
Bagi Sinta memaafkan Andre, merupakan hal yang tersulit dalam hidupnya. Menurutnya kesalahan Andre terlalu fatal. Menolak kehamilannya dan bahkan menceraikannya. Jadi hal yang wajar jika Sinta tidak tersentuh dengan perlakuan Andre selama dua hari ini. Sinta tidak dapat membayangkan andaikan dia tidak mempunyai keenam sahabatnya. Sahabat rasa saudara.
Dari kamar, Sinta memandangi sahabatnya. Ronal yang dengan santainya mengangkat kakinya ke meja sambil bermain game online. Sedangkan yang lainnya duduk di lantai bermain Ludo. Indah membawa Ludo ke rumah Sinta, untuk mengusir bosan katanya. Sedangkan Elsa sudah pulang duluan.
Sambil bermain Ludo. Vina dan lainnya saling bercanda. Beruntung canda dan tawa mereka tidak sampai membangunkan baby Airia. Baby Airia terbangun ketika haus dan pipis saja.
Sinta tersentak dengan dering ponselnya. Melihat nama Sean yang tertera di ponsel membuat Sinta tersenyum. Sinta menjawab panggilan dari Sean. Ketika Sean bertanya kabar, Sinta langsung memberitahukan kelahiran putrinya. Bersamaan dengan Sinta berbicara dengan Sean di telepon, terdengar klakson mobil di depan gerbang. Tini menggerutu dan berjalan ke luar rumah untuk membukakan gerbang.
Sinta bingung, Sean mengucapkan terima kasih dan terdengar suara Tini yang menjawab iya.
Sementara di luar rumah. Tini mengepalkan tangan melihat Sean yang turun dari mobil. Giginya rapat menahan amarah. Tanpa menghiraukan Tini, Sean berjalan melewati Tini yang masih berdiri di samping mobil Sean. Tini menduga bahwa Sean lah ayah dari bayi Sinta
Sean mengucap salam dan masuk ke dalam . Sementara Tini mengekor di belakangnya. Lain Tini lain pula Cici dan indah. Kedua wanita itu melongo melihat Sean. Pria dewasa yang sangat tampan dan berpenampilan modis. Kumis tipisnya membuat Sean berwibawa. Sedangkan Vina, karena ada Ronal, dia tidak berani memandang Sean seperti Cici dan Indah. Di mata mereka Sean terlihat sangat sempurna.
"Stop, jangan coba coba masuk kamar Sinta," kata Tini ketika melihat Sean melewati ruang tamu hendak ke kamar Sinta. Sean berhenti dan menoleh ke Tini. Ronal dan yang lainnya hanya diam.
"Aku hanya mau lihat baby-nya. Sinta udah melahirkan kan?," tanya Sean bingung.
"Setelah kamu menolak kehamilannya dan menceraikannya?, tidak semudah itu," jawab Tini sengit. Tangannya terkepal. Wajah memerah karena marah. Tanpa menghiraukan ocehan Tini, Sean kembali melangkahkan kakinya.
"Sinta, boleh aku masuk," tanya Sean berdiri di depan pintu kamar.
"Biar aku yang ke ruang tamu kak," jawab Sinta dan memanggil Vina untuk membantunya ke ruang tamu. Sinta sebenarnya bingung dengan kedatangan Sean, bagaimana tahu Sean alamatnya sedangkan Sinta tidak pernah memberitahukan alamatnya.
Setelah duduk di ruang tamu, Sinta memperkenalkan Sean kepada sahabatnya. Tini bukannya malu atau meminta maaf karena salah paham tadi, malah tertawa keras.
"Untung gak sempat kena tonjok kak Sean," kata Tini dengan santainya. Cici menyentil kepala gadis tomboi itu.
"Makanya jangan asal ngomong," kata Indah lagi. Sedangkan Tini hanya nyengir kuda.
__ADS_1
"Peace kak Sean yang ganteng," kata Tini dan mengacungkan dua jarinya. Sean hanya tersenyum dan mengangguk.
"Boleh aku gendong adik bayinya?" pinta Sean ketika melihat Vina keluar dari kamar membawa baby Airia. Sinta mengangguk. Vina meletakkan baby Airia di kedua tangan Sean. Sean masih begitu canggung. Sean sering terlihat mengelus pipi baby Airia. Dan mengajak bayi itu berbicara seolah olah baby Airia sudah mengerti ucapan.
"Adik bayi harus panggil apa nih ke kak Sean, om, paman atau apa?" tanya Cici.
" Kalau bundanya tidak keberatan, maunya sih dipanggil Daddy," jawab Sean santai. Membuat Cici dan yang lainnya terkejut. Ronal langsung melihat Sinta. Sedangkan Sinta biasa saja.
"Mau dipanggil Daddy kan?" tanya Tini ke Sean. Sean tersenyum
"Sama aku panggil mommy. Pas kan?. Kak Sean panggil Daddy, mommy nya ya aku," kata Tini lagi membuat yang lainnya bersorak.
"Kamu tidak cocok dipanggil mommy. Cocoknya dipanggil om," jawab Sean membuat yang lainnya tertawa.
"Untung kak Sean yang ngomong," kata Ronal lagi.
"Sini, sini merapat," ajak Sean kepada Tini dan yang lain. Mereka menurut. Sean mengambil ponselnya dan klik. Mereka berfoto. Sean dan Sinta yang duduk berdekatan, baby Airia di pangkuan Sean dan yang lainnya di belakang dan di samping mereka. Sean mudah akrab dengan sahabat Sinta.
"Sama aku nanti cincin kawin ya kak," kata Tini. Cici hanya memandang sahabatnya malas. Sedangkan Sinta terkekeh dengan candaan Tini.
"Terima kasih om," kata Sinta menirukan suara anak anak.
"Jangan hanya terima kasih aja Sinta, permintaan kak Sean tadi gimana?" tanya Ronal.
"Yang mana?"
"Kamu keberatan gak kalau baby Airia manggil kak Sean daddy," kata Ronal. Sinta tidak menjawab iya dan juga tidak menjawab tidak.
Di kediaman Cindy.
__ADS_1
Cindy tidak henti hentinya mengomel mulai dari pagi sampai menjelang sore. Cindy sangat kesal dengan Andre. Dua hari Andre keluar rumah tanpa penjelasan membuat Cindy meradang. Andre tidak perduli. Andre masuk ke kamar tamu dan menguncinya dari dalam. Dua malam begadang membuat Andre cepat terlelap.
Andre terbangun ketika mendengar suara pintu yang digedor. Dengan malas Andre membuka pintu. Di depannya Cindy sudah berkacak pinggang.
"Enak kamu ya mas, tidur tidur di sini, Alexa demam bukannya kamu perduli," kata Cindy marah. Mendengar putrinya demam, Andre langsung keluar dari kamar dan menuju kamar putrinya. Andre meraba kening Alexa, benar Alexa demam.
"Obatnya masih ada?" tanya Andre.
"Udah habis," jawab Cindy ketus. Andre masuk ke kamarnya. Mengambil kunci mobil dan kembali ke kamar bayinya.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ajak Andre. tetapi Cindy tidak bergeming.
"Ayo, tunggu apa lagi," ajak Andre lagi.
"Bawa aja sendiri," kata Cindy lagi.
"Maksud kamu apa? Alexa sakit bukannya kamu bawa ke rumah sakit malah mengomel sepanjang hari," kata Andre marah.
"Terus maksud kamu juga apa?, keluar rumah dua hari tanpa penjelasan," tantang Cindy lagi tidak kalah marah dengan Andre. Andre terdiam.
"Aku minta maaf sayang. Aku memang benar ada urusan di luar yang tidak bisa aku tinggalkan," jawab Andre akhirnya. Andre memilih minta maaf daripada ribut di depan putrinya.
"Urusan apa mas?, itu yang perlu aku tahu atau jangan jangan kamu punya ****** di luar sana mas" kata Cindy masih marah dan menghempaskan tangan Andre yang hendak memeluknya.
"Jangan cari ribut kamu, Alexa demam, sebaiknya kita bawa dulu dia ke rumah sakit. Kalau kamu tidak mau biar aku saja yang bawa sama si mbak" kata Andre mengambil Alexa dari box bayi kemudian memberikannya ke Cindy.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Alexa rewel. Andre sampai panik dibuatnya. Andre jadi membayangkan bagaimana kalau Airia yang sakit. Setiap melihat Alexa, pikirannya tertuju ke baby Airia. Alexa terus rewel, untung jalan raya tidak macet sehingga mereka cepat sampai di rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Alexa juga masih rewel. Alexa tidak langsung ditangani. Setelah pendaftaran mereka juga harus mengantri.
__ADS_1
"Pak Andre, masih di sini. Bukannya ibu Sinta semalam sudah pulang," tanya seorang perawat yang membantu Sinta melahirkan. Andre langsung menoleh ke Cindy yang berdiri berjarak lebih kurang empat meter dari dia.