
Malam kedua Vina di rumah sakit. Tini dan Cici akan menemaninya. Mereka ada enam orang bersahabat. Dan semuanya sudah mengetahui keadaan Vina. Mereka sama sama memberikan dukungan ke Vina. Seperti dahulu mereka menjaga Sinta. Maka saat ini juga mereka bergiliran menjaga Vina di rumah sakit. Malam ini Tini dan Cici akan menemani Vina. Dan untuk besok malam giliran Indah dan Elsa. Sinta tidak dapat giliran karena kondisinya yang sudah bersuami dan lagi hamil muda.
Vina tentu saja masih sedih. Perlakuan Radit masih jelas terekam di otaknya. Vina sudah berusaha menghubungi keluarganya. Tapi jawaban papanya bukan seperti yang diharapkannya. Orang tua Vina bahkan marah marah dan tidak ingin melihat wajah Vina.
Vina merasa hancur, tidak dianggap oleh suami dan juga ditolak keluarga. Entah apa alasan papanya menolak dirinya hanya sekedar pulang ke rumah. Vina tidak menyangka, perjodohan dirinya dengan Radit adalah kehancuran hidupnya.
Vina menggenggam erat ponselnya. Baru saja dia menghubungi papanya. Tetapi justru itulah Vina merasa semakin tidak berharga. Kalau bisa memutar waktu dua menit yang lalu. Dia tidak akan menghubungi keluarganya. Vina kecewa. Vina hancur.
Vina melihat ponselnya. Ponsel itu berdering dengan panggilan nomor baru. Vina ragu untuk menjawab. Vina takut itu adalah Radit. Vina hanya memandangi ponsel itu sampai berhenti berdering. Hingga beberapa menit kemudian ponsel itu kembali berbunyi, tapi kali ini bukan panggilan melainkan notifikasi pesan. Dengan takut Vina membuka ponsel tersebut.
"Vina ini mama, mama mau bicara tolong di jawab ya,"
Vina akhirnya menjawab panggilan dari mamanya. Vina sedikit lega. Mamanya merasa khawatir akan keadaan Vina. Dan berjanji akan menjenguk Vina ke rumah sakit hari ini juga. Hanya berselang setengah jam, mamanya Vina sudah tiba di ruangan Vina.
"Vina, apa yang terjadi nak?" tanya mama Rita penuh khawatir. Mama Rita memeluk Vina sambil menangis. Dia tidak menyangka keadaan putrinya separah itu. Vina kemudian menceritakan apa yang terjadi atas dirinya. Mulai dari pemerkosaan pertama sampai Vina bisa berakhir di rumah sakit ini.
Mama Rita semakin menangis dan kecewa. Tangannya terkepal menahan amarah kepada Radit. Dia tidak menyangka bahwa Radit adalah laki laki kejam. Sebelum menikahi Vina, Radit seperti pria baik baik dan sopan. Ternyata itu hanya kedok untuk mengelabuhi keluarga Vina. Mama Rita menyesal. Keputusannya setuju menjodohkan Vina dengan Radit ternyata hanya untuk membuat Vina menderita. Mama Rita memeluk Vina dengan erat.
"Maafkan mama Vina, awalnya juga mama tidak setuju dengan perjodohan kamu dengan Radit. Tapi kedua mertua kamu memberi papa uang yang banyak. Sehingga papa gelap mata dan menerima perjodohan. Andaikan mama tahu akan seperti ini. Mama akan membantu kamu kabur saat itu," kata mama Rita penuh penyesalan. Air matanya tidak berhenti mengalir. Melihat Vina seperti ini, mama Rita lah yang lebih hancur.
"Penyesalan selalu datang terlambat ma, tiga bulan yang lalu aku sampai memohon untuk menolak perjodohan dengan Radit. Tapi mama dan papa mengabaikan aku. Semua sudah terjadi dan aku sudah hancur," jawab Vina pelan. Dari nada bicaranya tersirat rasa sakit yang amat dalam. Mama Rita semakin menyesal. Tiga bulan lalu, mama Rita malah membujuk Vina untuk menerima perjodohan itu. Vina sampai kabur. Tetapi setelah ditemukan oleh Radit. Mama Rita juga setuju Vina di kurung di rumah Radit sebelum pernikahan.
"Vina, tolong maafkan mama nak, mama sungguh menyesal,"
Mama Rita dan Vina sama sama menangis. Walau Vina sempat kesal akan orangtuanya. Vina tetaplah hanya seorang anak yang tidak tega melihat mamanya menangis. Vina menganggukkan kepala menerima permintaan maaf mamanya. Di saat Vina menderita, otaknya masih bisa berpikir untuk tidak durhaka kepada mamanya.
"Jangan pernah kembali ke Radit Vina, mama tidak Sudi punya menantu seperti dia. Memperkosa adalah perilaku binatang. Untuk janin kamu. Mama mohon. Rawatlah dia dengan baik. Walau ayahnya berperilaku binatang, tetap saja janin ini tidak berdosa. Ini cucu mama dan papa,"kata mama Rita sambil mengelus perut Vina.
Vina kembali menganggukkan kepala. Apa yang diucapkan mamanya, itulah yang terencana di otaknya. Mama Rita melepas kalungnya. Dia memberikan kalung itu ke Vina.
"Hanya mendengar namanya saja aku sudah muak mama, apalagi harus kembali kepadanya. Sampai kapanpun itu tidak pernah terjadi," jawab Vina penuh kebencian.
__ADS_1
"Kamu boleh menjualnya, pergilah ke daerah Xxx. Itu adalah kampung halaman mama. Kamu boleh bersembunyi di sana. Dan jangan lupa mengabari mama,"
"Simpanlah ini kembali ma, aku juga punya tabungan untuk bekal aku nanti. Para sahabat aku juga banyak membantu. Sebentar lagi Tini dan Cici akan datang. Pulanglah ma, aku takut papa curiga kalau mama kelamaan di sini. Dan tolong jangan beritahu siapapun tentang keberadaan aku ma. Jika Radit dan keluarganya datang ke rumah. Mama bersikaplah biasa saja. Supaya mereka tidak curiga bahwa kita bertemu. Aku tidak akan ke kampung halaman mama. Aku akan pergi ke tempat yang aku mau. Mama bisa bertanya kabar aku nanti ke Sinta dan kak Andre," kata Vina sedih. Dia mengembalikan kalung mama Rita. Mama Rita kembali memeluk Vina dan menciumi wajah wajah putrinya. Dia harus pulang secepatnya. Terlalu lama di sini hanya akan membuat suaminya curiga dan banyak bertanya.
"Mama pulang ya," kata mama Rita sedih. Vina mengangguk. Tidak terasa air mata mengalir di kedua pipinya.
Vina memandang punggung mama Rita yang sudah membuka pintu hendak pulang. Vina melambaikan tangan ketika mama Rita berbalik menoleh kepadanya. Hatinya sedih harus berpisah seperti itu dengan mamanya. Setelah ini, entah kapan lagi mereka bertemu. Vina kembali menangis sambil memandangi kalung pemberian mamanya. Mama Rita ngotot memberikan kalung itu untuk Vina.
"Vin....."
Vina menoleh ke arah pintu. Cici dan Sean sudah berdiri di sana. Vina berusaha duduk. Dia merasa segan berbaring telentang karena ada Sean. Vina mengusap pipinya. Vina mengelap sisa air matanya dengan ujung selimut.
"Jangan dipaksain Vina, berbaringlah," kata Sean. Sean menarik bangku dan memberikan satu untuk Cici dan satu untuk dirinya. Cici membuka kotak kue yang dibawanya dan menyodorkan kotak kue itu ke Vina.
"Dimakan Vina, kamu harus semangat. Ingat ada calon keponakan aku di sini," kata Cici sambil tersenyum. Dia menunjuk perut Vina. Vina mengambil sepotong kue dan memakannya.
"Terima kasih Cici." Cici mengangguk dan tersenyum.
"Belum Cici. Itu jaketnya ketinggalan tadi pagi," jawab Vina yang melihat arah mata Cici ke arah jaket yang terletak dekat kakinya. Sean tidak banyak bertanya lagi tentang Vina, dia sudah tahu dari Cici tentang Vina. Sama seperti Andre, Sean juga membenci perilaku sahabatnya itu yang lebih parah dari kelakuan Andre dulu.
Vina dan Cici terlihat sedang berbincang. Cici sengaja tidak menyinggung masalah Vina. Cici sengaja membahas liburan mereka sebelum Vina menikah. Vina tertawa, ketika Cici dengan sengaja mengingatkan berbagai kelucuan yang tercipta kala itu. Hal itu membuat Cici dan Sean senang. Melihat Vina tertawa, itu lebih bagus daripada harus menanyakan kembali kejadian yang menimpa Vina hingga masuk rumah sakit. Toh mereka sudah tahu cerita lengkapnya dari Sinta dan Andre. Apalagi ketika masuk tadi Cici masih bisa melihat Vina baru menangis.
Vina berhenti tertawa ketika pintu dibuka oleh Tini. Gadis tomboi itu sedikit terkejut dengan adanya Sean di ruangan itu. Dadanya berdebar. Cinta yang ada dihatinya untuk Sean masih bersemi indah di hatinya. Tini masih berdiri dan terdiam di dekat pintu. Dia tidak menyangka Sean akan ada di situ. Setelah melihat Sean dan Cici dekat. Tini sudah membulatkan tekad untuk menghilangkan rasa cinta itu dari hatinya. Tapi menghilangkan cinta itu tidak semudah membalikkan tangan. Jika bertemu Sean seperti ini. Tini masih merasakan dadanya berdebar. Jantungnya memang benar benar tidak bisa diajak kompromi.
"Selamat malam semua," sapa Tini untuk menghilangkan keterkejutannya. Pandangannya Vina fokus ke bed Vina. Dia sengaja tidak melihat Sean sama sekali. Tini takut, jika dia melihat Sean, Tini gugup dan Sean melihatnya. Sebisa mungkin, Tini akan menyembunyikan rasa cinta itu sebelum menghilang dari hatinya.
"Selamat malam Tini, kok lama baru datang. Kami sudah nungguin kamu dari tadi," jawab Sean sambil membalikkan badan melihat Tini yang masih dekat pintu. Sean tersenyum. Dan Tini masih mengagumi senyum itu dalam hatinya. Tini menatap Sean sekilas. Orang yang tidak diharapkan oleh Tini untuk menjawab justru menatapnya sekarang. Tini masih berhenti di depan pintu. Entah bagaimana rona wajahnya sekarang.
"Kedatangan aku tidak perlu ditunggu kak. Aku bukan seseorang yang penting untuk ditunggu," jawab Tini ketus. Dia berjalan mendekat ke bed Vina. Sebelum duduk dekat Cici, Tini melewati Sean. Tini memukul punggung Sean dengan keras. Hingga Sean mengaduh kesakitan.
"Sakit Tini," kata Sean sambil mengelus bekas pukulan Tini. Tini tidak perduli. Dengan santai dia mengambil sepotong kue yang kotaknya dipegang Cici. Dia memasukkan sepotong kue itu langsung ke mulutnya. Kemudian mengambil sepotong lagi. Belum habis kue yang di mulutnya Tini memasukkan kue yang baru saja diambilnya. Mulutnya penuh kue. Sean terkekeh melihat tingkah Tini.
__ADS_1
"Rasa sakit itu tidak sebanding dengan perasaan aku yang kamu abaikan kak. Aku tahu kamu tahu tentang perasaan aku kepada kamu. Tapi kamu membalasnya dengan dekat ke Cici sahabat aku sendiri." batin Tini dalam hati. Sambil mengunyah dia melihat Sean yang terkekeh.
"Segitu saja sudah mengeluh sakit. Payah. Lihat nih Vina. Disakiti sampai masuk rumah sakit saja tidak mengeluh sakit," kata Tini sambil menunjuk Vina. Vina dan Cici hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Tini.
Tini mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia duduk dilantai dengan kaki yang diluruskan. Tubuhnya bersandar pada dinding. Bangku untuk pengunjung hanya tersedia dua buah dan itu sudah diduduki Sean dan Cici. Tanpa menghiraukan yang lain. Tini memasangkan headset ke kupingnya. Tini mendengar lagu dari ponselnya. Tini tidak ingin ikut dalam perbincangan tiga manusia itu. Tini berusaha membatasi diri dari Sean. Kalau bisa jangan bertemu dulu dengan pria itu. Pria pujaan hati yang tidak tergapai.
Sean mengernyitkan keningnya melihat Tini saat ini. Biasanya wanita tomboi itu akan selalu heboh di setiap kesempatan mana pun. Saat ini wanita itu lebih kalem dari biasanya. Sean melihat ke arah Tini yang asyik menikmati lagu itu. Terkadang Tini menggerakkan tangannya seperti bermain drum, dan mulutnya mengeluarkan suara suara yang tidak bermakna. Demi apapun, Sean merindukan Tini yang heboh dan penuh canda.
"Tin, Tini!. panggil Sean kencang. Tini tentu saja tidak mendengar. Headset itu masih terpasang sempurna di kupingnya. Tini malah berkali kali melirik ke jam dinding. Tini berharap Sean cepat keluar dari ruangan Vina. Harapan Tini mungkin akan terkabul satu jam kemudian. Karena jarum jam menunjukkan angka tujuh. Apalagi rumah sakit ini , tidak ketat dalam hal waktu besuk pasien.
Sean beranjak dari duduknya. Sean akhirnya ikut duduk di lantai di samping Tini. Tini tahu Sean duduk di sampingnya. Tetapi Tini pura pura tidak tahu. Justru Tini langsung melirik ke arah Cici. Sahabatnya itu masih bercerita serius dengan Vina. Tini bergeser, dia merasa tidak enak dengan Cici karena Sean duduk sangat rapat dengannya.
Sean menarik headset itu dari telinga Tini. Wajah Sean yang sangat dekat ke wajah Tini, membuat detak jantung Tini berdetak kencang. Bahkan hembusan nafas Sean sangat terasa di hidungnya. Tini merampas headset itu dari tangan Sean.
"Apaan sih kak, ganggu tahu enggak?" kata Tini cemberut. Dia kembali memasangkan headset itu ke telinganya tetapi secepat kilat Sean merampas headset itu dan memasukkan ke saku celananya.
"Masih mau pakai headset ya. Nih ambil," kata Sean sambil menunjuk saku celananya. Sean tersenyum jahil. Sean merasa ada sesuatu yang kurang ketika Tini tidak seperti biasanya. Sean yakin Tini tidak akan berani mengambil headset itu dari saku celananya. Sean ingin Tini seperti biasa. Bercanda dan heboh. Candaan Tini merupakan hiburan gratis bagi Sean.
"Siapa takut," kata Tini. Tini bergeser dan menyamping menghadap Sean. Tini mengulurkan tangannya ke saku Sean. Sean merasa geli karena tangan Tini masuk ke saku Sean otomatis tangan Tini juga meraba pahanya. Sean tertawa. Sean memegang tangan Tini, tetapi tangan Tini semakin masuk ke dalam saku.
Tini berhasil mengambil headset itu kembali. Tetapi karena tangan Sean yang memegang tangan Tini sangat kuat membuat headset itu terlepas kembali. Dengan agak susah Tini kembali meraba saku semakin dalam. Hingga Tini meraba sesuatu yang sangat lembek. Mata Sean membulat menatap wajah Tini. Tini menarik tangannya seketika. Wajahnya memerah menahan malu. Tini gugup. Tini beranjak dari duduk dan keluar dari ruangan Vina.
Cici dan Vina menoleh ke Tini yang berlari ke luar ruangan. Keduanya juga kompak menoleh ke Sean yang masih duduk di lantai. Pria itu bersandar dan memegang dadanya.
"Ada apa kak?. Kenapa Tini berlari keluar?" tanya Cici khawatir. Sean bingung mau menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Tini tadi meraba aset masa depannya.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin Tini mau ke kamar mandi," jawab Sean akhirnya.
"Kamar mandinya kan itu?" kata Cici lagi sambil menunjuk kamar mandi.
"Ya udah, nanti kamu tanya Tini langsung," jawab Sean asal.
__ADS_1