
Sinta sangat bersyukur mempunyai sahabat sahabatnya. Satu bulan penuh para sahabatnya bergantian mengurus Sinta. Memasak makanan bergizi untuk Sinta dan bahkan mengurus baby Airia. Sean juga begitu. Hampir tiap hari dia ke rumah Sinta jika Vina atau yang lainnya di rumah Sinta.
Sean juga menyadari jika dia datang ketika Sinta sendirian pasti akan ada fitnah. Sean berusaha menghindari itu. Dia tidak mau menambah beban pikiran untuk Sinta. Sedangkan Andre, dia hanya bisa memandang rumah Sinta dari luar gerbang. Untuk masuk, Andre tidak berani. Selain Sinta pernah mengancamnya, Andre juga tidak mau para sahabat Sinta mencurigainya.
Selama tiga Minggu, Sinta tidak ke kampus sama sekali. Untuk pelajaran yang tertinggal, sahabatnya juga memberinya catatan. Walau baru siap melahirkan, di rumah Sinta tetap belajar. Tekadnya harus tamat tepat waktu. Itulah makanya dia tidak mengambil cuti untuk melahirkan.
Setelah tiga Minggu berdiam di rumah, Sinta kembali ke kampus. Untuk menjaga baby Airia, Sinta dan para sahabatnya bergantian menjaga Airia di rumah. Vina dan yang lainnya rela bolos kuliah demi menjaga Airia.
Dua bulan berlalu, ujian semester genap atau semester empat untuk Sinta telah tiba. Ujian yang bersamaan membuat Sinta dan sahabatnya tidak bisa bergantian menjaga Airia.
"Jadi gimana donk, yang jaga Airia siapa? kalau kita ujian?" tanya Vina bingung. Kini mereka berkumpul di rumah Sinta.
"Kita bawa aja ke kampus," jawab Tini.
"Dibawa ke kampus pun, yang jagain siapa waktu kita ujian?" tanya Cici lagi. Sinta pun sebenarnya bingung.
"Biar aku ujian susulan saja, tidak apa apa," kata Sinta akhirnya. Dia sadar sudah terlalu sering merepotkan para sahabatnya. Kini waktunya dia yang mengalah.
"Bentar," kata Ronal, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Nelpon siapa sayang?" tanya Vina yang bergelayut manja di lengan Ronal. Sepasang kekasih itu selalu terlihat mesra setiap mereka bersama.
"Kak Sean, kita minta bantuannya saja," jawab Ronal tenang. Sinta dan sahabatnya merasa lega karena Sean bersedia menjaga Airia selama Sinta ujian.
"Sayangku memang bisa diandalkan," kata Vina. Sinta tersenyum sedangkan yang lain memutar mata malas.
Besok paginya, Sean sudah terlihat pagi pagi sekali di rumah Sinta.
"Kami ikut ke kampus saja Sinta, kami bisa menunggu mu di mobil. Ujian hanya satu mata kuliah kan hari ini?" kata Sean melihat Sinta berkemas. Sinta hendak menggeser sofa berhadapan untuk tempat Airia. Pikir Sinta, tidak mungkin Sean harus masuk ke kamarnya.
"Apa itu tidak menganggu kakak?"
"Tidak, santai saja."
Andre mengerutkan keningnya ketika tiba di kampus, melihat mobil yang dikenalnya terparkir di fakultas ekonomi. Andre mendekat dan mengetuk kaca mobil. Andre terkejut, ketika kepala Sean menyembul dari dalam mobil.
"Bro, lagi ngapain di sini?" tanya Andre heran.
"Jadi baby sitter bro,"
__ADS_1
"Bayi siapa?" tanya Andre lagi. Kepalanya sudah menjulur ke dalam mobil melihat ke arah bangku belakang.
"Bayi Sinta, putriku juga," jawab Sean santai. Andre merasakan jantungnya berdebar. Tanpa menghiraukan jawaban Sean, tangannya membuka pintu mobil. Andre masuk ke mobil dan mengambil baby Airia dengan kedua tangannya. Mengecup kedua pipi bayi itu dan mendekapnya.
"Cantiknya kamu nak," kata Andre memandangnya bayinya. Pipi baby Airia yang semakin berisi membuat Andre semakin gemas. Pipi itu masih persis seperti pipi Agnes. Bahkan hidung Andre tercetak sempurna di hidung Airia. Baby Airia terbangun ketika Andre kembali mencium pipinya. Bayi itu bukannya menangis malah tersenyum ke Andre. Hati Andre berdenyut, kerinduannya akan baby Airia selama dua bulan ini terbalas dengan senyuman putrinya.
"Kita ke ruangan ku saja, baby Airia lebih nyaman di sana daripada di sini," ajak Andre sambil mengelus tangan putrinya.
"Darimana kamu tahu namanya?, dari tadi aku tidak ada menyebut namanya?" tanya Sean. Andre sedikit gugup dan mengalihkan perhatian Andre dengan mengecup tangan baby Airia.
"Dari mbak Bella," jawabnya singkat. Andre keluar dari mobil dengan baby Airia di kedua tangannya.
"Ayo," ajaknya lagi. Sean menurut. Dua pria ganteng itu berjalan ke arah ruangan Andre. Andre menggendong baby Airia sedangkan Sean membawa tas berisi perlengkapan bayi.
"Bayi siapa pak?" tanya salah seorang wanita staf tata usaha yang menghentikan langkah Andre.
"Bayiku," jawab Andre dan Sean bersamaan. Staf tersebut bingung dan memilih masuk ke ruang tata usaha. Sean kembali menoleh Andre yang berjalan di sampingnya. Andre dengan santainya bersiul sambil berjalan.
Sementara itu, Sinta merasa tidak senang ketika membaca pesan dari Sean. Dia harus berhadapan lagi dengan Andre. Merasa malas ke ruangan Andre, Sinta meminta Sean membawa sendiri baby Airia ke mobil. Sean tidak mau, dengan alasan repot dengan membawa tas perlengkapan bayi.
Dengan malas, Sinta berjalan ke arah ruangan Andre. Seperti mahasiswa lainnya, Sinta mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sean di kamar mandi," kata Andre mengamati gerak gerik Sinta. Sinta menyandang tas perlengkapan bayi kemudian mengambil baby Airia dari kedua tangan Andre.
"Terima kasih," kata Sinta kemudian keluar dari ruangan itu. Andre menghela nafasnya kasar. Sinta memilih menunggu Sean di parkiran daripada di ruangan Andre.
Belum berapa lama Sean pulang dari rumah Sinta, Sinta kembali kedatangan tamu. Sinta terkejut melihat Agnes yang sudah berdiri di depan pintu.
"Aku mau menjemput kalian berdua, Rey ulang tahun," kata Agnes tersenyum.
"Sebentar," jawab Sinta. Tanpa segan Agnes masuk ke kamar Sinta dan mengambil baby Airia. Sedangkan Sinta berkemas memasukkan beberapa pakaian dan botol susu ke tas.
"Sudah siap?" tanya Agnes melihat Sinta sudah menyandang tas perlengkapan bayi. Setelah mengunci pintu rumah keduanya memasuki mobil. Agnes memberikan baby Airia ke Sinta sedangkan Agnes menyetir mobil.
Sinta terkejut ketika turun dari mobil. Dia tidak menyangka bahwa rumah Bella sebesar ini. Memandang ke atas rumah mewah berlantai tiga. Halaman yang sangat luas. Bila dibandingkan dengan halaman rumahnya ada lima kali lipat lebih besar. Bonsai yang tersusun rapi dan juga ada air Mancur di tengah halaman.
Memasuki ruang tamu, Sinta heran. Ruang tamu yang kosong tidak seperti ruangan yang akan mengadakan perayaan ulang tahun. Dengan santai, Agnes menuntunnya ke ruang keluarga.
"Selamat datang baby Airia dan bundanya di kediaman keluarga papa rahmat," kata Agnes merentangkan tangannya menyuruh Sinta masuk ke ruang tamu. Sinta terkejut dan bingung. Hampir semua keluarga papa Rahmat berkumpul di sana kecuali Andre dan Cindy. Bukan hanya Sinta, papa Rahmat dan yang lainnya juga terlihat heran dan bingung dengan kedatangan Sinta.
__ADS_1
Agnes mengumpulkan keluarganya hari ini di sini dengan sedikit ancaman. Mereka semua yang tahu kebiasaan Agnes jika kemauannya tidak di turuti akhirnya dengan terpaksa berkumpul.
"Duduk Sinta, sini adik bayinya," kata Agnes dan mengambil baby Airia dari tangan Sinta. Dengan ragu Sinta akhirnya duduk.
"Ma, Pa. Lihat deh!. Bayi Airia cantik kan?" kata Agnes menyerahkan baby Airia ke pangkuan mama Ningsih. Wanita tua itu tersenyum dan senang menerima Airia. Mama Ningsih bahkan mencium pipi Aira berkali kali. Semua yang di ruangan itu fokus ke Airia begitu juga papa Rahmat.
"Cantiknya," puji papa Rahmat setelah Airia berpindah ke tangannya. Hampir semua memuji baby Airia membuat Sinta tersenyum.
"Adik aku," kata Rey.
"Adik aku juga," balas Kenzo. Bella, Maya juga Andi dan Bayu tidak mau ketinggalan untuk menggendong bayi Airia.
"Lihat bibirnya ini ma," kata Agnes. Mereka tertawa ketika melihat bibir Airia yang mengerucut.
Semua mata menoleh ke arah suara yang mengucap salam, Sinta terkejut dan gugup. Andre dengan santai dan gagahnya melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Andre juga tidak kalah terkejut sesudah melihat Sinta. Laki laki itu merasakan jantungnya berdetak kencang. Lebih kencang dibandingkan dengan detak jantung prajurit yang mau berperang.
"Duduk kakak," kata Agnes langsung menghampiri Andre. Menuntun dan membawa Andre duduk di sofa.
"Baiklah, kata Agnes berdiri. Agnes menarik nafas panjang. Andre yang menebak arah pertemuan ini, kini menunduk. Yang lain masih bingung dan heran juga sedikit geli dengan gaya Agnes. Sinta juga merasa gugup.
"Yang lain di harap diam, hanya aku kak Andre dan Sinta yang boleh berbicara," kata Agnes kemudian kembali diam.
"Di mulai, dari kak Andre. Jelaskan hubunganmu dengan Sinta" kata Agnes. Andre menatap sekilas Sinta kemudian menunduk. Sementara yang lain tercengang dengan ucapan Agnes.
"Tidak ada yang perlu ku jelaskan," jawab Andre singkat.
"Begitu ya kak. Baiklah!. Sinta, bisa kah kamu menjelaskan hubungan kalian?" tanya Agnes ke Sinta.
"Maksud mu apa Agnes? aku dan pak Andre antara dosen dan mahasiswa," jawab Sinta tenang.
"Kalau begitu, beritahu kami siapa nama mantan suamimu!" kata Agnes lagi.
"Aku tidak bisa memberitahukannya Agnes, aku sudah teringat janji dengan mantan suamiku. Bahwa itu akan menjadi rahasia untuk selamanya," jawab Sinta. Andre semakin merasakan jantungnya berdebar.
Jawaban Sinta mengingatkan perjanjian mereka. Di surat itu bahkan tertulis bahwa Sinta akan menjaga rahasia itu dari anaknya. Itu artinya tidak ada kesempatan bagi dia untuk dipanggil ayah oleh Airia. Dia menoleh ke Airia. Bayi itu terlihat menggerakkan tangannya dan merasa nyaman di gendongan mama Ningsih.
Agnes mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya.
"Aku sudah mengambil rambut mu dan rambut Airia. Hasil Test DNA menunjukkan bahwa Airia positif putri kandungmu," kata Agnes dingin dan memberikan amplop itu ke papa Rahmat.
__ADS_1