
Tidak terasa sudah satu bulan, Radit di luar kota. Tepatnya di sebuah kota kabupaten yang sangat jauh dari pusat kota. Radit harus menghandle usaha barunya di bidang pertambangan. Memastikan ganti rugi tepat sasaran ke masyarakat dan juga keselamatan para pekerjanya. Sebenarnya, Radit bisa melimpahkan pekerjaan ini ke orang kepercayaannya. Tapi ini adalah pelarian dari ancaman perceraian yang diajukan Vina. Bisa dikatakan ini terpaksa untuk Radit.
Rindu, tentu saja Radit sangat merindukan keluarga kecilnya. Kerinduan akan bayi kembarnya bisa terobati dengan melakukan video call, tetapi untuk membunuh kerinduan akan Vina. Radit menemui jalan buntu. Vina tidak pernah bersedia untuk menjawab panggilan suara maupun panggilan video. Vina benar benar menghukum Radit dengan seperti ini. Beruntung, Hendrik sang papa mertua bersedia menjawab panggilan video darinya untuk melihat ketiga bayi kembarnya.
Radit melampiaskannya kerinduannya ke Vina dengan bekerja dan bekerja. Pekerjaan itu bisa menyita waktu Radit supaya tidak memikirkan Vina. Tapi ketika malam menjelang, selama sebulan ini. Radit selalu bersedih karena harus menahan rindu. Beberapa bulan biasa tidur di ranjang yang sama, Radit merindukan momen itu.
Satu bulan, tinggal sendiri di kota ini, sangat jelas menyiksa Radit. Bukan hanya kerinduan yang menyiksa hatinya. Juga karena wanita wanita nakal yang selalu menggodanya. Bahkan sang sekretarisnya yang cantik dan dengan body bohay selalu berusaha menggoda Radit. Walau tidak terang terangan tapi Radit bisa mengetahuinya. Radit berjanji dalam hati akan berubah. Dia tidak akan mengecewakan Vina lagi.
"Pergilah," kata Radit kepada sekretarisnya. Sang sekretaris mengumpulkan berkas berkas yang sudah ditandatangani Radit dan memasukkan ke dalam map.
"Perlu saya buatkan kopi pak?" tanya sekretaris itu dengan sedikit membungkuk. Radit bisa melihat belahan dada sang sekretaris. Sekretaris itu sudah membuka tiga kancing teratas kemejanya. Radit hanya menggerakkan tangannya untuk menyuruh sekretaris tersebut keluar dari ruangan itu.
"Lia, keluarlah. Aku bisa membuat kopi sendiri," kata Radit sambil menatap laptopnya. Lia masih berdiri di samping meja kerja Radit. Lia khusus bertugas di cabang perusahaan ini dan asli suku daerah ini. Gadis itu memperhatikan Radit yang terlihat serius. Kumis dan brewok yang tumbuh tidak beraturan tidak mengurangi kadar ketampanan sang bos. Radit berdecak kesal dan menatap Lia tajam. Wanita yang lancang tidak mendengar apa yang diperintahkan. Tetapi gadis itu tidak ada takutnya sama sekali. Dia masih berdiri di tempat itu dan memperhatikan gerak gerik Radit.
Lia memberikan senyuman yang sangat manis untuk Radit. Radit kembali menatap laptopnya. Tidak bisa dipungkiri jika senyum itu sangat menawan. Tapi Radit benar benar ingin berubah. Dia tidak tertarik lagi dengan yang namanya wanita kecuali wanita yang bernama Vina. Nama Vina berhasil menetap di hatinya dan terus mengingatnya. Di saat seperti ini, Radit membayangkan jika yang berdiri di sampingnya adalah Vina. Radit menggelengkan kepalanya ketika senyuman Vina melintas di benaknya.
"Jangan mengabaikan aku pak. Nanti bapak menyesal. Setelah makan siang, jadwal bapak bertemu dengan kepala suku," kata Lia berani sambil tersenyum sangat manis. Radit mengepalkan tangannya karena marah. Lia terlalu berani untuk berkata seperti itu membuat Radit semakin tidak menyukainya. Jika bukan karena Lia putri dari kepala suku yang akan dia temui nanti, sudah dipastikan Radit memecatnya sekarang juga. Atau bahkan memakinya. Dia tahu kebiasaan buruk masyarakat di daerah ini. Tidak terima jika salah satu penduduknya tersakiti tanpa mengetahui penyebabnya.
"Pertemuannya dimana?"
"Bapak yang menentukan lokasinya," jawab Lia sambil kembali mendekat. Radit sudah berbicara seperti biasa kepadanya.
"Baiklah. Kabari kepala suku, pertemuannya di ruangan ini saja," kata Radit. Radit kembali menggerakkan tangannya untuk menyuruh Lia keluar. Lia berhenti dan membalikkan badannya. Dia memandang Radit sinis dan keluar dari ruangan itu.
Radit memijit hidungnya pelan. Keputusan untuk menghandle pekerjaan ini ternyata membuat dirinya semakin stress. Bukan hanya menahan rindu kepada keluarga kecilnya juga tuntutan pekerjaan yang harus ekstra sabar menghadapi masyarakat yang tidak konsisten untuk membuat harga ganti rugi atas lahan yang mereka kelola.
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba juga. Kepala suku dan ditemani perangkat desa sudah duduk di sofa yang ada di ruangan Radit. Radit berusaha bersikap ramah walau hatinya sangat kesal. Mereka sudah menyepakati harga sebelumnya. Tetapi ketika hendak menandatangani kontrak kerjasama, Kepala suku kembali berulah. Tidak setuju dengan harga sebelumnya dan meminta untuk berdiskusi ulang.
Dan disinilah mereka. Mendiskusikan kembali tentang harga. Radit membuka pertemuan itu dengan mengucapkan terima kasih dan langsung ke topik pembicaraan. Radit tetap pada pendiriannya, Radit tidak bersedia menaikkan harga dan bersikeras untuk menetapkan harga yang mereka sepakati sebelumnya.
"Baiklah, pak Radit. Jika perusahaan kamu tidak sanggup membayar ganti rugi yang kami minta. Kami tidak akan bersedia memberikan lahan itu untuk kalian kelola. Masih banyak perusahaan yang lain tertarik untuk mengolah lahan tersebut. Kecuali pak Radit bersedia memenuhi syarat yang akan kami ajukan. Saya sebagai kepala suku bersedia menandatangani kontrak kerjasama itu dengan harga yang kita tetapkan sebelumnya," kata kepala suku terkesan berteletele. Radit mendengus. Kalau bukan karena sudah terlanjur mengurus ijin usaha di daerah ini, Radit akan dengan senang hati meninggalkan daerah ini.
"Apa syaratnya?" tanya Radit dingin.
__ADS_1
"Menikahlah dengan putriku Lia."
Radit memicingkan matanya mendengar perkataan kepala suku. Dia menoleh ke Lia yang sudah memasang Senyum menggoda kepadanya. Godaan ini benar benar membuat Radit pusing kepala bukan karena tertarik tetapi karena muak. Radit memasang wajah dingin dan bersandar ke sofa. Dia menatap tajam tiga orang yang juga menunggu jawaban dari dirinya.
"Kalau saya tidak bersedia, bagaimana?" tantang Radit tegas. Kepala suku terkekeh dan meneguk minuman yang disediakan oleh Lia. Kepala suku itu terlihat meremehkan Radit.
"Kerjasama dibatalkannya. Dan silahkan angkat kaki dari daerah ini," kata kepala suku itu dengan senyum mengejek.
Radit menghitung dalam kepalanya segala budget yang sudah keluar sejak sebulan yang lalu. Budget yang lumayan besar untuk perusahaan pemula. Radit menjentikkan jari jarinya ke meja sambil berpikir. Kerjasama ini sangat menguntungkan dan Radit tidak mudah untuk melepaskannya. Dia mencari cara untuk solusi yang ditawarkan kepala suku tanpa menikahi Lia. Sampai kapanpun dia tidak bersedia menikahi wanita manapun. Di hatinya sudah ada nama Vina.
"Kenapa harus saya yang menikahi Lia?. Kalian salah jika menganggap saya adalah pemilik perusahaan. Saya hanya bertugas di sini. Saya hanyalah pesuruh. Jika bapak ingin menikahkan Lia dengan pemilik perusahaan untuk mengubah taraf hidup. Anda salah besar pak. Tapi jika kalian bersedia. Saya akan menghubungi atasan saya untuk langsung berhadapan dengan kalian,"
Radit akhirnya akan membalas kelicikan kepala suku dengan licik pula. Dia tidak akan bersedia untuk menikahi putri kepala suku demi kelancaran bisnisnya. Vina dan keluarga kecilnya lebih berharga dibandingkan dengan perusahaan yang baru dirintis ini. Jika ini tidak berhasil, Radit rela rugi jika perusahaan ini harus hengkang dari daerah ini.
Kepala suku itu menatap Radit penuh selidik. Mencari kebenaran di setiap perkataan yang diucapkan oleh Radit. Radit terlihat serius ketika berbicara sehingga kepala suku dan Lia langsung percaya.
"Kapan kami bisa bertemu dengan atasan kamu," tanya kepala suku dengan sedikit sombong. Setelah mendengar perkataan Radit yang hanya pesuruh seperti yang dikatakan Radit tadi kepala suku itu merasa hanya membuang waktu berbicara dengannya.
Radit sengaja membuat kepala suku dan Lia melambung tinggi. Ada saatnya nanti Radit akan menghempaskan ke jurang yang sangat dalam. Pujian itu akhirnya berhasil membuat senyum sang kepala suku merekah. Mereka tidak menyadari jika perkataan Radit juga menyindir. Radit cepat menyodorkan berkas yang akan ditandatangani sang kepala suku. Radit menutup inisial namanya dengan telapak tangannya ketika kepala suku menandatangani surat tersebut.
Radit tersenyum puas. Dia menutup map itu dengan cepat dan langsung menyimpannya di dalam brankas. Setelah kepala suku tersebut nanti pulang, Radit berencana akan memanggil bagian perekrutan tenaga kerja. Kenapa sampai bisa orang yang bodoh dan tidak teliti seperti Lia bisa menjadi sekretaris di perusahaannya.
"Silahkan pak," kata Radit mempersilahkan kepala suku dan perangkat desa tersebut dari ruangannya. Radit tersenyum puas. Lia terlihat tidak menaruh hormat kepadanya setelah mendengar bahwa Radit hanyalah orang kepercayaan sang pemilik perusahaan. Lia menatap sinis ke Radit. Radit tidak perduli yang ada dia tertawa dalam hati yang berhasil membohongi kepala suku tersebut. Terbongkar atau tidak terbongkar kebohongan ini, itu urusan belakangan bagi Radit. Jika terbongkar. Radit sudah memikirkan jalan apa yang akan diambilnya. Dia hanya akan menatap Lia tanpa berkedip seperti yang dikatakannya tadi. Hanya itu.
Radit kembali duduk di kursi kebesarannya. Rasa rindunya kepada Vina dan ketiga bayi kembarnya kembali muncul. Radit mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Vina. Setiap berniat menghubungi sang papa mertua. Radit terlebih dahulu mencoba menghubungi nomor Vina. Hari ini pun seperti itu. Walau Radit tahu bahwa panggilannya tidak dijawab. Radit masih tetap berusaha. Radit berdoa dalam hati. Semoga kali ini Vina menjawab panggilannya.
Diluar dugaan. Doanya terkabul. Vina menerima panggilannya. Radit merasakan jantungnya berdetak kencang. Ketika layar ponselnya dipenuhi oleh wajah Vina. Radit seketika gugup. Radit mengusap wajahnya menutupi rasa gugup itu. Radit akhirnya berhasil menguasai kegugupannya dengan tersenyum. Radit benar benar senang dan bahagia.
"Selamat siang nyonya, lama tidak berjumpa. Apa kabar?" tanya Radit dengan senyum merekah. Deretan gigi putihnya yang tersusun rapi jelas terlihat di ponsel Vina.
Vina mengerucutkan bibirnya dan melengos. Radit terkekeh. Tidak apa-apa Vina berbuat seperti itu yang penting panggilannya diterima dan Radit bisa melihat wajah istrinya yang hanya bisa dibayangkan selama sebulan ini.
"Tahu gak sih Vin, sebenarnya hari ini aku sangat kesal. Kepala suku meminta aku untuk menikahi putrinya. Aku tidak mau. Lebih baik perusahaan kita ditutup jika harus kembali menyakiti kamu,"
__ADS_1
"Kenapa seperti itu?" tanya Vina ketus. Radit tersenyum. Dia berpikir bahwa ini adalah awal yang baik untuk membuat Vina percaya akan perjuangannya.
"Karena aku sudah mempunyai istri dan tiga anak. Aku hanya ingin memiliki satu istri saja. Itu sudah cukup bagiku,"
"Satu istri tapi selir banyak. Sama saja bohong," kata Vina ketus.
Radit tertawa. Ingin rasanya dia berteriak jika hari ini hatinya sangat bahagia. Radit mengartikan perkataan Vina sebagai ungkapan yang mempertegas bahwa Vina adalah istrinya dan nyatanya seperti itu.
"Kenapa tertawa?"
"Percaya sama aku nyonya. Gak ada yang namanya selir, wanita malam, wanita pagi atau wanita apalah itu. Yang ada hanya Vina nyonya. Wanita hebat bunda dari ketiga bayi kembar aku,"
"Makan tuh gombal. Tidak mempan,"
"Nyatanya seperti itu nyonya. Jiwa dan ragaku hanya milik istriku dan ketiga putra putriku,"
"Rayuan pulau kelapa. Nih. Lihat putra putri kami,"
Vina mengganti kamera depan menjadi kamera belakang. Radit tersenyum dan menyapa putra putrinya. Elvano, Karina dan Kalina terlihat menggerakkan tangan mereka bersamaan. Radit meraba ponsel seakan akan itu wajah para bayi kembarnya. Radit tersenyum dan mengajak para bayi itu berbicara. Setelah beberapa menit, melihat putra putrinya. Radit meminta Vina untuk mengganti ke kamera depan.
"Vin, kamu sudah mengetahui jika Sinta melahirkan tadi pagi?"
"Belum. Aku belum dikabari. Di rumah sakit mana Radit?"
"Aku juga tidak mengetahui di rumah sakit mana. Aku hanya lihat di media sosial milik Andre tadi. Kalau kamu berkunjung ke sana. Tolong sampaikan salam ku untuk keluarga Andre ya!.
"Ya,"
"Vin, terima kasih ya sayang. Karen...." Radit berhenti berbicara. Vina sudah mematikan panggilan video itu. Radit tersenyum. Radit berencana akan bergerak cepat untuk membuat Vina yakin kepadanya.
****
Kalau author minta vote. Di kasih gak ya...
__ADS_1