
Dengan naik taksi, Andre tiba di rumahnya tepat jam sebelas malam. Tanpa mengetuk pintu Andre masuk ke rumah karena Andre punya kunci rumah tersebut. Andre langsung menuju kamar yang ditempati Sinta. Setelah membukanya Andre dapat melihat Sinta sudah tertidur meringkuk di sudut ranjang. Andre masuk ke kamar mandi kemudian mengganti pakaiannya dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek selutut.
Andre naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya. Tidur terlentang sambil menatap punggung Sinta yang membelakanginya. Tiba tiba Sinta berbalik menghadap Andre dengan mata terpejam. Sinta masih tertidur. Andre membalikkan badannya mengamati Sinta. Gadis cantik itu tidak terusik sama sekali.
Wajahnya yang teduh menambah manisnya gadis itu.
Tepat di jari manis Sinta, Andre melihat cincin sederhana yang di sematkan ketika pernikahan. Cincin itu tidaklah mewah hanya emas biasa pertanda simbol bagi Sinta bahwa dirinya sudah menikah. Sedangkan di jari manis Andre cincin itu tidak ada lagi. Andre melepas dan menyimpan cincin itu di saku celananya sebelum Cindy melihat.
Andre mengelus pipi Sinta. Gadis itu bergerak dan membuka mata.
"Pak, sudah lama pulang?" tanya Sinta sambil mengucek matanya dan melihat jam dinding.
"Masih baru sampai. Jangan panggil pak kalau di ruumah, panggil mas aja ya!. Kan kemarin sudah mas bilang," jawab Andre sambil merengkuh bahu Sinta. Dengan masih malu malu Sinta mengangguk.
"Ma..mas sudah makan malam?"
"Sudah. Kamu sudah makan malam." Sinta mengangguk.
"Makan apa tadi?"
"Makan mie instan Mas."
"Lain kali jangan makan mie instan ya!, itu tidak bagus untuk kesehatan." Sinta mengangguk. Mendapat perhatian dari Andre membuatnya senang. Andre tersenyum. Sinta melepaskan tangan Andre dari bahunya dan berniat untuk tidur kembali.
"Sinta..."
"Sinta..."
Sinta pura pura tidur dan memejamkan matanya. Sinta tahu apa yang di pikiran Andre. Tiba tiba Andre menggelitiknya. Sinta kegelian dan membuka matanya. Andre terbahak melihat Sinta meliukkan badannya.
"Siapa suruh pura pura tidur, ampun ga?" Pak Andre terus menggelitik Sinta.
"Ampun pak, ampun!" kata Sinta menggulung badannya dengan selimut.
"Jangan panggil pak, ampun ga?. Tidak terima di panggil pak oleh Sinta, Andre menarik selimut Sinta dan terus menggelitiknya. Andre tertawa begitu juga dengan Sinta.
"Iya mas, ampun," kata Sinta sambil memanyunkan bibirnya. Andre pun menghentikan aksinya dan ketika Andre lengah gantian Sinta yang menggelitik Andre. Andre tertawa kegelian dan Sinta juga tertawa puas. Bantal dan guling sudah berpindah tempat akibat ulah keduanya. Andre tenaganya yang lebih kuat langsung menangkap badan Sinta dan memeluknya sangat erat.
"Ternyata kamu nakal juga, mas jadi gak tahan nih." Sinta terdiam di pelukan Andre. Dia tidak menyangka ulahnya tadi membangkitkan gairah Andre walaupun sebelumnya sudah menduga pergulatan panas itu akan terjadi malam ini.
Andre mulai melancarkan serangannya, mulai mengelus kepala Sinta kemudian mencium bibirnya. Andre melakukannya dengan lembut, tidak bisa dipungkiri Sinta terbuai dan mulai membalas ciuman Andre. Andre senang dengan kemajuan Sinta. Bukan seperti sebelumnya Sinta hanya menerima saja. Kali ini Sinta aktif membuat Andre merasakan kenikmatan luar biasa.
__ADS_1
Lebih dari dua jam mereka olahraga di ranjang. Andre sangat puas dan tersenyum melihat Sinta yang malu malu menutup tubuhnya dengan selimut. Andre ke kamar mandi. Setelah membersihkan badannya Andre kembali ke ranjang dan masuk ke dalam selimut dan akhirnya terlelap.
Merasakan silau sinar matahari, membuat Sinta terbangun. Sinta melihat jam dinding ternyata sudah jam delapan. Sinta merentangkan ke dua tangannya ke atas dan membiarkan udara pagi masuk ke paru parunya. Mendapati hanya dirinya di kamar tersebut, Sinta berjalan ke kamar mandi setelah memunguti pakaiannya yang berceceran akibat ulah sang suami.
Setelah mandi dan merias seadanya Sinta keluar dari kamar menuju dapur.
"Kemari!" panggil Andre sambil menata makanan di meja makan. Sinta menoleh. Sinta tidak menyangka Andre masih di rumah. Dia mengira Andre akan meninggalkannya seperti malam pertama.
"Pagi mas," sapa Sinta mengurangi kegugupannya.
"Pagi, bagaimana tidurmu?. Mas lihat nyenyak sekali." Sinta mengangguk dan hendak duduk di kursi didepan Andre.
"Duduk sini!" kata Andre sambil menepuk pahanya. Sinta tersipu dan Andre langsung menarik tangan dan mendudukkan Sinta di pahanya.
"Kamu mengeluarkan tenaga yang banyak tadi malam, biarkan aku menyuapi mu."
"Tidak usah mas, saya bisa sendiri." Sinta berusaha turun dari pangkuan Andre tetapi Andre semakin kuat memeluk pinggang Sinta.
"Sudah tidak usah sungkan, kamu itu istriku.
buka mulutmu." Sinta menurut. Istri siri kasarnya simpanan," batin Sinta sambil mengunyah. Entah kenapa mendengar istri, selalu teringat akan statusnya yang hanya istri siri.
"Apa rencana mu hari ini?"
"Tidak ada mas, dirumah saja. Mas tidak mengajar?" tanya Sinta memberanikan diri. Bagaimanapun Sinta harus berusaha tidak kaku.
"Nanti jam 1.30 Wib ada jadwal mengajar, Berarti masih ada waktu donk buat kita."
"Waktu untuk apa mas?"
"Olahraga ranjang," kata Andre sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ih mesum."
"Kan udah halal juga." Sinta terdiam jauh di lubuk hatinya Sinta berharap diajak jalan jalan. Tapi Sinta sadar posisinya yang hanya simpanan. Bagaimana pun simpanan itu harus disembunyikan.
"Tadi mas masak sendiri?. Andre mengangguk.
"Kurang enak?.
"Enak kog mas. Maaf!"
__ADS_1
"Maaf untuk?"
"Harusnya aku yang masakin untuk mas. Tapi aku telat bangun." Sinta menunduk menyadari kesalahannya. Walaupun hanya istri siri seharusnya Sinta juga melayani kebutuhan Andre di meja makan bukan hanya di ranjang. Andre mencubit hidung Sinta dengan gemas.
"Tugasmu hanya untuk melayaniku di ranjang, jadi..." Belum sempat Andre meneruskan perkataannya ponselnya berdering. Andre megambil ponselnya dari saku celana setelah melihat si penelepon Andre menurunkan Sinta dari pangkuannya dan mengisyaratkan menunggu sebentar. Andre masuk ke kamar tamu supaya pembicaraannya tidak didengar Sinta.
"Mungkin istrinya," batin Sinta. Sinta memang tidak mengetahui status Andre. Karena di kampus pun Andre tidak pernah menyebut dirinya sudah menikah atau belum. Tanpa menunggu Andre, Sinta menghabiskan makanan yang di piringnya.
Setelah menerima telepon Andre kembali ke ruang makan.
"Sinta.
"Ya mas."
"Makannya udah siap?.
"Sudah mas." Sinta sebenarnya ingin bertanya siapa yang menelepon barusan tapi takut dianggap tidak tau diri. Sinta membawa piring kotor ke wastafel dan mencucinya sedangkan Andre masuk ke kamar.
Sinta mematung di depan pintu kamar, mau masuk takut terbayang di pikirannya tentang olahraga ranjang yang diucapkan suaminya. Tidak munafik Sinta sudah merasakan nikmatnya tapi kelelahan yang tadi malam membuatnya berjalan keluar rumah.
Sinta memperhatikan pekarangan rumahnya. Bunga yang berwarna warni sangat memanjakan matanya. Sinta mulai mencabut rumput rumput pengganggu dan menggeser beberapa pot yang dianggapnya salah letak.
"Ternyata mas Andre pecinta janda bolong juga," gumam Sinta ketika melihat tumbuhan merambat yang daunnya bolong bolong.
"Ya ampun buahnya lebat sekali, padahal pohonnya pendek," kata Sinta melihat pohon sawo yang setinggi tiga meter tapi berbuah lebat. Pohon pohon itu berjejer di pekarangan rumah dekat tembok yang menjulang tinggi membatasi rumah Sinta dengan rumah sebelahnya.
"Ada mangga juga sirsak. Semua buah kesukaanku ada disini. Ah itu lagi ada rambutan dan jambu biji," kata Sinta berbicara sendiri. Sinta berlari ke rumah mengambil keranjang buah.
Sinta menekan nekan buah sawo, yang lembek dipetiknya kemudian dimasukkan ke dalam keranjang. Bukan hanya sawo semua buah yang sudah masak dipetik kemudian dibawa ke rumah.
Dengan hati hati Sinta mengupas buah sawo dan mangga kemudian dimasukkan ke dalam wadah dan membiarkan beberapa jam di kulkas." Terik matahari seperti ini pasti segar makan buah dingin," pikirnya dalam hati.
Merasa badan lengket karena berkeringat, Sinta kemudian mandi. Keluar dari kamar mandi Sinta melihat suaminya masih tertidur. Sinta duduk di tepi ranjang, merasa ada pergerakan Andre terbangun dan langsung memeluk Sinta. Entah kenapa Sinta menginginkan lebih dari sebuah pelukan. Sinta memejamkan matanya dan terjadilah pergulatan panas.
Andre membersihkan diri setelah pergulatan panas itu. Tidak ada lelah di wajahnya. Setelah keluar dari kamar mandi Andre melihat istrinya terlelap di bawah selimut dan pakaiannya masih berceceran dilantai. Andre memunguti pakaian Sinta. Dengan pelan pelan Andre memakaikan baju Sinta kemudian memakai pakaiannya sendiri.
Merasa haus, Andre ke dapur kemudian membuka kulkas. Melihat buah yang sudah di kupas Andre tersenyum dan membawanya ke meja makan.
"Enak, Segar." Andre bergumam sambil menikmati buah buahan. Andre merasa senang karena bisa menikmati hasil tanamannya sendiri. Selama ini Andre malas mengupas buah jadilah hanya pembantunya yang menikmati hasil panen.
Merasa sudah puas menikmati buah dingin, Andre masuk ke kamar mengambil ponselnya. Andre bergegas berangkat ke kampus tanpa membangunkan Sinta. Sungguh indah hidup Andre setelah menikmati buah gantung kemudian menikmati buah dingin.
__ADS_1