Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Masa Lalu 1


__ADS_3

Vina menatap suaminya yang masih menunduk. Radit perlahan mengangkat kepalanya dan melihat wajah istrinya yang masih menatapnya. Sungguh, Radit masih merasakan penyesalan yang amat dalam karena pernah menyakiti Vina.


"Tidak apa apa. Kalau tidak bersedia bercerita. Aku percaya kepadamu yah. Mau seperti apa dan bagaimana rumah tangga ini. Aku yakin kamu bisa membawa kita ke arah yang lebih baik. Apapun keputusan kamu. Aku percaya karena ayah sudah tahu apa yang menjadi konsekuensinya."


"Aku hanya takut jika aku menceritakan masa lalu. Akan mengubah hatimu Bun. Aku hanya ingin bahagia bersamamu walau hidup sederhana."


"Kalau begitu ceritakan yah. Dengan bercerita, beban kamu akan berkurang. Aku sudah bisa menerima masa lalu kamu seburuk apapun itu. Aku percaya. Bahwa kamu akan memberikan masa depan yang bahagia untuk rumah tangga ini. Hidup sederhana lebih baik daripada hidup mewah tapi penuh dengan penghianatan dan dosa."


Vina mengangguk. Meyakinkan Radit jika masa lalu itu diceritakan. Radit menarik nafas panjang sebelum memulai bercerita.


Flashback back on


"Mau pergi lagi," tanya mama Anisa kepada Radit. Radit mengangguk sambil menuruni tangga. Semakin mendekat ke mama Anisa yang duduk di sofa di ruang tamu. Radit mengulurkan tangannya.


"Singkirkan tanganmu jika kamu meminta ijin mama untuk menemu wanita murahan itu," kata Anisa marah. Melihat sikap Radit setelah berpacaran membuat Anisa sangat yakin bahwa wanita itulah yang membawa pengaruh buruk terhadap putranya.


"Hanya sebentar ma, Jam sepuluh aku janji pulang," kata Radit.


"Tidak. Kemarin kemarin kamu juga minta ijin seperti itu. Jangankan pulang jam sepuluh. Kamu malah pulang pagi. Kamu tidak boleh pergi malam ini. Besok kamu kuliah pagi."


"Dengarkan kata mama, Radit."


Jack yang tadinya membaca koran kini menurunkan koran tersebut dari pandangannya dan melipatnya. Melihat sikap pembangkang puteranya. Jack ikut campur hanya untuk pergaulan Radit.


"Aku akan pulang tepat waktu pa."


"Tapi mama tidak mengijinkan kamu untuk dekat wanita itu. Wanita apa yang masih berpacaran tapi sudah mau tiduran di kamar kamu. Lagipula, aku pernah melihat wanita itu jalan dengan seorang pria yang sudah berumur di mall," kata mama Anisa marah. Dia pernah mendapat laporan dari salah satu pelayan di rumahnya jika Radit membawa wanita itu ke rumah dan masuk ke dalam kamar.


"Dia belum pernah ke rumah ini ma. Dan tentang laki laki yang pernah mama lihat jalan dengannya bisa saja papanya," bela Radit.


"Bela terus pacar kamu itu. Demi dia, kamu sudah berkali kali melawan mama."


"Itu karena mama tidak pernah memberi aku kebebasan untuk berpacaran. Sampai kapanpun aku tidak mau dijodohkan. Jaman sudah modern ma. Bukan jaman Siti Nurbaya lagi."


"Kalau kamu pacaran dengan wanita baik baik. Mama bisa saja mengijinkan. Tapi wanita tidak jelas itu telah mempengaruhi kamu. Kamu jadi berubah. Sering keluar malam bahkan tidak pulang. Kamu masih kuliah semester satu tapi kelakuan kamu sudah melebihi batas normal dari usia kamu Radit."


"Dia punya nama ma. Namanya Intan bukan wanita tidak jelas."


"Terserah atau siapapun namanya. Yang mama inginkan. Kamu masuk ke kamar dan jangan keluar."


"Dengar kata mama Radit. Masuk ke kamar kamu," suruh Jack. Radit berdecak kesal. Dia menatap tajam kedua orangtuanya. Tanpa menghiraukan perintah orang tuanya. Radit melangkah keluar dari rumah.


"Radit," panggil Anisa kencang. Radit tidak perduli. Dia semakin menjauh dari ruang tamu dan akhirnya keluar dari rumah.

__ADS_1


Radit mengeluarkan sepada motornya dari garasi. Mengendarai sepeda motor tersebut dengan kencang menuju rumah Intan. Dia tidak ingin Intan menunggu lama. Pesan yang diterimanya dari sang kekasih jika Intan sendirian di rumah. Radit mengetahui tujuan Intan menyuruh dirinya ke rumah jika Intan sendirian. Dan Radit sangat menyukai itu. Masa mudanya terasa berwarna dengan kehadiran sang kekasih. Setelah beberapa menit berkendara. Radit tiba di rumah Intan yang mewah.


"Aku sudah lama menunggu kamu Radit. Kenapa lama?" tanya Intan yang sudah berdiri di depan rumah. Pakaiannya yang kurang bahan menampakkan semua aset yang seharusnya disembunyikan.


"Biasa. Kedua orang tuaku tidak mengijinkan keluar rumah. Aku harus pulang jam sepuluh Intan," jawab Radit sambil mengambil kunci motor itu. Dia masuk ke rumah mengikuti langkah Intan.


"Orang tua kuno." desis Intan. Tapi Radit masih bisa mendengarnya.


"Sebenarnya kedua orang tuaku tidak kuno Intan, apa yang mereka katakan memang benar. Justru kita yang terlalu melampaui batas dalam bergaul."


"Tapi kamu suka kan. Kamu datang saat ini karena menyukai apa yang kita lakukan. Jangan munafik kamu Radit," kata Intan sambil menghempaskan bokongnya di sofa. Radit mengikutinya duduk di sofa itu.


"Itu siapa?" tanya Willy sambil menunjuk sebuah foto yang tergantung di dinding. Foto seorang pria yang sepertinya sudah berumur lima puluhan. Beberapa kali datang ke rumah ini. Ini pertama kali bagi Radit melihat foto tersebut.


"Coba tebak," jawab Intan.


"Itu ayah kamu ya. Kok foto sendiri. Bunda kamu mana?"


"Bundaku sudah meninggal Radit," jawab Intan sedih.


"Maaf Intan. Aku tidak bermaksud mengungkit kesedihan kamu," kata Radit penuh penyesalan. Radit bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di samping Intan. Intan hanya mengangguk. Tapi raut kesedihan masih tertinggal di wajah itu. Melihat Intan sedih. Radit juga merasa sedih. Radit merangkul bahu Intan, kekasih yang sangat dicintainya. Kekasih yang mengajarinya banyak hal. Kekasih yang memberikan rasa nikmat untuk pertama kalinya.


Pertemuan mereka berawal dari mencari buku di perpustakaan. Mereka sama sama mencari buku yang sama. Dan kebetulan hanya ada satu buku yang tertinggal di perpustakaan tersebut. Setelah mengetahui bahwa Intan sudah semester lima sedangkan Radit semester satu. Radit merelakan buku itu untuk Intan yang meminjam. Intan sangat senang sekali. Buku ini sangat penting baginya. Karena ketika di semester satu. Intan gagal untuk mata kuliah yang berkaitan dengan buku tersebut. Intan menawarkan mereka bergantian memakai buku itu. Jika untuk hari ini dia terlebih dahulu memakai buku tersebut dan untuk besok Radit yang akan memakai buku itu. Radit setuju. Karena dia juga sangat membutuhkan buku tersebut.


Gayung bersambut. Cinta Radit tidak bertepuk sebelah tangan. Intan juga mengaku mencintai Radit. Radit bahagia. Pertama kali mencintai wanita dan cintanya berbalas.


Cinta itu tidak diungkapkan hanya dengan kata kata. Intan juga terlihat mencintai Radit dengan tindakan. Memberikan Radit perhatian dan juga sering membawakan makanan hasil masakan sendiri. Radit melambung tinggi mendapat cinta dari seorang Intan. Radit memberikan sepenuh hatinya kepada Intan. Dan intan juga demikian.


Wujud cinta mereka tidak sampai disitu. Intan membawa Radit ke rumahnya. Rumah mewah yang hanya ditempati oleh Intan. Mereka berdua bebas di rumah itu. Melakukan hal hal yang tidak semestinya mereka lakukan. Hanya satu hal yang tidak disadari Radit. Dia tidak boleh datang ke rumah itu sesuka hatinya. Radit hanya boleh datang jika Intan yang membawa atau memanggil Radit ke rumah itu.


Dan disinilah dia sekarang. Intan memanggil Radit ke rumah karena sendirian. Radit memaklumi hal itu. Radit menduga jika Vina belum diperbolehkan pacaran oleh ayahnya.


"Tidak apa apa Radit. Aku sering sedih jika sendiri. Tolong temani aku ya," kata Intan yang sudah bersandar di dada Radit. Radit mengangguk dan mengusap lengan Intan. Tapi usapan itu sudah menjalar ke perut Intan. Dua manusia berbeda jenis kelamin itu semakin hanyut dengan sentuhan masing masing lawan. Lagi lagi mereka berbuat dosa. Mereka melakukan hal yang seharusnya hanya suami isteri yang boleh melakukan. Radit yang polos dan masih muda kini menjadi Radit berpengalaman untuk memuaskan wanita.


Radit dan Intan tersenyum puas setelah kegiatan itu. Intan kembali menyentuh tangan Radit dan mengajak pria itu masuk ke kamar yang ada di lantai bawah. Intan kembali menginginkan kegiatan itu. Tapi Radit hanya terdiam dan duduk di tepi ranjang.


"Kita lanjut lagi Radit," kata Intan yang kini duduk di pangkuan Radit. Radit mengangkat tubuh Intan dan mendudukkan di tepi ranjang itu.


"Aku harus pulang Intan. Sudah jam sepuluh. Mamaku akan marah besar jika aku pulang telat," tolak Radit. Jauh di lubuk hatinya. Radit sangat merasa bersalah karena melawan kepada orangtuanya. Selama ini dia adalah anak yang baik untuk kedua orangtuanya. Tapi sejak mengenal Intan. Radit sering melawan kepada Anisa dan Jack. Kenikmatan yang diberikan oleh Intan sangat rugi untuk ditolak. Apalagi Radit sudah mengetahui rasanya dan bisa dikatakan Radit ketagihan dan semakin candu akan rasa itu.


"Ah payah kamu Radit. Anak mama ternyata," jawab Intan kesal. Kalau boleh, Intan menginginkan Radit menginap di rumahnya. Menemani dirinya untuk menghabiskan malam yang penuh kehangatan seperti malam malam sebelumnya. Tetapi apa yang diinginkan tidak itu yang terjadi. Radit ingin pulang karena takut dimarahi sang mama.


"Maaf Intan. Aku harus pulang malam ini. Aku tidak ingin kedua orang tuaku semakin marah karena tidak pulang. Lain kali aku akan menemani kamu tidur di sini jika kedua orang tuaku ke luar kota," kata Radit untuk membujuk Intan yang semakin memperlihatkan kekesalannya.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku butuh kamu sekarang. Kamu bukan keluyuran atau balap liar. Kenapa mama kamu harus marah. Kamu hanya tidur disini. Hal yang sama kamu lakukan jika di rumah kamu. Jika kamu tidak bersedia menemani aku malam ini. Sebaiknya lupakan aku. Jangan pernah menemui aku di kampus atau menelepon. Aku tidak suka pacaran dengan pria anak mama yang tidak punya pendirian dan tidak dewasa," jawab Intan. Intan memakai bajunya kembali. Dia mencampakkan baju Radit yang belum dikenakan setelah kegiatan yang memabukkan tadi. Radit juga memakai pakaian itu.


Radit mengusap wajahnya kasar. Radit dilema. Jika dia pulang. Intan yang akan marah besar. Jika tidak pulang kedua orang tuanya yang akan marah besar. Radit memijit pelipis untuk memilih apa yang harus dilakukan saat ini.


"Intan mengertilah. Sebenarnya apa yang kita lakukan ini sangat salah. Dan ini dosa. Aku harus pulang sekarang. Aku akan meminta kedua orang tuaku untuk segera mengijinkan kita untuk menikah. Dengan begitu kamu tidak kesepian lagi dan hubungan kita halal," kata Radit. Menurut Radit menikah adalah jalan satu satunya untuk mereka berdua. Intan tidak kesepian lagi dan dirinya juga tidak melawan lagi kepada kedua orangtuanya.


"Menikah. Kamu kira menikah itu gampang. Kamu bahkan masih kuliah. Kamu mau ngasih aku makan pakai apa. Pakai daun?" ejek Intan sinis. Radit menatap Intan tidak percaya dengan ejekan yang baru saja di dengarnya.


"Aku bisa kuliah sambil bekerja di perusahaan papaku Intan. Aku rasa kalau untuk makan dan kuliah kamu. Aku sanggup untuk itu. Kamu tidak perlu khawatir."


"Tapi sayangnya. Aku belum berminat untuk menikah muda. Aku lebih suka seperti ini. Jauhkan impian kamu itu dari aku."


"Tapi apa yang kita lakukan ini dosa Intan."


"Manusia adalah tempat dosa. Wajar kita berdosa. Santai saja Radit. Jangan sok suci kamu," jawab Intan sambil mengibaskan tangannya. Intan sama sekali tidak terpengaruh dengan perkataan Radit.


"Dimana mana wanita itu senang kalau dinikahi."


"Jangan samakan aku dengan wanita yang lain Radit. Aku wanita bebas. Jika kamu ingin menikahi aku. Ada waktunya tapi bukan saat itu ini."


"Terserah kamu Intan. Aku tidak mengerti dengan jalan pemikiran kamu. Aku pulang sekarang," kata Radit sedikit marah. Kebaikan untuk menikahi Intan tidak ditanggapi sama sekali membuat Radit kesal. Penolakan Intan untuk dinikahi membuat Radit marah.


"Kamu pulang. Itu artinya kita end," teriak Intan dari kamar. Radit yang sudah di ruang tamu akhirnya kembali ke kamar. Dia tidak menyangka ancaman Intan tadi ternyata benar.


"Aku sudah memberikan kamu kepuasan. Aku sudah memberikan tubuhku kepada kamu Radit. Inikah balasan kamu. Aku hanya meminta dirimu untuk menemani aku di rumah ini. Aku rasa itu adalah hal kecil. Tapi kamu tidak bersedia memberikan hal kecil itu atas hal besar yang sudah aku berikan kepadamu," teriak Intan lagi. Radit menyadari jika apa yang dikatakan Intan adalah suatu kebenaran.


"Caramu seperti ini. Aku jadi yakin jika kamu tidak mencintai aku. Perkataan cinta yang keluar dari mulut ternyata hanya sekedar gombalan supaya bisa menikmati tubuhku," kata Intan lagi. Radit jadinya merasa bersalah setelah mendengar perkataan Intan. Radit mendekat ke Intan dan memeluk tubuh itu yang terlihat sedih.


"Aku sungguh sungguh mencintai kamu Intan. Itulah sebabnya aku ingin menikahi kamu. Itu adalah bukti cintaku," jawab Radit. Dia berharap Intan berubah pikiran untuk bersedia menikah dengannya.


"Tidak perlu menikahi aku Radit. Cukup kamu menemani aku di saat sendiri sudah cukup bagiku sebagai bukti cintamu," kata Intan yang sudah mendongak menatap wajah Radit.


"Baiklah. Aku akan menginap disini jika itu yang membuat kamu senang," jawab Radit akhirnya. Intan senang dan mencium bibir Radit sekilas.


"Terima kasih Radit," kata Intan. Radit mengangguk.


Radit melepaskan pelukannya dari Intan. Dering khusus yang terdengar dari ponsel menandakan jika sang mama menghubungi. Radit mengambil ponsel itu dari saku celananya.


"Aku tidak pulang ma," kata Radit setelah membalas salam dari mamanya. Radit memijit pelipisnya karena mendengar perkataan mamanya yabg harus pulang malam ini.


"Ma, aku sudah dewasa. Aku tidak melakukan hal hal yang berbahaya. Aku hanya menginap di rumah temanku. Di rumah juga aku tidur kan?. Jadi tidak ada bedanya. Tidur di sini atau tidur di rumah kita sama saja. Besok pagi aku akan cepat pulang," bentak Radit kepada mamanya. Radit memutus panggilan itu secara sepihak dan menonaktifkan ponselnya.


Intan tersenyum. Dia menunggu Radit di ranjang. Dia mendengar apa yang dikatakan Radit kepada mamanya. Intan sangat senang. Rasit memilih menemani dirinya tidur daripada mendengar mamanya Radit yang menyuruh pulang. Radit juga akhirnya menyusul Intan ke ranjang. Setelah memutuskan panggilan tadi hatinya sebenarnya tidak baik. Dia merasa bersalah karena membentak sang mama. Tapi demi cinta kepada Intan. Radit terpaksa berlaku seperti itu. Radit memaksakan senyum kepada intan yang sedang menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2