Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Rasa Nano Nano


__ADS_3

Tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu juga dengan hati Andre. Pernah sangat mencintai dan memuja Cindy, kini hatinya muak terhadap wanita itu. Bukan tanpa alasan dia membenci Cindy, dicintai dan dimanja tetapi Andre mendapat balasan pengkhianatan. Bukan hanya pengkhianatan, Cindy bahkan menipu Andre dengan menuntut Andre pertanggung jawaban atas Alexa yang jelas bukan darah daging Andre.


Kini, Andre berbalik mengagumi Sinta, istri pertama yang pernah diceraikan demi Cindy. Kebesaran dan kematangan Sinta dalam berpikir kini menjadikanya kembali istri Andre. Andre masih menatap Sinta yang duduk di samping. Entah Sinta menyadari atau tidak entahlah, mata wanita itu fokus ke panggung.


"Sinta," panggil Sean dan menarik bangku di depan Sinta. Ketika Sean melihat Elsa dan Cici meninggalkan meja itu, Sean berdiri dan menghampiri meja Sinta.


"Kak Sean." Hanya itu yang terlontar dari mulut Sinta. Sinta kemudian menundukkan kepala.


"Selamat atas pernikahan kamu. Kamu tidak mengundang aku. Begitu memutuskan rujuk dengan Andre, kamu melupakan kakakmu ini," kata Sean dengan senyum yang dipaksakan. Sinta mendongak dan menatap Sean.


"Maaf kak, waktunya tiba tiba. Sama sekali tidak ada niat untuk melupakan kakak. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan kakak. Kak Sean adalah kakak terbaik buatku,"


"Semoga kalian berbahagia," ucap Sean tulus. Sinta kembali menundukkan kepala. Sinta tidak tahu harus menjawab apa ketika Sean mengharapkan dia berbahagia dengan Andre.


"Terima kasih Sean," jawab Andre akhirnya. Sean mengangguk. Melihat Sinta menunduk, Andre merasa bersalah. Pernikahan mereka yang sudah hampir dua Minggu tapi tanda tanda kebahagiaan itu masih jauh di depan mata. Jangankan tanda tanda kebahagiaan, komunikasi di antara mereka saja masih kaku. Dan Andre menyadari itu karena sikapnya.


"Kak, jangan marah ya!" pinta Sinta. Sinta takut Sean menganggapnya tidak tahu membalas Budi. Di masa masa sulit dulu Sean sering membantunya. Menjaga Airia bahkan memotivasinya untuk bersemangat menjalani hidup.


"Kakak tidak akan marah Sinta, melihat kamu memakai gaun itu. Kakak sangat senang," jawab Sean tersenyum. Gaun yang dipakai Sinta hari ini adalah gaun pemberian Sean di waktu ulangtahunnya yang ke dua puluh tahun.


"O iya kak, jujur ini baru aku pakai. Selain gaunnya cantik, bahannya juga nyaman di kulit. Terima kasih ya kak, sudah memberikan gaun secantik ini untuk aku. Entah bagaimana aku harus membalas kebaikanmu kak," jawab Sinta. Mimiknya berubah dari senang menjadi sendu. Sean membalas ucapan Sinta hanya dengan tersenyum.


Andre seketika menunduk. Mendengar bahwa gaun yang dipakai Sinta hari ini adalah pemberian Sean membuat hatinya kembali berdenyut nyeri. Andre mengingat ketika berbelanja ke butik dua hari yang lalu. Dia bahkan tidak membeli apa apa untuk Sinta. Seketika Andre menyesal. Andre melihat dirinya sendiri, kemeja batik bercorak coklat hitam dan Airia yang di pangkuannya dengan baju yang dibelinya sendiri. Sedangkan istrinya memakai baju pemberian dari pria lain.


Sean dan Sinta kembali berbincang bincang. Keduanya nampak akrab dan sesekali tertawa. Apalagi Tini sudah bergabung di meja yang sama. Membuat pembicaraan mereka bertambah semarak. Andre yang tidak diikutkan dalam pembicaraan tersebut hanya bisa menatap Sinta. Melihat Sinta tertawa, Andre merasa bahagia. Bella yang melihat suaminya duduk sendiri. Akhirnya beranjak dari duduknya dan bergabung bersama Andi.


"Yee, pak Andre sampai segitunya liatin Sinta, baru sadarnya ya. Kalau istrinya cantik pakai banget," goda Tini kepada Andre. Tini yang matanya jeli, tahu bahwa Andre terus menatap Sinta. Andre gelagapan. Apa yang dikatakan Tini memanglah benar. Hari ini Radit membuka mata dan hatinya tentang kecantikan Sinta. Dan Sean yang membuka hati Andre tentang kebaikan Sinta. Kedua sahabatnya itu berhasil mengubah hati Andre hari ini.


"Ada yang keberatan?. Aku liatin istri sendiri kok. Kan gak salah," jawab Andre santai. Sinta merasakan hatinya berdebar. Hari ini Andre menyebutnya istri. Sinta menunduk.


"Syukurlah, kalau sudah mengakuinya istri. Selama ini kemana bung?" kata Tini. Tini sampai melotot hanya untuk mengatakan itu.


"Berani ya kamu sama dosen sendiri," jawab Andre bercanda.


"Dosen pas di kampus bung, di sini kita sama sama tamu. Jadi santai aja bung," kata Tini membuat Sean hanya menggelengkan kepala.


"Baiklah bung, suka suka mu lah," jawab Andre akhirnya.

__ADS_1


"Bung, comblangin donk,"


"Sama siapa," tanya Andre. Dia tidak risih dipanggil Tini bung. Gadis tomboi itu terlihat akrab dengan Andre sejak duel Cindy dan Sinta.


"Sama cowok kulkas di samping aku," jawab Tini yang langsung mendapat pukulan di lengan dari Sean. Andre dan Sinta spontan tertawa.


"Apaan sih kak, kok dipukul. Aku maunya dimanja. Dibawa jalan jalan. Dibeliin sesuatu bukan dipukul atau disakiti seperti ini," kata Tini cemberut. Dia tidak sadar ucapannya tadi membuat Andre semakin bersalah terhadap Sinta. Andre dulu memanjakannya dengan materi tanpa cinta tapi untuk dibawa jalan jalan, Andre tidak pernah memikirkannya.


"Ngarep kamu," jawab Sean sambil mendorong kening Tini pakai jari telunjuknya. Tini hanya mengelus keningnya. Tini memang bisa menyembunyikan perasaan dengan kekonyolannya. Sedangkan Sean, dia menganggap apa yang diucapkan Tini hanya candaan semata.


"Sinta, kita pulang saja ya. Biar kak Andi dan mbak Bella saja yang nunggu Agnes. Ini sudah sore," ajak Andre. Sinta melihat ke belakang tempat Andi dan Bella duduk.


"Bentar mas, aku pamit dulu kepada mereka."


Andre kembali kesal. Sinta yang katanya tadi mau pamit ke Andi. Kini malah duduk di sana dan berbincang dengan Andi dan Bella.


"Biasa saja pak Andre, tidak usah diliatin seperti itu. Toh udah jadi istri pak Andre. Pak Andre tinggal membuat Sinta tidak pergi dan betah bersama pak Andre. Kalau tidak tahu caranya, boleh bertanya sama aku," kata Tini dengan cuek.


"Sok pintar kamu, emang kamu tahu caranya,"


"Kalau nilai semester ini jamin bagus, aku akan memberitahu," jawab Tini lagi. Dia berniat bernegosiasi dengan Andre. Semester ini dia mengambil satu mata kuliah yang lumayan susah dan Andre dosennya. Dari pengalaman kakak tingkatnya. Tak satupun mahasiswa bisa mendapat nilai A dari mata kuliah tersebut. Paling tinggi nilai C dan itupun hanya sedikit mahasiswa yang bisa mendapat itu.


"Ya sudah, tidak apa apa. Sakit loh pak ditinggal sesudah mencintai. Apalagi Sinta, banyak yang naksir juga di kampus. Masih muda dan tampan. Bukan seperti kalian sudah om om. Siapapun pasti memilih yang lebih muda. Masih fresh bung."


Andre merasa takut dengan apa yang diucapkan Tini. Dia takut ditinggalkan Sinta. Apalagi hari ini dia melihat pesona Sinta. Banyak mata yang meliriknya bahkan Radit terang terangan memuji Sinta.


"Ya sudah. Katakan bagaimana caranya," jawab Andre akhirnya. Tini tersenyum puas.


"Janji dulu. Nilai aku harus dapat nilai B di mata kuliah Ekonomi manajerial," kata Tini.


"Baiklah. Kamu harus rajin belajar untuk mendapatkan nilai itu,"


"Ah sama saja,"


"Ya sudah katakan, bagaimana caranya Sinta supaya betah dan tidak pergi dari aku,"


"Dicintai pak. Dicintai. Dan buat dia hamil lagi," jawab Tini serius membuat Sean tertawa terbahak bahak. Andre yang merasa terbodoh dan melempar Tini pakai tissue bekas.

__ADS_1


"Kalau itu tahu. Kirain tadi ada cara yang jitu," jawab Andre sewot.


"Udah janji tadi ya, harus nilai B."


"Tidak ada. Kalau mau dapat nilai itu. Belajar yang rajin," kata Andre tegas. Tini kini melemas. Niatnya untuk mendapat nilai bagus dengan cara instan batal sudah. Tini menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tini menarik nafas panjang dan menatap Andre dengan cemberut.


"Dengar itu Tin, belajar yang rajin," kata Sean. Tangannya terulur mengacak rambut Tini.


"Ayo mas, kita pulang. Agnes tidak jadi datang," ajak Sinta. Dia pamit ke Sean dan Tini dan mengambil tas perlengkapan bayi. Andre menggendong baby Airia sampai ke mobil. Sedangkan Sinta membawa tas perlengkapan bayi.


"Ngomong apa tadi kak Andi," tanya Andre setelah mereka sudah di mobil.


"Hanya bertanya kabar mas,"


"Dia tidak ngomong macam macam kan?"


"Tidak,"


Andre menoleh ke Sinta. Baby Airia yang berdiri di kedua paha Sinta membuat Andre tertawa.


"Mau sama ayah?" tanya Andre. Airia memberikan tangannya ke Andre.


"Jangan mas, mas menyetir," larang Sinta ketika Andre meraih Airia dengan satu tangannya.


"Kamu sebaiknya belajar menyetir Sinta. Kalau kamu mau. Aku bisa mengajari mu,"


"Tidak perlu mas, aku bisa bepergian dengan motor," tolak Sinta halus. Sinta merogoh tasnya dengan tangan kirinya karena ponselnya berdering. Sinta kembali memasukkan ponsel itu ke tas.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Andre heran. Ponsel itu masih berdering tetapi Sinta menyimpannya kembali ke dalam tas. Sinta hanya diam saja.


"Dari siapa?" tanya Andre lagi. Melihat Sinta diam. Andre semakin penasaran.


"Dari adik aku mas,"


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Andre bingung dan mengulang pertanyaan yang sama.


"Aku takut menjawabnya. Takut Airia berceloteh atau menangis dan mereka bertanya. Aku tidak mau menyangkal Airia jika mereka bertanya mas," jawab Sinta sendu. Dia memeluk Airia dengan erat. Bagi Sinta, cukup dulu Andre menolak Airia, sampai kapan pun dan kepada siapa pun Sinta tidak mau menyangkal keberadaan Airia. Itulah sebabnya dia menghindari berkomunikasi dengan orangtuanya daripada harus membohongi Orangtuanya tentang kehidupannya yang sekarang.

__ADS_1


Andre kembali merasakan hatinya diremas, kemudahan yang diberikan kepada Sinta dalam hal keuangan tidak sebanding dengan kesulitan yang dihadapi wanita itu.


"Aku akan membawa Airia masuk ke rumah. Hubungi kembali adik kamu," kata Andre setelah mereka tiba di halaman rumah. Andre masuk ke rumah. Andre sangat merasa sedih melihat Sinta harus menjauh dari keluarganya sendiri. Hari ini Andre merasakan senang, sedih, kagum, bahagia dan juga merasa bersalah akan Sinta. Rasa itu bercampur bagai rasa permen nano nano.


__ADS_2