Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Penyesalan yang Sia Sia


__ADS_3

"Apa ini" tanya Jack sambil merampas ponsel Radit. Radit baru saja mendapatkan pesan. Jack melihat sebuah foto yang dikirimkan ke pesan aplikasi wa tersebut. Sepasang cincin berlian. Pesan itu dari Donna.


"Kamu mau menikah lagi?" tanya Jack lagi dengan suara meninggi. Jika kaca mobil dibuka bisa dipastikan suara Jack bisa terdengar sampai radius dua puluh meter. Jack memandangi Radit penuh amarah. Untung dia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung. Jika itu ada bisa saja saat ini Jack sudah di rumah sakit. Kesalahan Radit hari ini sungguh membuat pria tua itu sangat marah. Belum hilang amarahnya karena kesalahan Radit terhadap Vina. Kini Jack kembali marah karena foto sepasang cincin itu. Radit tidak berkata apa apa. Dia meraih ponsel yang masih di genggaman papanya.


Radit menggeser layar ponsel itu. Dia hanya sekilas melihat pesan tadi karena Jack langsung merampas ponsel tersebut. Radit memperhatikan gambar sepasang cincin itu. Dan membaca pesan yang dikirimkan Donna.


"Tidak. Aku sudah membatalkannya dari tadi. Tapi Donna tidak mau dan memohon untuk melanjutkan pernikahan itu," jawab Radit enteng. Radit kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya. Memang benar, Radit sudah mengirimkan pesan ke Donna untuk pembatalan rencana pernikahan itu.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi pernahkah kamu berpikir karena sikap bodoh mu itu entah berapa wanita yang sakit hati?" tanya Jack melunak. Walau nada bicaranya sudah pelan, Radit tahu bahwa papanya masih marah.


Radit tidak menanggapi perkataan papanya. Radit memilih mengambil botol air mineral milik papanya dan meneguknya sampai habis. Tenggorokan benar benar kering. Di rumah Vina tadi, Radit hendak memuaskan dahaganya. Tapi ucapan papa mertuanya membuat Radit berpikir keras tentang perkataan Hendrik tadi yang secara tidak langsung menyebutnya binatang. Sehingga air satu gelas itu tidak semuanya masuk ke perut Radit.


"Radit, kamu mendengar papa?" bentak Jack yang melihat Radit hanya terdiam. Sejak kecil Radit memang manja. Tapi Jack tidak menyangka akibat mereka memanjakan Radit seperti ini, kelakuan Radit mencoreng wajah mereka.


"Tidak ada yang sakit hati pa. Aku bermain dengan setiap wanita hanya untuk mencari kepuasan dan mereka mencari uang," kata Radit membela perbuatannya sendiri. Jack berdecak kesal mendengar perkataan Radit.


"Jadi bagaimana dengan Vina dan gadis yang tidak jadi kamu nikahin ini?" bentak Jack lagi.


Radit kembali diam. Untuk menjawab pertanyaan papanya. Radit tidak bisa mengelak jika mengatakan Vina tidak sakit hati. Radit sering tanpa sengaja melihat Vina melamun. Tiga hari di rumah sakit, Radit bahkan pernah mendengar Vina menangis di tengah malam.


"Jawab Radit," bentak Jack membuat Radit tersentak.


"Donna hanya ingin materi pa. Aku merasa terpuaskan olehnya. Donna ingin dinikahi karena tidak ingin berzina lagi," jawab Radit pelan.Walau sama sama laki laki, sebenarnya Radit merasa sungkan untuk mengatakan hal itu ke papanya sendiri. Berbeda jika dia bersama Andre dan Sean. Radit bahkan tidak segan segan menunjukkan video hotnya dengan para j*lang.


"Hanya karena itu?. Radit mengangguk. Jack menarik nafas lega. Setidaknya Radit ingin menikah bukan karena si wanita itu yang sudah hamil. Jack tidak bisa membayangkan jika wanita itu hamil dan Radit membatalkan pernikahan tersebut.


"Jadi bagaimana dengan Vina?. Apa yang membuat kamu melakukan perbuatan hal keji seperti itu?"


"Aku membencinya papa. Aku merasa tidak dihargai ketika Vina menolak menikah denganku. Dan aku semakin tidak menyukainya ketika dia berusaha kabur," jawab Radit pelan. Memang itu lah yang sesungguhnya terjadi. Radit membenci Vina hanya karena dua hal itu.

__ADS_1


"Hanya karena itu nak?. Ternyata kamu membesar hal yang bukan masalah. Wajar saja dia menolak karena kalian belum saling mengenal. Seharusnya kamu menyakinkan Vina. Pernikahan dengan perjodohan bisa bahagia jika kalian saling menghargai," kata Jack sedih. Nasehatnya sudah terlambat karena Radit sudah menyakiti Vina sangat dalam.


"Aku juga menyangka orangtuanya mau menerima perjodohan ini karena harta," jawab Radit lagi pelan nyaris tidak terdengar.


"Setelah mereka mengembalikan uang itu. Bagaimana penilaian kamu kepada Hendrik?"


"Ternyata papa Hendrik tidak seburuk itu pa, aku juga sadar apa yang dilakukannya saat ini demi Vina dan janin kembar," jawab Radit. Rasa bersalah akan semua perkataan dan tindakannya ke Hendrik dan Vina terus berputar di kepalanya.


"Bagus, kalau kamu sadar. Mereka tidak seburuk yang kamu bayangkan Radit. Tapi, Ya sudahlah, percuma banyak bicara dengan mu. Biarkan Vina tenang menjalani kehamilannya. Biar bagaimanapun mengandung tiga janin akan berbeda dengan hanya mengandung satu janin saja."


Radit dan Jack sama sama terdiam. Papa dan anak itu fokus kepada pikiran mereka yang sedang berkelana. Radit masih sibuk memikirkan bagaimana caranya dia bisa berkunjung ke rumah Vina. Sedangkan Jack berpikir bagaimana caranya dia memberi tahu istrinya tentang masalah rumah tangga Radit.


"Antar aku ke rumahku pak," kata Radit kepada sang supir. Sang supir masih diam menunggu persetujuan dari Jack. Radit menoleh ke Jack yang duduk di sampingnya. Pria itu sedang bersandar dan memejamkan mata.


"Kamu ikut ke rumah papa. Mama kamu sedang sakit," jawab Jack tanpa membuka matanya. Radit tidak terkejut mendengar mamanya sakit. Karena satu tahun terakhir ini kondisi mamanya memang sering sakit-sakitan. Radit mengangguk, ke rumah papanya lebih bagus dibandingkan ke praktek dokter kulit dan kelamin.


"Jangan mati dulu mama, mama harus lihat anak anaknya Radit dulu," kata Radit bercanda setelah melepaskan pelukannya. Jack hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Radit. Bersama mamanya, Radit memang mempunyai sisi yang berbeda jika dibandingkan bersama dengan Hendrik. Anisa mencubit tangan Radit pelan. Radit meringis dan meniup pelan bekas cubitan Anisa. Anisa terkekeh melihat kelakuan putra semata wayangnya itu.


"Vina sudah hamil?" tanya Anisa senang. Radit mengangguk dan menunjukkan jarinya tiga. Anisa terkejut dan semakin senang. Dia tahu arti tiga jari yang ditunjukkan Radit. Rasa sakit yang dideritanya tadi seakan hilang.


"Kembar tiga ma," kata Jack semakin memperjelas.


"Sebentar lagi kita akan kakek nenek pa. Terima kasih Radit. Terima kasih atas kabar ini. Kamu memang tokcer. Bukan seperti papamu yang hanya pandai membuat kamu seorang," jawab Anisa bercanda. Jack hanya terkekeh mendengar perkataan istrinya.


"Sepertinya mama ini, pura pura sakit ini pa," kata Radit bermaksud menjahili mamanya. Anisa kembali mencubit Radit.


"Mama ingin memberikan hadiah kepada keluarga itu pa, Radit. Mereka sudah banyak berjasa terhadap keluarga kita," kata Anisa sambil menatap suaminya. Jack membalas tatapan itu. Tapi untuk saat ini, Jack tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mereka memberi keluarga Vina hadiah sedangkan ATM untuk kebutuhan sang janin saja sudah di tolak mentah mentah. Jack hanya mengangguk kepala. Dia tidak bermaksud untuk memberi tahu tentang masalah Radit sekarang. Jack takut, informasi itu akan memperburuk kesehatan sang istri.


"Maksud mama berjasa bagaimana?" tanya Radit heran. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana hubungan papa mamanya dengan Hendrik. Dia baru mengenal mereka sejak ada ide perjodohan itu.

__ADS_1


"Ya ampun. Kami lupa memberitahu kamu. Ginjal yang ada di tubuh mama ini adalah ginjal mamanya Vina. Mamanya Vina dengan suka rela mendonorkan ginjal ini kepada mama karena dari sekian banyak calon pendonor. Hanya ginjalnya yang cocok untuk mama. Aku dan mama mertua kamu itu sama sama hidup dengan satu ginjal," kata Anisa sedih. Setiap mengingat pencangkokan ginjal itu Anisa selalu sedih. Karena sejak saat itu. Kesehatan Rita mamanya Vina juga memburuk.


Radit hanya terdiam mendengar penjelasan mamanya. Anisa adalah segalanya bagi Radit. Kalau sampai saat ini dia masih punya mama, itu artinya karena mamanya Vina.


"Hargai dan cintai Vina sebagai bentuk terima kasih kami kepada kedua orangtuanya," kata Anisa lagi. Radit semakin tidak bisa berkata kata lagi. Terlambat. Hanya itu yang ada di pikiran Radit. Semuanya sudah terjadi. Nasi yang sudah bubur tidak bisa lagi menjadi nasi. Radit mengusap wajahnya kasar. Radit sengaja berbalik supaya Anisa tidak melihat rona wajahnya sekarang.


Radit merasa informasi ini terlambat baginya. Seandainya sejak awal orangtuanya memberitahu jasa jasa keluarga Vina, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Bisa saja hari ini dia masih bersama Vina dan memperlakukan sebagainya mestinya. Walau tanpa cinta Radit akan berusaha memberikan rumah tangga yang semestinya kepada Vina. Tapi yang terjadi selama tiga bulan pernikahannya, Radit tidak pernah menganggapnya istri bahkan Radit memperkosanya sampai dua kali. Membentak dan bersikap dingin bahkan setelah tahu hamil pun, Radit masih berusaha untuk mengekang Vina. Menuruti semua kemauannya tanpa boleh membantah.


Perjalanan selama tiga bulan pernikahan terlintas di kepalanya. Sikap dewasa Vina dan segala nasehatnya. Permintaan untuk berubah dan tidak saling menyakiti. Dan juga hal hal kecil yang dilakukan Vina untuk menarik perhatiannya. Selama ini Radit sadar akan semua perlakuan itu. Tapi Radit membentengi dirinya dengan kebencian terhadap Vina. Alasan tidak dihargai dan tertolak adalah hal yang selalu membuatnya tidak ingin membuka hati. Bahkan setelah mengetahui Vina hamil pun, kebencian itu seperti sengaja tersimpan di hatinya. Radit hanya memandang Vina demi janinnya sendiri. Jelas jelas sikap yang sangat egois.


Tapi entah mengapa, setelah mendengar cerita dari Anisa mamanya, hati Radit seperti terbuka. Dia terduduk di bangku rias Anisa dengan penyesalan yang mungkin saja sudah terlambat. Radit baru menyadari, sikap baik Vina ternyata menurun dari orangtuanya. Kebaikan yang dianggapnya selama ini karena harta. Ternyata apa yang sudah diberikan keluarganya kepada keluarga Vina tidak seberapa dibandingkan ginjal dan kehidupan Anisa mamanya.


Radit memegangi dadanya yang berdenyut nyeri. Perkataan perkataannya kepada Hendrik seperti belati tajam yang menghunus ulu hatinya sendiri. Apalagi Vina yang menyebutkan dirinya sebagai jaminan. Membuat dadanya seperti tidak ada oksigen. Radit semakin menunduk mengingat istri yang tidak dianggapnya itu.


"Radit, apa yang terjadi?" tanya Anisa heran. Tidak biasanya Radit tertunduk seperti itu. Biasanya setiap bersama mamanya. Radit pasti bercanda.


"Tidak ma, tidak apa apa," kata Radit sambil mendekat ke ranjang mamanya. Dia mencium pucuk kepala mamanya lumayan lama. Hanya Anisa selama ini bagi Radit wanita yang layak dihargai dan dihormati. Radit memang sangat menyayangi Anisa. Itulah alasan kuat yang menyebabkan Radit tidak bisa mengelak dari perjodohan itu.


Jack melihat anak dan istrinya. Tanpa diungkapkan Jack mengetahui bahwa sudah ada penyesalannya di hati Radit. Jack mengangguk ketika Radit mengedipkan sebelah matanya. Lewat jari telunjuk yang diletakkan Radit di bibirnya, Jack tahu bahwa dia tidak boleh membuka mulut tentang permasalah rumah tangga Radit.


"Aku pamit ma," kata Radit. Anisa mengangguk. Ketika melewati Jack, Radit sengaja menabrakkan bahunya ke Jack. Jack menggelengkan kepala. Dia tahu bahwa Radit menyalahkan dirinya karena informasi tadi.


Radit memesan taksi online dari ponselnya. Tujuannya adalah rumah Vina. Jika Hendrik dan Vina masih belum bisa memaafkannya. Setidaknya Radit akan berusaha meminta maaf saat ini juga dan menunjukkan penyesalannya.


"Apa lagi?" bentak Hendrik ketika melihat Radit kembali muncul di depan pintu rumah itu.


"Aku benar benar minta maaf pa. Aku menyesali semua perbuatan aku," kata Radit penuh sesal sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Hendrik memandangi tubuh Radit dari atas rambut sampai ke sepatunya. Hendrik heran dengan perubahan Radit.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat Radit. Tapi penyesalan mu itu sia sia. Itu tidak ada artinya lagi bagi kami," kata Hendrik tegas. Hendrik langsung menutup pintu dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2