika Radit menyingkapkan sarung itu dan meletakkan handuk kecil itu di atas senjata pamungkas tersebut. Urat malunya kembali berfungsi sempurna.
"Udahan dulu Bun, nanti lagi," kata Radit sambil memberikan handuk itu ke Vina. Radit membiarkan sarung itu tersingkap. Ditengah rasa sakit yang dideritanya, Radit melirik ke Vina yang masih memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Bun, baju aku mana?. Sudah terasa dingin," kata Radit. Dia berniat mengerjai Vina yang masih tidak mau menatap ke dirinya karena sarung yang masih tersingkap itu. Vina mengambil kaos yang sebelumnya sudah dia siapkan dan memberikan ke Radit. Masih dengan memalingkan wajahnya.
"Tolong pakaikan Bun,"
"Baiklah. Tapi tutup dulu itu."
"Sudah," kata Radit setelah membetulkan letak sarung tersebut. Radit duduk dengan paha yang terbuka lebar. Vina membantu memakaikan kaos tersebut. Kemudian Vina keluar dari kamar ketika mendengar suara motor berhenti di teras rumah. Dia tahu itu sang baby sitter yang dia suruh membeli parasetamol.
"Minum ini yah," kata Vina sambil menyodorkan parasetamol dan segelas air putih. Radit cepat cepat meminumnya. Denyutan sakit itu masih sangat terasa.
"Yah. Aku minta maaf ya," kata Vina tulus setelah meletakkan gelas di atas meja. Setelah mencoba mengingat bagaimana bagian tubuhnya membentur tubuh Radit sampai kesakitan seperti itu. Vina mengingat bahwa tubuhnya memang membentur senjata milik Radit. Radit tersenyum melihat ketulusan istrinya itu. Dia teringat ketika dirinya menyakiti Vina dengan memperkosanya. Tidak ada kata maaf waktu itu. Senyum Radit menghilang Karena merasakan denyut di hati dan senjata pamungkasnya bersamaan.
"Tidak perlu minta maaf Bun. Anggap saja ini satu sama dengan perbuatan aku dulu. Bedanya jika perbuatan aku menumbuhkan ketiga janin kembar itu. Yang ini aku rasa akan membuat senjata ini tidak bisa dibanggakan lagi," jawab Radit pelan. Merasakan sakit di senjatanya. Sebenarnya dia takut impoten setelah ini. Vina terkejut dan menunduk. Dia takut jika hal itu benar benar terjadi. Vina bukan takut karena tidak bisa merasakan senjata itu jika tidak berfungsi lagi. Vina hanya merasa bersalah.
"Makanya harus periksa ke dokter ya," jawab Vina pelan.
"Apa kamu takut jika senjata ini benar benar tidak berfungsi lagi," tanya Radit. Vina tidak ingin menjawab. Takut jawabannya akan membuat Radit tersinggung.
"Jika itu benar benar terjadi. Aku anggap ini karma atas semua perbuatan aku. Hanya saja aku takut kamu akan meninggalkan aku karena itu. Padahal Kita baru mengawalinya," kata Radit lagi.
Vina beranjak dari duduknya. Dia tidak ingin mendengar perkataan Radit lagi. Vina keluar dari kamar dan membawa ponselnya. Di ruang tamu, Vina mencari di Gugel tentang efek samping dari senjata laki laki yang terbentur. Betul yang dikatakan Radit. Senjata pria yang terbentur bisa mengakibatkan kesuburan pria melemah. Vina benar benar merasa bersalah. Dia kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Radit yang masih kesakitan padahal dari waktu kejadian sudah lewat satu jam.
Vina tidak dapat memejamkan matanya padahal sudah larut malam. Vina sengaja memindahkan ketiga bayi kembarnya ke kamar sang baby sitter. Malam ini Vina ingin mengurus Radit. Karena setelah mengalami benturan di senjata pamungkas itu. Radit masih meringis kesakitan. Vina benar benar takut. Jika senjata pamungkas itu benar benar tidak berfungsi lagi.
Padahal seingatnya, tubuhnya tidak terlalu keras membentur senjata itu. Tapi entah mengapa efeknya bisa luar biasa seperti ini. Vina juga setuju jika itu karma untuk Radit. Bukan karena balas dendam. Tetapi karena Vina ingin Radit juga merasakan sakit seperti yang dialaminya waktu dulu. Bahkan itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakitnya dulu.Tapi membayangkan jika senjata itu akan tidak berfungsi lagi. Vina juga tidak tega. Bagaimanapun, selain harta duniawi. Senjata itu yang membuat laki laki bangga dan percaya diri.
Vina menoleh ke Radit yabg tidur telentang dengan paha yang dibuka lebar dan mata terpejam. Segala doa terbaik Vina panjatkan untuk kesembuhan senjata pamungkas itu. Ingin rasanya dia menyingkapkan sarung itu untuk memastikan jika bengkak di area itu sudah berkurang. Tapi tentu saja Vina tidak melakukan itu. Vina takut ketahuan dan Radit akan terbangun.
Vina akhirnya mencoba kembali memejamkan matanya. Tetapi untuk acara besok di rumah Sinta mengganggu pikirannya. Dia sudah terlanjur senang karena mendapat undangan itu. Tapi kalau begini. Keadaan Radit tidak juga membaik. Itu artinya Vina tidak bisa iku untuk acara tersebut. Lagi lagi Vina Vina kembali memanjatkan doa dalam hatinya. Mendoakan kesehatan Radit kembali pulih supaya esok hari mereka bisa ke acara tersebut.
"Kenapa belum tidur bun?" tanya Radit tiba-tiba dengan suara yang serak. Vina menoleh ke Vina.
"Aku memikirkan senjata pamungkasnya kamu itu yah," jawab Vina pelan. Dia memiringkan tubuhnya menghadap ke Radit. Radit tersenyum. Otaknya sudah berpikir jauh.
"Kenapa harus dipikirkan. Aku suamimu sudah pasti senjataku juga milikmu," jawab Radit tersenyum senang. Dia ingin memiringkan tubuhnya seperti Vina dan menghadap ke arah Vina. Tetapi baru saja kakinya bergerak. Radit merintih kesakitan. Baru dia tersadar akan kejadian beberapa jam yang lalu dan situasinya saat ini.
"Rasakan. Itu kalau otak terlalu maju berpikir," kata Vina sambil membalikkan tubuhnya dan akhirnya duduk.
"Mau kemana Bun?" tanya Radit yang melihat Vina berjalan keluar kamar. Tubuhnya kembali tidur telentang.
"Mau ambil air hangat. Untuk kompres senjata kamu itu," jawab Vina sambil terus berjalan.
__ADS_1