Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Dapat Ijin


__ADS_3

Pagi yang dingin membuat banyak orang enggan bangun dari tidurnya. Begitu juga dengan Andre dan Cindy mereka masih terlelap walau jarum jam sudah menunjuk angka 6. Kehabisan tenaga karena bekerja keras tadi malam di tempat tidur membuat keduanya semakin enggan untuk bangun.


Walau hamil, Cindy sangat agresif dan liar. Entah karena hormon kehamilan atau memang Cindy yang benar benar liar. Tentu saja Andre sangat menyukainya dan bertambah pula cintanya untuk Cindy. Siaran langsung yang kemarin sore tertunda, sepertinya akan menjadi favorit Andre di ranjang. Sepanjang malam, gaya seperti itu saja yang mereka lakukan. Cindy tidak keberatan karena dia juga amat menyukainya.


Suara Agnes yang bernyanyi dan mondar mandir di depan kamar membangunkan Andre dari tidurnya. Andre melepaskan tangannya dari pinggang Cindy. Andre menyingkap selimut, melihat tubuh mereka tanpa pakaian membuat Andre tersenyum, terbayang adegan tadi malam.


"Sin,, sin bangun udah siang!," kata Andre mengguncang pelan bahu Cindy. Mata Cindy memicing.


"Mas, bukan sin tapi cin. C I N D Y. Enak aja ganti namaku jadi Sindi." Andre terkejut menyadari dia salah sebut nama. Terbiasa tidur bersama Sinta membuatnya dirinya salah sebut .


"Maaf, lidahku kepeleset," jawab Andre beralasan.


"Jangan jangan..."


"Jangan jangan apa?"


"Jangan jangan mas punya ****** di luar sana namanya dimulai dari sin," kata Cindy penuh selidik.


"Ngawur, Mas mau mandi dulu," jawab Andre beranjak dari ranjang. Kata kata Cindy tepat bahwa Andre mempunyai simpanan tepatnya istri siri. Melihat Andre berjalan ke kamar mandi tanpa pakaian membuat Cindy menelan ludah. Cindy cepat cepat menyingkapkan selimut dan menyusul Andre ke kamar mandi.


Kini hanya suara ******* mereka yang terdengar.


****


Hari hari berlalu hampir dua Minggu Andre tidak ke rumah Sinta. Kebahagiannya bersama Cindy membuatnya lupa akan istri sirinya. Sinta sudah berulangkali menghubungi Andre, panggilan masuk tetapi ditolak. Kini Sinta bersiap siap mau ke kampus bukan untuk mengikuti kelas tetapi untuk bertemu dengan Vina. Vina mengajaknya bertemu di kampus.


Sesampai di kampus Sinta duduk di tepi kolam, selain teduh, dari kolam itu Sinta bisa melihat kedatangan Vina dari gerbang kampus. Sinta mengenali mobil yang baru masuk ke Fakultas ekonomi, itu mobil suaminya. Sinta merasa lega, dua Minggu tidak bertemu dengan Andre, Sinta sedikit khawatir. Sinta mengira Andre sakit.


Fakultas Ekonomi dengan kolam sangat dekat, hanya berjarak beberapa meter. Ketika Andre menurunkan kakinya dari mobil, Sinta sedikit berlari kearah Andre. Kampus masih sepi walau semester pendek diberlakukan tetap saja hanya sedikit mahasiswa yang mengikuti kuliah. Dari jarak lebih kurang empat meter Sinta memberanikan diri menyapa Andre.


"Selamat pagi pak!" sapa Sinta ketika Andre menutup pintu mobil. Andre mengedarkan pandangannya ke segala arah, suasana sepi.


"Kalau ada yang kamu bicarakan, tunggu aku di rumah," jawab Andre tanpa melihat Sinta dan cepat cepat berjalan ke arah tangga menuju lantai dua.


Sinta kecewa, biasa diperlakukan hangat oleh Andre membuatnya tanda tanya. Jauh di lubuk hati Sinta, Sinta berharap Andre mengajak dirinya ke ruangan. Tetapi jangankan mengajak melihat Sinta saja pun, Andre seakan tidak Sudi.


Sinta berjalan gontai menuju kolam. Pikirannya masih ke Andre. Kalau pernah Sinta meminta Andre untuk menceraikannya, kini rasa takut itu ada di hatinya takut ditinggalkan Andre.


Sinta tidak menyadari bahwa Vina yang di tunggunya sudah duduk di sampingnya.


"Woy,,, serius amat. Lagi melamun apa?" tanya Vina tepat di kuping Sinta.


"Berisik, bikin kaget saja," jawab Sinta sambil memukul lengan Vina.


"Sin, kamu serius mau kerja?" tanya Vina, Sinta mengangguk.


"Nanti kalau udah masuk kuliah, kamu ga takut keteter?"

__ADS_1


"Rencana aku, kuliah hanya pagi aja Vin dan kerja sore. Itupun kalau temanmu itu mau ngasih aku kerjanya hanya sore."


"Nanti kita tanya dulu ya sin, kalau aku yang punya kafe pasti langsung ku setujui."


"Kapan bisa kita ke sana Vin?"


"Kata temanku besok saja. Sekarang rencana mu mau kemana?"


"Pulang."


"Ngapain buru buru pulang? Kamu ikut aku aja yuk!"


"Aku mau pulang aja Vin, Emang kamu mau kemana?"


"Mau nonton bioskop sama Ronal."


"Eits, tunggu tunggu. Kamu udah jadian sama Ronal?. Vina mengangguk.


"Selamat ya say, ternyata cintamu tidak bertepuk sebelah tangan. Terus yang lain sudah tau kalau kamu udah jadian sama Ronal."


"Makasih sin, belum tahu."


"Cerita donk Vin, gimana sih rasanya ditembak pujaan hati?"


"Ceritanya nanti aja pas ngumpul semuanya. Eh Sin, kamu kenal gak sama temannya Ronal si Edwin?"


"Kata Ronal si Edwin suka sama kamu. Pantas kalau di kelas duduknya selalu dekat kamu."


"Ah yang lain aja dibahas, belum kepikiran ke situ Vin, mau fokus kuliah dulu," kata Sinta yang tidak mau membahas Edwin. Sinta pun sebenarnya menyadari perasaan Edwin, tapi Sinta selalu menjaga jarak. Walau hanya istri siri Andre, Sinta tidak berniat berkhianat.


"Betah aja jadi jomblo," jawab Vina yang tidak tahu kalau Sinta sudah punya pasangan siri.


Ronal dan Edwin yang baru saja dibahas sudah terlihat menghampiri mereka. Vina membalas lambaian tangan Ronal. Melihat ada Edwin, Sinta merasa ada yang disembunyikan Vina.


"Udah lama?," tanya Ronal duduk di samping Vina. Edwin masih saja berdiri. Ronal menyenggol bahu Vina dan Vina menggeleng. Nampak raut kecewa di wajah Edwin.


"Vin, kalau kalian mau jalan silahkan, aku masih ada sedikit lagi urusan," kata Sinta mengusir Vina secara halus. Tatapan Edwin membuatnya risih.


"Oke say, kami jalan ya." Vina dan Ronal pamit tapi tidak dengan Edwin. Edwin malah duduk di samping Sinta. Sekilas Sinta tadi melihat Ronal seperti memberi kode ke Edwin. Benar dugaan Sinta tadi.


"Sin apa kabar?" tanya Edwin basa basi


"Baik Edwin, kenapa kamu masih di sini?. Bukannya tadi mau ikut sama mereka?"


"Iya , kalau kamu juga ikut karena kamu tidak ikut aku juga tidak ikut. Gak enak jadi obat nyamuk," jawab Edwin.


"Sin, boleh tidak aku jujur?. Sebenarnya aku cinta kamu Sinta."

__ADS_1


"Aku tidak bisa melarang mu untuk mencintaiku Edwin, tapi aku tidak bisa membalasnya," jawab Sinta menolak Edwin mentah mentah.


"Tapi kenapa sin, aku tanya pada sahabatmu. Katanya kamu belum punya pacar. Mungkin kamu tidak mencintaiku, aku akan sabar menunggu sampai hatimu ada untukku," kata Edwin sangat berharap.


"Suatu saat kamu pasti mengetahui penyebab nya Edwin. Aku ingin sendiri sekarang Edwin," jawab Sinta mengusir halus Edwin.


"Aku tulus Sinta, semoga suatu saat kamu bisa menerima aku." Edwin berlalu dari hadapan Sinta. Sinta menatap punggung Edwin menuju parkiran. Entah karena patah hati Edwin mengendarai motornya dengan kencang, suara knalpotnya memekakkan telinga.


Sinta melihat jam tangannya, jam kuliah masih ada sekitar 45 menit lagi. Kampus sepi hanya terlihat beberapa pegawai tata usaha di ruangan. Sinta berdiri dan berjalan menuju lantai dua. Sinta memutuskan menjumpai suaminya setelah melihat jadwal Andre di dinding tata usaha yang ternyata di jam ini kosong.


Tok tok tok


Sinta mengetuk pintu ruangan. Berkali kali Sinta mengetuk pintu tetapi jawaban untuk menyuruh masuk tidak terdengar. Akhirnya Sinta mengirim pesan dan pesan tersebut centang biru.


Tak berapa lama ponsel Sinta berdering ada pesan masuk dari Andre, menyuruhnya menunggu di luar gerbang kampus.


Sekitar sepuluh menit Sinta menunggu baru mobil Andre terlihat menghampirinya. Sinta terburu buru masuk ke dalam mobil.


"Mas, aku kangen," kata Sinta setalah mobil berjalan. Andre mengelus kepala Sinta dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang setir.


"Mas, kemana selama ini? kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Sinta hati hati setelah mereka sampai di rumah.


"Sinta, mungkin untuk ke depannya, aku tidak bisa sering sering kemari," jawab Andre dengan suara pelan.


"Apakah istrimu sudah curiga mas?" tanya Sinta masih dengan hati hati. Bagaimanapun Sinta juga takut kalau istri Andre sampai mengetahui tentang Sinta.


"Tidak, istriku hamil muda sin, anak pertama kami," jawab Andre. Sinta melemas, terjawab sudah bahwa Andre memang benar benar sudah punya istri selain dirinya. Selama ini Sinta hanya menduga duga dan berharap Andre hanya suaminya. Apalagi hanya dua Minggu ini Andre tidak tidur di rumahnya.


"Oke aku mengerti mas," kata Sinta dengan hati teriris, Sinta menunduk menyembunyikan air matanya.


"Jagalah istrimu dengan baik baik, aku berharap kandungannya sehat dan tidak ada kendala sampai melahirkan," kata Sinta lagi berusaha tegar.


"Makasih Sinta," jawab Andre meraih tubuh Sinta dan memeluknya.


"Mas, kalau begitu aku cari kerja ya." Andre melepaskan pelukannya dan menatap Sinta.


"Aku bosan di rumah mas, apalagi kamu bakalan jarang kemari."


"Kalau kuliahmu tidak terganggu, aku tidak keberatan. Dan satu lagi jaga batas dengan laki laki." Sinta mengangguk dan kembali memeluk Andre.


"Mas."


"Iya."


Sinta mengelus paha Andre. Tidak ada tanggapan Sinta beranjak berdiri dan menuju dapur. Sinta merasa haus dan membuka kulkas. Sinta sedikit malu dengan penolakan Andre. Sinta tersenyum kecut dan tiba tiba Andre memeluknya dari belakang. Andre membalikkan tubuh Sinta, Andre menciumi seluruh wajah Sinta.


Masih di dapur, Andre membungkukkan tubuh Sinta dan menumpukan ke bangku, keduanya sudah polos bagaikan bayi baru lahir. Karena terlalu nikmat atau tempat yang tidak seharusnya bercinta membuat keduanya melupakan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2