
Andre melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orangtuanya. Dia harus memberi kepastian kepada papa Rahmat atas keputusan yang berkaitan dengan pendidikan yang akan ditempuhnya.
"Kita ke rumah papa sekarang?" tanya Sinta setelah menyadari jalan yang mereka lalui menuju rumah mertuanya.
"Iya, Papa harus tahu bahwa aku akan mengambil doktor di kota ini saja. Lebih cepat papa mengetahui itu lebih bagus daripada beliau berharap aku akan mengambil gelar doktor di luar negeri," jawab Andre. Sinta mengangguk setuju. Tapi di hatinya timbul rasa khawatir. Sinta Khawatir papa mertuanya akan memaksa Andre harus kuliah di luar negeri. Sinta jelas mengetahui urusan universitas, papa mertuanya selalu serius dan tidak main main.
"Apa ada bedanya mengambil gelar doktor di dalam negeri dengan di luar negeri Pi?" tanya Sinta.
"Kalau aku pribadi sih. Menurutku sama saja. Tapi masyarakat yang selalu menilai berbeda. Sebagian masyarakat akan menilai lulusan dari luar negeri itu jauh lebih hebat dibandingkan lulusan dari dalam negeri. Padahal menurut aku sama saja. Yang membedakan hanya pengalaman saja. Ilmu pasti sama. Dan itulah alasan papa menyuruh aku untuk mengambil gelar doktor di luar negeri. Supaya pandangan masyarakat tentang universitas kita tetap baik. Karena rektor sekarang merupakan doktor lulusan dari luar negeri."
Sinta merasa gelisah setelah mendengar penjelasan Andre. Setelah mendengar itu, Sinta jadi pesimis jika Andre akan mengambil gelar doktor di kota ini. Permintaan papa Rahmat untuk mengambil doktor di luar negeri mempunyai alasan dan tujuan yang sangat tepat.
Sinta terdiam. Dia tidak meragukan ketulusan cinta Andre kepadanya. Jika papa Rahmat bersikeras menyuruh Andre ke luar negeri. Itu artinya dia juga harus berkorban. Mengorbankan kuliahnya untuk beberapa tahun kemudian. Sebenarnya jika dinilai dari kesejahteraan keluarga kecilnya. Sinta tidak perlu kuliah dan bekerja juga tidak apa apa. Andre adalah pria yang mapan dan pintar berbisnis. Hanya mengandalkan Andre sebagai tukang punggung keluarga tetap saja keluarga itu tidak berkekurangan.
Tapi Sinta masih mengingat tujuan datang ke kota ini. Dia tidak ingin kedua orangtuanya kecewa jika dia tidak secepatnya memberikan kebanggaan yakni gelar sarjana. Selain itu Sinta juga tidak ingin menjadi wanita yang hanya berdiam di rumah. Dia ingin menjadi wanita mandiri tanpa melupakan kewajibannya sebagai istri.
"Kenapa diam sayang?" tanya Andre. Sinta hanya tersenyum membalas pertanyaan suaminya.
"Tenang saja. Papa adalah orang yang bijaksana," kata Andre lagi. Dia seakan mengetahui apa yang ada di pikiran Sinta saat ini.
"Mana Airia. Kenapa tidak ikut?" tanya papa Rahmat ketika Sinta dan Andre sudah menginjakkan kaki di rumah papa Rahmat. Sinta menjelaskan jika mereka ke rumah langsung dari kampus tanpa pulang terlebih dahulu ke rumah.
Agnes terlihat cemberut. Keponakan perempuan satu satunya tidak ikut ke rumah ini membuat Agnes terdiam.
"Jangan cemberut begitu dek. Jelek," kata Andre sambil mengacak rambut adik perempuannya.
"Kalau kemari itu jangan seperti pasangan yang pacaran. Lain kali kalian berdua tidak bisa menginjakkan kaki di rumah ini jika tidak membawa Airia dan Andra," kata Agnes marah.
"Iya baiklah adikku yang cerewet. Sebagai gantinya. Aku akan mengantar Airia besok dan dia bisa menginap satu malam di rumah ini," jawab Andre membuat Agnes senang. Airia memang mempunyai tempat tersendiri di hati keluarga besar Papa Rahmat. Selain Airia adalah cucu perempuan satu satunya. Kisahnya membuat keluarga besar papa Rahmat menyayangi batita itu. Apalagi Airia sangat bijak dan menggemaskan. Sehingga batita itu seperti hidup nomaden. Di rumah orangtuanya, rumah Bayu, rumah Andi bahkan di rumah papa Rahmat. Dan Airia tidak rewel. Membuat keluarga papa Rahmat selalu merindukan batita tersebut.
"Mama tidak mau hanya satu malam. Kemarin saja di rumah Andi dia sampai tiga malam. Masa di rumah neneknya hanya satu malam. Harus sama seperti yang di rumah Andi. Tiga malam," kata mama Ningsih tegas.
"Lama lama aku kasihan lihat putriku itu ma. Berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Apalagi memanggil kak Bayu dan kak Andi sekarang dengan sebutan papa. Lama lama dia akan melupakan aku papa kandungnya," kata Andre. Airia memang terlihat senang jika diajak oleh Andi dan Bayu ke rumah mereka.
"Jangan berbicara begitu. Andi dan Bayu sangat menyayangi Airia. Lagipula Airia memanggil kedua kakak kamu itu papa karena mengikuti Kenzo dan Rey. Bahkan ke papa sendiri dia memanggil papa karena mengikuti Agnes," kata papa Rahmat. Sinta tertawa mendengar penuturan papa mertuanya. Sinta sangat senang karena Airia mendapatkan kasih sayang yang tulus dari semua anggota keluarga papa Rahmat. Tapi Andre justru merasakan hal berbeda. Dia merasa jadi tidak istimewa bagi Airia. Tapi dia tidak bisa melarang. Karena terkadang justru Airia yang minta ikut ke rumah kakak kakaknya.
"Papa, kedatangan kami kemari untuk memberitahukan keputusan aku pa. Aku tidak bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri. Aku memutuskan mengambil gelar doktor di kota ini saja," kata Andre.
__ADS_1
"Tidak bisa Andre. Kamu adalah calon pimpinan tertinggi di universitas itu. Tidak mungkin yang menjadi bawahan kamu yang keluaran doktor dari luar. Semua doktor di universitas kita adalah lulusan dari luar negeri," jawab papa Rahmat tegas. Perkataan tanpa bertanya apa yang menjadi alasan Andre menolak melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Sinta mendengar itu seperti keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
"Papa belum mendengar alasan aku. Maaf pa. Keputusanku sudah bulat," kata Andre lagi. Sinta merasakan jantungnya berdebar menunggu jawaban dari papa mertuanya.
"Kalau begitu katakan apa yang menjadi alasan kamu."
Aku tidak bisa jauh dari keluargaku."
"Alasan kuno. Mereka bisa ikut ke luar negeri. Papa masih sanggup membiayai hidup kalian berlima di sana. Agnes juga akan melanjutkan pendidikan untuk mengambil strata dua."
Sinta spontan menatap Agnes yang duduk dekat papa mertuanya. Agnes dalam waktu dekat ini memang akan meja hijau dan segera wisuda.
"Tapi pa. Sinta masih kuliah. Kalau aku disuruh ke luar negeri duluan. Aku tidak mau. Kecuali kalau Sinta lulus kuliah terlebih dahulu," kata Andre lagi. Sinta menunduk kepalanya. Namanya sudah disebut yang menjadi alasan Andre untuk menunda berangkat ke luar negeri membuat Sinta merasa tidak enak hati. Bagaimanapun Sinta tidak ingin dianggap orang yang mempengaruhi Andre dengan keputusan ini.
"Tidak apa apa Pi. Berangkatlah terlebih dahulu dengan Agnes. Kami bertiga bisa menyusul kalian setelah aku lulus kuliah," kata Sinta. Jauh di lubuk hatinya Sinta merasa lega melepas Andre ke luar negeri terlebih dahulu karena bersama Agnes. Saran yang sudah diucapkan kepada Andre sebelumnya kembali terucap. Bukan untuk mencari muka di hadapan kedua mertuanya. Tapi karena Sinta merasa jika solusi seperti itulah yang cocok bagi mereka saat ini. Setelah mendengar perkataan papa mertuanya. Sinta juga merasa jika Andre perlu melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
"Tidak sayang. Aku tidak bisa. Kita harus pergi bersama sama. Kalau tidak seperti yang aku katakan di mobil tadi. Aku rela universitas itu diserahkan kepada kak Bayu atau kak Andi. Aku juga rela kalau hanya tenaga pengajar biasa," jawab Andre serius. Tidak ada keraguan di setiap kata kata yang keluar dari mulutnya. Demi apapun Andre tidak rela meninggalkan keluarga kecilnya walau hanya beberapa hari apalagi beberapa bulan.
"Budak cinta tingkat dewa," kata papa Rahmat kemudian terkekeh. Mama Ningsih dan Agnes juga ikut ikutan terkekeh. Cinta Andre sangat terlihat tulus dan dalam kepada Sinta. Melihat sikap Andre. Senyum terbit di bibir mama Ningsih. Dia begitu bahagia melihat putra bungsunya yang menatap Sinta penuh cinta. Hal seperti ini yang diharapkan dari ketiga putranya. Bisa mencintai dan menghargai istri dengan tulus.
"Semoga saja Ronal bisa seperti ketiga kakakku nantinya," kata Agnes. Sinta dan Andre spontan menatap Agnes. Wanita itu juga memukul mulutnya yang keceplosan menyebut nama Ronal.
"Kamu ada hubungan dengan Ronal?" tanya Andre. Sinta menatap Agnes menunggu jawaban adik iparnya. Sinta senang jika Ronal dan Agnes berjodoh. Dia jelas mengetahui Ronal seperti apa. Pria baik dan romantis juga setia.
"Siapa Ronal?" tanya mama Ningsih.
"Itu ma. Mahasiswaku dan juga sahabat dari Sinta," jawab Andre. Sama seperti Sinta. Andre juga senang jika Agnes dan Ronal berjodoh.
"Ayo ngaku Agnes," kata Sinta.
"Masih pendekatan," jawab Agnes singkat.
"Bawa ke rumah nak. Papa perlu mengenalnya walau masih pendekatan," kata papa Rahmat. Dia ingin mengenal pria yang dekat dengan putri satu-satunya. Sebagai orang tua. Papa Rahmat ingin mempunyai menantu laki laki yang baik seperti ketiga putranya. Terlepas dari Andre yang pernah mempunyai sisi kelam.
"Nanti papa. Kalau ada waktu. Sekarang fokus saja ke kak Andre," kata Agnes untuk mengalihkan pembicaraan. Dia masih malu-malu jika asmara tercium oleh keluarga besar. Sinta kembali merasakan jantungnya berdebar.
"Bayu dan Andi sudah mempunyai perusahaan masing masing. Dan itu tidak lepas dari bantuan papa baik dari segi materi dan moril. Universitas itu sudah pasti hak milik kamu dan keluarga kecilmu. Untuk Agnes, papa juga sudah pikirkan apa yang hendak kami wariskan kepadanya. Papa hanya berusaha adil untuk kalian berempat. Tentang melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Itu keputusan papa yang tidak bisa dibantah. Apa kata dunia jika putra pemilik universitas hanya tamatan doktor dari dalam negeri. Kalian berangkat setelah Sinta lulus kuliah. Papa juga berencana jika Sinta dan Andre bersedia. Sinta akan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Sinta dan Agnes bisa satu universitas atau kalian bertiga bisa satu universitas."
__ADS_1
Sinta mendongak menatap papa mertuanya. Wajahnya menunjukkan antara percaya dan tidak terhadap apa yang didengarnya saat ini. Papa Rahmat bukan hanya setuju jika Andre melanjutkan kuliah di luar negeri setelah dirinya lulus kuliah. Papa Rahmat bahkan menawari dirinya untuk melanjutkan kuliah. Satu hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Membayangkan tinggal di luar negeri saja tidak pernah terpikirkan olehnya apalagi menuntut ilmu di sana.
"Aku sih sependapat dengan papa. Bagaimana menurut kamu sayang?" tanya Andre. Sinta yang sempat larut dalam pemikirannya tersentak. Dia tidak ingin menolak. Karena dia juga ingin menjadi wanita yang berpendidikan tinggi. Dia juga ragu untuk mengiyakan, mengingat biaya hidup dan biaya pendidikan yang sangat tinggi di luar negeri.
"Terimakasih papa atas tawarannya. Aku sangat senang. Aku akan belajar sungguh sungguh supaya bisa mendapat beasiswa dari kampus untuk biaya kuliahku nantinya," kata Sinta akhirnya setelah berpikir sebentar. Dari kampus memang ada program beasiswa mahasiswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan di dalam maupun di luar negeri. Sinta mengetahui jika penyeleksian untuk itu sangat ketat. Sinta akan berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa itu. Perkataan papa Rahmat membuka pikirannya. Sinta akan berusaha untuk itu selagi ada kesempatan untuk tinggal di luar negeri.
"Belajarlah yang sungguh sungguh nak. Tentang beasiswa dari kampus. Biarkan orang lain yang membutuhkan itu. Kalian bertiga kuliah di luar negeri itu semua tanggung jawab papa. Selagi papa masih hidup pergunakan setiap kesempatan yang papa berikan. Papa memang sudah menyiapkan dana untuk pendidikan Andre dan Agnes sebelumnya. Dan untuk pendidikan kamu. Papa masih mempunyai tabungan untuk itu," kata papa Rahmat lagi. Pria itu semakin menjadi papa idaman bagi Andre, Sinta dan Agnes.
"Terimakasih papa," kata Sinta sambil mendekat ke papa Rahmat. Sinta mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan papa mertua. Sinta menciumi punggung tangan mertuanya sambil menangis. Sinta terharu akan kasih sayang mertuanya yang menganggap dirinya seperti putri kandung sendiri. Papa Rahmat mengelus kepala menantunya. Sinta berpindah ke hadapan mama Ningsih. Dia melakukan hal yang sama kepadanya mama mertuanya. Sinta masih menangis. Mama Ningsih memeluk Sinta dengan erat.
"Kamu wanita yang baik nak. Dan sepantasnya mendapatkan kebaikan juga. Mama menyayangi kamu seperti kedua kakak ipar kamu dan Agnes."
"Terimakasih ma. Terimakasih banyak," kata Sinta. Mama Ningsih mengangguk. Wanita tua itu juga sangat bahagia melihat kebahagiaan keluarga putera bungsunya. Sebagai orang tua dia menginginkan putra putra mendapatkan wanita yang baik dan tulus. Keinginan terkabul. Tiga putranya mendapatkan wanita sesuai dengan keinginannya.
Andre juga merasakan hatinya penuh kebahagiaan. Papa Rahmat adalah seorang Papa yang penuh pengertian dan bijaksana. Andre juga mendekat kepada papa Rahmat. Dia memeluk pria tua itu yang menjadi teladan bagi dirinya sendiri.
Andre bersimpuh di hadapan pria tua itu. Andre melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Sinta. Kemudian Andre juga memeluk mama Ningsi
"Rasanya umur mama dan papa semakin panjang melihat kamu bahagia nak," kata mama Ningsih menyambut pelukan Andre. Andre mengaminkan perkataan mamanya.
"Aku tidak dipeluk nih," kata Agnes. Sinta terkekeh dengan air mata yang masih berhamburan keluar. Air mata bahagia itu seakan enggan berhenti keluar dari kedua matanya. Sinta merentangkan tangannya dan Agnes menyambut. Dua wanita seumuran itu saling berpelukan.
"Terimakasih Agnes," kata Sinta tulus. Agnes adalah pembuka jalan bagi kebahagiaan Andre dan Sinta. Sinta sungguh menyadari hal itu. Andaikan Agnes tidak bertindak cepat melakukan test DNA. Tidak tahu apa yang terjadi dengan Sinta dan Airia saat ini.
"Banyak banyak belajar. Perbanyak perbendaharaan kata bahasa Inggris. Kalau bisa ambil kursus bahasa Inggris mulai besok. Kuliah di luar negeri tidak bisa hanya mengetahui good morning dan good night saja," kata Agnes setelah mereka melepaskan pelukan. Sinta memukul lengan Agnes.
"Jangan sepele ya. Kalau hanya percakapan sehari-hari aku bisa bahasa Inggris. Tanya mas Andre," kata Sinta sambil mengusap air matanya. Andre hanya mengangguk membenarkan perkataan istrinya. Andre menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari di rumah. Dan ternyata itu berguna bagi Sinta. Sinta hanya perlu memperdalam bahasa Inggris supaya tidak kewalahan nanti.
"Pa, untuk biaya kami di luar negeri. Papa bisa hanya memberikan setengahnya. Kami juga punya usaha di kota ini yang bisa menutupi sebagian biaya hidup kami di sana. Aku akan meminta kak Andi untuk menghandle usaha itu selama kami di luar negeri nantinya," kata Andre. Keluarga besarnya memang belum mengetahui toko roti dan bengkel besar miliknya. Hanya bengkel yang diketahui oleh Agnes.
"Usaha apa nak?" tanya papa Rahmat senang.
" Cake n bakery dan bengkel pa."
"Jadi kue kue yang sering kalian bawa kemari itu dari toko kalian?" tanya mama Ningsih senang. Sinta dan Andre mengangguk bersamaan.
"Bagus. Papa senang mendengarnya. Tapi tetap saja. Papa akan membiayai pendidikan kalian bertiga di luar negeri," kata papa Rahmat senang. Dia tidak menyangka dibalik sifat putra bungsunya yang pernah mencoreng wajah ternyata Andre memiliki jiwa bisnis walau tidak usahanya tidak sebesar usaha Bayu dan Andi. Papa Rahmat berkali kali mengucap syukur atas pencapaian putra putra terutama Andre.
__ADS_1