
"Jangan peluk," kata Vina membuat Radit terkejut. Tangannya spontan terangkat dari tubuh Vina. Di belakang Vina. Radit ketakutan. Radit takut aksinya membuat Vina tidak nyaman dan menjaga jarak dari dirinya.
"Vin, kamu be..belum tidur?" tanya Radit gugup. Dia duduk dan kemudian turun dari ranjang.
"Aku terbangun dari jam sebelas tadi," jawab Vina. Radit spontan melihat ke jam dinding. Jam menunjukkan angka 12.30.
"Tidur lagi Vin, aku akan kembali ke sofa. Apa kamu perlu mengganti diapers?" tanya Radit lembut. Vina menggelengkan kepala.
"Radit, boleh minta tolong?" tanya Vina pelan. Dia menyembunyikan wajahnya ke balik selimut.
"Kami ingin makan sesuatu?" tanya Radit. Dia teringat akan cerita Andre akan Sinta yang sering minta makanan aneh di tengah malam seperti ini.
"Tidak," jawab Vina singkat. Tangannya menjangkau ponsel yang ada di atas meja dekat ranjangnya. Vina membuka ponsel itu dan menunjukkan ke Radit.
"Aku suka nonton ini. Tetapi entah mengapa aku ingin melihat orang langsung untuk menari dengan musik itu," kata Vina sambil menunjukkan video beberapa cowok keren berjoget dengan lagu ampun bang jago.
"Ya sudah. Besok aku akan menyuruh beberapa karyawan aku yang masih muda untuk berjoget dengan lagu itu. Di depan kamu langsung. Di kamar ini. Tidurlah dulu," kata Radit sambil membetulkan letak selimut Vina.
"Tapi aku mau sekarang," kata Vina pelan. Radit membulatkan matanya. Dia tahu maksud dari perkataan Vina. Radit menatap mata Vina yang terlihat sedih. Vina memang tidak pura pura. Ini dari tadi siang adalah keinginannya. Tapi Vina malu untuk meminta Radit berjoget di depannya. Tetapi entah kenapa, malam ini keinginan itu seakan tidak terbendung.
"Tapi siapa yang harus kita suruh untuk berjoged malam malam begini?" tanya Radit frustasi. Dia tidak mungkin melakukan hal konyol itu di tengah malam begini. Apalagi postur tubuhnya yang gagah dan atletis. Pasti terasa kaku jika harus berjoged dengan lagu itu.
"Ya, tidak mungkin juga papaku. Ya harusnya kamu donk. Kan kamu papa dari Janin yang aku kandung ini," jawab Vina sewot. Vina memang semakin berani berdebat dengan Radit. Dan Radit juga tidak marah atau membentak seperti sebelumnya.
"Tapi aku tidak bisa Vin, aku tidak pandai berjoget. Apalagi berjoget seperti itu. Energik dan gerakannya juga bagus."
"Ya, aku tahu. Kamu memang tidak pandai berjoget. Kamu hanya pandai berjoged di atas tubuh para wanita malam. Kalau ada niat belajar, apa yang tidak bisa. Aau..ah," kata Vina kesal kemudian meringis. Janin kembarnya bersamaan bergerak.
"Kenapa Vin?" tanya Radit khawatir. Vina menunjuk ke perutnya dan Radit bisa melihat perut Vina yang bergelombang.
"Apa mereka bergerak?" tanya Radit antusias. Ini pertama kali dia melihat pergerakan janin. Radit meletakkan tangannya di perut Vina. Ketiga janin itu masih bergerak. Radit sangat senang sekali. Gerakan janinnya nyata di telapak tangannya.
"Bahkan mereka juga ingin melihat papanya berjoged ampun bang jago," kata Vina menepis tangan Radit dari perutnya. Radit tersenyum. Dia bersemangat dan mengambil ponsel Vina.
"Baiklah. Aku pelajari dulu," jawab Radit sambil memutar video itu.
Radit menggerakkan kaki dan tangannya meniru apa yang dilihatnya di video itu. Badan kekarnya memang terasa kaku bergerak. Tapi demi para janinnya. Radit bersemangat untuk belajar. Hampir setengah jam Radit belajar. Badannya sudah berkeringat.
"Sepertinya sudah bisa," kata Radit. Dia menyerahkan ponselnya ke Vina untuk merekam dirinya yang berjoged. Radit pun menggerakkan badannya berjoged seperti di video itu. Vina merekamnya sambil tertawa.
"Ulangi sekali lagi Radit," kata Vina setelah lagu itu berhenti. Radit tidak protes. Dia pun kembali berjoged. Tetapi Vina tidak lagi merekam. Radit sudah berhenti berjoged. Radit membantu Vina untuk tidur miring ke sebelah kanan.
__ADS_1
Setelah aksi konyol itu, Radit akhirnya mandi di tengah malam itu. Biasanya malam begini dia mandi karena badannya lengket karena sehabis bercinta. Tapi malam ini dia harus mandi karena berkeringat sehabis berjoged seperti orang gila di tengah malam. Demi Vina dan ketiga janin kembarnya.
Radit keluar dari kamar mandi. Dia melihat Vina yang sudah terlelap. Radit menggerakkan tangannya di depan mata Vina. Setelah Radit yakin Vina sudah benar benar terlelap, Radit memberanikan dirinya mencium kening istrinya. Jantungnya berdebar ketika melakukan itu. Radit akhirnya naik ke atas ranjang dan tidur telentang di belakang tubuh Vina.
Radit menatap langit langit kamar itu. Sungguh hari ini Radit merasakan seperti mempunyai keluarga yang sebenarnya. Seperti suami yang sesungguhnya yang siap membantu dan menuruti keinginan sang istri. Radit pun banyak berharap akan hubungannya dengan Vina akan baik baik saja.
Hari hari terus berlalu. Radit tidak hanya sekedar mengisi absen lagi datang ke rumah Vina. Radit bahkan tinggal di rumah itu. Kedua orang tua Vina dan Vina sendiri tidak bisa menolak. Mereka pasrah dengan keputusan sepihak Radit. Yang membuat Hendrik juga tidak melarang. Hendrik bisa melihat keperdulian Radit terhadap Vina. Melihat perubahan Radit, Hendrik juga ingin yang terbaik untuk hubungan putrinya. Tapi Hendrik sudah berjanji dalam hati. Tidak akan mencampuri apapun keputusan Vina setelah melahirkan nanti. Tetap bercerai atau bersedia melanjutkan pernikahannya dengan Radit.
Kandungan Vina semakin membesar. Aktivitas semua dilakukan di tempat tidur. Jika mandi tidak cukup hanya satu orang untuk membantunya ke kamar mandi. Radit juga sudah mempekerjakan dua perawat yang bertugas untuk menjaga Vina. Perawat itu bertugas di siang hari sewaktu Radit bekerja. Sedangkan untuk malam hari Radit sendiri yang turun tangan untuk membantu Vina. Dan untuk nutrisi Vina dan ketiga janinnya. Radit juga khusus mempekerjakan ahli gizi.
Radit juga semakin senang. Hendrik tidak lagi diam. Hendrik sudah mau berbicara dengannya walau hanya sekedar. Sedangkan Vina. Wanita itu juga bersikap biasa saja. Sulit menebak sikap Vina saat ini. Seperti wanita hamil lainnya, Vina juga bersikap berubah ubah. Kadang senang Radit ada di dekatnya dan kadang juga merasa benci jika pria itu di dekatnya.
Radit memaklumi itu semua. Karena Andre juga bercerita jika Sinta juga bersikap berubah ubah. Kedua sahabat itu juga sering bertemu. Dan Pembahasan mereka selalu tentang istri masing yang juga sama sedang mengandung.
Vina juga tidak berbeda dengan wanita hamil lainnya. Banyak makanan yang diinginkan yang kadang aneh bagi wanita yang tidak hamil. Seperti suami siaga lainnya Radit juga selalu berusaha untuk menuruti permintaan Vina. Radit tidak lagi memaksakan kehendaknya.
"Kamu ingin sesuatu?" tanya Radit setelah melingkari tanggal di kalender. Setiap malam, Radit selalu menghitung hari untuk kelahiran anak anaknya. Malam ini usia kandungan Vina sudah delapan bulan sepuluh hari. Sesuai saran dokter. Empat hari lagi Vina akan dibedah untuk mengeluarkan bayi bayinya. Radit juga sudah mempersiapkan semua perlengkapan bayi bayinya. Hanya saja, bayi bayi itu akan tidur di kamar Vina nantinya. Karena rumah Vina hanya terdiri dari tiga kamar. Kamar yang sebelumnya kosong sudah ditempati dua perawat yang akan merangkap menjadi baby sitter jika bayi bayi itu sudah lahir.
"Aku mau es krim tiga rasa Radit," kata Vina pelan. Dia takut Radit tidak mengabulkan keinginannya. Vina teringat ketika dia meminta Es krim tiga rasa waktu dulu. Es krim itu memang sudah dimakannya, tapi entah mengapa keinginan makan es krim malam ini timbul lagi.
"Masih jam sembilan," kata Vina lagi. Dia berkata seperti itu supaya tidak ada alasan dari Radit yang mengatakan swalayan sudah tutup. Radit mengangguk dan keluar dari kamar.
"Kok cepat banget," kata Vina setelah Radit membawa es krim tiga rasa itu ke kamar. Tidak sampai lima menit, Radit sudah duduk dihadapannya.
"Radit, perut aku kok mulas. Padahal masih satu sendok masuk es krimnya ke mulut aku,"
"Masa sih, kamu mau bab ya?" tanya Radit. Dia meletakkan es krim itu di meja. Vina menggelengkan kepalanya.
"Dari tadi, mereka memang aktif bergerak tidak seperti biasanya," kata Vina lemah. Radit membuka ponselnya dan bertanya ke eyang Gugel ciri ciri kontraksi.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Masih sakit kan?" tanya Radit khawatir. Vina mengangguk sambil meringis.
"Tapi untuk melahirkan normal kan, harusnya sekitar tiga minggu lagi. Ini hanya mules biasa," kata Vina. Mules di perutnya sudah berhenti. Radit keluar dari kamar dan memanggil Hendrik. Sedangkan dua perawat Vina sudah memasukkan perlengkapan bayi ke dalam tas sesuai perintah Radit.
Hendrik panik ketika mendengar Vina hendak di bawa ke rumah sakit. Dia masuk ke kamar Vina dengan tergesa. Mama Rita juga ikut mengekor di belakangnya.
"Masih mules?" tanya mama Rita khawatir. Mama Rita sangat khawatir jika mules yang dirasakan Vina adalah kontraksi untuk melahirkan. Dokter sudah berkali kali mengingatkan bahwa Vina harus melahirkan secara Caesar. Selain karena kehamilan Vina kembar tiga, rahim Vina juga lemah. Kedua orang tua Vina juga ragu, Vina bisa melahirkan normal. Karena untuk melahirkan satu bayi saja butuh perjuangan antara hidup dan mati. Apalagi Vina harus melahirkan tiga bayi.
"Mules lagi ma," jawab Vina lemah.
"Pa, siapkan mobil. Vina harus ke rumah sakit sekarang," kata mama Rita panik. Radit langsung memberikan kunci mobilnya ke Hendrik. Radit menggendong Vina hati hati membawanya ke dalam mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil, Vina semakin merintih kesakitan. Apalagi posisinya yang tidak nyaman membuatnya semakin merintih. Radit berusaha menenangkan Vina sambil mengelus perut buncit itu. Tangannya menggenggam tangan Vina. Tapi itu semua tidak mengurangi rasa sakit yang di derita Vina. Mules itu semakin sering dan sering. Dengan sebelah tangannya, Radit menghubungi dokter Agung memberi tahu keadaan Vina. Hendrik yang menjadi supir dan mama Rita yang duduk di sampingnya, juga merasa kasihan dengan Vina.
Sesampai di rumah sakit, Vina langsung dibawa ke ruangan bersalin. Dokter Agung belum sampai di rumah sakit itu. Bidan yang bertugas langsung memeriksa Vina. Radit menahan perut Vina ketika bidan itu memeriksakan detak jantung sang janin kembar. Radit bernafas lega. Tidak ada masalah dengan detak jantung ketiga janinnya.
"Sudah buka sembilan," kata bidan itu setelah memeriksa jalan lahir sang janin. Mama Rita yang ada juga di ruangan itu terkejut dan melemas. Dia takut Vina tidak sanggup melahirkan bayi itu secara normal. Apalagi ini sudah buka sembilan dan dokter Agung juga belum sampai.
"Maksudnya apa Bu bidan?" tanya Radit tidak mengerti.
"Satu pembukaan lagi, Ibu ini akan melahirkan," kata bidan menjelaskan. Radit juga terkejut. Dokter sudah menjelaskan resiko melahirkan normal bagi Vina.
"Caesar saja. Cepat panggil dokternya kemari," kata Radit semakin panik. Dia tidak memperhatikan Vina yang semakin kesakitan. Radit fokus memikirkan Vina harus melahirkan secara Caesar.
"Bu bidan, semakin sakit," kata Vina lemah. Bu bidan kembali memeriksa jalan lahir itu.
"Ayo ibu. Semangat ya. Ini sudah pembukaan sepuluh. Tarik nafas, keluarkan perlahan. Kemudian sambil mengejan. Arahkan kepala ke arah perut. Bapak tetap pegang perut ibu seperti ini. Ayo ibu. Ikuti apa yang aku bilang tadi," kata bidan itu memberi semangat. Vina melakukan apa yang dikatakan bidan tersebut. Beberapa perawat juga sudah terlihat di ruangan itu.
"Oek..oek..oek."
Suara bayi perempuan bergema di ruangan itu. Mama Rita mengusap air matanya sambil tersenyum. Jantungnya masih berdetak tidak karuan menunggu dua bayi yang akan lahir. Vina sudah terlihat tidak kesakitan lagi. Dia bahkan bisa mengikuti pergerakan perawat yang membersihkan bayi perempuannya.
Radit tidak kalah bahagia. Sama seperti Vina. Pandangannya juga tidak lepas dari bayi perempuan itu. Dia masih duduk di samping bed Vina sambil memegang perut istrinya. Walau sudah satu bayi sudah keluar, perut Vina masih nampak sangat besar.
"Sakit lagi Bu bidan," kata Vina setelah lima belas menit dari kelahiran bayi pertama.
"Tetap ikuti Bu, seperti yang aku katakan tadi ya," kata Bu bidan itu. Di tengah-tengah rasa sakitnya Vina masih bisa mengangguk dan melaksanakan seperti yang dikatakan Bu bidan. Vina sudah mengeluarkan keringat sebesar jagung. Hingga mengejan yang ketiga kali nya. Bayi itu belum juga keluar. Mama Rita mendekat. Dia menggenggam tangan Vina dan mencium kening putrinya. Radit hampir meneteskan air mata melihat perjuangan Vina.
"Semangat Vin, Mama yakin kamu bisa," kata mama Rita dengan suara yang bergetar. Vina kembali mengangguk. Vina kembali menarik nafas dan kemudian mengejan kembali seperti yang di instruksikan sang bidan.
"Oek..oek..oek,"
"Laki laki," kata Bu bidan setelah mengeluarkan bayi laki laki itu. Radit dan mama Rita kembali tersenyum. Tetapi tetap dengan jantung yang berdebar. Dalam hati ini Radit dan mama Rita sama sama berucap " satu lagi"
Vina mengira bayi ketiga akan lahir lima belas menit kemudian seperti jarak bayi pertama ke bayi kedua. Perkiraannya salah, hanya hitungan sekitar tiga menit. Perutnya kembali mules. Bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Bayi ketiga itu seakan takut ketinggalan sendirian di perut Vina. Vina sungguh merasakan kesakitan yang dahsyat. Tangannya semakin menggenggam tangan mama Rita. Berkali kali kali dia melakukan apa yang dikatakan bidan tadi. Tapi bayi itu masih saja belum keluar. Radit dan mama Rita mulai panik. Apalagi Vina sudah terlihat lemah.
"Bu, kalau belum merasakannya seperti bab, jangan mengejan dulu ya. Kalau sakit cukup tarik nafas dan keluarkan dari mulut," kata bidan itu lagi. Vina tidak lagi mendengar apa yang dikatakan bidan itu. Dia hanya ingin rasa sakit itu cepat berlalu dari tubuhnya.
"Vin, tetap semangat. Kamu wanita hebat Vin, lihatlah dua bayi kita sudah lahir. Aku yakin kamu bisa untuk melahirkan bayi ketiga kita," kata Radit sambil mengusap kepala Vina. Mulutnya bisa memberikan semangat kepada Vina tapi hatinya sangat ketakutan.
Vina memandang Radit dan mamanya bergantian. Vina kembali merintih. Bahkan kali ini Vina mengeluarkan air mata karena sangat kesakitan. Tangannya meraba mencari pegangan. Mama Rita kembali memberikan tangannya. Kemudian Vina kembali mengejan.
"Oek..oek..oek,"
__ADS_1
Ruangan itu kembali bergema dengan suara bayi perempuan. Radit dan mama Rita tersenyum lebar dan mengucap syukur. Mereka tidak menyadari Vina yang sudah terkulai lemas dengan mata yang terpejam.