Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Muncul lagi


__ADS_3

Andre keluar dari kamar, matanya mencari sesuatu yang tidak ditemuinya di kamar. Penampilan yang fresh bisa dipastikan jika pria itu baru selesai mandi. Andre berjalan menuju pintu utama rumah itu, Mulutnya mengeluarkan suara berupa nyanyian yang tiada makna. Andre bersenandung, binar matanya menunjukkan rasa senang yang dirasakannya.


Andre tersenyum lebar, melihat dua orang yang saling tertawa di teras rumahnya. Sinta dan Airia, dua orang yang menjadi prioritas Andre dalam hidup ini sedang tertawa, entah karena apa mereka tertawa. Andre jadi ikut tertawa melihat Sinta dan Airia.


Sinta menoleh ke arah suara yang tertawa bersama mereka. Andre terlihat berjalan menghampiri mereka berdua. Walau Andre memakai pakaian rumahan. Tetap saja pria itu terlihat tampan. Sinta seketika menghentikan tawanya. Beralih melihat bunga bunga di halaman rumahnya. Untuk melihat Andre, Sinta merasa malu. Permainan mereka yang terlalu liar tadi malam, melintas di otaknya.


"Sudah sarapan?" tanya Andre lembut. Andre mengambil bangku untuk duduk dekat Sinta dan Airia.


"Airia sudah mas, aku belum," jawab Sinta pelan. Matanya masih ke arah bunga bunga itu. Jam sudah menunjukkan angka delapan. Ya wajarlah Airia sudah sarapan.


"Panggil si Ono, suruh dia jaga Airia. Kita sarapan sekarang," kata Andre lagi sambil mencium wajah Airia. Airia kini sudah di pangkuan Andre. Aroma khas bayi pada Airia, membuat Andre tidak berhenti mencium putrinya.


"Bukan Ono mas, tapi Oni. Enak aja ganti nama orang sembarangan," gerutu Sinta sebal. Andre selalu memanggil baby sitter Airia dengan Ono padahal namanya Oni. Yang mengherankan si Oni mau pula dipanggil Andre dengan sebutan Ono. Bukan hanya Andre, Lidia si art di rumah itu juga memanggil Oni dengan Ono. Airia yang sudah mulai bisa berbicara, juga sering berucap no no. Entahlah, maksudnya si Ono juga Sinta tidak tahu. Hanya Sinta yang memanggil baby sitter Airia dengan sebutan Oni.


"Ah sama saja itu, buktinya Airia juga memanggil dia dengan Ono. Tuh dengar!. Dia juga tidak keberatan kok," jawab Andre masih asyik dengan Airia. Airia memang mengatakan no no ketika Andre menyebut Ono.


"Ya dia tidak keberatan karena kamu bosnya di rumah ini mas. Jangan gitu donk. Gimana kalau nama kamu diplesetkan seperti itu," kata Sinta kesal. Sungguh dia tidak menyukai Andre yang seperti itu. Bagi Sinta menghargai orang lain itu bisa juga dengan menyebut namanya dengan baik.


"Baiklah sayang, mulai hari ini. Aku akan menyebut namanya dengan benar. Asal kamu senang. Tidak apa apa lah, tapi bagaimana dengan Lidia?. Dia juga menyebut Oni dengan Ono." kata Andre sambil mencubit pipi Sinta dengan pelan. Wanita itu jika cemberut terlihat menggemaskan.


"Terserah dia aja mas. Kalau diingatkan takutnya tersinggung. Aku mengingatkan kamu, karena kamu itu suami aku. Wajar kan kalau suami aku salah. Aku mengingatkan,"


"Baik banget sih istri aku. Iya donk. Kalau bukan kamu yang mengingatkan siapa lagi. Airia masih terlalu kecil untuk mengingatkan ayahnya. Malah dia jadi ngikut nih," kata Andre senang mendapat perhatian dari Sinta. Airia yang berjingkrak di paha Andre masih menyebut kata no no.


"Itulah mas, makanya kasih contoh yang bagus untuk anak,"


"Baik sayang, panggil Ono eh maksud aku Oni," kata Andre masih salah sebut. Kemudian meralat karena Sinta menatapnya dengan tajam.


"Maaf sayang, lidah aku kepleset," kata Andre lagi. Sinta masuk ke dalam rumah untuk memanggil Oni. Sinta kemudian muncul dengan Oni yamg mengekor di belakangnya.


"Oni, jagain Airia di sini ya. Jangan bawa ke dalam dulu. Sinar matahari pagi seperti ini sangat bagus untuk bayi berjemur. Lima belas menit lagi bawa ke rumah dan langsung dimandikan, Kami mau sarapan dulu," kata Andre kepada Oni. Lidahnya tidak terpeleset lagi. Sinta merasa senang karena Andre mau menuruti kata katanya. Sinta dan Andre masuk ke dalam rumah untuk sarapan. Hari ini mereka terlihat santai karena hari ini hari Sabtu. Andre dan Sinta tidak ke kampus.


Andre dan Sinta terlihat menikmati sarapan mereka. Tenaga yang terkuras tadi malam membuat perut mereka lapar dan butuh nutrisi. Sambil sarapan, Andre melirik ke Sinta dan tersenyum.


"Nanti siang kita ke rumah papa. Papa ulang tahun," kata Andre


"Oya, yang ke berapa mas?. Tidak dirayakan?"


"Dirayakan. Yang ke 63 tahun. Nanti malam makan bersama hanya dengan keluarga saja. Mama memasak sendiri untuk makan malam. Kalau kamu mau, kamu bisa membantu mama. Mbak Maya dan mbak Bella pasti sudah di sana sejak tadi malam,"

__ADS_1


"Maksud kamu, mbak Maya dan mbak Bella menginap di sana tadi malam?" tanya Sinta dan Andre hanya mengangguk.


"Kenapa kita tidak menginap di sana tadi malam. Kan gak enak sama papa dan mama. Hanya aku menantunya yang tidak menginap pas ulang tahun papa," kata Sinta sedih. Sungguh dia tidak enak hati karena tidak ada di saat kakak kakaknya ada di ulang tahun mertuanya.


"Kan tadi malam kita asyik bercocok tanam."


Sinta tiba tiba tersedak karena ucapan mesum suaminya. Dia melayangkan tatapan kejam ke Andre. Andre dengan santai masih terus menyendokkan sarapannya ke mulut.


"Kalau begitu, kenapa harus menunggu siang baru ke sana. Mereka sudah pasti sibuk sekarang. Siap sarapan kita ke sana,"


"Siang saja, siap sarapan kita bercocok tanam lagi. Biar cepat kita panen," kata Andre dengan cuek. Sinta menatapnya kesal. Sedangkan Andre tersenyum penuh arti memandang Sinta. Senyum itu memudar ketika Andre mendengar orang berteriak memanggil namanya dan nama Sinta. Keduanya mengernyit kening tanda heran dan bingung atas suara ribut di luar rumahnya. Andre mengambil gelas air putih dan meminumnya. Kemudian berjalan menuju pintu utama sedangkan Sinta mengekor di belakangnya.


Andre dan Sinta terkejut. Di luar gerbang rumahnya banyak orang berkerumun sedang mendengarkan seseorang yang berbicara. Andre dan Sinta mendekat ke gerbang rumah. Mereka makin terkejut melihat orang yang sedang berbicara di sana.


"Apa apaan kamu Cindy?" bentak Andre melihat dan mendengar Cindy yang menjelekkan dirinya dan Sinta.


"Ini dia Pak, Bu. Wanita muda itu adalah simpanannya. Dia menceraikan aku dan tidak membagi harta Gono gini demi wanita itu," kata Cindy dengan raut wajah hampir menangis. Sandiwara yang diperankannya nyaris sempurna memutarbalikkan fakta. Andre tentu saja marah dengan tangan terkepal. Dia melihat kerumunan itu. Tetangga yang dekat rumahnya berkumpul di situ. Sinta yang sudah berdiri di samping Andre hanya menatap Cindy dengan sinis.


"Kamu selesaikan sendiri masalah kamu dengan dia mas," kata Sinta kepada Andre. Dia malas untuk meladeni Cindy. Bagi Sinta tidak perlu membela diri di hadapan para tetangganya.


"Jangan begitu sayang, kita selesaikan sama sama," jawan Andre langsung meraih tangan Sinta dan menggenggamnya.


"Apapun masalah kalian, seharusnya diselesaikan baik baik. Masuklah dan bicarakan masalah kalian dengan kepala dingin," kata seorang laki laki tetangga Andre kepada Cindy. Cindy menunduk dan menangis. Membuat para tetangga Sinta merasa iba kepadanya.


"Buka gerbangnya nak, lebih bagus berbicara di dalam daripada di luar seperti ini. Malu dilihat orang," kata tetangga Sinta yang paling tua di komplek itu. Sinta membuka gerbang. Dan Cindy langsung masuk. Walau menunduk, wanita itu tersenyum. Andre semakin marah. Dia tidak menginginkan Cindy masuk karena apa yang dikatakan Cindy semuanya adalah kebohongan.


"Apa perlu kita meminta kak Bayu atau kak Andi kemari?" tanya Sinta hati hati. Mereka masih berdiri dekat gerbang sedangkan Cindy sudah duduk di bangku teras rumah. Andre meminta para tetangganya untuk tidak percaya dengan ucapan Cindy. Para tetangganya percaya dan mundur satu persatu dari depan gerbang itu.


"Tolong hubungi kak Andi saja sayang. Aku takut lepas kendali menghadapi wanita tidak tahu diri itu," jawab Andre sambil memijit keningnya. Dia sudah merasa tenang selama sebulan ini karena surat cerai dari pengadilan juga sudah ditangannya. Tetapi kedatangan Cindy ke rumahnya membuat Andre bertanya tanya. Sinta langsung menghubungi Andi dan menceritakan kedatangan Cindy ke rumah mereka.


"Mana wanita ular itu?" tanya Andi setelah turun dari mobil. Sinta dan Andre sengaja berdiri di dekat gerbang selama hampir setengah jam menunggu Andi. Dan membiarkan Cindy seperti cacing kepanasan karena bosan di teras rumah. Dengan lesu Andre menunjuk Cindy yang duduk di teras.


"Mau apa lagi kamu. Kalian sudah sah bercerai?" tanya Andi sengit setelah dia berdiri di hadapan Cindy.


"Tidak segampang itulah kak, dia menjual rumah tetapi tidak memberi aku sepeser pun."


Andi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Cindy. Tawa penuh ejekan itu terdengar sampai ke telinga tetangga sebelah.


"Rumah itu adalah pemberian papa, terserah Andre mau menjual atau tidak. Tidak memberi kamu sepeserpun itu wajar. Karena itu bukan jerih payah kalian berdua. Kamu yang bodoh menuntut tetapi tidak tahu apa yang kamu tuntut."

__ADS_1


"Kalau begitu aku tidak akan tinggal diam."


"Kamu pikir setelah hari ini kamu masih bisa berbuat apa apa. Andre akan menjebloskan kamu ke penjara karena sudah menipu dan mencemarkan nama baik dia. Berapa kali kamu sudah bertindak bodoh. Mulai dari menjambak Sinta di kampus, ketahuan main kuda kudaan dan hari ini kamu menebar fitnah ke tetangga. Apa kamu masih bisa bertindak?" tanya Andi marah. Cindy tidak menggubris perkataan Andi. Sedangkan Andre dan Sinta masih diam. Andre sangat malas meladeni Cindy. Sedangkan Sinta berdiri disitu hanya untuk menghargai Andi kakak iparnya.


"Lebih baik kamu pergi sekarang. Biarkan polisi menjemput kamu ke rumah kamu sendiri," kata Andi lagi. Dia sudah mencari kontak seseorang di ponselnya. Setelah terhubung Andi memerintahkan orang tersebut untuk tersebut untuk datang ke rumah Andre.


"Aku sudah menghubungi pengacara Andre, bagaimanapun Cindy tidak bisa dibiarkan seperti ini," kata Andi ke Andre sambil menyimpan ponselnya ke saku celananya.


"Ya kak, aku setuju. Aku tidak mau Cindy menggangu kebahagiaan ku dengan Sinta," kata Andre mantap. Dia memandang Sinta sekilas sedangkan yang dipandang menundukkan kepalanya.


"Apa kalian sudah berbahagia?" tanya Andi sambil tersenyum melihat kearah Sinta yang menunduk.


"Ya donk kak," jawab Andre bangga.


"Sudah cetak gol?"


"Sudah donk kak," jawab Andre lagi membuat Sinta menginjak kaki Andre. Sinta merasa malu dengan Andi atas ucapan suaminya. Andi tertawa sambil meninju lengan Andre.


"Akhirnya keluar juga lahar panasnya," kata Andi sambil terkekeh. Dia lupa akan alasan keberadaannya di rumah itu. Cindy yang mendengar percakapan Andi dan Andre merasakan panas di telinganya. Cinta sudah tumbuh di hatinya sebelum Andre menangkapnya berselingkuh. Tetapi batang yang besar melupakan rasa cinta kepada Andre yang sangat mencintai dan memujanya kala itu. Cindy cemburu. Penyesalan itu ada tetapi sudah terlambat dan tidak ada kesempatan kedua. Berbeda dengan Andre yang mendapat kesempatan kedua dan kebahagiaan. Walau kebahagiaan masih bisa dihitung hari. Tidak mau mendengar percakapan yang membuat telinganya lebih panas lagi, akhirnya Cindy berdehem.


"Ya ampun, kamu masih disitu? tidak tahu malu. Lihat tuh mereka sudah cetak gol. Pergi sana cari orang yang bisa mencetak gol bersamamu," kata Andi lagi ke Cindy. Cindy marah dengan ucapan Andi. Dengan wajah memerah Cindy berdiri dan menunjuk wajah Andi sambil berkata.


"Jangan sembarangan kamu ngomong ya Andi. Perasaan sudah jadi orang paling benar kamu. Kamu juga brengsek karena sudah mencampuri urusan aku,"


"Jangan mengatai aku berengsek. Aku tidak seperti kamu. Aku hanya mencetak gol dengan pasangan halal aku. Tetapi kamu. Perlukah aku membongkar disini. Kalau kamu sesungguhnya adalah wanita bayaran. Bukan hanya Rian selingkuhan kamu. Masih ada yang lain. Jadi jangan paksa aku membongkar semua kebejatan mu. Bercerai dari adik kandungku itu sudah cukup bagiku. Asal kamu tidak mengganggu mereka lagi. Aku juga tidak yakin bahwa Rian adalah ayah kandung Alexa. Tapi itu bukan urusan aku. Tapi jika kamu masih berani menunjukkan wajah kamu di hadapan mereka. Aku pastikan Rian akan tahu siapa kamu sebenarnya," jawab Andi marah. Dia menghempaskan tangan Cindy yang menunjuk wajahnya.


"Pergi kamu sekarang," usir Andi lagi. Cindy berlalu dari teras rumah Andre dengan setengah berlari ke arah gerbang. Sinta berbalik melihat Cindy. Andre dan Sinta sungguh terkejut atas ucapan Andi.


"Maksudnya yang tadi itu apa kak?" tanya Andre bingung dan penasaran. Cindy adalah sahabat Andre sejak kecil tetapi tidak mengetahui sedikitpun tentang wanita itu tentang pergaulan nya.


"Sebelum menikah dengan kamu, dia adalah wanita bayaran selain kekasih Rian. Salah satu sahabat aku adalah pelanggannya. Dari dialah aku tentang keburukan Cindy,"


"Selain muak, aku kasihan kepada dia kak. Aku tidak menyangka bahwa Cindy yang ceria dan sedikit pemalu juga sopan ternyata punya sisi kelam seburuk itu," kata Andre pelan. Sinta dan sampai menatap wajah Andre ketika berbicara.


"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Andi tajam. Ucapan Andre membuat amarahnya kembali muncul.


"Tidak kak, aku tidak mencintai dia lagi. Sebejat bejatnya laki laki melihat istrinya bercinta dengan pria lain pasti merasa jijik terhadap wanita tersebut. Begitu juga aku, aku muak akan Cindy tapi aku juga kasihan kak. Batalkan laporannya. Kita akan memberitahu Om Dion dan tante Ratih tentang keburukan Cindy. Biar mereka yang memberi pelajaran kepada Cindy," kata Andre lagi membuat Andi dan Sinta melongo dengan ucapan Andre.


****

__ADS_1


Otor memunculkan Cindy lagi bukan untuk membuat konflik lagi. Tetapi ke penyelesaian konflik untuk bab berikutnya. Please jangan bully Otor ya!!!


__ADS_2