
"Pa, ayo kita pulang," ajak Tini kepada Sean. Sean yang sedang minum air mineral hampir saja tersedak mendengar Tini menyebutnya papa. Setelah air putih itu berhasil masuk ke perutnya. Sean terkekeh dan mencubit pipi Tini gemas.
"Kita belum halal sayang. Jangan memanggilku dengan seperti itu. Bukan aku tidak suka. Aku menyukainya. Hanya saja kita harus menjaga orang supaya tidak berdosa. Jika kamu memanggilku seperti itu. Aku takut mereka akan menduga kita sudah menikah siri," kata Sean sambil mengedarkan pandangannya ke sahabat Sinta yang lain. Ronal, Cici,Indah dan Elsa masih di sana. Sedangkan Radit dan Vina langsung pulang setelah melihat kedatangan orang tua Sinta.
"Baiklah kak Sean. Aku menurut. Tapi jika kita berduaan bisa donk kita panggil papa mama. Biar terbiasa kak. Pernikahan kita juga tinggal menghitung hari lagi," jawab Tini sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau bisa dipercepat untuk apa menunggu waktu sampai sebulan lagi," kata Andre yang sudah duduk bergabung dengan Tini dan Sean. Tini seakan mengingat sesuatu dan tersenyum.
"Semuanya butuh persiapan bro. Ini saja. Tini belum ada persiapan sama sekali. Mertua kamu mana?" tanya Sean sambil melihat ke arah ruang tamu. Posisi mereka sedang ada di teras rumah Andre.
"Aku suruh untuk istirahat dulu bro. Mereka baru menempuh perjalanan panjang. Pasti lelah,"
"Aku tidak menyangka kamu bisa baik seperti ini kak. Makin kesini aku menyadari Sinta beruntung mempunyai suami seperti kak Andre," kata Tini tulus memuji kebaikan Andre. Sean terlihat merapatkan pahanya Tini yang duduk seperti laki laki yang lupa memakai dress. Sejak mereka tiba di rumah ini. Entah berapa kali Sean melakukan hal itu.
"Dari awal sebenarnya Andre itu baik sayang. Entah apa yang menyebabkan dia bisa menyembunyikan pernikahan sirinya dengan Sinta dulu."
Tini seperti mendapatkan ide setelah mendengar perkataan Sean. Dia menarik ujung dress-nya karena ujung dress itu agak naik melewati lutut sedikit mendekati paha. Sungguh memakai dress amat tersiksa baginya.
"Kita melihat yang sekarang Sean," jawab Andre singkat. Dia tidak ingin memperpanjang tentang masa lalunya.
"Kak, kita pulang sekarang," ajak Tini sambil berdiri.
"Bentar lagi Tini, untuk apa terburu buru," jawab Andre. Dia ingin mempunyai teman mengobrol karena Sinta pasti masih menemani orangtuanya.
"Mau kawin kak," jawab Tini sambil tertawa. Sean dan Andre juga tertawa melihat gadis tomboi itu.
__ADS_1
"Kawin, Kawin. Nikah saja belum. Lagi pula kamu tidak ingat tadi apa yang dikatakan Radit. Tono memasuki Tini setelah menikah,"
Andre mengejek Tini sambil memukul tangan Tini pelan. Tini cemberut dan kembali duduk karena Sean juga masih duduk. Tini mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Tini sudah terlihat tidak betah lagi. Sedangkan Sean masih berbincang seputar dunia bisnis. Akhirnya Tini beranjak dari duduknya untuk menjumpai Sinta. Sahabatnya yang lain sudah pulang beberapa menit yang lalu.
"Untuk apa?" tanya Sinta kaget ketika Tini berhasil menemuinya dan meminta sesuatu.
"Jangan konyol kamu Tini, hanya beberapa jam. Apa kamu tidak bisa berkorban sedikit saja untuk kak Sean?"
"Iya beberapa jam. Tapi jika bisa dikurangi kan gak apa apa. Dress ini menyiksa aku Sinta," jawab Tini sedih. Sinta juga merasa kasihan melihat sahabatnya itu. Tini memang terlihat anggun memakai dress itu jika dia bisa menjaga cara berjalannya. Tetapi ketika Tini lupa. Cara berjalannya seperti biasa akan terlihat. Dan Sinta juga mendengar sebagian dari tamu yang berbisik bisik dan menertawakan Tini. Mengubah penampilan ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Itu yang dialami oleh Tini hari ini.
"Apa rencana kamu, kak Sean sudah mengetahuinya," tanya Sinta sambil membuka koper untuk mencari kebaya yang akan dipinjam oleh Tini. Kain kain itu belum sempat untuk disusun di lemari. Sinta bahkan membuka beberapa koper untuk mencari kebaya yang diinginkan oleh Tini.
"Belum Sinta. Jangan beritahu dulu. Aku saja kepikiran karena baru kak Sean menyinggung tentang pernikahan siri."
"Nekat kamu tin, kalau kak Sean tidak setuju bagaimana?.
"Bantu apa?"
"Bantu doa."
Sinta menatap Tini kesal. Rencana Tini sungguh tidak masuk akal. Dia ingin menikah siri terlebih dahulu malam ini atau besok pagi untuk menghindari terlalu lama memakai gaun di hari pernikahannya.
****
Setelah terjadi perdebatan panjang akhirnya Sean dan Tini kini sudah turun dari mobil. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Sebelumnya Sean mengajak Tini untuk ke kafenya. Sean berencana mengantar Tini pulang sesuai dengan janjinya ke calon mertuanya. Sean langsung terpikir untuk mengajak Tini berkencan setelah mendengar acara yang akan diselenggarakan Andre khusus untuk mereka yang bersahabat dibatalkan. Tetapi rencana Sean juga harus batal. Tini tidak bersedia berkencan lebih memilih pulang ke rumah berbanding terbalik dengan apa yang menyebabkan mereka bertengkar satu bulan yang lalu. Akhirnya Sean menurut. Cinta membuatnya lebih sabar dan menurut ke Tini.
__ADS_1
Sean tidak menduga sama sekali. Jika Indra dan Mia calon kedua mertuanya sudah menunggu di ruang tamu. Kedua kakak Tini juga terlihat di ruangan itu.
"Ada apa nak?" tanya Indra kepada Tini. Mereka semua sebagai keluarga Tini sangat senang melihat penampilan Tini kali ini. Mereka tidak menyangka jika Sean mempunyai pengaruh buang besar terhadap perubahan Tini. Termasuk dalam hal ini penampilan.
"Aku ingin menikah dengan kak Sean secepatnya Pa, Ma," kata Tini sambil menunduk. Semua yang ada di ruangan itu kaget. Yang lebih kaget adalah Sean. Dirinya adalah yang menjadi pasangan Tini untuk menikah tetapi tidak mengetahui rencana Tini.
"Aku sebelumnya tidak mengetahui rencana Tini om," kata Sean cepat. Buka tidak senang Sean menikahi Tini secepatnya. Tapi Sean takut. Kedua mertuanya akan menilai atau menduga mereka sudah berbuat di luar batas.
"Berikan alasannya Anggun." Kata Indra datar. Dia sudah mempersiapkan hal terburuk jika alasan Tini memalukan.
"Aku hanya ingin menikah sederhana mungkin Papa. Hanya dihadiri keluarga. Merubah penampilan ternyata tidak mudah. Aku takut jika aku memaksakan memakai gaun pengantin yang ada hanya membuat aku malu. Setelah terbiasa nanti aku bersedia jika resepsi pernikahan itu diadakan,"
"Bukan karena yang lain?" tanya Indra penuh selidik. Tini mengangguk.
"Bagaimana nak Sean?" tanya Indra.
"Terserah Tini saja om," jawab Sean pasrah. Harusnya dia meminta saran atau nasehat untuk hal ini kepada kedua orangtuanya.
"Itu bukan jawaban Sean. Hubungi orang tua kamu sekarang. Jika mereka setuju. Kalian dinikahkan malam ini."
Sean menghubungkan orang tuanya dan menceritakan tentang rencana pernikahan mendadak ini. Ternyata di luar dugaan orang tua Sean sangat setuju. Kedua orang tua Sean sudah lama menginginkan Sean menikahi dan ingin mempunyai cucu secepatnya. Tanpa berpikir panjang kedua orang tua Sean setuju. Mereka justru takut Sean dan Tini berubah pikiran.
Hanya saja mereka meminta pernikahannya dilakukan besok pagi. Keluarga Sean dan Tini akhirnya sepakat untuk menikahkan putra putrinya mereka menikah besok pagi. Mama Mia dan kedua putranya langsung menuju butik untuk mempersiapkan pakaian yang dikenakan Tini dan Sean esok hari.
Hingga waktu itu tiba. Sean dan Tini sudah resmi suami istri secara agama dan negara. Hanya saja untuk resepsi pernikahan mereka disepakati akan diadakan tiga bulan lagi. Tini benar benar ingin mempersiapkan dirinya untuk bisa menjadi wanita yang berpenampilan wanita yang sebenarnya. Dia tidak ingin duduk ngangkang di pelaminan yang akan menjadi pembicaraan para tamu undangan seperti di acara di rumah Sinta semalam.
__ADS_1
Ucapan selamat berbahagia hanya terdengar dari keluarga kedua pengantin. Para sahabatnya mereka berdua belum ada yang mengetahui kabar pernikahan ini. Termasuk Sinta. Tini belum mengabari Sinta tentang jadi tidaknya dia menikah.