Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Harapan


__ADS_3

Radit keluar dari kamar Vina dengan lesu. Melihat hal itu Andre dan yang lainnya paham jika Radit tidak berhasil meyakinkan Vina. Mereka hanya bisa menatap Radit dengan kasihan. Tini yang biasanya melontarkan kata kata pedas kepada Radit, kini ikut merasa sedih atas perjuangan Radit yang gagal.


Radit melewati Andre yang lainnya begitu saja di ruang tamu. Mereka berlima masih bisa melihat Radit mengusap air matanya sendiri. Pria itu terus berjalan hingga keluar rumah. Radit memang tidak bisa menahan air matanya lagi ketika penolakan Vina terdengar di telinganya dengan tegas.


Andre dan Sean berpandangan. Hatinya mereka juga tidak baik baik saja melihat kesedihan Radit. Tetapi mereka tidak bisa berbuat lebih jauh dari hari ini. Karena mereka juga mengetahui bagaimana Radit sangat menyakiti Vina. Andaikan kesalahan Radit kesalahan biasa saja. Mungkin Andre dan Sean akan berusaha menyakinkan Vina untuk memaafkan Radit. Tetapi yang namanya pemerkosaan, siapapun tidak akan ada membenarkan atau bersedia memaafkan kesalahan besar tersebut. Kecuali korbannya sendiri. Vina.


Andre mengangguk kepala ketika Sinta menoleh ke dirinya. Sinta paham dan masuk kembali ke kamar Vina untuk berpamitan. Andre pun melakukan hal yang sama. Berjalan ke arah kamar Hendrik untuk berpamitan.


Hendrik menepuk bahu Andre pelan. Kemudian tersenyum. Hendrik bahkan mengantar Andre dan yang lainnya sampai di depan pintu.


"Terima kasih nak Andre," ucap Hendrik ketika mereka selesai bersalaman. Sedangkan Sean, Tini dan Cici sudah masuk ke dalam mobil.


"Om, aku minta maaf. Jika kedatangan kami dengan kak Radit membuat om tidak senang," kata Sinta sambil menunduk.


"Tidak apa apa Sinta, tadi aku berpikir ada baiknya juga Radit melihat kesulitan Vina mengandung anak anaknya. Semoga dengan kedatangannya hari ini. Radit tidak ngotot untuk mengambil hak asuh ketiga janin kembar tersebut,"


"Mas, aku mau berbicara berdua dengan om Hendrik. Bisa kamu duluan ke mobil?" tanya Sinta ke Andre. Andre mangangguk dan menunduk hormat ke Hendrik.


Sinta mulai berbicara serius. Dan Hendrik juga dengan serius mendengarkan cerita Sinta.


"Setiap manusia itu berhak mendapat kesempatan kedua om. Aku dan mas Andre bersedia menemani kak Radit setiap berkunjung kemari," kata Sinta setelah bercerita tentang masa lalunya dengan Andre dan kebahagiaan yang sudah dirasakan karena cinta Andre kepadanya.


"Aku mengerti maksud kamu Sinta, Biarkan Radit lebih berjuang lagi. Mungkin karena Radit menikahi Vina tanpa perjuangan. Radit menjadi sepele dan tidak menghargai Vina. Om pun yakin dan percaya. Jika Vina dan Radit berjodoh siapapun tidak akan bisa menghalanginya. Termasuk om sendiri." Sinta tersenyum mendengar perkataan Hendrik. Radit hanya harus lebih berjuang lagi. Dan Sinta juga setuju hal itu. Sebelumnya Sinta menduga Hendrik sudah menutup pintu maaf untuk Radit. Ternyata Hendrik hanya ingin melihat perjuangan yang lebih dari Radit.


"Baiklah om. Aku setuju dengan om. Berarti kak Radit boleh donk kemari lagi," kata Sinta tetapi Hendrik tidak menjawab lagi. Dia hanya mengarahkan dagunya ke arah mobil Andre.


"Kami pamit om," kata Sinta lagi sambil mengulurkan tangannya. Hendrik menerima uluran tangan Sinta dan mengangguk.


"Bicara apa tadi?. Lama banget," tanya Andre ketus. Sinta sudah duduk di mobil. Andre dengan cekatan memasangkan sabuk pengaman ke Sinta.


"Hanya bercerita sedikit saja dengan om Hendrik," jawab Sinta tenang.


"Bercerita sih boleh saja. Tapi tidak harus mengusir suami seperti tadi," kata Andre sewot.


"Mas kok ngomong gitu sih. Aku tadi tidak mengusir kamu mas. Aku hanya ingin bercerita tentang kita dulu dan berusaha menyakinkan om Hendrik untuk memberi kak Radit kesempatan kedua."


Andre tidak menggubris perkataan Sinta, dia masih fokus ke setirnya. Hingga lebih kurang lima menit mobil itu sudah bergerak. Andre masih terdiam. Sinta yang menyadari Andre tidak seperti biasanya. Kini menoleh ke suaminya itu. Andre mengetahui hal itu. Tapi Andre tetap fokus melihat jalanan dan memegang setir.


"Mas, kok malah diam," tanya Sinta sewot. Andre hanya menoleh sebentar dan kemudian kembali fokus.


"Maaf, kalau karena tadi mas merasa terusir. Tapi asal mas tahu saja aku tidak ada niatan untuk mengusir. Kalau mas tidak percaya dengan apa yang kami perbincangkan tadi. Kita boleh kembali ke rumah Vina. Mas boleh bertanya langsung ke om Hendrik," kata Sinta lagi. Dia sudah menyadari jika Andre tidak menyukai apa yang tadi diperbuatnya. Andre menarik nafas panjang.


"Aku percaya sayang. Hanya saja aku tidak menyukai kamu berbicara berduaan dengan pria manapun kecuali papa mertua atau Dion,"


"Tapi itu kan om Hendrik mas, papanya Vina,"


"Aku tahu. Tapi kamu harus mengingat apa yang aku katakan tadi. Papa mertua dan Dion. Lainnya tidak boleh," jawab Andre tegas.


"Mas marah atau cemburu?"


"Dua duanya. Ditambah satu lagi tersinggung."


"Ya ampun. Makasih ya mas. Ternyata kamu bisa juga cemburu ya. Cemburu tandanya cinta kan?" kata Sinta sambil meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipinya. Kemudian dia menoleh ke Andre di saat Andre juga menoleh kepadanya.


"Ya cinta lah. Masa enggak."


"Kali saja tidak. Siapa yang tahu."

__ADS_1


"Kamu meragukan cintaku Sinta?"


"Tidak mas. Hanya saja aku tidak suka jika dicemburui seperti itu. Tidak beralasan."


"Pokoknya aku tidak suka. Titik," kata Andre tegas. Sinta hanya mengurut dada. Sinta akhirnya memilih diam. Tingkat kecemburuan Andre hari ini di atas level sepuluh. Hanya berbicara dengan Hendrik, bisa mengaduk aduk perasaan Andre. Harusnya dirinya yang sensitif. Sinta kemudian mengelus perut yang belum kelihatan hamil. Ada rasa sedih di hatinya ketika Andre cemburu ke dirinya tanpa alasan.


Setelah mengucapkan itu, Andre sebenarnya merasa bersalah. Apalagi melihat Sinta yang sudah terdiam dan mengelus perutnya. Tapi Andre tidak akan membiarkan istrinya untuk melakukan hal seperti tadi. Andre bersikap cuek untuk membuat Sinta jera.


"Radit, ingin mentraktir kita makan siang," kata Andre setelah melihat pesan di ponselnya. Sinta hanya mengangguk setuju. Sinta melirik kaca spion, mobil Sean mengikuti mereka dari belakang.


"Kita ke kafe mbak Bella saja mas, Menu di sana ada juga yang bisa dijadikan untuk makan siang,"


"Baiklah, aku akan memberi tahu mereka," kata Andre sambil melakukan panggilan di ponselnya.


"Mereka setuju sayang," kata Andre sambil tersenyum. Andre sudah bersikap seperti biasa.


Andre dan Sean hampir bersamaan memarkirkan mobilnya di parkiran kafe milik Bella. Mereka langsung menuju kafe bagian belakang. Cuaca panas di siang hari sangat cocok jika makan di alam terbuka di bawah pohon-pohon rindang yang ada di belakang gedung kafe. Tini langsung menyukai tempat tersebut. Ini yang pertama baginya ke kafe ini sedangkan Radit, Sean dan Andre entah ke berapa puluh kali mereka kemari. Sedangkan Sinta, kafe Bella adalah lahan pencarian baginya ketika hamil pertama.


Sinta dan Andre duduk bersisian, Tini dan Sean juga seperti itu. Dua pasangan tersebut duduk saling berhadapan sedangkan Radit sendiri masih di meja yang sama. Cici tidak ikut lagi bersama mereka karena langsung pulang.


"Kak Radit, mungkin ini adalah kabar gembira bagi kakak. Tapi kita harus mencobanya terlebih dahulu," kata Sinta setelah mereka sudah memesan makanan masing masing.


"Kabar gembira apa Sinta," tanya Radit senang dan penasaran. Sinta menceritakan semua tentang pembicaraannya dengan Hendrik dan bagaimana tanggapan Hendrik. Radit terlihat biasa saja setelah mendengar cerita Sinta. Radit masih pesimis jika kesempatan itu masih ada untuknya.


"Aku rasa tidak ada salahnya kita mencoba bro. Aku dan Sinta akan menemani kamu. Jika om Hendrik tidak marah itu artinya ada kesempatan untuk kamu. Tidak ada salahnya mencoba," kata Andre untuk menyakinkan Radit. Radit mengangguk.


"Sinta, Tini. Aku berterimakasih untuk kalian berdua," kata Radit tulus dan pelan. Dia merasa malu menatap Tini yang tersenyum kepadanya.


"Berterimakasih lah setelah usaha kamu berhasil kak, Perjuangan mu masih membentang tak berujung. Aku juga minta maaf karena mengatai kakak tadi bisu dan tuli. Walau sebenarnya itu benar. Aku tetap minta maaf."


"Kamu minta maaf tetapi tetap saja mengatai Radit bisu dan tuli," kata Andre sambil tertawa. Sinta tersenyum dan Sean hanya diam saja.


"Jangan larut dalam kesedihan kak. Yang penting kakak harus berubah. Demi diri kakak sendiri dan demi Vina juga janin kembar kalian, Pergunakan kesempatan kecil ini untuk meraih hati Vina dan om Hendrik," kata Sinta untuk menguatkan Radit.


"Sinta, Tini. Bolehkah aku menganggap kalian seperti adik aku sendiri?" tanya Radit pelan. Dia melihat Sinta dan Tini bergantian. Sedangkan Sinta tidak berani untuk mengiyakan. Dia menatap Andre yang terlihat acuh. Dia teringat bagaimana Andre tadi cemburu.


"Tanya suamiku kak. Kalau aku iyakan. Takutnya dia cemburu," sindir Sinta sambil melirik ke Andre.


"Kalau Tini?" tanya Radit lagi.


"No," kata Tini cepat. Radit terlihat sangat kecewa dan menunduk.


"Buktikan kakak berubah. Maka aku sendiri yang akan menganggap kakak sebagai kakakku sendiri," kata Tini lagi membuat Radit tersenyum. Sean masih diam mendengar para sahabatnya itu berbicara. Sedangkan Andre mengacungkan jempolnya ke Tini.


"Sependapat dengan Tini. Aku tidak mau kamu menganggap istriku seperti adik kamu sendiri. Buktikan kamu berubah. Aku hanya menjaga milikku bro. Aku tahu banyak tentang kamu. Aku hanya berjaga jaga saja," jawab Andre tegas. Penolakannya bukan sekedar cemburu. Tapi Andre menantang Radit untuk berubah. Lagi pula Andre tidak setuju jika ada pria lain dekat dengan istrinya. Walau alasan dengan menganggap sebagai adik sendiri. Apalagi Radit pernah memuji kecantikan istrinya.


"Baiklah," jawab Radit singkat.


Hingga mereka berlima menghabiskan makan siang mereka. Sean masih saja diam. Hal itu menimbulkan tanda tanya bagi para sahabatnya terutama Tini. Banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan Tini. Tapi Tini merasa enggan untuk bertanya di saat mereka berkumpul begini.


"Aku naik taksi saja," kata Radit ketika mereka mau pulang. Untuk memuluskan rencana mereka hari ini, Radit memang menumpang.ke mobil Sean. Tapi untuk pulang, Radit memilih naik taksi. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Sean dari mereka.


"Radit bersama kami saja," kata Andre kemudian melihat Sean yang masih ngotot mengajak Radit untuk ikut ke mobilnya. Andre juga mencium sesuatu yang tidak beres antara Sean dan Tini. Sean akhirnya mengalah dan masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu mobil untuk Tini.


"Kakak kenapa hanya diam?" tanya Tini setelah mobil bergerak menjauhi kafe. Sean masih diam.


"Apa aku berbuat salah?" tanya Tini lagi.

__ADS_1


"Kamu tidak berbuat salah, hanya saja aku yang terlalu mengharapkan terlalu jauh akan hubungan ini," jawab Sean kecewa tanpa menoleh ke Tini.


"Maksud kakak?"


"Sudahlah tidak perlu dibahas. Fokuslah ke kuliah kamu. Tidak perlu memikirkan aku."


"Kalau seperti ini, aku semakin bingung loh kak. Tidak ada angin tidak ada hujan kakak tiba tiba diam. Kalau aku berbuat salah. Harusnya kakak ngomong. Biar aku bisa memperbaiki diri."


"Kalau aku mengajak kamu menikah dalam waktu dekat ini. Apa kamu bersedia?"


"Ya belumlah kak. Kan aku sudah bilang tadi di rumah Vina. Lulus kuliah dulu baru memikirkan menikah."


"Ya sudah. Kalau begitu fokuslah ke kuliah kamu," kata Sean ketus.


"Jawaban kakak ketika Sinta bertanya tadi dengan sikap kakak yang sekarang kok beda,"


"Aku memang menunggu kesiapan kamu Tini. Tetapi Tidak menunggu sampai dua tahun juga. Harus kamu ingat, umur aku sudah di atas tiga puluh tahun," kata Sean mengungkapkan apa yang sebenarnya isi hatinya. Tini terkejut dengan perkataan Sean. Menikah dalam waktu dekat ini tidak ada dalam otaknya sama sekali.


"Maksud kakak apa. Katakan dengan jelas," kata Tini tegas.


"Targetku tahun ini menikah. Paling lama akhir tahun," jawab Sean. Sean menoleh ke Tini dan menunggu jawaban dari Tini.


"Tini."


"Aku tidak bisa kak, selain aku karena masih kuliah. Kakak kakakku juga belum menikah," jawab Tini pelan. Sean terlihat sangat kecewa. Sean menarik nafas panjang.


"Baiklah, terserah kamu saja," jawab Sean pasrah.


"Tapi jika kakak mau menikah secepatnya. Kakak bisa mencari wanita lain untuk mewujudkan target kakak itu," kata Tini membuat Sean terkejut. Sean menoleh ke Tini. Akibat perkataan Tini itu, hampir saja Sean menabrak seseorang yang hendak menyeberang. Sean tidak menyangka Tini akan berkata tersebut.


Sean mengusap wajahnya kasar. Jantungnya berdetak kencang karena teriakan dari pengguna jalan lainnya. Sean kembali menjalankan mobilnya dengan diam. Hatinya sangat kesal dan marah karena perkataan Tini. Jika bukan karena di mobil, Sean mungkin sudah melampiaskan kekesalannya.


"Turunlah," kata Sean dingin setelah mereka sampai di depan gerbang rumah Tini. Tini masih diam tidak ada niat untuk turun. Melihat bagaimana Sean kecewa setelah mendengar perkataannya membuat Tini merasa bersalah dan kasihan.


"Turunlah bersama aku kak. Aku berubah pikiran. Jika kakak ingin menikahi aku secepat mungkin. Berbicaralah kepada kedua orang tua aku. Aku akan menurut apapun perkataan mereka. Tapi jika mereka tidak setuju. Aku harap kakak mau menunggu aku sampai dua tahun kemudian," kata Tini sambil menatap Sean. Tini sudah memikirkan hal ini ketika melihat Sean hampir menabrak orang karena kecewa. Sean menatap Tini. Tini mengangguk. Sean sangat senang dan bahagia mendengar Tini memberikan harapan kepadanya.


Sean membuka sabuk pengamannya kemudian membuka sabuk pengaman Tini. Tanpa permisi Sean memeluk Tini dan mendekatkan bibirnya ke bibir Tini. Tini mengijinkan Sean untuk berbuat lebih jauh kepada tubuhnya. Tini bahkan sudah memegang tengkuk Sean untuk memperdalam ciuman mereka.


Sean menikmati sentuhan sentuhan lembut Tini di punggungnya. Walau terhalang baju sentuhan itu sangat terasa. Sean semakin berani dengan mempermainkan semangka kembar milik Tini. Dua bulan berpacaran ini yang kedua kali mereka berciuman dan ini yang pertama bagi Sean menyentuh semangka kembar itu.


Hingga pakaian bagian atas Tini terlepas, wanita itu masih saja enggan menyudahi kegiatan mereka yang sangat memabukkan. Terkadang Tini mengeluarkan suara suara aneh karena tangan dan bibir Sean aktif di tubuhnya.


"Kak," kata Tini sambil menatap Sean yang memasangkan kemeja Tini. Tini seakan tidak rela jika Sean menyudahi kegiatan mereka.


Sean mengancingkan kemeja itu satu persatu.


"Lebih dari ini bisa kita lakukan setelah menikah. Aku tidak mau berbuat lebih jauh sebelum halal," jawab Sean pelan. Sama seperti Tini, dia juga menahan reaksi tubuhnya yang menginginkan lebih. Keduanya sama sama menoleh ke arah belakang mobil ketika mendengar suara klakson mobil.


" Itu mobil papa ku. Sejak kapan mereka di sana," kata Tini panik


"Tidak tahu,"


"Tidak biasanya papa pulang jam segini. Majukan mobilnya kak. Biarkan saja mobil papa duluan masuk," kata Tini lagi. Dia terlihat cemas dan takut. Tini takut jika papanya mengetahui perbuatannya dengan Sean di dalam mobil ini.


"Aku akan ikut masuk ke dalam sayang,"


"Ya kak,"

__ADS_1


Berbeda dengan Tini, Sean justru mengharapkan papanya Tini melihat perbuatan mereka tadi. Dengan begitu Sean berharap orang tua Tini bersedia memberi restu kepadanya untuk menikahi Tini. Sean tersenyum. Harapan yang diberikan Tini membuat Sean bahagia.


__ADS_2