
Menjadi ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa tidak membuat Tini mengalami kesulitan. Justru dukungan Sean yang menguatkan hati Tini sehingga tidak terpuruk setelah mengetahui perselingkuhan papa Indra. Sean bahkan selalu membantu Tini mengerjakan skripsi di rumah. Sean bagaikan dosen pembimbing kedua bagi Tini setelah Andre. Hal itu memudahkan Tini menyelesaikan skripsinya. Kini Di usia kandungan yang sudah berumur delapan bulan, Tini juga akan dihadapkan dengan meja hijau. Tini tinggal mengatur jadwal untuk sidang meja hijaunya.
Tini bersemangat. Harapannya dia meja hijau dulu baru melahirkan. Sesuai hari perkiraan lahir. Tini akan melahirkan tepat satu bulan lagi dari hari ini. Tapi itu bisa meleset. Bisa saja di melahirkan dua Minggu sebelum hari hari perkiraan lahir. Bisa sesuai dengan hari perkiraan lahir atau bahkan bisa lewat dari hari perkiraan lahir tersebut.
Tini berusaha akan meja hijau dua Minggu sebelum hari perkiraan lahir. Tini memang berencana akan melahirkan normal mengikuti dua sahabat Sinta dan Vina yang melahirkan normal.
Saat ini Tini, berada di kampus untuk menyesuaikan waktu antara tiga dosen yakni dosen pembimbing dan dua dosen penguji. Sudah tiga hari Tini berusaha untuk menjumpai dua dosen pengujinya. Tapi sampai saat ini. Tini belum berhasil menemuinya. Seperti mahasiswa lainnya. Kini Tini ikut menunggu salah satu dosen penguji di depan ruangan sang dosen. Perutnya yang membuncit membuat Tini tidak tahan berdiri terlalu lama. Tini akhirnya duduk di lantai dan bersandar ke dinding dengan kaki yang diluruskan.
"Tin."
Tini menoleh kearah suara yang memanggilnya. Ronal terlihat berjalan mendekat ke arahnya.
"Ronal. Mau atur jadwal juga?" tanya Tini. Ronal sudah duduk di samping Tini. Ronal tidak menjawab pertanyaan Tini.
"Menjauh dikit. Kalau dilihat kak Andre. Dia bisa cerita ke suamiku kalau aku duduk dekat dengan cowok lain," kata Tini sambil mendorong lengan Ronal. Ronal menurut dan membuat jarak sekitar satu meter.
"Tidak enak rupanya punya sahabat sudah bersuami. Kamu, Vina dan Sinta sama saja. Selalu menjaga jarak dari aku. Padahal niat aku kan tulus bersahabat," kata Ronal dengan wajah yang sedikit cemberut. Tini tertawa. Apa yang dikatakan Ronal memang benar. Mereka bertiga seakan menjaga jarak dari Ronal. Bukan dengan hanya kepada Ronal mereka seperti itu. Mereka juga sudah jarang terlihat bersama dengan Cici, Elsa dan Indah. Bukan karena ada masalah. Tapi urusan suami dan anak membuat mereka tidak bisa mengikuti ketiga sahabatnya itu untuk selalu bersama. Cici, Elsa dan Indah belum bersuami. Mereka bebas melakukan apapun tanpa ada yang cemburu dan tidak ada tanggung jawab.
"Makannya buruan cari calon istri. Supaya kamu tidak kesepian."
"Sudah ada tapi masih pendekatan."
"Benarkah?. Apakah salah satu dari tiga sahabat aku yang masih jomblo itu?" tanya Tini senang dan penuh selidik. Mereka pernah menjodohkan Ronal dan Indah. Tapi sampai sekarang belum ada tanda tanda jika keduanya saling menyukai. Ronal menggelengkan kepalanya. Ronal tidak bersedia memberitahu siapa wanita yang sedang di dekatinya. Dia mengetahui jelas bagaimana sifat Tini. Wanita ini kadang berbicara tanpa berpikir. Dia tidak ingin Tini keceplosan kepada sahabat sahabatnya yang lain.
"Kapan rencana meja hijau?" tanya Ronal. Tapi matanya mengarah ke perut Tini. Tini yang tidak terima diperhatikan seperti itu akhirnya mendaratkan pukulan di lengan Ronal.
"Mata keranjang. Putriku saja belum lahir sudah dipelototi seperti itu," kata Tini kesal. Ronal terkekeh.
"Ternyata perempuan ya. Umurku sekarang 22 tahun. Kalau menunggu putri mau dijadikan istri sepertinya masih bisa Tin," kata Ronal bercanda. Tini kembali mendaratkan pukulan di lengan Ronal. Dia tidak suka dengan candaan Ronal.
"Bercanda jangan kelewatan Ronal. Kamu kira aku mau punya menantu yang seumuran denganku. Putriku sudah milik Elvano putra dari mantan kamu Vina. Seharusnya kamu fokus cari calon istri dan bekerja keras membuat anak biar bisa kita jodohkan dengan anak kedua aku nantinya," jawab Tini membuat Ronal tertawa terbahak-bahak. Hingga beberapa mata menoleh ke dua sahabat itu. Calon istri saja belum jelas Tini sudah membicarakan perjodohan anak kedua yang belum jelas juga.
"Namaku dan puteraku kok disebut. Ada apa ini?" tanya Vina yang juga sudah muncul di tempat itu. Bukan hanya Vina, Sinta juga datang bersamaan dengan Vina atas permintaan Tini yang sudah mengirim pesan Sinta. Jika dirinya butuh ditemani hari ini untuk mengatur jadwal meja hijau.
"Si Ronal sudah hampir oleng Vina. Masa dia mau menunggu putriku mau dijadikan istri," kata Tini kemudian menceritakan mengapa sampai nama Vina dan Elvano disebut. Vina tertawa.
"Ya Ronal. Jangan sampai oleng. Masih banyak wanita wanita cantik di kampus ini yang bisa dijadikan pacar. Indah misalnya," kata Vina. Ronal kembali tertawa. Ronal tertawa karena mengingat jika cewek yang didekatinya sekarang adalah sahabat dari mantan kekasihnya.
"Vina, jaga jarak. Nanti kak Andre lihat bisa diadukan ke suami kamu," kata Ronal sambil tertawa meniru apa yang diucapkan Tini kepadanya. Tini merasa tidak tersinggung dan sekali. Vina spontan mengambil jarak. Tidak ada rasa canggung diantara mantan kekasih itu. Mereka sudah kembali berteman biasa. Sinta dan Tini tertawa. Tangan Ronal menjangkau tangan Tini dan menggerakkan kepalanya menunjukkan seorang dosen yang sudah lama ditunggu oleh Tini. Tini menarik nafas lega dan memberi kode kepada Sinta dan Vina untuk menunggu dirinya. Tini memberikan tangannya kepada Sinta yang sedang berdiri. Mengetahui arti tangan terulur itu Sinta membantu Tini berdiri. Wanita hamil itu agak susah untuk berdiri.
"Air panas, air panas," kata Tini membuat orang yang menunggu dosen yang sama menoleh ke Tini. Beberapa mahasiswa itu sedikit bingung mendengar kata air panas. Tini memanfaatkan situasi itu langsung mendekat ke belakang tubuh dosen yang sedang memutar kunci untuk membuka pintu. Dosen itu terlihat tersenyum. Sedangkan mahasiswa yang lain terlihat kesal melihat tingkah Tini itu. Mereka terlebih dahulu menunggu di tempat itu dibandingkan Tini. Tapi wanita hamil itu berhasil mengecoh mereka. Suatu hal yang tidak mungkin mereka memperdebatkan siapa yang duluan datang atau tidak di depan dosen.
__ADS_1
"Sorry. Jangan ada yang keberatan ya. Bumil masuk dulu," kata Tini sambil mengatupkan kedua tangannya di dada dan sedikit menunduk dengan wajah tersenyum kepada mahasiswa yang lain itu. Mahasiswa itu membalas senyuman. Vina, Sinta dan Ronal juga tersenyum.
Hanya beberapa menit di dalam ruangan sang dosen. Tini sudah keluar dengan wajah sumringah. Draf yang tadi dibawanya sudah berkurang satu. Itu artinya sang dosen sudah menetapkan jadwal untuk meja hijau Tini. Sekarang tinggal dua dosen lagi termasuk Andre.
"Langsung masuk ke ruangan pak Bambang. Baru saja beliau masuk ke ruangannya," kata Vina. Tini berjalan ke arah ruangan pak Bambang. Ronal juga baru saja keluar dari ruangan tersebut. Sama seperti Tini. Ronal juga menyesuaikan waktu untuk meja hijaunya.
"Bagaimana Tini?" tanya Sinta setelah keluar dari ruangan itu. Tini tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Sekarang ke ruangan pak Andre," kata Tini. Dia menggerakkan tangannya supaya Vina dan Sinta mengikuti langkahnya menuju ruangan Andre yang tidak berada di lantai itu. Tiga sahabat itu menuruni tangga menuju lantai dua. Vina membawa tas Tini sedangkan Sinta menggandeng Tini.
"Kenapa harus hari Sabtu?" tanya Andre setelah menerima draf dan mengetahui jadwal meja hijau yabg sudah direncanakan dan disetujui dua dosen penguji.
"Kedua dosen pengujiku hanya bisa di hari Sabtu pak."
"Mereka bisa tapi saya yang tidak bisa," kata Andre sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Draf itu diletakkan begitu saja di hadapannya.
"Hei kak. Jangan bercanda ya. Hari Sabtu mana ada jadwal mengajar bagi setiap dosen. Banyak meja hijau diadakan hari Sabtu supaya tidak terganggu jadwal mengajar dosen."
"Hei Tini. Ingat!. Kita di kampus bukan di cafe suamimu," jawab Andre membalas perkataan Tini.
"Iya. Iya. Tahu kak. Tapi tolong donk pak. Jadwal meja hijau saya. Jangan diundur lagi. Ini saja kalau bisa besok atau satu minggu lagi. Saya sudah siap meja hijau. Saya takut pak. Duluan bayi ini keluar daripada meja hijau," kata Tini memohon. Jadwal meja hijau Tini dua Minggu lagi dari sekarang. Jika persalinan lebih cepat bisa saja di hari yang sama nanti dia melahirkan. Sungguh Tini tidak menginginkan itu.
"Tapi saya ada acara Tini. Begini saja. Dua hari dari jadwal yang sudah disetujui dua dosen penguji kamu. Bagaimana?. Aku konfirmasi sekarang ke dosen penguji kamu ya," kata Andre. Tini akhirnya mengalah. Acara yang disebutkan Andre memang juga penting. Tini hanya berharap jika persalinan tepat sesuai dengan hari perkiraan lahir.
Dua Minggu kemudian. Hari yang mendebarkan bagi Tini akhirnya tiba juga. Tini kini berada di depan ruangan meja hijau. Sejak menginjakkan kaki di tempat ini. Tini sudah merasakan jantungnya berdebar tidak karuan. Apalagi setelah melihat tiga dosen yang sudah memasuki ruangan meja hijau. Tini berkali kali menarik nafas panjang karena gugup. Sean ikut menemaninya hanya bisa mengelus punggung Tini. Sebenarnya Sean sangat kasihan melihat istrinya. Dia hari menjelang persalinan, Tini harus menghadapi ujian meja hijau terlebih dahulu.
Tini memakai baju khusus hamil warna putih. Tini juga memakai Blazer warna hitam sebagai syarat untuk meja hijau harus memakai pakaian hitam putih. Kedua pipinya terlihat membengkak. Betis hingga kaki juga membengkak. Untuk alas kaki Tini memakai flat shoes.
"Semangat Tini," kata Sinta dan Vina yang baru tiba di tempat itu. Mereka menyemangati Tini hampir bersamaan. Bukan hanya Sinta dan Vina. Elsa, Indah, Cici dan Ronal juga ada di tempat itu. Tini hanya tersenyum gugup melihat para sahabatnya. Memang beginilah kebiasaan mahasiswa jika meja hijau. Para sahabat akan ikut menyemangati. Jika lulus dengan nilai memuaskan atau tidak. Si mahasiswa yang meja hijau akan mentraktir para sahabatnya. Termasuk Tini. Setelah selesai meja hijau ini. Dia sudah berencana mentraktir para sahabatnya di kafe suaminya.
"Saudari Anggun. Dipersilahkan memasuki ruang sidang."
Tini semakin gugup. Suara Andre sebagai dosen pembimbing yang memanggilnya membuat tubuh Tini bergetar. Tini menarik nafas panjang. Setelah merasa siap. Tini melangkahkan masuk kedalam ruang sidang dengan draf skripsi di tangannya.
Do ruang sidang. Tini bisa menjawab dengan lancar apa yang ditanyakan oleh dosen pengujinya. Tidak ada lagi rasa gugup apalagi gemetar. Bahkan Tini sedikit berdebat dengan sang dosen penguji. Andre tersenyum puas melihat Tini yang tenang bahkan berdebat dengan dosen pengujinya. Sebagai dosen yang sudah berpengalaman, perdebatan antara Tini dan dosen penguji itulah adalah hal wajar. Terkadang dosen penguji memberikan pertanyaan yang menjebak untuk menguji mahasiswa layak atau tidak menjadi sarjana. Tini sudah memenangkan perdebatan itu. Hampir satu jam Tini berada di ruang sidang itu. Hingga akhirnya Andre mempersilahkan Tini keluar dari ruangan dan menyuruh Tini menunggu hasil. Para dosen perlu berdiskusi untuk memberikan nilai yang sesuai atas semua jawaban Tini.
"Bagaimana lancar sayang," tanya Sean dan langsung membantu Tini duduk di bangku. Tini hanya tersenyum. Dia tidak terlalu percaya diri untuk mengatakan lancar sementara nilai belum diketahui.
"Aku yakin pasti nilai A."
"Aku juga yakin."
__ADS_1
"Nilai B. Juga tidak apa apa yang penting lulus," kata Ronal.
"Enak saja bilang nilai B. Masa sudah dua begini disidang dapat nilai B. Harusnya seperti perkataan Vina dan Cici donk. Dapat nilai A," jawab Tini sewot. Dia tidak terima jika didoakan dapat nilai B. Andre kembali membuka pintu dan mempersilahkan Tini masuk ke ruang sidang.
"Aduh," pekik Tini ketika hendak beranjak.
"Kenapa sayang," tanya Sean panik.
"Putrimu nendang bola di dalam," kata Tini sambil menunjuk perutnya. Tini masih meringis. Perut sedikit mulas. Tini beranjak dari duduknya setelah mulas di perut itu menghilang.
"Selamat. Anda mendapatkan nilai 96 atau nilai A."
Tini hampir melompat mendengar Andre mengumumkan nilainya. Tini mengabaikan perutnya yang kembali mulas demi bersalaman dengan tiga dosen itu.
"Terimakasih pak."
"Terimakasih pak."
"Terimakasih pak."
Setiap bersalaman, Tini mengucapkan kata keramat itu kepada tiga dosennya. Tini juga keluar dari ruang sudah dengan wajah yang sangat ceria dengan senyum manis terukir di bibirnya.
"Dapat nilai A," kata Tini setelah dia keluar dari ruang sidang. Sean tersenyum senang dan juga bangga. Sedangkan para sahabat Tina bersorak kegirangan. Tini juga tersenyum sangat manis mengingat dirinya sudah menjadi sarjana tapi senyum itu berubah kaget ketika Tini merasakan sesuatu keluar dari tubuhnya. Sesuatu yang keluar bukan karena perintah otak. Tini melihat kebawah. Di pahanya sudah ada cairan. Tini merapatkan kakinya. Dia mengira jika itu adalah air kencing.
"Tini," pekik Vina ketiak melihat cairan itu sudah turun sampai ke lantai. Vina menyuruh Sean untuk segera menggendong Tini dan membawa ke dalam mobil. Mereka seketika panik. Sinta dan Vina mengikuti langkah Sean sedangkan Elsa, Indah, Cici dan Ronal masih di tempat itu. Ronal juga meja hijau pagi ini. Bedanya Andre bukan salah satu dosen dalam meja hijau Ronal.
"Kita bawa ke klinik terdekat," kata Andre yang sudah berdiri di samping mobil Sean. Setelah mengetahui situasi Tini dari Ronal. Andre sudah menduga jika Tini akan melahirkan. Andre masuk ke mobil Sean dan menjadi supir. Sinta duduk di sebelahnya sedangkan Vina duduk di belakang bersama Sean dan Tini. Andre memang tidak ada jadwal mengajar pagi ini.
"Sakit sayang," tanya Sean sambil mengelus perut istrinya. Tini menggelengkan kepalanya. Karena dia memang tidak merasakan sakit.
"Bagaimana ke klinik atau rumah sakit," tanya Andre lagi. Sean menjawab jika Tini harus dibawa ke rumah sakit.
"Air ketuban sudah pecah. Sebaiknya ke klinik saja dulu sebagai pertolongan pertama. Butuh waktu satu jam jika ke rumah sakit. Bagaimana? itu hanya saran. Aku takut air ketuban nanti habis."
"Ke rumah sakit saja bro. Lagipula Tini tidak begitu kesakitan," jawab Sean. Yang menjadi pertimbangan Sean harus ke rumah sakit karena fasilitas di rumah sakit pasti lebih memadai. Sean mengarahkan Andre membawa mobil untuk lewat jalan lintas. Dan benar saja. Waktu yang harusnya ditempuh dalam waktu satu jam. Dengan melewati jalan pintas itu hanya makan waktu setengah jam.
Vina dan Tini merasa heran melihat Tini yang hanya meringis padahal sudah buka lima. Mereka kini sudah berada di rumah sakit. Tini dan Sean sudah di ruang bersalin. Sedangkan Sinta dan Andre juga Vina menunggu di luar ruang bersalin itu.
"Tidak sakit?" tanya Sean. Tini sudah tidur menyamping tapi sedikit pun tidak seperti orang yang kesakitan. Mereka sudah hampir dua jam di ruangan ini.
"Tidak," jawab Tini singkat. Mulai dari tadi malam memang Tini sudah merasakan mulas di perutnya tapi hanya sebentar.
__ADS_1
"Kok tidak sakit sih sayang. Andre dan Radit cerita, istri mereka sangat kesakitan waktu melahirkan," kata Sean cemas. Dia takut apa yang dialami Tini saat ini adalah sesuatu pertanda buruk bagi janinnya.
Baru saja Tini menjawab tidak. Perutnya sudah mulas dan terasa sangat sakit. Sean menjadi panik. Apalagi Tini sudah berkeringat dan tubuhnya bergetar. Sean memanggil dokter dan menyuruh memeriksa istrinya.