Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kecewa dan Takut


__ADS_3

Ketika burung burung saling bersahutan menyambut pagi yang indah, Cindy terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Karena hari ini, hari Minggu, Cindy masih berbaring di ranjangnya. Cindy mengambil ponselnya dan mengecek pesan masuk, lagi lagi hanya pesan dari Ryan yang paling banyak. Andre walau berstatus pacarnya paling tidak suka berkomunikasi lewat pesan, dia lebih suka ngomong langsung atau lewat panggilan telepon.


Cindy menyadari sudah seminggu dia memberitahu kehamilannya ke keluarga Andre. Tapi tanda tanda untuk melamarnya belum juga ada. Cindy sedikit kecewa, Andre tidak gerak cepat mengurus pernikahan mereka.


Cindy menyibakkan selimutnya dan menjejakkan kakinya di lantai. Rasa pusing di kepala memaksanya duduk kembali. Bukan hanya rasa pusing kini perutnya yang bergejolak memaksanya harus ke kamar mandi.


Huek...


Huek...


Huek...


Cindy memuntahkan isi perutnya, yang keluar hanya cairan yang berwarna sedikit kuning. Cindy mengelap ujung bibirnya yang basah oleh air liur, baru saja hendak membuka pintu kamar mandi, mual itu datang kembali. Cindy merasakan tubuhnya tidak bertenaga.


Sementara mama Ratih yang sedang menyiapkan sarapan mendengar Cindy yang muntah, menyuruh si bibi melanjutkan, dan segera menaiki tangga menuju kamar Cindy. Mama Ratih langsung masuk ke kamar mandi ketika dilihatnya ranjang kosong.


"Ya ampun Cindy, kamu sakit ya!, sini mama bantu," kata mama Ratih yang melihat Cindy terduduk lemas di lantai kamar mandi. Mama Cindy menempelkan telapak tangannya ke dahi Cindy, merasakan suhu badan Cindy normal mama Ratih bernafas lega.


"Syukurlah nak, kamu tidak demam. Mungkin kamu masuk angin," kata mama Ratih sambil membantu Cindy berdiri. Tepat ketika mama Ratih hendak melangkah, tiba tiba matanya menangkap sesuatu di atas wastafel. Mama Ratih mengambil benda tersebut dan terkejut melihat garis dua.


Kini mama Ratih tidak lagi lembut, dia marah sesak melihat itu. Mama Ratih menyeret Cindy kasar dan menghempaskan tubuh Cindy ke ranjang bersamaan dengan Test pack.


"Jelaskan!" kata mama Ratih dengan marah. Cindy terisak dan bangun dari ranjang kemudian memeluk kaki mama Ratih.


"Maafkan aku ma, Maaf," kata Cindy masih bersimpuh di Kaki mamanya.


"Apakah Andre pelakunya?" tanya mama Ratih dingin. Cindy mengangguk. Mama Ratih seketika dibayang bayangi rasa takut. Di matanya Andre adalah laki laki yang baik, bertanggung jawab dan mengerti agama. Mama Ratih takut Andre hanya membalaskan sakit hatinya ketika Cindy menolaknya dan membalasnya dengan seperti ini.


"Apakah Andre sudah tahu?" tanya mama Ratih lagi masih dengan mimik marah dan dingin.


"Sudah ma, bahkan orangtuanya dan saudara saudaranya juga sudah tahu."


"Kamu memberitahu mereka, tetapi kamu tidak memberitahu mama?. Mau ditaruh dimana muka mama ini Cindy?" kata mama Ratih dengan suara yang tinggi.


"Mas Andre akan menikahiku ma." Masih dengan pelan Cindy menjawab.

__ADS_1


"Mama kecewa Cindy, kamu putri mama satu satunya tetapi kamu tidak bisa menjaga kehormatan mu."


"Mama, aku mencintai mas Andre." Mendengar perkataan Cindy, mama Ratih membantu Cindy berdiri dan...


Plak, Plak.


Dua tamparan mendarat di pipi Cindy kiri dan kanan. Mama Ratih semakin marah mendengar perkataan Cindy.


"Jangan mengatasnamakan cinta kalau hanya untuk memuaskan nafsumu. Wanita terhormat tidak akan mau disentuh laki laki yang bukan suaminya. Kamu bukan wanita pubertas yang tidak tahu arti efek dari perbuatanmu. Kamu wanita dewasa Cindy," kata mama Ratih penuh kecewa.


"Mas Andre akan segera menikahiku ma."


"Iya. Seharusnya begitu. Tapi tidak kah kamu malu Cindy?. Kamu menikah karena hamil, karena kecelakaan?"


"Masih satu bulan, ini belum kelihatan," kata Sinta membela perbuatannya.


"Terserah mu Cindy, Jangan kamu kira orang di luaran sana bodoh padahal kamu yang bodoh," bentak mama Ratih.


Mama Ratih menghentikan langkahnya ketika suara ponsel berdering. Dengan cepat mama Ratih menyambar ponsel yang terletak di ranjang. Harapan mama Ratih Andre yang menelepon dan menyuruhnya datang ke rumah. Harapan itu sirna ketika melihat nama si pemanggil. Ryan. Mama Ratih kembali melemparkan ponselnya itu ke ranjang bersamaan dengan pintu kamar dibuka. Papa Doni masuk dan Khawatir melihat Cindy yang pucat.


"Anakmu bukan sakit pa, tapi ada cucumu di perutnya," jawab mama Ratih sambil memalingkan mukanya ke arah jendela. Papa Doni mencerna ucapan mama Ratih.


"Maksudmu Cindy hamil?" tanya papa Doni setelah otaknya berhasil mencerna perkataan istrinya. Mama Ratih mengangguk dan menceritakan apa yang didengarnya tadi dari cindy. Mama Ratih terlihat sedih sekali dan Nampak hujan air mata terjun bebas di pipinya. Mama Ratih sedih merasa gagal menjadi ibu yang baik bagi Cindy.


Mama Ratih masih berdiri di depan Cindy, rasa kecewa dan sedih yang dirasanya berubah menjadi rasa takut. Takut Andre tidak bertanggung jawab. Bukankah Andre mencintai Cindy? kalau sudah tahu Cindy hamil kenapa tidak kunjung datang untuk bertanggung jawab. Pertanyaan itu berputar putar di kepala mama Ratih. Tepukan di bahunya menyadarkan mama Ratih dari lamunannya.


"Tidak usah khawatir ma, Andre pasti bertanggung jawab," kata papa Doni menenangkan mama Ratih.


"Mama takut Pa, Cindy sudah memberitahunya, tapi kenapa tidak kunjung datang? Mama takut Andre balas dendam mengingat Cindy pernah menolaknya," kata mama Ratih sendu.


Deg


Rasa takut itu kini menjalar ke hati Cindy. Hal yang tidak pernah dipikirkan Cindy.


"Andre orang baik dan orangtuanya juga baik. Mereka tidak akan membiarkan Andre berbuat seperti itu. Jangan menduga yang tidak tidak. Biarkan Cindy menyelesaikannya dan kamu Cindy segera bawa Andre ke mari," kata papa Doni. Cindy hanya mengangguk. Besok, Cindy berencana menjumpai Andre di kampus.

__ADS_1


****


Setelah mendengar kata masuk dari dalam ruangan, Cindy membuka pintu ruangan Andre. Andre yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil membaca buku, begitu melihat Cindy, langsung berdiri dan menuntunnya duduk di sofa.


"Selamat siang mas!" sapa Cindy sambil meletakkan kotak makanan di meja sofa. Andre tersenyum.


"Siang sayang, Kamu bawa apa ini?. Andre masih saja bertanya jelas jelas yang di bawa Cindy makanan.


"Ini mas, kesukaan mu." Cindy membuka kotak makanan itu satu persatu, mengambil sendok dari tas tempat kotak tersebut. Mata Andre berbinar melihat udang asam manis kesukaannya


"Buka mulutmu mas!. Andre membuka mulutnya, mulutnya penuh dengan nasi dan udang.


"Rasanya pas," kata Andre sambil mengunyah.


"Iyo donk mas, masaknya selain bumbu yang pas tentu juga dengan cinta." Cindy tersenyum, Andre mencubit pipi Cindy dengan gemas.


"Makin cinta deh, sini aku juga mau suapin kamu," kata Andre mengambil sendok dari tangan Cindy kemudian menyuapinya.


Setelah suap suapan Selesai, Cindy membereskan kotak makanan tersebut.


"Mas, Kita harus segera memberitahu kedua orangtuaku tentang rencana pernikahan," kata Cindy sambil mengancing resleting tas kotak makanan.


"Loh, bukannya udah kamu kasih tahu." Cindy menggeleng. Cindy berbohong.


"Harusnya sudah kamu kasih tahu, biar mereka tidak terkejut ketika keluargaku melamarmu."


"Aku takut mas, mereka pasti kecewa kalau tahu aku sudah hamil". Andre mengelus perut Cindy yang masih rata. Andre merasa bersalah karena membiarkan Cindy sendiri di masa ngidam seperti ini.


"Apa kamu mengalami morning sicknes?. Cindy mengangguk, Andre jadi merasa kasihan.


"Kita akan mempercepat pernikahan ini, Aku tidak ingin melewatkan momen masa kehamilan mu." Dan yes ini yang diinginkannya. Cindy tersenyum dan mengangguk.


"Kalau mas hari ini tidak sibuk, gimana kalau hari ini kita memberitahu orangtuaku. Mereka lagi di rumah sekarang."


"Pulanglah! Aku masih ada kerjaan sedikit lagi. Besok malam bersama keluargaku akan datang ke rumahmu," kata Andre, Cindy bersorak kegirangan tapi hanya di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2