Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Penyesalan Radit


__ADS_3

"Vina. Kamu kenapa nak?" tanya mama Rita histeris. Radit dan Bidan spontan menoleh. Radit dapat merasakan jantungnya sangat berdegup kencang. Rasa syukur yang tadi terucap dalam hatinya kini berganti dengan permohonan keselamatan akan Vina kepada yang Kuasa. Bidan menyuruh perawat untuk memanggil dokter siapa saja yang sedang bertugas malam ini.


"Vin, bangun Vin. Jangan seperti ini," kata Radit panik. Radit menepuk kedua pipi Vina pelan dan bergantian. Tapi Vina seakan enggan untuk bangun. Mama Rita sudah menangis dan ketakutan. Badannya sampai ikut bergetar karena menangis. Sedangkan Radit juga merasakan ketakutan yang luar biasa, Wajah Radit bahkan memucat dengan lutut yang bergetar.


"Dokter, tolong periksa Vina secepatnya dok," kata mama Rita setelah melihat dokter agung masuk ke ruangan itu. Dokter agung memeriksa Vina dan menyuruh bidan untuk membersihkan Vina.


"Dia hanya pingsan karena kelelahan," kata dokter agung setelah memeriksa Vina. Mama Rita dan Radit bisa menarik nafas lega. Hendrik yang juga sudah di ruangan itu juga merasa lega. Dia mendekat ke bed Vina dan membelai rambut putrinya. Hendrik benar benar bahagia dan terharu. Permasalahan rumah tangga, tidak membuat Vina lemah dan menyerah. Bahkan Vina berusaha bertahan di saat hatinya tersakiti dan kesulitan mengandung si kembar.


"Selamat menjadi ibu, putriku. Kamu memang benar benar wanita yang hebat," kata Hendrik masih membelai rambut Vina. Setetes air mata jatuh di pipinya. Ini bukan lagi air mata kesedihan karena rumah tangga Vina. Melainkan air mata bahagia karena Vina berhasil melahirkan tiga bayi yang lucu. Cucu cucu yang akan memanggilnya dengan sebutan kakek.


"Aku tidak menyangka Vina bisa melahirkan normal. Mengingat kondisi Vina yang lemah dan kembar tiga. Vina benar benar wanita yang hebat. Semua di luar perkiraan saya sebagai dokter yang menangani Vina," kata dokter agung sambil mengulurkan tangannya ke Radit, mama Rita dan Hendrik.


"Selamat ya. Kamu sudah menjadi seorang papa dari tiga bayi yang lucu lucu. Dan om Hendrik dan Tante Rita juga sudah menjadi kakek dan nenek," kata dokter itu sambil tersenyum. Mereka yang ada di ruangan itu tersenyum lebar.


Radit memperhatikan bayinya satu persatu sebelum dipindahkan ke ruang bayi dan inkubator. Segala doa terbaik dan harapan keluar dari mulut Radit untuk ketiga bayi kembar tersebut. Radit tidak henti hentinya bersyukur dan tersenyum. Kebahagian melihat putra dan putrinya melebihi semua kebahagiaan yang pernah dinikmatinya. Radit mengambil foto ketiga bayi tersebut dan langsung mengunggahnya ke media sosial.


Bayi bayi mungil itu tidak seperti bayi bayi lainnya. Mungkin karena kembar tiga. Bayi yang terberat hanya 2,3 kilo gram. Itu bayi yang pertama lahir. Sedangkan bayi kedua hanya 2 kilo gram sedangkan bayi ketiga 2,2 kilo gram. Berat bayi dibawah batas normal. Tapi dokter agung mengatakan itu sudah hebat. Mengingat bayi itu harus berebutan nutrisi di rahim Vina.


Vina pingsan cukup lama, wanita hebat itu tidak lagi di ruangan bersalin. Vina dipindahkan ke ruangan yang terbaik di rumah sakit itu sesuai permintaan Radit. Kedua orang tua Vina dan Radit berada di ruangan Vina untuk menjaga wanita hebat itu.


"Radit, Radit," panggil Vina sambil menggoyangkan tangan Radit yang berada di sisi bed. Radit memang duduk di bangku bed Vina dan tertidur. Sedangkan kedua orangtuanya tidur di sofa yang ada di ruangan itu.


Radit menggeliat dan mengucek matanya. Dia tersenyum ketika melihat Vina sudah sadar. Radit melirik ke jam dinding. Sudah jam lima subuh. Vina pingsan mulai jam sebelas tadi malam.


"Ada yang sakit?" tanya Radit khawatir. Vina mengangguk. Vina memang merasakan sakit di perutnya. Rasa sakit itu hampir mirip ketika mau melahirkan tadi malam. Radit segera memanggil dokter.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Rasa sakit di perut Vina sudah berkurang. Sedangkan untuk area jalan lahir bayi, area itu masih sakit dan perih. Pagi ini, Vina juga sudah sarapan. Dokter juga sudah mengijinkan bayinya untuk dibawa ke ruangan Vina.


Perawat meletakkan bayi perempuan yang pertama lahir ke pangkuan Vina. Vina bisa merasakan perasaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata kata. Jika ada rasa melebihi senang dan bahagia, itulah yang dirasakan Vina saat ini. Vina mencium bayi perempuan itu dan kemudian memberikan ke perawat.


Vina kembali menerima bayi kedua, bayi laki-laki yang sangat tampan. Wajahnya sangat mirip dengan Radit. Vina juga mencium putranya.


"Semoga kamu laki laki yang bertanggungjawab dan berakhlak mulia nak. Jangan pernah meniru sifat buruk ayahmu," batin Vina sambil membelai wajah putranya.


Vina menerima bayi ketiganya. Sama seperti bayi pertama dan kedua. Vina juga mencium putranya.


"Kamu takut ketinggalan di perut bunda ya nak, makanya menyiksa bunda sampai kesakitan luar biasa," kata Vina ke bayi ketiganya. Vina kemudian membelai wajah putrinya. Radit yang berada di ruangan itu tersenyum melihat Vina yang sangat terlihat bahagia.


Andre dan Sinta sebentar lagi kemari," kata Radit setelah membaca pesan di ponselnya. Vina hanya mengangguk. Bayi ketiganya masih di pangkuannya.


Sinta tidak henti hentinya memuji dan merasa takjub melihat tiga bayi kembar itu. Tetapi untuk menggendong Sinta tidak berani. Selain bayi bayi itu mungil, perut Sinta yang membuncit juga membuat Sinta tidak bisa bebas.


Sama seperti Sinta dan Tini, Andre dan Sean juga merasa takjub. Bahkan mereka terus terusan memuji Radit sebagai papa dari sang bayi kembar.


"Kok jadi kak Radit yang dipuji sih. Kan Vina yang sudah berjuang hamil dan melahirkan si kembar," kata Tini sewot. Mereka bertiga duduk di sofa sedangkan Sinta duduk di bangku dekat bed Vina. Dua wanita muda itu saling bertukar cerita tentang melahirkan normal. Awalnya Tini ikut dalam pembicaraan dua wanita itu. Tapi karena Tini tidak mempunyai pengalaman melahirkan akhirnya dia bergabung dengan tiga laki laki bersahabat itu.


"Vina memang wanita hebat sayang. Tapi Vina juga tidak mengandung kembar tiga kalau bukan karena Radit mempunyai bibit unggul," jawab Sean. Radit merasa bangga dengan jawaban Sean. Dia tersenyum dan menepuk dadanya.


"Tetap saja aku tidak terima. Apapun kata kalian. Vina yang pantas mendapat pujian bukan kak Radit. Dia tahunya cuma mencetak doang," kata Vina masih tidak terima. Sean memberi isyarat ke kekasihnya supaya memelankan suara. Tini ingin membuat Radit benar benar sadar akan pengorbanan Vina. Tini tidak ingin Radit menuntut hak asuk si kembar jika Vina dan Radit bercerai.


"Itu karena kita terbiasa puas melihat hasil Tini. Terkadang manusia lupa melihat proses yang menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Seperti Vina ini. Kita hanya puas melihat bayi kembar tiga ini. Pernahkah kalian membayangkan Radit dan Vina sampai bekerja keras dan berkeringat sebesar biji jagung hanya untuk mencetak bayi itu?" kata Andre dengan gayanya seperti mengajar di kelas. Tini memicingkan matanya dan mengangguk. Persis seperti di ruangan kelas. Andre dosennya dan Tini mahasiswanya.

__ADS_1


"Ada pertanyaan pak dosen," kata Tini sambil mengangkat tangannya ke atas. Andre mengangguk.


"Apa pak dosen lupa bahwa tiga bayi kembar itu ada akibat pemerkosaan?" tanya Tini pelan. Tini takut Vina mendengar pertanyaannya. Tini kemudian menoleh ke Vina dan Sinta. Mereka masih asyik bercerita. Andre menatap Tini setelah mendengar pertanyaan itu. Dia hanya mengatakan apa yang dialaminya ketika bercinta dengan Sinta.


Sean dan Radit terdiam mendengar pertanyaan Tini. Apalagi Radit. Pertanyaan Tini ke Andre seperti anak panah yang menusuk ulu hatinya. Sangat sakit dan berdenyut nyeri. Radit menoleh ke dua bayinya yang ada di boks bayi. Kemudian melihat bayi yang satu lagi di pangkuan. Entah bagaimana sekarang perasaan pria itu. Bahagia itu pasti. Tapi ada juga rasa yang tidak bisa Radit gambarkan ketika Tini mengingat bagaimana bayi kembar itu terjadi.


"Jadi sudah paham kan?. Kak Radit jangan merasa hebat karena sudah memiliki mereka. Aku akan mengakui kak Radit hebat, jika mampu membahagiakan mereka dan juga bundanya," kata Tini lagi. Tiga pria itu serentak mengangguk setuju dengan perkataan Tini. Melihat tiga janin kembar itu, Tini ingin, baik Radit dan Vina melupakan masa lalu dan menjadi orang tua yang utuh bagi tiga bayi kembar itu. Sebenarnya selain senang melihat bayi itu. Tini juga merasa kasihan terhadap mereka. Bayi yang lahir bukan karena cinta melainkan karena pemerkosaan.


"Aku juga sependapat dengan Tini," kata Sean akhirnya.


"Terimakasih Tini. Aku akan menjaga dan bertanggung jawab kepada mereka dan kepada istriku," kata Radit pelan.


"Baguslah kak, kalau merasa sudah punya istri sekarang. Takutnya setelah ini, yang ada Vina yang tidak mau lagi menjadi istri mu. Dulu kamu berkata akan menceraikan Vina setelah bayi bayi ini lahir. Saat itu kamu berkata sangat angkuh dan kasar," kata Tini lagi pelan.


Deg.


Tini berhasil mengaduk perasaan Radit. Rasa bersalah karena mengingat bayi kembar lahir karena pemerkosaan kini Tini menambah beban pikiran kepadanya. Kebersamaan dengan Vina selama tiga bulan membuat Radit lupa akan perceraian yang pernah dia katakan. Radit terdiam dan berpikir. Entah bagaimana sekarang perasaan pria itu.


"Oya, siapa nama bayi bayi luar biasa ini," kata Andre untuk mengalihkan pembicaraan. Andre jelas melihat bagaimana Radit sangat gelisah setelah mendengar perkataan Tini. Tini kalau sudah berbicara memang bisa membuat lawan berbicaranya tidak berkutik.


"Jangan menyakiti Vina, apapun keputusannya nanti," ancam Tini kepada Radit. Radit mengangguk. Pertanyaan Andre tetap saja tidak bisa membuat Tini beralih dari permasalahan Radit dan Vina.


"Sayang. Aku rasa bukan saat yang tepat untuk membicarakan itu. Lagi pula itu urusan mereka," bisik Sean.


"Biar saja. Biar kak Radit sadar dan semakin waras," bisik Tini lagi. Radit masih bisa mendengar suara Tini yang pelan. Radit merasa sangat menyesal, Bukan menyesal karena adanya bayi kembar itu. Tetapi menyesal karena perbuatannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2