
Andre terbangun dari tidurnya ketika matahari sudah hampir di atas kepala. Untung baby Airia menangis, kalau tidak bisa dipastikan Andre masih tertidur padahal jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas. Andre turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
Wajahnya berbinar melihat baby Airia yang berceloteh di ruang tamu. Bayi itu terlihat menggapai wajah Sinta yang menjahilinya. Andre masih berdiri di hadapan Sinta dan baby Airia. Wanita itu seakan tidak menghiraukan keberadaan Andre di hadapannya.
"Hmm,"
Andre mengeluarkan suaranya mencoba mencari perhatian Sinta. Wanita itu tetap masih asyik bermain dengan putrinya. Merasa keberadaannya tidak dianggap akhirnya Andre melewati Sinta dan baby Airia menuju dapur. Andre hendak membasuh wajahnya di kamar mandi dekat dapur.
Setelah membasuh wajahnya, Andre menuju meja makan. Dia baru ingat bahwa tadi malam dia melewatkan makan malam. Perutnya yang berbunyi keroncongan harus segera diisi. Andre mengulurkan tangannya membuka tudung saja, seketika wajahnya kecewa melihat tidak ada apa di dalam tudung saji.
Andre melangkahkan kakinya menuju kulkas, Andre berharap ada sesuatu yang bisa mengganjal perut kosongnya. Wajahnya bertambah kecewa melihat kulkas juga yang ternyata kosong. Sinta memang sengaja mengosongkan kulkas semalam. Karena niat kabur bersama Vina memang sudah direncanakan mereka beberapa hari yang lalu. Kabur yang batal. Dan Sinta kembali ke rumah ini.
"Sinta. Apa kamu tidak masak tadi?" tanya Andre. Dia sedikit lemas dengan perut lapar nya.
"Masak mas, kenapa?"
"Aku lihat di meja makan tidak ada makanan," jawab Andre lesu.
"Ya ampun mas, aku bahkan lupa sudah bersuami, aku tadi masak hanya untuk aku dan baby Airia," jawab Sinta santai dan menepuk jidatnya. Andre hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
"Waduh Sinta, kamu masih muda tapi sudah pelupa,"
"Maklumlah mas, lama menjanda begini jadinya. Kalau mas lapar, sana saja makan tempat mbak Cindy, jarak dari sini ke sana kan dekat hanya sepuluh menit naik mobil, istri tercintamu pasti melayani kamu dengan baik," jawab Sinta sambil memainkan jari jari baby Airia. Sinta menjawab Andre tanpa merasa bersalah. Dia tidak tahu kata katanya membuat Andre mengingat kejadian tadi malam.
Andre kembali mengusap wajahnya kasar. Selain karena lapar dia sangat malu untuk bercerita tentang kejadian tentang Cindy semalam. Apalagi demi Cindy dia menyakiti hati Sinta sangat dalam. Andre berjalan menuju kamar. Andre mengambil ponselnya dan memesan makanan lewat online.
"Sinta, aku sudah memesan makanan online, nanti kalau kurirnya datang. Tolong kamu ambil dan bayar ya!, aku mau mandi dulu," kata Andre setelah keluar dari kamar. Andre hendak mandi di kamar mandi dekat dapur. Kamar yang ditempati tadi malam tidak ada kamar mandinya. Untuk mandi di kamar mandi yang di kamar Sinta, Andre merasa malu kalau Sinta tidak mengijinkan.
"Tunggu sendiri saja mas, bentar lagi aku mau masuk kamar. Aku mau menidurkan baby Airia."
Tidak mau kurirnya lama menunggu ketika dia mandi, akhirnya Andre duduk di sofa bersama istri dan putrinya.
"Putri ayah yang cantik, nanti siap makan ayah gendong ya. Ayah lapar sekali mulai tadi malam tidak makan. Ini gara gara bunda kamu yang mau kabur membawa kamu jauh dari ayah. Tahu gak nak, tadi malam ayah berkeliling dari satu stasiun ke stasiun hanya untuk mencari kalian. Ayah tidak bisa bayangkan jika tidak bertemu dengan putri ayah yang cantik ini, Ayah sampai tidak makan demi mencari putri ayah ini," kata Andre ketika baby Airia mengarahkan tangan mungilnya. Baby Airia berceloteh entah apa maksud celotehannya.
__ADS_1
"Mas ternyata kamu masih menganggap aku seperti dulu. Bahkan aku sudah melahirkan putrimu, tetap saja tidak ada ruang untuk aku di hatimu," batin Sinta sedih. Dia menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya. Dia tidak mau Andre melihat perubahan rona wajahnya. Andre beranjak dari duduknya ketika mendengar sang kurir memanggil dari luar gerbang. Sinta menengadahkan kepalanya dan memandang Andre yang berjalan ke luar rumah.
Sinta kembali merasakan hatinya berdenyut nyeri. Dia sudah berusaha menghapus rasa cinta untuk Andre yang bersemayam di hatinya. Tapi tetap saja cinta itu bertahta di hatinya walau luka yang ditorehkan Andre sangatlah menyakitkan.
Sinta mendekap kemudian menciumi wajah Airia. Bayi itu yang membawanya kembali ke ikatan pernikahan dengan Andre. Andaikan baby Airia tidak ada, mungkin Sinta tidak ada di rumah ini saat ini. Walau Sinta mencintai Andre, andaikan baby Airia tidak ada. Sudah dipastikan Sinta akan pergi dari kota ini.
Mendengar Andre seakan akan hanya mengkhawatirkan Airia membuat Sinta yakin bahwa cinta Andre ke Cindy tidak tergoyahkan. Sinta merasa sangat yakin bahwa Andre sama seperti dirinya hanya demi Airia mereka rujuk kembali.
Andre kembali masuk ke dalam rumah dengan menenteng makanan. Dari kemasan makanan tersebut, Sinta tahu bahwa makanan tersebut dipesan dari restoran yang terlaris di kota ini. Andre meletakkan makanan itu di meja makan.
"Sinta, kemari!. Aku juga memesan untuk kamu," panggil Andre setelah menyajikan makanan tersebut di meja. Sinta berdiri dengan menggendong bayi Airia. Dia mendudukkan Airia di atas meja dan mengambil makanan yang sudah disediakan untuknya.
"Putriku kok duduk di atas meja, mana bangkunya?" tanya Andre.
"Bangku khusus bayi untuk di meja makan, Airia tidak punya. Kalau bangku yang itu, terlalu pendek untuk ke meja makan ini," jawab Sinta sambil menunjuk bangku plastik kecil berwarna pink yang ada di ruang tamu. Andre terdiam. Tangannya kembali meletakkan sendok yang berisi nasi itu ke piring. Selera makannya seketika hilang. Dia mengingat Alexa yang semua kebutuhan dan perlengkapannya lengkap. Sungguh jauh berbeda dengan Airia yang mempunyai perlengkapan bayi seadanya saja.
Sinta memakan makanannya dengan lahap. Dia tidak peduli dengan Andre yang hanya memandangi makanannya saja. Hanya beberapa menit, makanan itu sudah ludes tidak bersisa di piringnya.
"Enak?" tanya Andre. Dia sedikit heran dengan Sinta yang bisa cepat menghabiskan makanannya.
"Sean, apa dia sering kemari?" tanya Andre heran.
"Tidak begitu sering. Tapi kalau ada waktu senggangnya. Kak Sean pasti kemari melihat Airia."
"Melihat Airia atau melihat kamu,"
"Ya dua duanya lah mas, gak mungkin hanya melihat Airia kan."
"Apa kamu menyukai Sean?"
"Suka donk. Kak Sean itu baik, ganteng dan mapan. Juga menghargai wanita. Aku dan para sahabatku sangat menyukainya. Kak Sean sangat berbeda denga kamu dan tunangan Vina. Sahabatmu itu, di depan kami, dia berani menyeret Vina. Entah bagaimana nasib Vina itu tadi malam. Kamu sama tunangan Vina tidak jauh berbeda," jawab Sinta sedikit ketus. Mimiknya berubah sedih membayangkan sesuatu yang buruk terjadi dengan Vina.
"Jangan samakan aku dengan Radit tunangannya Vina. Dia play boy dan sweing berganti wanita. Aku tidak sama dengannya."
__ADS_1
"Berarti kamu lebih parah dengannya mas. Kalau hanya play boy, banyak laki laki yang seperti itu. Tapi laki laki yang mempermainkan pernikahan dan tidak menghargai wanita seperti kamu itu, paling hanya sepuluh di setiap kecamatan," jawab Sinta lagi membuat Andre tersinggung.
"Iya, hanya Sean yang terbaik untuk kamu. Kenapa kamu tidak menikah saja dengan dia?"
"Kalau jodoh, tidak kemana mas. Tenang saja!. Di umur masih muda seperti ini. Aku belum berniat mencari suami baru. Aku hanya butuh akte lahir untuk Airia. Aku hanya takut seperti yang dikatakan kak Andi."
"Apa yang dikatakan kak Andi?" tanya Andre lagi heran. Mendengar Sinta menyebut Andi, Andre merasa khawatir Andi berbicara yang tidak tidak kepada Sinta.
"Kak Andi meminta aku rujuk denganmu. Kak Andi takut Airia tidak punya akte lahir selamanya jika sewaktu waktu kamu tiba tiba kena serangan jantung karena mengetahui kelakuan istri tercintamu. Begitu katanya." jawab Sinta tenang.
Andre memaki Andi dalam hatinya. Bisa bisanya dia mengharapkan Andre mendapat serangan jantung. Andre menatap Sinta yang duduk di hadapannya. Dia ingin bercerita tentang Cindy.
"Makanannya kok tidak dimakan?"tanya Sinta heran. Makanan Andre sedikitpun tidak disentuh. Pertanyaan Sinta membuat Andre membatalkan keinginannya untuk bercerita tentang Cindy.
"Tidak selera lagi," jawab Andre singkat.
"Sini mas, sayang kalau dibuang. Tiga porsi kalau makanan seperti ini. Aku sanggup menghabiskannya," kata Sinta. Tangannya terulur untuk mengambil makanan dari hadapan Andre.
"Makanlah!. Biar ada tenaga mu memuji Sean," kata Andre ketus.
"Iya mas, luangkanlah waktumu untuk mendengar, aku memuji kak Sean. Tolong pegang Airia mas," jawab Sinta santai. Dia mengangkat Airia dan memberikannya ke tangan Sean. Dengan santai Sinta menghabiskan makanan tersebut. Setelah makan Sinta membereskan piring kotor dan mencucinya di wastafel. Andre memandang Sinta dari belakang. Seketika otak Andre traveling melihat pinggul Sinta yang semakin nampak montok.
Andre menelan ludahnya kasar. Kebutuhan biologisnya sudah lama tidak tersalur. Dengan menggendong Airia, Andre mendekat ke Sinta yang membelakanginya.
"Sinta," bisik Andre tepat di telinga Sinta. Sinta terkejut dan menghentikan tangannya mencuci piring. Sinta tahu apa yang diinginkan Andre. Seketika terbersit di pikirannya untuk menjahili Andre.
"Mas, tolong buatkan susu Airia ya, bentar lagi dia mau tidur, Aku masih harus membersihkan dapur," kata Sinta tanpa berbalik.
Andre seperti mendapat angin segar. Dengan segera dia melaksanakan apa dikatakan Sinta. Dengan semangat Andre memberi putrinya susu dan menimang hingga tertidur. Andre bahkan sangat hati hati meletakkan baby Airia di box bayi. Takut bayi itu terbangun.
"Sinta, Airia sudah tidur," kata Andre senang. Sinta sudah duduk di ruang tamu sambil bermain ponsel.
"Ini teh manis untuk kamu mas, tadi kamu tidak makan. Aku takut kamu sakit. Terima kasih ya mas, kamu sudah menidurkan Airia. Aku juga mau menyusul Airia tidur siang," jawab Sinta. Dia berdiri dan masuk ke kamar. Andre bisa mendengar pintu di kunci dari dalam.
__ADS_1
Andre mengusap wajahnya kasar. Keinginannya untuk olahraga ranjang siang ini tidak terlaksana.