Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Rela Dikebiri


__ADS_3

Vina meletakkan ponsel asal di atas ranjang. Tangannya tiba tiba seperti tidak berdaya untuk memegang ponsel itu. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut. Vina berusaha berbaring berharap pusing di kepalanya cepat berlalu. Tetapi setelah beberapa menit, rasa pusing itu juga tidak berlalu di kepalanya. Yang ada Vina kedinginan dan semakin menggigil.


Vina menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Vina berpikir bahwa dia hanya kedinginan biasa. Tetapi makin lama badannya ikut bergetar karena kedinginan. Vina meraih remote AC dan mematikan mesin pendingin tersebut. Hingga beberapa menit kemudian, badannya masih kedinginan. Ketiga bayinya juga rewel karena kegerahan. Dengan suara lemah, Vina memanggil mama Rita.


"Kamu kenapa nak?" tanya mama Rita sangat khawatir. Mama Rita meletakkan punggung tangannya di kening Vina. Vina demam. Mama Rita memanggil kedua baby sitter untuk mengurus ketiga bayi kembar tersebut dan menghubungi Hendrik untuk segera pulang. Sebagai pertolongan pertama. Mama Rita membuat teh dan menyuruh Vina untuk menghabiskan segelas tersebut.


Vina mengerang kesakitan. Kepalanya rasanya mau pecah. Sedangkan tubuhnya masih kedinginan dan juga terasa panas. Untuk menghabiskan segelas teh itu, Vina harus penuh perjuangan. Semua yang masuk ke dalam mulutnya terasa pahit.


"Air putih saja ma," kata Vina lemah. Mama Rita mengambil air putih yang hangat dan membantu Vina duduk. Vina tidak sanggup hanya untuk meminum air putih tersebut.


Mama Rita menjadi bingung. Melihat Vina yang kesakitan, dia tidak tega. Untuk menunggu Hendrik pulang butuh waktu lebih satu jam lagi. Akhirnya mama Rita memesan taksi online untuk membawa Vina ke rumah sakit. Mama Rita menghubungi Hendrik untuk langsung saja ke rumah sakit membawa Vina pulang nantinya.


"Mama di rumah saja, aku bisa sendiri ke rumah sakit. Mama jaga si kembar ya!" kata Vina sambil meringis dan memijit kepalanya. Dia tidak tega meninggalkan bayi kembarnya di rumah. Betul ada dua baby sitter. Tetapi Vina tidak berani dan tidak terlalu mempercayakan bayinya kepada kedua baby sitter tersebut. Bagaimana pun mereka adalah orang lain yang baru beberapa bulan dikenal.


Vina terkontaminasi dengan berita berita di telivisi maupun di media sosial yang banyak menceritakan tentang kelakuan jahat baby sitter. Sejauh ini Vina memang bisa melihat kebaikan kedua baby sitter tersebut. Tapi rasa sayangnya terhadap ketiga putra putrinya membuat Vina selalu waspada.


"Baiklah. Biar salah satu dari mereka yang menemani kamu ke dokter," jawab mama Rita. Vina mengangguk. Usul yang bagus menurutnya daripada mamanya menemani dirinya ke rumah sakit. Akhirnya Vina ditemani salah satu baby sitter itu untuk berobat ke Dokter.


Setelah di rumah sakit, Vina merasa bosan menunggu antrian itu. Demamnya belum juga turun. Kepalanya masih saja pening. Beruntung baby sitter yang bernama Ema itu pengertian. Ema memijit kepala Vina pelan dan membiarkan majikannya itu bersandar di bahunya. Hingga Vina tertidur.


"Mbak Vina, bangun!. Sudah giliran mbak sekarang." Baru saja Vina terlelap sudah dibangunkan oleh Ema. Ema membantu Vina untuk masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.


"Tensi rendah. Dan sepertinya ibu kelelahan," kata dokter itu setelah memeriksa Vina. Vina hanya mengangguk membenarkan perkataan dokter itu. Selama sebulan ini, Vina tidak teratur tidur baik malam dan siang. Mengurus bayinya sendirian di malam hari membuat Vina begadang hampir tiap malam.


Vina memang menjaga satu bayi tiap malam di kamarnya. Sedangkan dua bayi lainnya bersama sang bayi sitter. Walau dua bayinya di kamar sebelah. Tiap malam, Vina selalu memastikan jika kedua bayinya itu sudah minum susu dan berganti diapers. Bolak balik dari kamarnya ke kamar sebelah. Tidak cukup hanya sekali. Frekuensi minum susu ketiga itu yang masih sering sering membuat Vina juga sering sering keluar masuk ke kamar sebelah.


Sangat berbeda sebelum Radit keluar kota, Vina dan kedua baby sitter tersebut bisa tidur nyenyak di malam hari. Karena pekerjaan mereka diambil oleh Radit. Radit sangat telaten mengurus bayi itu jika malam hari. Dan tidak pernah mengeluh lelah.


Vina turun dari bed pemeriksaan itu. Dokter sudah memberi resep yang harus ditebusnya. Setelah keluar dari ruangan dokter. Vina melihat Hendrik sang papa sudah menunggu di bangku tunggu tersebut. Mama Rita yang memberitahu rumah sakit tempat Vina berobat.

__ADS_1


"Bagaimana nak?. Sakit apa?" tanya Hendrik khawatir. Mendengar putrinya sakit. Hendrik langsung tancap gas tanpa permisi ke atasannya. Dia tidak perduli mendapat teguran. Yang penting putrinya cepat cepat ditangani dokter.


"Tensi rendah dan kelelahan pa," jawab Vina lemah.


"Kamu memang terlalu lelah nak. Berbeda ketika ada Radit di rumah," kata Hendrik sambil membantu Vina berjalan. Hendrik meminta kertas resep dari sang baby sitter. Hendrik menyuruh Vina dan Ema langsung ke mobil Sedangkan dirinya harus menebus obat Vina terlebih dahulu.


Di dalam mobil, Vina tiba tiba mengingat Radit. Bagaimana Radit mengurusnya ketika hamil hingga mengurus bayi mereka. Radit sangat telaten dan terlihat tulus mengurus dirinya dan ketiga bayi kembarnya. Dan menurut apa saja yang diperintahkan Vina kepadanya. Radit benar benar ayah terbaik untuk ketiga buah hatinya. Bahkan setelah berjauhan pun Radit tidak pernah absen untuk video call dengan bayi bayi kembar tersebut.


Vina tersenyum kecut. Setelah mengingat semua perbuatan baik Radit. Vina kembali mengingat perbuatan jahatnya. Selama sebulan ini Vina sudah berusaha untuk melupakan masa lalu. Tapi sampai saat ini. Masa lalu itu dengan setia terus mengikutinya. Entah bagaimana dia harus melupakan masa lalu itu. Sejujurnya, Vina juga ingin melupakan itu semua. Apalagi setelah melihat ketiga bayi kembarnya.


Jauh di lubuk hatinya, Vina sangat berharap bisa melupakan masa lalu itu. Setelah Radit menolak bercerai, Vina hanya berpasrah kepada yang Kuasa. Dia akan menjalani takdir yang sudah ditetapkan untuknya. Mengikuti waktu bagaimana akhirnya rumah tangganya bersama Radit.


****


Tengah malam Vina terbangun. Dua bulan menjadi seorang ibu, bangun tengah malam adalah kegiatan rutin yang harus dilakukan. Di kepalanya seperti ada alarm yang membangunkan dirinya. Vina mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Satu boks bayi pun tidak ada kamarnya. Dia tahu bahwa ketiga bayi kembar itu ada di kamar sebelah. Vina berusaha duduk dan hendak memeriksa bayinya di kamar sang baby sitter, Memastikan jika mereka sudah minum susu tapi kepalanya masih terasa pusing. Vina akhirnya kembali berbaring.


Vina berbalik hendak mengganti posisi tidurnya. Vina mengerutkan keningnya. Vina terkejut. Radit sudah ada di sampingnya. Vina memijit kepalanya yang semakin pusing. Dan kembali memastikan jika orang yang berbaring di sampingnya adalah Radit. Dia bisa melihat dengan jelas. Itu memang Radit. Untuk lebih memastikan, Vina menyentuh tangannya Radit. Dia takut itu hanya halusinasinya saja. Dan benar saja. Radit menggeliat.


"Kamu kok ada di sini?" tanya Vina heran tapi lemah. Baru tadi siang mereka video call untuk pertama kalinya setelah berjauhan. Tapi malam ini Radit sudah tidur di sampingnya.


"Aku langsung mengambil tiket penerbangan setelah mengetahui kamu sakit. Papa mengabari aku dan katanya kamu kelelahan. Aku rasa, kamu butuh aku untuk membantu mengurus ketiga buah hati kita," kata Radit sambil menatap wajah Vina yang sudah memejamkan mata.


Radit memang benar benar panik setelah mendengar kabar tentang Vina. Pria itu tidak berpikir panjang untuk meninggalkan pekerjaan nya. Bagi Radit Vina jauh lebih penting.


"Aku rasa selain kelelahan, kamu juga masuk angin. Aku sudah membeli minyak angin cap kuda. Aku akan memijit kamu Vin," kata Radit lagi. Vina membuka matanya. Sebenarnya Dia juga merasa dirinya masuk angin. Tetapi mendengar perkataan Radit, Vina merasa takut. Entah kenapa sejak bayi kembar itu lahir, Vina merasa takut jika bersentuhan dengan Radit.


"Tidak perlu Radit. Besok aku bisa memanggil tukang pijit ke rumah. Sekarang kamu tidur saja. Kamu juga pasti lelah" jawab Vina beralasan. Dia tidak akan membiarkan Radit untuk memijitnya. Perbuatan masa lalu itu masih terasa menakutkan dan Vina takut itu kembali terulang.


"Tidak apa apa Vin, anggap saja aku tukang pijit yang kamu panggil ke rumah," jawab Radit sambil turun dari ranjang. Dia mengambil minyak angin, dari atas meja rias yang dibelinya tadi. Kemudian Radit kembali berjalan ke arah ranjang. Vina sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sebagai penolakan jika dia memang benar benar tidak ingin dipijit oleh Radit.

__ADS_1


"Vin," panggil Radit pelan. Dia tahu bahwa Vina menolak. Radit juga menduga bila itu berhubungan dengan perbuatannya dulu. Radit merasakan hatinya berdenyut nyeri. Efek dari perbuatannya ternyata membuat Vina sampai seperti ini. Bunda dari ketiga bayi kembar yang sangat dibanggakannya itu menolak kebaikannya. Dan Radit sadar itu adalah karena perbuatannya.


"Tidak perlu Radit. Tidurlah atau lihat dulu si kembar di kamar sebelah," jawab Vina pelan. Radit semakin menyadari dan yakin jika penolakan Vina berhubungan dengan perbuatannya dulu.


"Vina, kamu jangan takut. Kita sekarang ada di rumah papa Hendrik. Tidak mungkin aku berbuat yang jahat kepada kamu. Selain itu aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan terkutuk itu. Duduklah Vin, aku akan memijit kamu dari kepala terlebih dahulu supaya kamu percaya," kata Radit meyakinkan vina. Radit menyingkapkan selimut itu dan Radit membantu Vina untuk duduk. Vina menurut. Dia ingin membuktikan perkataan Radit. Vina juga percaya, Radit tidak akan berani berbuat macam macam di rumah orangtuanya ini. Selain itu, Vina ingin segera sembuh. Sakit di kepalanya membuat Vina tidak bisa mengurus ketiga bayinya malam ini.


Radit memulai memijit kepala Vina. Vina merasa pijitan sungguh terasa enak di kepalanya. Pijitan Radit jauh lebih enak dibandingkan pijitan Ema di rumah sakit tadi.


"Vin, aku memijit punggung kamu ya," kata Radit. Radit sengaja memberitahu terlebih dahulu supaya Vina tidak terkejut merasakan pijitannya di punggung Vina. Vina yang sudah merasakan enak di kepalanya akhirnya mengangguk.


Radit mengoleskan minyak angin cap kuda itu di punggung Vina lewat kerah baju. Kemudian Radit memijit punggung itu dengan baju sebagai penghalang. Radit bidak berani untuk menyingkapkan piyama Vina. Radit takut Vina beranggapan negatif kepadanya. Radit ingin membuat Vina untuk yakin ke dirinya. Dan membuat Vina lupa dengan perbuatannya dulu.


Vin, bagaimana. Aku sudah bisa disebut tukang pijit?" tanya Radit sambil terus memijit punggung Vina.


"Ternyata kamu berbakat juga Radit. Jika buka praktek pasti laris manis," jawab Vina bercanda. Radit tertawa. Suaranya memenuhi ruangan itu. Apalagi tengah malam seperti ini. Suaranya pasti kedengaran sampai ke luar rumah.


"Aku hanya menjadi tukang pijit untuk istriku. Aku tidak kekurangan uang sampai harus membuka tukang pijit," jawab Radit. Vina terdiam. Dia takut perkataannya menyinggung perasaan Radit.


"Kenapa diam Vin, apa kamu tidak ingin menjadikan aku tukang pijit pribadi untuk kamu?" tanya Radit lagi.


"Jangan seperti itu Radit. Aku tahu kamu lelah bekerja. Tidak seharusnya aku menambah rasa lelah mu itu," jawab Vina pelan. Dia kemudian kembali terdiam menikmati pijatan Radit yang memang seperti ahli melakukan hal itu.


"Ini adalah pekerjaan aku sewaktu kecil. Memijit mamaku supaya bisa tertidur," kata Radit bercerita tentang masa kecilnya. Sejak dirinya kecil. Mamanya sudah sakit sakit-sakitan. Dan rasa sayangnya yang teramat besar, Radit kecil dan remaja menjadi tukang pijit untuk mamanya. Dan Radit senang melakukan hal itu. Tetapi setelah dewasa, mamanya mempekerjakan tukang pijit profesional untuk menggantikan Radit.


"Vina, kalau aku bilang. Aku sudah mencintai kamu. Kamu percaya tidak?" tanya Radit setelah beberapa menit memijit punggung Vina. Jantungnya berdetak kencang ketika memberanikan diri ketika berkata seperti itu. Tidak ada jawaban. Radit terus memijit punggung itu. Dan menetralkan detak jantungnya. Melihat Vina yang duduk di depannya. Ingin rasanya, Radit memeluk tubuh Vina dari belakang. Mengungkapkan semua kerinduan yang satu bulan ini tidak bisa menatap tubuh ini secara langsung.


Radit berusaha menahan diri. Dia tidak ingin menghancurkan kepercayaan yang sudah dia dapat walau hanya untuk memijat tubuh Vina.


"Vina," panggil Radit lagi. Vina masih saja tidak menjawab. Ketika Radit melepaskan tangannya dari punggung Vina, tubuh Vina oleng. Untung Radit segera menahan tubuh Vina. Vina ternyata sudah tidur. Radit menahan bahu Vina supaya tidak ambruk.

__ADS_1


"Aku sudah mencintaimu Vina. Tolong aku beri kesempatan. Jika aku berulah lagi. Aku rela jika dikebiri," bisik Radit. Radit membaringkan tubuh Vina. Radit menatap lama wajah Vina. Memanfaatkan kesempatan, jika Vina sudah terbangun. Dia tidak bisa menatap wajah itu berlama lama.


"Maaf. Maaf sekali lagi bunda dari bayi bayiku. Aku betul-betul menyesal. Aku sadar aku tidak mudah untuk mendapatkan maaf dari kamu. Tapi tolong pertimbangkan rasa cinta ini," kata Radit lagi. Biarlah Vina tidak mendengarkan apa yang diucapkannya. Tapi Radit ingin mengeluarkan semua isi hatinya. Di dengar atau tidak. Radit hanya ingin mengucapkan. Jika apa yang ada di hatinya adalah sesuatu yang serius. Radit berharap dia masuk kedalam mimpi Vina dan Vina mendengar apa yang diucapkannya di mimpi tersebut.


__ADS_2