
Besok paginya Radit terbangun tepat jam lima. Radit menarik nafas lega. Rasa sakit di bagian terlarang itu sudah berkurang. Radit duduk dan melihat senjata itu. Bengkaknya sudah berkurang dan warna merah itu juga mulai memudar. Tidak lama kemudian, Vina juga terbangun. Tanpa berkata sepatah katapun, Vina langsung masuk ke kamar mandi.
Radit memperhatikan gerak gerik Vina. Makin kesini. Radit bisa merasakan rasa cintanya semakin berkembang terhadap Vina. Walau tidak ada sentuhan fisik sebagaimana suami istri pada umumnya. Radit tetap mengagumi istrinya itu. Sehingga tanpa sadar. Radit menatap Vina tanpa berkedip.
Vina yang sedang berdiri di cermin itu tentu saja bisa merasakan jika dirinya sedang ditatap oleh Radit. Vina pura pura tidak mengetahui. Dia memilih melihat ketiga bayi kembarnya di kamar sebelah.
Radit berpikir. Memikirkan perhatian Vina dan rasa khawatir yang diperlihatkan tadi malam berbanding terbalik dengan pagi ini. Pagi ini bahkan Vina tidak menyapa dirinya seperti pagi pagi sebelumnya sejak mereka sepakat untuk mengawali rumah tangga mereka. Radit sedikit bingung dengan perubahan sikap itu. Menurut Radit, harusnya Vina bertanya tentang keadaannya apalagi Vina jelas mengetahui tentang senjata itu dan dia adalah pelaku walau tidak disengaja.
"Bun, masih sakit," kata Radit merengek seperti anak kecil. Dia sebenar berniat mencari perhatian Vina. Vina memalingkan wajahnya dan mengambil botol susu yang bersih untuk dibawa kembali ke kamar sebelah. Radit seketika salah tingkah dan berpikir kesalahan apa yang dia perbuat sehingga Vina seperti itu.
Radit bergegas untuk ke kamar mandi. Walau tidak separah tadi malam. Rasa sakit itu masih ada. Setelah membersihkan tubuhnya. Radit hendak ke kamar sebelah tapi niat urung karena Vina sudah mendorong boks bayi ke kamar itu. Radit langsung menyapa putrinya sedangkan Vina keluar lagi.
"Bunda," panggil Radit lagi ketika Vina masuk ke kamar dengan membawa sebotol susu di tangannya.
"Ya,"
"Kopi aku sudah ada?" tanya Radit. Setiap pagi Vina memang membuatkan kopi untuk Radit dan papanya Hendrik. Dua pria itu sudah bisa membedakan kopi untuk mereka masing masing dari warna gelas yang khusus dipakai untuk kopi mereka tiap pagi.
"Sudah,"
"Bunda, bisa minta tolong?. Aku mau minum kopi di kamar saja. Ini masih terasa sakit Bun," kata Radit sengaja menyinggung rasa sakit itu. Tanpa menjawab, Vina keluar dari kamar dan beberapa menit kemudian masuk ke kamar membawa secangkir kopi. Dan Radit semakin bingung.
"Bunda, apa aku berbuat salah?" tanya Radit lembut namun hati hati. Vina memalingkan wajahnya dan lebih memilih bermain dengan putrinya Kalina.
"Bun,"
"Pikir saja sendiri," jawab Vina ketus.
Radit mencoba mengingat apa apa saja yang dilakukannya mulai semalam sore sampai pagi ini. Menurutnya tidak ada yang salah. Radit termenung. Dan tidak habis pikir. Untuk bertanya lagi ke Vina. Radit takut Vina semakin ketus.
"Bun, setelah aku ingat sepertinya tidak ada. Bisa kamu kasih bocoran saja. Biar aku mengingat dan memperbaiki kesalahan itu,"
"Setelah aku berpikir semalaman. Aku rasa kamu belum berubah Radit," jawab Vina dingin.
"Maksud kamu apa Bun?" tanya Radit terkejut apalagi Vina tidak menyebutnya ayah seperti biasa. Radit gelagapan. Jangan sampai Vina memberikan surat gugatan cerai itu lagi. Radit sudah mulai cemas.
"Kamu pernah mengatakan akan rela dikebiri jika tidak berubah. Aku rasa apa yang kamu alami tadi malam karena kamu melakukan hal-hal yang tidak ingin kamu rubah. Hingga benturan pelan saja mampu membuat kamu kesakitan seperti itu," jawab Vina datar sambil memberi Kalina minum susu. Tadi malam dia berpikir keras tentang kejadian itu. Hingga otaknya mengingat perkataan Radit yang rela dikebiri jika tidak berubah.
Radit menelan ludahnya kasar sambil menatap istrinya itu yang terlihat sangat santai tanpa beban ketika berkata seperti itu. Ternyata apa yang pernah dikatakannya tentang kebiri itu, alam ikut mendengarnya dan menghukumnya seperti ini. Bukan kemauannya bertemu dengan Donna semalam. Tetapi Donna yang datang ke kantornya.
__ADS_1
"Bunda, aku minta maaf. Sebenarnya...."
"Tidak perlu diceritakan Radit. Lanjutkan saja," potong Vina cepat. Dia tidak ingin mendengar kelanjutan cerita dari Radit. Radit sudah meminta maaf itu artinya sudah terjadi sesuatu dengan Radit.
"Andre juga berada di kantor aku. Ketika Donna datang. Jika kamu tidak percaya. Nanti kami bisa bertanya ke Andre tentang kedatangan Donna. Percaya kepadaku Bun. Tidak terjadi apa apa hanya bertemu saja. Itupun bukan keinginan aku. Dia yang datang ke kantor Bun, kata Radit jujur dan menjelaskan. Dia tidak ingin pertemuannya dengan Donna memperburuk hubungannya dengan Vina yang semakin hari ada kemajuan. Untuk menyakinkan Vina akhirnya Radit menghubungi Andre. Dia tidak perduli Andre yang sangat sibuk pagi ini.
Setelah panggilan itu terhubung. Radit meminta Andre menjelaskan ke Vina tentang kedatangan Donna ke kantornya. Vina mendengarkan dengan diam. Vina nampaknya mempercayai apa yang diceritakan oleh Andre. Di seberang sana, Andre juga ikut senang untuk menjelaskan hal itu. Tanpa diberitahu pun. Andre tahu bahwa hubungan Radit dan Vina sudah semakin membaik.
"Apa kamu cemburu sayang?" tanya Radit yang sudah duduk di samping Vina. Mendengar Radit memanggilnya dengan sebutan sayang membuat wajah Vina bersemu merah. Radit tersenyum melihat wajahnya itu. Dia mencubit pipi Vina pelan sebagai ganti dari bibirnya yang sebenarnya ingin mendarat di pipi itu.
"Tidak," jawab Vina singkat. Radit terkekeh.
"Ternyata otak kamu sangat jenius Bun. Bisa menghubungkan sesuatu yang tidak kamu lihat. Hanya bertemu saja dengan Donna sudah mendapat hukuman separah ini. Aku tidak bisa membayangkan jika lebih dari bertemu. Bisa bisa langsung bengkak sebesar gelas ini," kata Radit sambil menunjuk gelas yang berisi kopinya. Dia sangat senang ketika menyadari ada rasa marah di hati Vina ketika mendengar nama Donna. Vina melirik gelas itu kemudian melirik ke arah bawah perut Radit.
"Masih sakit yah. Bisakah kita ke acara kak Andre dan Sinta hari ini?" tanya Vina. Radit tersenyum. Vina kembali memanggil dengan sebutan ayah.
"Pasti bisa bunda. Aku akan menahan rasa sakit yang penting bisa membuat kamu senang," jawab Radit. Radit memberanikan diri merangkul bahu Vina dan matanya melihat Kalina yang sedang dipangku oleh Vina. Vina tidak menolak rangkulan itu.
"Terima kasih bun, karena sudah cemburu," kata Radit kemudian memberanikan diri untuk mencium pipi Vina. Dia langsung berdiri untuk menghindari kemarahan Vina. Tetapi sesaat kemudian dia yang merintih kesakitan. Gerakan yang cepat membuat senjata itu terasa sakit.
Vina menyembunyikan wajahnya dengan mencium Kalina. Dia tersenyum karena Radit mendapatkan ganjaran yang berani menciumnya. Dalam hati dia menghitung keberanian Radit pagi ini. Memanggil sayang, merangkul bahunya dan mencium pipinya.
"Dua duanya tidak ikut yah. Untuk apa mereka ikut. Mereka akan terganggu tidurnya jika ikut," jawab Vina. Dia tidak setuju jika salah satu bayinya ikut ke acara yang ramai seperti itu. Dia takut bayinya tertular kuman dan akhirnya bayi yang lain juga akan ikut tertular.
"Kita harus mendekatkan salah satu dari putri kita dengan putranya Andre dan Sinta bunda. Aku tidak sabaran menunggu mereka besar dan berjodoh. Aku ingin mempunyai besan seperti sahabat kita itu." Radit masih saja berniat untuk menjodohkan salah satu putrinya dengan putra Andre.
Mengingat dirinya yang dijodohkan oleh sang papa dengan Vina. Dan melihat kebaikan dan ketulusan keluarga Vina membuat Radit yakin akan niatnya itu. Radit makin sadar. Papanya Jack menjodohkan dirinya dengan Vina karena sang papa ingin dirinya mempunyai istri yang baik. Dan dia ingin melakukannya itu untuk salah satu putrinya. Karena dia sangat yakin Andre dan Sinta akan mendidik putranya dengan baik.
Vina menggelengkan kepalanya. Anak anak mereka masih hitungan bulan tapi Radit sudah memikirkan jodoh untuk salah satu putrinya. Vina sangat tidak setuju akan hal itu.
"Jangan terlalu berpikiran jauh kamu yah. Mereka masih bayi. Saat ini kita harus memikirkan nutrisi yang bergizi dan pendidikan untuk mereka supaya kelak menjadi anak yang pintar dan berakhlak baik. Fokus untuk itu saja dulu. Tentang jodoh serahkan pada yang di Atas,"
Radit tidak berbicara lagi. Dia memilih berpindah duduk ke bangku plastik yang ada di kamar itu. Hatinya masih sangat yakin untuk menjodohkan putrinya dengan putra Andre kelak.
Jam sepuluh pagi. Radit sudah berpakaian rapi hendak pergi ke acara Andre dan Sinta. Dia memakai baju couple yang dibelinya semalam. Dia duduk di sofa ruang tamu menunggu Vina yang belum siap juga berdandan. Radit harap harap cemas menunggu Vina keluar dari kamar. Dia berharap Vina memaki dress yang pasangan dengan kemejanya.
"Kamu demam tadi malam Radit," tanya Hendrik yang duduk bersamanya di ruang tamu itu. Tadi malam Hendrik bisa melihat Vina dua kali mengambil air hangat ke dapur.
"Iya pa," jawab Radit singkat. Dia tidak ingin bercerita hal yang sangat memalukan itu.
__ADS_1
"Kalau masih demam. Jangan dipaksain untuk pergi ke acara itu,"
"Sudah tidak lagi pa,"
Radit menoleh ke pintu kamar Vina yang sudah dibuka. Radit tidak sabaran melihat dress yang dipakai oleh Vina. Radit akhirnya menundukkan kepalanya setelah melihat Vina tidak memakai dress yang sama dengan kemejanya. Ketika Vina hendak melihat ketiga bayi kembarnya sebelum pergi. Radit beranjak dari duduknya dan pamit ke Hendrik.
"Radit. Kamu kenapa jalan seperti itu?" tanya Hendrik heran setelah melihat Radit berjalan beberapa langkah. Radit berhenti.
"Hanya sakit sedikit pa. Tidak apa apa," jawab Radit pelan. Hendrik mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Ketika menyadari Vina sudah di kamar sang baby sitter. Hendrik berdiri dan mendekat ke Radit.
"Apa kamu mencoba memperkosa Vina lagi?" tanya Hendrik pelan menyerupai bisikan. Kedua tangannya mencengkram kerah kemeja Radit. Hendrik menduga rasa sakit yang diderita Radit tersebut karena tendangan Vina yang berusaha meloloskan diri dari Radit.
"Tidak pa. Ini hanya benturan yang tidak disengaja oleh Vina. Jika aku berbuat seperti itu tidak mungkin Vina bersedia pergi dengan aku sekarang," jawab Radit tergagap. Cengkraman di kerah kemeja itu mencekik lehernya. Penderitaannya lengkap mulai dari semalam. Bengkak di area terlarangnya dan lehernya tercekik. Radit benar benar merasakan sakit di atas dan bawah bagian tubuhnya bersamaan. Hendrik melepaskan cengkraman itu setelah mencerna perkataan Radit.
"Berani kamu kembali menyakiti putriku Radit. Aku pastikan kamu akan berganti nama. Aku tidak perduli jika harus masuk penjara," ancam Hendrik.
"Iya pa. Percaya padaku." Hendrik kembali duduk di sofa sedangkan Radit melangkah ke luar rumah. Dia akan menunggu Vina di mobil saja.
Radit mengerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Cengkraman itu masih terasa. Hingga matanya menatap tubuh Vina yang semakin mendekat ke mobil. Radit langsung turun dan mengucek matanya. Radit tidak percaya dengan penglihatannya. Vina memakai dress yang sama dengan kemejanya. Terlihat serasi dan cantik di tubuh yang masih nampak gendut. Dengan berjalan ngangkang, Radit menuju pintu mobil sebelah. Dia membukakan pintu untuk Vina. Radit kembali berjalan ngangkang menuju pintu mobil untuk supir. Vina yang melihat cara jalan Radit tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
"Ada yang lucu Bun?" tanya Radit setelah duduk di mobil. Vina mengangguk.
"Cara jalan kamu itu yah. Lebih parah dari anak yang baru disunat. Yakin bisa nyetir?"
"Yang pegang setir kan tangan dan yang injak rem dan gas adalah kaki. Yang ini sama sekali tidak berfungsi untuk membawa mobil," jawab Radit sambil menunjuk bagian inti itu. Vina terdiam. Dia malu jika membahas yang ditunjukkan Radit itu.
"Bunda, terima kasih karena sudah memakai dress itu," kata Radit sambil tersenyum.
"Jangan senang dulu yah. Aku memakai dress ini karena dress yang aku pakai tadi ada koyaknya di bagian ketiak," jawab Vina berbohong sambil memalingkan wajahnya. Melihat tatapan Radit yang kecewa ketika keluar dari kamar itu. Membuat Vina akhirnya mengganti dress-nya.
"Apapun alasan kamu. Aku tidak perduli. Yang penting bunda memakai dress itu,"
"Terserah ayah saja. Percaya atau tidak. Nanti ketika di rumah Sinta. Tolong kondisikan cara jalan kamu itu ayah. Jangan sampai orang berpikiran yang tidak tidak terhadap kita nanti seperti pertanyaan papa tadi,"
"Papa bertanya kepada kamu?. Vina mengangguk. Radit mengulurkan tangannya menyentuh rambut Vina dan membelainya sebentar. Vina menyuruhnya untuk mengkondisikan cara berjalannya itu artinya Vina tidak ingin Radit mendapat penilaian negatif dari sahabat sahabatnya yang sudah mengetahui perbuatannya dulu. Radit tersenyum. Dia semakin yakin jika Vina sudah mulai mencintainya.
Radit bersiul sambil menjalankan mobil itu. Walau ada rasa sakit sedikit saja di area terlarang itu. Radit tidak meringis atau mengeluh. Rasa bahagia dan bersemangat membuat dirinya sangat yakin. Jika suatu hari nanti dia dan Vina akan menjadi suami istri yang saling mencintai. Dan akan menjadi orang tua yang panutan untuk ketiga bayi tersebut. Radit berjanji dalam hati. Meninggalkan semua sikap egois untuk membahagiakan keluarga kecilnya.
Author minta vote nya boleh?. Yang menunggu cerita tentang Sean dan Tini harap sabar ya. Pasti ada kok.
__ADS_1