
Vina menoleh ke Radit yang duduk di sampingnya. Pria itu tersenyum tetapi senyuman itu bukan untuk Vina. Radit tersenyum kepada seseorang yang sedang melakukan video call dengannya. Vina tersenyum kecut, melihat Radit tersenyum bahagia kepada orang lain sedangkan untuknya Radit selalu sinis bahkan membentaknya.
Vina kembali mengedarkan pandangannya. Tamu tamu sudah banyak yang pulang. Hanya tinggal beberapa tamu termasuk para sahabatnya selain Sinta. Andi dan Bella juga masih disitu. Vina merasa lega, setidaknya tamu yang lain tidak melihat kegilaan Radit yang sedang berbicara mesra sementara ada Vina istri sah duduk di sampingnya dan masih di pelaminan.
"Iya sayangku. Tidak akan. Percayalah. Cintaku padamu tidak akan luntur walau banyak wanita cantik di sekitar ku. Mau buka baju di depanku pun aku tidak akan tergoda. Hanya untukmu tubuh dan hatiku."
Vina ingin muntah mendengar gombalan Radit kepada orang yang video call dengannya. Tidak tergoda katanya, padahal baru tadi siang Radit minta waktu sepuluh menit kepada Vina untuk melayaninya.
"Radit, aku mau ke sana. Bolehkan sayang?" kata Vina manja. Dia menunjuk meja para sahabat yang sudah bergabung ke meja Sean dan Tini. Kekasih Radit diseberang sana yang mendengar Vina berbicara langsung mematikan ponselnya. Sedangkan Radit terkejut dengan suara manja Vina. Mulutnya ternganga dan tidak menyadari bahwa panggilannya sudah terputus.
"Boleh tidak?" tanya Vina lagi masih dengan suara manja.
"Bo..boleh," jawab Radit tergagap. Vina turun dari pelaminan dengan tersenyum. Sementara Radit yang sadar panggilan sudah terputus merasa kesal. Dia sadar, Vina sengaja berbicara dengan manja supaya kekasihnya mendengar. Radit kembali menghubungi Donna sang kekasih. Diseberang sana Donna merajuk dan tidak mau menjawab panggilan dari Radit.
Radit mengusap wajahnya frustasi. Kekasih yang sangat dicintainya sudah merajuk. Donna kalau sudah merajuk, sangat susah untuk membujuknya.
"Awas kamu Vina, terima nanti pembalasanku," gumam Radit dalam hati. Radit sampai mengepalkan tangannya karena kesal. Apalagi di depan sana, Radit melihat Vina sudah ikut tertawa dengan para sahabatnya. Tidak mau duduk sendiri di pelaminan. Akhirnya Radit turun dan bergabung bersama Vina dan yang lainnya.
"Duduk sini sayang," panggil Vina ketika melihat Radit mendekat. Vina sampai menyuruh Elsa untuk pindah dari bangkunya supaya Radit duduk di tempat Elsa tadi. Radit menjadi kikuk, apalagi ditempat itu ada Andi dan Sean yang tahu bagaimana Radit memperlakukan Vina. Elsa pindah. Dan Radit akhirnya duduk di samping Vina. Sean dan Andi juga heran dengan Vina yang memperlakukan Radit dengan baik. Jelas jelas tadi Radit meninggalkan Vina di pelaminan sendirian. Tapi wanita itu seakan tidak sakit hati, dia malah memanggil Radit dengan sebutan sayang
"Duh pengantin baru so sweat banget sih, jadi ingin cepat nikah," kata Tini sambil menopang dagu. Radit hanya tersenyum sini. Mendapat pujian seperti itu dari Tini, Radit merasa diejek oleh Tini. "So sweet dari mana, ini juga terpaksa," batin Radit dalam hati.
"Iya donk. Iya kan sayang?" tanya Vina lagi dengan suara manja dan menempelkan kepalanya ke lengan Radit. Radit hanya mengangguk dan sedikit risih karena tingkah Vina. Sean dan Andi kembali memandang Vina dengan bingung.
"Suami istri itu seharusnya memang seperti itu Tini. Suami istri harus saling mencintai dan menghargai. Itu adalah pondasi rumah tangga. Vina yang sudah istri Radit memang harus menyayangi dan menghargai Radit," sahut Bella. Bella tahu Vina dan Radit dijodohkan. Dengan berkata seperti itu, Bella berharap Radit dan Vina saling membuka diri untuk membina rumah tangga yang dilandasi cinta.
"Betul itu mbak, apalagi aku dapat suami yang bekas orang. Yang namanya bekas itu supaya terlihat baru harus dipoles. Aku harus memoles Radit dengan kasih sayangku supaya dia menjadi manusia baru yang bisa menghargai wanita terutama istrinya. Kamu mau kan sayang?" jawab Vina sambil mengusap lengan Radit. Radit kembali tersindir dengan perkataan Vina. Benar dia sudah sering bercinta dengan wanita lain. Tetapi perkataan Vina barusan membuat Radit merasa malu. Bukan seperti dulu yang merasa bangga karena sudah bermain dengan banyak wanita.
"Vina...." panggil Radit supaya istrinya itu tidak berbicara lebih banyak lagi yang akan membuatnya malu.
"Tenang saja Radit, aku tidak akan berbicara banyak lagi, jawab Vina sendu. Dia tidak mau memancing kemarahan Radit di depan para sahabatnya.
"Santai aja bro, terkadang untuk menjadi lebih baik itu harus melalui proses. Misalnya dipermalukan. Jika kamu masih punya rasa malu. Itu artinya kamu normal. Dan jika kamu tahu yang kamu lakukan itu hal yang memalukan. Jangan lakukan. Cukup simpel sebenarnya Radit," kata Radit tegas. Vina adalah sahabat Agnes adiknya dan sahabat Sinta. Andi tentu berharap Vina bahagia. Radit hanya menatap Andi tanpa menjawab perkataannya.
Sean bangkit dari duduknya, dia melirik jam di tangannya. Dia pamit ke Radit dan Vina.
__ADS_1
"Boleh nebeng gak?"
"Siapa mau nebeng,"
"Kami berempat," jawab Tini. Nebeng ke Sean selain Tini ingin lebih lama bersama Sean tentu saja ingin menghemat juga.
"Mereka bertiga bisa. Kamu naik taksi atau angkutan umum saja," kata Sean sambil mengambil dompet dari sakunya. Mengambil uang seratusan dan memberikan ke Tini.
"Nasib, nasib aku yang minta tolong. Justru aku yang tidak dibolehin nebeng," jawab Tini. Dia menyambar uang seratusan itu dan memasukkan ke saku kemejanya.
"Salah sendiri berpakaian seperti itu. Ke pesta bukannya pakai gaun, ini pakai kemeja celana denim sobek sobek dan sepatu juga sobek," jawab Sean cuek. Penampilan Tini memang hari ini sangat tomboi.
Tini melihat dirinya sendiri, kemudian melihat indah, Cici dan Elsa. Mereka memang terlihat cantik dengan gaun mereka. Berbeda dengan Tini yang memakai kemeja kotak kotak, celana denim dan sepatu yang sudah sobek sedikit.
"Yang penting, nyaman kak," jawab Tini santai. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan Sean.
"Apa gak ada sepatu yang lebih bagus selain itu?" tanya Andi geli. Melihat Tini ke pesta seperti itu, dari tadi Andi mengira Tini sebagai petugas angkat keyboard.
"Ada. Di toko banyak," jawab Tini cepat. Sean hanya tersenyum. Bella dan para wanita lainnya langsung tertawa.
"Kamu jadi ikut, mana uang aku tadi," kata Sean. Dia menengadahkan tangannya meminta uangnya kembali.
"Oalah pelit amat calon suami, anggap saja itu saweran waktu aku nyanyi tadi,"
"Gak bisa gitu donk,"
"Udah, ambil di sini kalau berani" kata Tini sambil menunjuk saku kemejanya. Sebelum Sean mengulurkan tangan mengambil uang tersebut, Tini sudah berlari menjauh menuju mobil Sean. Sean tertawa, begitu juga yang lain yang masih bisa mendengar keduanya bercanda.
Radit menarik tangan Vina kasar, setelah Andi dan Bella pamit pulang. Petugas keyboard dan catering sampai tercengang melihat kelakuan Radit. Radit bahkan tidak memperdulikan rintihan Vina yang menahan sakit di pergelangan tangannya. Belum lagi hak sepatunya yang lumayan tinggi membuat Vina seperti diseret ketika Radit menariknya.
"Apa maksud kamu berbicara sok manja dan sok mesra ketika kekasihku tadi video call," tanya Radit marah. Vina sudah duduk di tepi ranjang di dalam kamar Radit.
"O jadi itu tadi kekasih kamu, syukurlah aku berkata seperti tadi. Setidaknya kekasih mu itu sudah tahu kalau kamu sudah menikah dan tidak termakan gombalan buaya mu,"
"Vina, jangan memancing aku marah,"
__ADS_1
"Aku tidak memancing mu marah Radit. Setidaknya kamu hargai pernikahan ini. Kalau kamu berniat mempermainkannya. Kenapa kamu mau menikahi aku. Kenapa tidak membiarkan aku saja kabur waktu itu?"
"Aku hanya ingin menuruti keinginan kedua orangtuaku. Aku tidak mencintai kamu. Kamu adalah orang ketiga di hubungan aku dan Donna,"
"Dan kamu juga penyebab hubungan aku putus dengan kekasihku," jawab Vina pelan
"Aku tidak perduli dengan kehidupan kamu. Yang aku inginkan jangan mencampuri kehidupan aku,"
"Egois kamu, kamu tidak ingin aku mencampuri urusan kami. Tetapi kamu sudah mencampuri urusan aku."
"Aku tidak pernah mencampuri urusan kami,"
"Kamu sudah memperkosa aku, itu apa namanya?" tanya Vina tajam. Radit seketika terdiam. Mulutnya seperti terkunci dan tidak bisa berkata lagi.
"Radit, aku hanya ingin berdamai dengan takdir. Dan aku harap kamu juga seperti aku berdamai dengan takdir. Dari awal sejak ada perjodohan ini, aku menentangnya sampai berniat kabur. Dan kamu yang tidak membiarkan aku kabur. Tapi setelah pernikahan tadi, aku berpikir untuk tidak mempermainkan pernikahan ini. Kalau bisa melupakan masa lalu dan meraih kebahagian bersama kenapa kita harus menciptakan neraka untuk diri kita sendiri. Kita memang tidak saling mencintai setidaknya tidak saling menyakiti," kata Vina pelan. Wajahnya memancarkan kesedihan dan menunduk. Dia harus mengucapkan kata kata ini untuk mengubah suaminya menjadi lebih baik. Sejak menikah tadi, Vina sudah pasrah akan takdirnya. Mau berlari sejauh mana pun, Vina sadar bahwa Radit sudah menjadi suaminya.
Radit masih terdiam. Matanya memandang Vina yang sudah menunduk. Tidak ada tatapan tajam tapi kemudian Radit melepaskan pakaian. Vina yang melihat Radit melepaskan pakaian seketika takut. Bagaimana pun kalau Radit meminta haknya, Vina belum siap. Vina merasa lega. Radit yang melepaskan pakaiannya, berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
Radit keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Vina kembali merasa takut. Tanpa berbicara Radit berjalan mendekat ke Vina.
"Mau apa kamu?" tanya Vina takut.
"Layani aku sekarang, jangan membantah nanti malam kamu akan tidur nyenyak. Aku mau bersama kekasihku malam ini," jawab Radit tenang. Dia semakin mendekat ke Vina.
"Gila kamu, tadi kamu bilang kamu tidak tergoda dengan wanita manapun. Sekarang kamu meminta aku melayani kamu. Dasar mesum tingkat dewa,"
"Jangan banyak bicara kamu,"
"Aku tidak mau melayani kamu Radit, kalau kamu meminta hak mu. Berubah lah. Aku akan menjadi istri yang baik jika kamu juga menjadi suami yang baik," kata Vina berteriak dan mendorong tubuh Radit hingga tersungkur.
"Vina berani sekali kamu,"
"Pergilah bersama kekasih mu. Jangan lupa pakai pengaman. Aku tidak mau kamu terkena penyakit kelamin. Dan ketika kamu berubah dan bertobat kamu menularkan penyakit itu kepadaku," kata Vina lagi. Dia menarik ujung gaunnya ke atas dan keluar dari kamar. Vina berlari sambil menuruni tangga menuju ruang tamu dan bergabung dengan para kerabat suaminya. Ini lebih aman menurut Vina daripada harus berdiam di kamar bersama Radit.
Radit masih terduduk seperti ketika Vina mendorongnya tadi. Semua kata kata Vina terngiang di telinganya. Dia tidak menyangka Vina akan berkata seperti itu. Di pikirannya Vina kan bersikap sinis dan tidak perduli kepadanya. Tapi hari ini, setelah beberapa jam menikah dengan Vina, gadis itu mengajaknya berdamai dengan takdir. Bahkan dari kalimat terakhirnya Vina membebaskannya berhubungan dengan sang kekasih. Dan memberinya perhatian untuk menjaga kesehatan.
__ADS_1