Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Ketakutan Radit


__ADS_3

"Jadi kalian mau pindah?" tanya papa Hendrik sambil menatap Radit dan Vina bergantian. Sepasang suami istri itu menganggukkan kepala bersamaan. Papa Hendrik pun menarik nafas panjang. Vina dan Radit harap harap cemas.


Papa Hendrik menyeruput kopinya. Kemudian meletakkan gelas itu perlahan di atas. Gerakan yang lambat bagi Vina dan Radit karena jawaban yang memuaskan yang ditunggu oleh Radit dan Vina masih belum keluar dari mulut sang papa mertua. Radit sudah mulai gelisah. Radit takut. Sang papa mertua tidak mengijinkan Vina dan ketiga bayi kembarnya keluar dari rumah itu. Dirinya dan Vina memang sudah saling mencintai. Tapi tingkah mereka saat di rumah papa Hendrik biasa biasa saja.


Radit benar benar mengerti jika Vina dan ketiga bayi adalah tanggung jawab dirinya. Tapi Radit juga sadar bahwa dia butuh ijin papa Hendrik untuk keluar dari rumah mertuanya. Hendrik ingin menunjukkan bahwa dirinya memang sudah benar benar berubah dan laki laki yang pantas untuk Vina dan ketiga bayi kembarnya. Radit tidak pernah lagi menunjukkan sisi kesombongan.


Masa lalu mengajarkan Radit banyak hal. Termasuk untuk tidak menyombongkan kekayaan. Apalagi saat ini, perusahaan Radit tidak stabil. Radit menyadari jika harta juga termasuk hal yang tidak selamanya bisa bertahan. Radit ingin menunjukkan bahwa dirinya juga sangat mengharapkan sang papa mertua.


Radit memberanikan diri untuk memandang wajah papa mertuanya yang sepertinya berpikir keras. Setelah itu Radit menyenggol bahu Vina pelan. Berharap sang istri meyakinkan papa Hendrik untuk mengijinkan mereka pindah dari rumah itu. Vina mengangkat bahunya. Untuk yang satu ini. Vina tidak akan membantu Radit. Vina ingin melihat keseriusan Radit untuk meyakinkan papa Hendrik. Vina percaya. Apapun keputusan papanya itu yang terbaik untuk dirinya. Setelah masalah Vina dan Radit sebelumnya. Papa Hendrik selalu berpikir matang matang untuk memutuskannya sesuatu.


"Papa. Bolehkan aku membawa Vina dan si kembar pindah dari rumah ini," tanya Radit lagi. Papa Hendrik kembali menarik nafas panjang. Dari caranya jelas terlihat jika Hendrik tidak ingin mengijinkan Vina dan ketiga cucunya pindah.


"Aku juga berencana mengajak papa dan mama pindah ke sana pa. Tidak ada maksud lain atas rencana kepindahan ini," kata Radit sambil menatap papa mertuanya dengan tatapan memohon. Berharap papa Hendrik setuju.


"Kapan rencana pindah?" tanya Hendrik akhirnya.


"Siang ini pa," jawab Radit.


"Tidak boleh," jawab papa Hendrik dengan tegas dan suara seperti membentak. Vina dan Radit terkejut dan tidak berani lagi untuk menatap sang papa mertua. Rasa takut dan kecewa bercampur jadi satu di hati sepasang suami istri itu. Tapi mereka berdua tidak punya nyali untuk berkata lagi.


Radit kini menunduk. Jawaban papa Hendrik sudah jelas tidak mengijinkan Vina dan ketiga buah hatinya keluar dari rumah itu. Impian untuk hidup bersama keluarga kecilnya tanpa menumpang di rumah mertua kini sudah pupus. Radit tidak berani untuk berkata lagi. Dia takut jika terlalu banyak berbicara membuatnya Hendrik tidak bersimpati. Masa lalu juga berakibat fatal untuk kehidupannya yang sekarang. Vina sudah menerima dirinya dan mereka saling mencintai tapi itu tidak jaminan untuk papa Hendrik langsung percaya kepadanya.


Radio menarik nafas panjang. Dia pasrah akan keputusan mertuanya. Radit merasa butuh waktu entah berapa lama lagi untuk meyakinkan sang papa mertua percaya akan perubahan dirinya. Dia akan menurut jika papa mertua meminta lebih lama lagi? untuk tinggal di rumah ini.


Sama seperti Radit, Vina juga tidak berani untuk membantah perkataan papanya. Walau sebenarnya Vina kecewa tapi dia berusaha untuk menutupinya. Dia ingin pindah ke sana bukan hanya sekedar supaya bisa bebas dengan Radit. Tapi Vina pindah ke sana karena Vina juga merasa Radit perlu ruangan khusus jika bekerja dari rumah. Selama tinggal di rumah ini. Vina dapat melihat Radit tidak konsen jika bekerja di rumah. Selain karena tidak ada ruangan khusus. Radit juga terganggu dengan suara tangisan ketiga bayinya yang bisa memenuhi sekeliling rumah. Berbeda jika di rumah yang di jalan kenangan. Rumah itu luas.


"Baiklah papa. Kalau tidak bisa," kata Radit pasrah. Hendrik kembali menyeruput kopinya.


"Tidak bisa pindah siang ini tapi besok bisa pindah," kata Hendrik tenang. Radit menatap papa mertuanya bingung. Vina juga mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya kami bisa pindah pa?" tanya Radit senang.


"Tidak ada perkataan ulang. Kalau kamu tidak mendengar apa yang aku katakan tadi. Salahkan telinga kamu. Jangan bertanya lagi kepada papa."


"Iya nak Radit. Kata papa kalian pindah besok. Jangan siang ini," kata mama Rita untuk memperjelas perkataan suaminya. Radit merasa senang dan berdiri dari duduknya. Dia memegang tangan papa mertuanya dan mencium punggung tangan itu. Dia juga melakukan hal yang sama kepada mama mertuanya. Vina hanya tersenyum mendengar keputusan papanya. Vina merasa lega.


"Terima kasih papa, mama."


"Terimakasih itu tidak cukup Radit. Bahagiakan putri dan ketiga cucuku," jawab papa Hendrik. Hendrik sebenarnya berat untuk melepaskan putri dan cucu-cucunya pindah. Bukan karena tidak percaya kepada Radit akan perubahan sikapnya. Tapi Hendrik membayangkan rumah sepi tanpa para cucunya. Beberapa bulan bersama cucu cucunya. Hendrik merasa bahagia. Tawa dan tangisan ketiga cucunya adalah penambah semangat untuk dirinya.


Tapi Hendrik juga menyadari. Sedalam apapun dia menyayangi putri dan ketiga cucunya. Tetap lah Radit yang lebih berhak dan bertanggung jawab. Hendrik juga bahagia dengan perubahan menantunya.


"Aku akan berusaha untuk memberi yang terbaik untuk mereka pa," jawab Radit pelan. Dia tidak berani untuk berjanji. Dari segi kasih sayang dan cinta. Radit sangat yakin untuk melimpahkan kasih sayang terhadap istri dan si kembar. Tapi dari segi materi. Saat ini, Radit belum begitu yakin. Walau perusahaannya sudah mulai membaik. Radit masih pesimis untuk mengembalikan kejayaan perusahaannya dalam waktu dekat ini. Kecuali ada keajaiban.

__ADS_1


"Kebahagiaan itu tidak dari segi materi saja Radit. Kamu setia dan memperlakukan keluarga kamu dengan dipenuhi kasih sayang. Itu sudah termasuk kebahagiaan. Asal kamu setia aku rasa Vina pasti menerima kamu apa adanya. Tapi jika kamu tidak setia. Sebanyak apapun harta mu. Aku tidak jamin Vina bisa menerimanya," nasehat papa Hendrik. Hendrik tidak ingin lagi terlalu banyak menasehati Radit. Hendrik menganggap nasehat ini sudah mewakili semua hal hal untuk menjaga rumah tangga tetap awet.


Radit membenarkan apa yang dikatakan papa mertuanya. Vina bahkan membuka dirinya ketika mengetahui Radit mengalami masalah dalam perusahaan. Sebelum Hendrik menasehatinya seperti ini. Radit juga berjanji dalam hati akan selalu setia kepada Vina.


"Aku berjanji setia papa," jawab Radit pasti.


"Tapi ada satu hal yang harus kalian ingat. Jangan memberikan adik untuk si kembar. Selain masih terlalu dekat jaraknya. Kehamilan Vina yang sebelumnya lemah harus menunggu dua tahun untuk boleh hamil kembali. Kalian harus menunda dulu," kata mama Rita. Ini bukan sekedar nasehat dari mama Rita. Tapi ini adalah peringatan dokter untuk Vina ketika di rumah sakit sewaktu melahirkan si kembar.


"Iya Radit. Papa masih ingat peringatan dokter itu. Aku tidak ingin putriku menderita kesakitan apalagi mati konyol karena hamil dalam jarak yang sangat dekat. Ingat. Si kembar masih berumur enam bulan," kata papa Hendrik tegas. Vina sudah menunduk. Kemarin sore mereka sudah bercinta sampai beberapa ronde tanpa pengaman. Seketika, Vina merasa takut. Takut jika percintaan mereka kemarin membuahkan hasil.


Radit juga demikian. Entah mengapa perkataan kedua mertuanya membuat Radit merasa takut. Dia juga tidak ingin melihat Vina menderita lagi. Dia juga trauma melihat penderitaan Vina sewaktu mengandung si kembar. Membayangkan itu saja Radit sudah ketakutan apalagi membayangkan jika mati konyol seperti perkataan papa mertuanya. Jika begini. Radit berharap dirinya mandul karena benturan tiga bulan yang lalu.


"Kamu kenapa?" tanya papa Rahmat yang melihat Radit gelisah. Bahkan telapak tangannya berkeringat karena ketakutan. Dibandingkan Vina, Radit lebih takut dan cemas.


"Sakit perut papa. Aku ke kamar dulu," pamit Radit sambil berlalu dari ruang tamu. Dia benar benar sakit perut karena perkataan kedua mertuanya. Hendrik juga melangkah keluar dari ruang tamu itu. Dia menuju kamar baby sitter. karena ketiga cucunya berada di kamar itu. Kini mas Rita dan Vina yang tinggal di ruang tamu.


"Mama, bagaimana kalau kalian ikut pindah dengan kami ke rumah itu," tanya Vina. Jauh di lubuk hatinya. Vina berharap kedua orang tuanya ikut pindah ke sana. Karena jika dirinya keluar dari rumah. Vina merasa tenang meninggalkan ketiga bayinya.


"Tidak boleh seperti itu nak. Kamu harus ikut suami. Tidak boleh terus lengket di ketiak mama. Kami tidak ingin Radit merasa tidak dipercaya karena kami mengikuti kalian pindah," jawab mama Rita. Vina menceritakan alasannya mengajak kedua orangtuanya untuk pindah.


"Tanya kedua mertua kamu nak. Mana tahu mereka bersedia tinggal di rumah kalian. Kamu tidak perlu takut. Anisa mama mertua kamu adalah wanita yang baik. Kamu jangan takut tinggal satu rumah dengan mertua," kata mama Rita yang melihat Vina terkejut dengan sarannya.


"Aku tidak jamin kedua mertua aku bersedia tinggal bersama kami ma."


"Aku ke kamar dulu ma," kata Vina. Mama Ratih mengangguk.


"Bunda. Aku takut," kata Radit setelah Vina masuk ke kamar. Radit kini memeluk Vina dengan erat.


"Takut apa yah?"


"Takut bunda hamil," kata Radit sedih. Vina terkekeh sambil melepaskan pelukan suaminya.


"Kita kok seperti pasangan tidak halal yah. Masa aku hamil ayah takut."


"Bunda tidak dengar tadi apa yang dikatakan papa dan mama?"


"Dengar yah."


"Bunda tidak takut?"


"Apa yang perlu ditakutkan. Aku kan tidak sedang hamil sekarang,"


"Aku takut. Kegiatan semalam sore jadi bunda," jawab Radit penuh kekhawatiran. Vina tersenyum sambil membelai wajah suaminya.

__ADS_1


"Sudah beberapa kali kita melakukannya. Aku tidak hamil kan?" kata Vina tenang. Radit sedikit lega. Tapi mengingat kegiatan mereka semalam yang panas dibandingkan dengan jika mereka bercinta di rumah yang secepat kilat. Radit kembali gelisah. Dia menunju lemari dan mengambil kaos dan celana training milik Vina. Karena dia tidak mempunyai celana training di rumah ini. Radit mengambil celana pendek.


"Untuk apa ini yah?" tanya Vina bingung. Radit sudah meletakkan kaos dan celana tersebut di samping Vina yang duduk di tepi ranjang. Radit sudah memakai pakaian kantor dan kini sedang mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek.


"Ganti pakaian kamu Bun. Aku temani kamu joging sebentar di sekitar kompleks."


"Tapi ini sudah jam delapan yah. Kamu tidak ke kantor. Lagian untuk apa jagung."


"Aku takut benihku berhasil lengket dengan benih kamu Bun. Kita harus mencegahnya dengan berolahraga. Aku takut kamu hamil," kata Radit. Dia masih mengingat pelajaran biologi yang dipelajari sewaktu duduk di sekolah menengah umum. Benih itu jika bertemu akan mengalami pembuahan dan akan menjadi zigot. Dari zigot akan menjadi janin. Sampai pagi ini belum ada 24 jam sejak kegiatan semalam.


"Kok sampai segitunya yah. Sudah ayah. Ganti baju lagi. Aku akan joging sendiri. Ayah berangkat saja ke kantor," jawab Vina beralasan. Jam segini joging yang ada seperti kurang kerjaan. Vina berencana jika Radit ke kantor untuk mengurus di kembar daripada joging. Mumpung hari ini dia tidak ke kampus.


"Tidak boleh. Cepat ganti bajunya Bun," jawab Radit. Dia membantu Vina untuk melepaskan pakaiannya.


Ceklek


"Apa yang kalian lakukan," tanya mama Rita ketika membuka pintu melihat Radit membantu Vina membuka baju. Vina dan Radit gelagapan.


"Kami mau joging mah," jawab Vina tapi mama Rita sudah berjalan menjauhi kamar Vina karena malu melihat putri dan mantunya seperti itu.


"Tuh kan. Entah ngapain joging jam segini," kata Vina cemberut sambil memukul tangan Radit yang sudah berhasil membuka baju bagian atasnya kemudian Radit memakaikan kaos itu ke tubuh istrinya.


"Nurut bunda. Aku tidak ingin terjadi apa apa sama kamu," kata Radit sambil mengambil sepatu olahraga. Radit memakaikan sepatu itu ke kaki Vina kemudian memakai sepatu untuk dirinya sendiri. Radit menggandeng tangan Vina keluar dari kamar. Hendrik yang duduk di ruang tamu sampai mengucek matanya untuk memastikan jika yang dilihatnya adalah Radit dan Vina.


"Untuk apa berpakaian seperti itu?" tanya Hendrik heran. Dia mengingat pakaian Radit sebelumnya sudah rapi hendak ke kantor.


"Vina program penurunan berat badan yah. Aku mendukung dengan menemani joging," jawab Radit. Tidak mungkin dia memberi alasan yang sebenarnya. Vina hanya mengangguk.


"Perusahaan jauh lebih penting daripada menemani Vina joging Radit. Pergilah ke kantor," kata Hendrik.


"Hanya satu jam pa. Lagi pula. Hari ini tidak ada meeting pa. Jadi aman kalau terlambat ke kantor."


"Setidaknya kamu memberi contoh kepada karyawan kamu tentang disiplin waktu Radit."


"Iya papa. Hanya satu hari ini saja," jawab Radit pelan. Dalam hatinya berkata. Hidup Vina jauh dari segalanya.


Radit dan Vina berlari kecil di sekitar kompleks. Hampir satu jam mereka melakukan olahraga ringan itu. Mereka berdiri di bawah pohon besar ketika keringat mereka sudah bercucuran.


"Aku tidak ingin kami hamil lagi sayang. Cukup tiga anak. Mereka bertiga bisa kita didik dengan baik dan kita sekolahkan tinggi itu sudah cukup bagiku," kata Radit sambil merangkul bahu Vina.


"Kenapa yah?"


"Karena aku tidak ingin melihat kamu menderita karena hamil. Aku tidak ingin melihat kamu mati konyol. Cukup tiga anak bun," jawab Radit. Vina meletakkan tangannya di pinggang sang suami. Kata kata itu seperti menggambarkan rasa takut kehilangan dirinya. Vina merasakan hatinya menghangat mendengar perkataan Radit. Vina memejamkan matanya ketika merasakan bibir Radit mengecup kepalanya cukup lama.

__ADS_1


"Biarkan seperti ini Bun," kata Radit ketika Vina hendak melepaskan pelukan itu. Vina menurut bahkan Vina memeluk suaminya semakin erat. Mereka tidak perduli dengan tatapan orang orang yang lewat.


__ADS_2