
Kasman masuk ke ruang tamu dengan menunduk. Begitu juga Tuti, kedua pekerja di rumah itu menunduk malu dengan pengkhianatan mereka.
"Pergilah!, ikutlah bersama mereka. Kalian sama sama menjijikkan," kata Andre marah. Dia membalikkan badannya supaya tidak melihat orang orang yang bekerja sama mengkhianatinya.
Papa Dion dan mama Ratih juga tidak bisa berbuat apa apa. Untuk meminta maaf saja mereka merasa malu melihat kelakuan putrinya. Seandainya perselingkuhan itu tidak dilihat langsung oleh mata mereka. Mungkin Orang tua Cindy masih mempunyai muka untuk meminta maaf ke Andre.
Agnes menarik tangan Cindy pelan menuju kamar. Sebagai wanita, dia masih mempunyai hati nurani untuk sesama wanita walau itu Cindy mantan kakak iparnya yang berselingkuh. Cindy dengan sedikit membungkuk menurut. Taplak meja hanya bisa menutupi bagian bawahnya saja.
"Agnes, kemari!, jangan masuk ke kamar itu," teriak Andre. Agnes hanya sekilas melihat Andre dan ngotot masuk ke kamar itu.
"Andre, aku meminta maaf, tapi biarkan aku memakai pakaianku dulu," kata Rian dia duduk bersila di lantai dan membungkukkan badannya untuk menutupi badan telanjangnya.
"Gampang kamu meminta maaf ya?, tapi ya sudahlah. Aku memaafkan kamu, ini bukan sepenuhnya salah kamu. Cindy yang terlalu murahan tidak puas dengan hanya satu laki laki. Masuklah ke kamar, selesaikan yang tertunda tadi," kata Andre sinis. Dari nadanya bicaranya, jelas tidak ada ketulusan memaafkan Rian. Rian semakin menunduk. Andi yang duduk di sofa dengan santai juga memandang Rian dengan sinis. Sementara papa Dion menunduk dan mama Ratih menyusul Cindy ke dalam kamar.
"Menurut kamu, hukuman apa yang pantas untukmu?" tanya Andi santai. Rian mendongak sebentar kemudian kembali menunduk.
"Laki laki berotak dangkal," umpat Andi lagi.
Kasman dan Tuti yang sedari tadi menunduk terkejut dengan umpatan Andi.
"Kalian berdua, sini!, Duduk di sofa," perintah Andre. Andre sudah duduk di sofa. Wajahnya sedikit sudah berubah. Kasman dan Tuti mendekat sambil menunduk. Dengan takut mereka akhirnya duduk di sofa. Andi melirik Rian yang masih duduk di lantai. Andi tertawa geli melihat Rian yang bagaikan manusia jaman purba tanpa pakaian.
"Andre, biarkan dia memakai celana dulu, paling tidak pakai segitiga Bermuda dulu. Lihat tuh!, telornya kejepit tanpa pengaman takutnya nanti pecah. Kasihan Cindy tidak punya mainan lagi," kata Andi tertawa. Kasman dan Tuti yang menunduk tertawa geli. Sementara Rian, entah bagaimana sudah dia menanggung malu. Dia sedikit mendongak ke Andre. Berharap Andre mau menuruti kata kata Andi. Bella yang mendengar suaminya berbicara langsung berdiri dan keluar dari ruang tamu.
"Iya nak, biarkan dulu dia berpakaian," kata papa Dion menimpali. Dia juga merasa malu melihat kekasih putrinya tanpa pakaian seperti itu.
"Agnes masih di kamar itu kak, Tante Ratih juga. Tunggu mereka keluar dulu. Tidak usah khawatir kan dia. Itu tidak akan pecah, paling mengkerut dan trauma. Entahlah masih bisa berfungsi tidak anunya setelah kejadian ini. Berapa pasang mata bro, yang melihat itu, dasar pasangan murahan," kata Andre. Kemarahannya kembali muncul.
"Kasman, Tuti. Berbicaralah!. Aku ingin mendengar kalian berbicara sebelum keluar dari rumah ini," kata Andre dingin.
"Maaf pak. Tolong maafkan kami berdua pak," kata Kasman takut.
__ADS_1
"Maaf juga tidak cukup Kasman, kamu harus menjelaskan kesalahan apa saja yang telah kamu perbuat ke Andre," sahut Andin tenang. Andre mengangguk setuju.
"Sebenarnya, aku terpaksa melakukan ini pak. Aku butuh uang kala itu." Andre mengerutkan keningnya.
"Ceritakan dengan jelas Kasman. Aku bisa memaafkan kamu jika kamu terus terang," kata Andre lembut. Melihat Kasman yang gugup dan takut. Andre yakin Kasman bekerja sama dengan Cindy karena terpaksa.
"Ibu Cindy menyuruh aku untuk mengikuti Pak Andre dan melaporkan apa saja yang aku lihat yang berkaitan dengan pak Andre ke ibu Cindy. Laporan terakhir yang aku laporkan ke ibu Cindy ketika pak Andre menikah siri dengan istri bapak. Maaf pak aku tidak tahu namanya," kata Kasman pelan. Andre terkejut. Itu artinya Cindy sudah mengetahui dirinya sudah menikah sebelum Andre menerimanya kembali.
Andre memutar memorinya ke waktu lalu. Tiga hari setelah menikah siri dengan Sinta. Cindy datang ke ruangannya di kampus dan menawarkan cintanya. Andre kembali mengingat ketika dia berterus terang tentang Sinta. Cindy bisa bersandiwara sempurna. Seakan akan pertama kalinya mendengar Andre sudah menikah.
"Lanjutkan cerita mu!" perintah Andre dingin. Tangan terkepal. Dia menyadari bahwa Cindy memang sengaja mempermainkannya.
"Beberapa Minggu setelah ibu dan bapak menetap di rumah ini, ibu Cindy meminta aku bekerja di sini sebagai tukang kebun. Aku menerimanya karena memang aku butuh pekerjaan pak. Ibu Cindy juga mengancam akan memecat kami semua yang kerja di sini jika melaporkan perselingkuhannya dengan dia. Dia juga memberi kami uang pak," jawab Kasman sambil menunjuk Rian. Papa Dion terkejut, Andi biasa saja.
"Apa dia sering datang kemari?" tanya Andre marah. Dia menunjuk Rian yang semakin tertunduk.
"Sering pak, jika bapak tidak di rumah. Pernah hampir ketahuan oleh bapak waktu yang di taman dulu pak, saat itu mereka bermain di sana. Aku disuruh menjaga pintu supaya tidak ketahuan jika sewaktu waktu bapak datang. Ternyata bapak pulang lebih cepat dari biasanya. Dan waktu itu malah bapak cemburu ke aku. Padahal aku berkeringat karena harus menjaga pintu di bawah terik matahari. Ketika pintu berderit, aku harus berlari ke taman pura pura mengangkat pot bunga dan memberi kode ke mereka. Mereka juga pernah bermain di sofa ini pak."
"Andre, aku rasa kamu perlu test DNA ulang Alexa," saran Andi setelah mendengar penuturan Kasman.
"Oiya pak, tentang Alexa, aku juga pernah mendengar dia menyuruh Alexa menyebutnya Daddy," lapor Kasman lagi. Andre semakin terkejut. Jantungnya berdetak kencang ketika Kasman berkata seperti itu. Andre mendekat ke Rian. Andre menendang Rian hingga terjungkal ke belakang.
"Benar benar brengsek," maki Andre terus menendang tubuh Rian. Andre bahkan menarik tangan Rian sampai berdiri. Berkali kali Andre melayangkan tinjunya ke wajah Rian. Darah segar menetes dari bibir dan hidung Rian. Andre tidak perduli dengan masih marah Andre masih menghajar Rian. Melihat adiknya sudah kalap, Andi menarik Andre dan memeluknya. Papa Dion tidak bisa berbuat apa apa. Dia memaklumi sikap Andre yang sampai marah seperti itu. Andaikan dia di posisi Andre. Maka dia juga berbuat seperti yang dilakukan Andre.
Andre melepaskan pelukan kakaknya, dia berjalan ke kamar. Andre membuka kamar dengan kasar. Cindy yang terduduk di tepi ranjang dengan menunduk sedikit terkejut dengan suara pintu kamar yang dibanting.
"Plak. Plak.
Andre akhirnya mendaratkan tamparan di wajah Cindy. Cindy meringis tetapi tidak sedikit pun ada rasa kasihan Agnes dan mama Ratih. Andre sangat marah. Cindy benar benar mempermainkannya.
"Apa tujuan dari semua ini Cindy?" tanya Andre marah. Cindy sudah menangis sambil memegang pipinya yang terasa nyeri.
__ADS_1
"Kamu lebih hina dari wanita malam. Kamu benar benar murahan," umpat Andre masih marah.
"Katakan!. Siapa sebenarnya ayah Alexa. Apakah dia?" tanya Andre lagi. Andre bahkan mendorong bahu Cindy dengan kasar. Cindy masih diam. Agnes dan mama Ratih terkejut.
"Kak," panggil Agnes. Andre menyuruh Agnes diam.
"Katakan Cindy. Siapa sebenarnya ayah dari Alexa," tanya Andre lagi. Cindy masih bungkam.
"Pak Andre," panggil Tuti dari luar kamar. Andre meninggalkan Cindy di kamar. Agnes juga mengekor ikut keluar dan membawa selimut. Setelah di ruang tamu. Agnes melemparkan selimut itu ke Rian tanpa melihat Rian.
"Jangan duduk di situ," larang Andi ketika Agnes mau duduk di sofa.
"Kenapa kak,"
"Banyak benih dia disitu berceceran," jawab Andi dan memandang Rian sinis. Rian sudah membalut tubuhnya dengan selimut sedangkan wajahnya tidak berbentuk lagi. Benjol sudah bertaburan di wajahnya.
"Ini pak."
Tuti menyerahkan secarik kertas ke Andre. Kertas itu tidak utuh lagi. Sebagian sudah terbakar. Andre menerima kertas itu. Kertas yang berstempel rumah sakit tempat dia melakukan test DNA. Tulisan terakhir dari surat itu jelas menyatakan bahwa Alexa bukan putri kandungnya.
"Dalam hal ini, aku merasa lega. Setidaknya benihku tidak pernah tumbuh di rahimnya. Tidak bisa aku bayangkan jika Alexa putri kandungku. Kasihan Alexa harus lahir dari rahim wanita brengsek seperti Cindy," kata Andre. Andi menarik nafas lega.
"Kita bisa menuntutnya bro," kata Andi sambil menepuk punggung Andre.
"Tidak perlu kak, biarkan mereka melanjutkan hidup mereka. Aku kasihan dengan om Dion dan Tante Ratih. Mereka lebih terpukul mengenai hal ini. Bagaimanapun mereka adalah sahabat orangtua kita. Biarlah Cindy sendiri yang akan menerima karmanya kelak," jawab Andre pelan.
"Terima kasih nak," kata papa Dion. Dia masih duduk di sofa bukan seperti Andre, Agnes dan Andi yang tetap berdiri.
"Kamu, apa kamu masih betah seperti itu?. Cepat kenakan pakaianmu dan keluarlah dari rumah ini," kata Andi ke Rian. Rian mencoba berdiri tetapi terjatuh. Andre menyuruh Kasman untuk membantu memapah Rian masuk ke kamar.
"Mudah mudahan burungnya tidak berfungsi lagi. Kamu tadi menendang burungnya tidak?" tanya Andi pelan. Andre menggelengkan kepalanya. Agnes yang merasa malu mendengar omongan Andi, berlalu dari ruang tamu dan masuk ke kamar Alexa.
__ADS_1
"Sana, tendang lagi," kata Andi mendorong badan Andre. Andre melihat kakaknya dengan kesal. Andi tertawa terbahak-bahak.