
Andre merebahkan tubuhnya di ranjang. Senyum di wajahnya tidak memudar membayangkan tidur bersama malam ini dengan Sinta. Cukup lama dia menantikan kesempatan ini dan baru malam ini terwujud. Sedangkan Sinta, dia agak sungkan untuk berbaring. Walaupun Andre suaminya sekarang untuk tidur satu ranjang bersama, Sinta merasa malu dan gugup. Apalagi tadi Andre menciumnya di sofa. Tidak tertutup kemungkinan bila malam ini Andre kembali menciumnya.
"Sinta, kemari!" panggil Andre. Sedari tadi Sinta pura pura sibuk merapikan baju Airia. Sinta berharap Andre cepat terlelap dengan demikian dia bisa menyusul untuk tidur.
"Duluan saja tidur mas, aku mau ke kamar mandi lagi untuk gosok gigi," jawab Sinta pelan. Dia takut Airia terbangun dan rewel. Andre tidak langsung tidur. Dia memainkan ponselnya di ranjang. Sinta mengawasi Andre lewat ekor matanya. Pria itu masih saja belum tidur. Mau tidak mau Sinta masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi.
Sinta mendekat ke ranjang. Dia merebahkan tubuh di paling pinggir ranjang dan membelakangi Andre yang masih asyik bermain ponsel.Tiba tiba Sinta merasakan tubuhnya dipeluk Andre.
"Biarkan seperti ini, aku ingin mengulang masa masa dulu," kata Andre sambil memeluk Sinta.
"Kamu mau mengulang masa dimana kamu menjadikan aku simpanan kamu?" tanya Sinta tanpa membalikkan badan. Andre terdiam. Dia tidak suka Sinta bertanya seperti itu.
"Bukan seperti itu maksud aku Sinta, aku hanya mengulang kebahagiaan kita di ranjang ini Seperti dulu. Bercanda dan tertawa sebelum tidur. Jujur, selama berpisah dari kamu. Aku sangat merindukan momen itu. Aku tidak berniat sama sekali mau menjadikan kamu simpanan lagi. Kamu istri sah aku. Bahkan ketika Cindy masih istri ku. Aku berniat mengadakan resepsi dan mengundang tamu yang banyak supaya semua orang tahu. Bahwa kamu adalah istriku,"
"Kenapa kamu tidak mengadakan resepsi itu mas?"
"Kamu yang tidak mau,"
"Menurut kamu, apa aku wajar mengadakan pesta pernikahan yang mewah sementara orang tuaku tidak hadir?"
"Kamu yang tidak menginginkan orang tuamu untuk tidak hadir,"
"Iya betul. Tapi justru disitulah aku melihat ketidakseriusan kamu mas,"
"Sinta, aku serius,"
"Kalau Cindy tidak berselingkuh. Apa kamu juga mau memulai awal dengan aku?" tanya Sinta Dari tadi pertanyaan itu ingin ditanyakan ke Andre. Tapi entah mengapa Sinta bisa lupa.
"Apa kamu lupa, waktu kamu masih hamil aku pernah meminta rujuk kepadamu?"
"Aku tidak lupa mas, hanya saja aku ragu,"
"Aku serius Sinta, percayalah.
"Kalau kami serius. Aku ingin memberikan kami tantangan,"
"Tantangan apa?"
__ADS_1
"Jangan menyentuh aku tanpa ijinku. Apa kamu bersedia mas?"
Andre menelan ludahnya kasar. Tantangan Sinta sangat berat untuknya. Tadi sudah hampir gol tapi karena saran Andi, Andre gagal mencetak gol. Kini Sinta memberinya tantangan. Tantangan yang membuatnya berpuasa dan entah kapan bisa hasrat itu bisa disalurkan. Bukan tanpa alasan Sinta memberi Andre tantangan. Sinta tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Andre kepadanya. Walau Sinta mencintai Andre tetapi sebisa mungkin Sinta akan menahan diri supaya Andre tidak menyentuhnya. Bercinta dengan Andre, tanpa Andre mencintainya sama saja statusnya seperti dulu.
"Baiklah, tapi aku mau kita tidur satu ranjang. Dan biarkan aku memelukmu seperti ini," jawab Andre. Biarlah dia menahan hasrat yang penting Sinta tidak pergi darinya. Sinta merasa sungkan bila dipeluk Andre seperti ini.
"Kamu memeluk aku sama saja menyiksa dirimu mas. Kita tidur biasa saja. Aku disini dan kamu di sana. Kalau tidak, mas pindah saja ke kamar sebelah,"
"Oke baiklah. Asal kamu tahu. Ibarat besi, ini sudah karatan," kata Andre sambil melepaskan pelukannya dari Sinta. Seperti saran Sinta dia bergeser ke pinggir ranjang. Lagi lagi Andre menuruti perkataan Sinta. Biarlah dia tidur di ranjang yang sama tanpa berpelukan daripada harus kembali tidur di kamar sebelah.
"Maksudnya apa mas?" tanya Sinta heran dan bingung. Sinta sampai membalikkan badannya menghadap ke Andre.
"Aku sudah lama tidak menyentuh Cindy. Sejak aku mencurigai Cindy berselingkuh," jawab Andre pelan. Dia memandang langit langit kamar.
"Kirain tadi apa. Itu bukan urusan aku," jawab Sinta ketus. Dia kembali membalikkan badannya untuk membelakangi Andre. Sedangkan Andre tersenyum, Sinta sudah kembali mau berbicara dengannya.
Malam semakin larut, Sinta sudah terlelap sedangkan Andre belum bisa memejamkan mata. Andre bahkan tidak membangunkan Sinta ketika Airia harus minum susu. Andre sendiri yang membuat susu untuk Airia.
Besok paginya, Sinta terbangun. Dia melihat Andre yang masih terlelap. Sinta turun dari ranjang dan melihat Airia. Bayi itu juga masih terlelap. Sinta menepuk jidatnya ketika melihat botol susu yang sudah kosong di atas meja dekat box Airia. Saking terlelapnya, Airia yang menangis minta susu pun tidak didengarnya.
Seperti biasa sebelum melakukan aktivitasnya Sinta ke kamar mandi. Setelah memenuhi panggilan alam, Sinta melihat dirinya di cermin yang ada kamar mandi. Sinta terkejut, lehernya penuh dengan tanda merah yang melebar. Tanpa bertanya Sinta tahu itu ulah Andre. Sinta menyingkapkan piyamanya ke atas. Sinta semakin terkejut. Tanda merah itu jauh lebih banyak di dadanya daripada di leher. Sinta menghembuskan nafasnya kasar. Kesal dengan ulah Andre tetapi tidak bisa berbuat apa apa. Beruntung tadi malam dia memberi Andre tantangan.
Sinta keluar dari kamar mandi. Melakukan pekerjaan rumah kemudian masuk ke kamar mandi untuk membuat sarapan mereka bertiga.
"Pagi istriku," sapa Andre serak. Dia terbangun dan melihat Sinta tidak di ranjang. Membuat Andre menyusul ke dapur. Sinta tidak membalas sapaan Andre. Sinta hanya tersenyum kikuk. Andre menyapanya dengan sebutan istri membuat jantungnya berdebar. Sinta kembali melanjutkan kegiatannya membuat makanan khusus bayi untuk Airia.
"Aku akan memasak sarapan kita berdua, kamu lanjutkan membuat sarapan untuk putri kita," kata Andre lagi. Sinta kembali berdebar. Andre menyebut Airia dengan putri kita. Bukan seperti sebelumnya Andre selalu menyebut Airia dengan putriku.
"Baik mas,"
"Mau nasi goreng campur ikan teri nasi?" tanya Andre lagi. Andre membuka kulkas dan melihat persediaan bahan makanan dan melihat ada ikan teri nasi dan bahan lainnya untuk membuat nasi goreng campur ikan teri nasi.
"Mau mas," jawab Sinta senang. Nasi goreng buatan Andre memang sangat enak. Sinta sudah berkali-kali mencoba membuat nasi goreng tersebut, sama saja rasanya berbeda dengan nasi goreng buatan Andre. Sinta melirik ke Andre yang sudah sibuk mengupas bawang merah dan bahan lainnya. Pria itu terlihat serius sehingga dia tidak menyadari Sinta yang melirik kepadanya.
"Mandi dulu," kata Andre sambil mendorong Sinta pelan. Sinta yang tidak sabaran ingin makan nasi goreng buatan Andre langsung meletakkan piring yang sudah terlanjur diambilnya. Sinta masuk ke kamar dan melihat Airia yang sudah bangun. Akhirnya, Sinta memandikan Airia terlebih dahulu.
"Mas?" panggil Sinta sesudah keluar dari kamar. Dia berniat menitipkan Airia ke Andre. Andre yang mendengar dirinya dipanggil Sinta tentu saja sangat senang. Hampir dua Minggu tinggal di atap yang sama baru kali ini Sinta memanggil dirinya.
__ADS_1
"Ya, masih mandi," sahut Andre dari kamar mandi dekat dapur. Sinta akhirnya duduk di sofa menunggu Andre.
"Kok belum mandi?" tanya Andre ketika melihat Sinta masih belum mandi.
"Aku memandikan Airia terlebih dahulu mas, aku mau mandi. Cepatlah berpakaian. Gantian jaga Airia," jawab Sinta sambil memalingkan wajahnya. Dia merasa malu melihat Andre yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
Andre keluar dari kamar yang disulapnya menjadi kamar bayi. Andre sudah lengkap berpakaian kerja. Tangannya berisi tumpukan pakaian. Andre melewati ruang tamu dan masuk ke kamar Sinta dengan membawa seluruh pakaiannya ke kamar itu.
Setelah Sinta mandi. Kini mereka sudah di meja makan. Sinta sangat lahap sekali. Andre merasa senang dan bahagia. Hubungannya dengan Sinta sudah ada sedikit kemajuan.
"Apa kamu serius mau cuti kuliah," tanya Andre setelah mereka selesai makan.
"Iya mas. Aku merasa malu kalau langsung masuk kampus. Bagaimana pun kejadian aku dan Cindy masih jelas terekam di otak para mahasiswa, lagian aku sudah mengurus surat pindah," jawab Sinta pelan. Andre kembali merasa bersalah dengan jawaban Sinta.
"Kalau tentang surat pindah itu bisa dibatalkan, tetap kalau kamu mau. Aku akan memberikan sanksi kepada siapapun yang berusaha menghina atau mengejek kamu. Kembalilah ke kampus,"
"Tidak mas, aku tetap mau cuti saja. Kamu tidak bisa menutup setiap mulut yang sudah terlanjur menilai aku jelek."
"Aku akan mengeluarkan mereka, jika mereka berani menghina kamu."
"Jika itu terjadi. Itu artinya mas, akan berurusan dengan rektor. Aku tidak mau kamu dipecat karena masalah itu."
"Tidak akan ada yang berani memecat aku. Lihat ini," kata Andre menunjukkan buku pedoman mahasiswa yang diambilnya dari tas kerja. Andre membuka buku itu dan menunjukkan struktur organisasi yang tertera di buku tersebut.
"Lihat siapa nama ketua yayasannya," kata Andre. Sinta membaca apa yang disuruh Andre. Sinta mengerutkan keningnya. Nama itu sangat familiar baginya.
"Ini nama papa Rahmat kan?" tanya Sinta tidak percaya.
"Kamu benar. Papa adalah pemegang saham terbesar di universitas itu. Maka kembalilah ke kampus. Aku akan menggunakan kekuasaan papa jika ada yang berani menghina kamu. Untuk Airia aku berencana memperkerjakan baby sitter Alexa untuk menjadi baby sitter putri kita. Aku juga akan memperkerjakan art di rumah ini. Selanjutnya kamu hanya mengurus aku dan putri kita selain kuliah tentunya. Jualan online juga harus kamu hentikan," kata Andre tegas. Sinta hanya ternganga mendengar perkataan Andre. Dia tidak menyangka bahwa universitas tempatnya menimba ilmu adalah milik mertuanya. "Pantas dia punya banyak duit," batin Sinta dalam hati
"Baiklah mas, tapi untuk berjualan online. Aku sangat berat menghentikannya,"
"Kenapa?"
"Karena untungnya lumayan," jawab Sinta cepat. Dia sampai menegakkan kepala hanya untuk mengatakan itu.
"Ini tidak bisa hilang?" tanya Andre sambil menunjuk leher Sinta. Sinta cemberut sedangkan Andre terkekeh.
__ADS_1
Tantangan yang kamu berikan terlalu berat, makanya curi curi kesempatan. Siap siap saja kamu tiap malam. Akan ada nyamuk besar yang siap menempel di situ," kata Andre lagi membuat Sinta menatapnya kesal. Andre kembali terkekeh.