Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Rumah Kita


__ADS_3

"Mau ke mana?" tanya Andre ketika kembali masuk ke dalam rumah. Cindy sudah terlihat berganti baju dengan tas di tangannya.


"Ke rumah mama mas," jawab Cindy cuek.


"Sendiri?"


"Iya, mau bersama siapa lagi kalau tidak sendiri," jawab Cindy lagi ketus.


"Bawa Alexa, jangan ke luar rumah seperti anak gadis," suruh Andre. Cindy cemberut. Andre sudah duduk di sofa dan tangannya meraih lembar jawaban mahasiswa.


"Aku ke rumah mama untuk menenangkan pikiran. Alexa ada yang menjaga baby sitter,"


"Menenangkan pikiran?, kamu punya masalah apa?" tanya Andre. Tangannya meletakkan kembali kertas jawaban dan berdiri. Andre melangkah mendekat ke arah Cindy yang sudah dekat pintu.


"Kamu kira, kamu sering pulang terlambat dan bahkan tadi malam tidak pulang itu bukan masalah bagiku?" tanya Cindy dengan suara yang keras. Tangannya terulur meraih gagang pintu. Dengan cepat Andre meraih tangan Cindy dan menariknya untuk kembali duduk di sofa.


" Maaf sayang, aku akui aku sering pulang terlambat. Itu karena aku banyak kerjaan," jawab Andre lembut. Andre mendudukkan Cindy di sofa dan Andre kemudian duduk di sebelah Cindy.


"Aku tidak percaya, kamu pasti punya selingkuhan di luar. Bahkan bulan lalu kamu tidak pulang ke rumah tanpa mengabari aku," jawab Cindy kesal. Dia menggeser duduknya dari Andre yang begitu rapat dengannya.


"Saat itu, aku ke luar kota. Aku sudah menjelaskannya kepadamu. Kenapa sekarang diungkit lagi. Aku sudah bilang. Papa ingin membuka usaha berupa penginapan di daerah itu. Dan aku ditugaskan untuk menguji kelayakan bisnisnya," jawab Andre menjelaskan. Badannya menyamping menghadap Cindy yang memandang lurus ke depan.


"Tetap saja, aku tidak percaya. Itu hanya alasanmu saja. Setelah tiga hari tidak pulang. Kamu bahkan pulang larut malam,"


"Aku sudah bilang, aku sangat sibuk Cindy. Banyak pekerjaan yang harus aku urus," bentak Andre.


"Pekerjaan apa kamu maksud mas?, kamu hanya seorang dosen bukan pebisnis. Dosen itu pergi pagi pulang sore bukan pulang tengah malam," bentak Cindy lagi. Suaranya semakin keras. Para pembantu sudah menguping dari dapur.


"Pekerjaan seperti ini yang kamu bilang sibuk?" tanya Cindy lagi sambil meraih tumpukan kertas lembar jawaban mahasiswa. Cindy berdiri dan dengan marah mencampakkan tumpukan kertas itu. Kertas itu berhamburan di lantai. Andre mengepalkan tangannya dan giginya rapat. Andre berusaha meredam kemarahannya.


"Aku pergi, malam baru pulang," kata Cindy lagi.


"Cindy tunggu!, panggil Andre. Andre melangkah mendekati Cindy yang sudah membuka pintu rumah.


"Apa lagi?" jawabnya ketus.


"Kamu bahkan belum mendapat ijinku ke luar rumah. Aku menyuruhmu untuk membawa Alexa,


"Ijin atau tidak ijin aku akan tetap keluar. Aku mau shopping tidak jadi ke rumah mama. Alexa tetap tinggal. Kamu juga pulang larut malam tidak pernah ijin kepadaku kan?, jadi biar impas. Aku tetap pergi. Itu taksi online sudah lama menunggu karena berdebat denganmu," jawab Cindy santai. Tangannya menunjuk mobil warna hitam di luar gerbang.


"Terserah kamu, aku muak dengan sikap kamu yang seperti ini," kata Andre marah. Andre masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan keras.

__ADS_1


Cindy tidak takut sama sekali dengan kemarahan Andre. Dengan santai dia menuju gerbang dan langsung masuk ke dalam mobil di samping supir.


"Kenapa lama sekali," tanya pria berkaca mata hitam yang duduk di belakang kemudi.


"Sorry, tadi ada drama sebelum aku keluar dari rumah," jawab Cindy. Cindy memasang sabuk pengaman. Pria tersebut memandang Cindy dan kemudian membantu Cindy memasang sabuk pengaman.


"Suamimu di rumah?" tanya pria itu. Cindy hanya mengangguk. Pria itu menghidupkan mesin dan menjalankan mobilnya.


"Kita mau kemana?"


"Tergantung kemauan mu sayang, mau shopping?" tanya pria itu. Cindy menggelengkan kepala.


"Aku hamil muda, kamu lupa?, shopping hanya melelahkan tubuhku. Jarak kehamilan yang cukup dekat, dokter menyarankan untuk tidak boleh lelah," jawab Cindy. Wajahnya menghadap ke pria itu. Pria itu juga menoleh ke Cindy dan tersenyum.


"Maaf, aku bukan lupa. Aku kira dengan shopping kamu bisa melupakan drama yang kamu bilang tadi," kata pria itu. Pria itu kemudian menghentikan mobil di tepi jalan.


"Kenapa berhenti?"


"Sebentar," jawab pria itu kemudian melepaskan sabuk pengaman. Dia menyampingkan tubuhnya dan menunduk untuk mencium perut Cindy. Cindy tersenyum dan membelai kepala pria tersebut.


"Aku sangat yakin ini janinku," kata pria itu sambil membelai perut Cindy. Cindy mengangguk. Pria itu kembali memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya dan kembali menjalankan mobil.


"Lepaskan suamimu, aku akan menikahi kamu segera setelah kalian bercerai," kata Rian. Cindy terdiam. Melepas Andre tidak semudah itu, Cindy sudah mulai mencintai Andre.


"Akan kupikirkan, tapi untuk saat ini aku belum bisa Rian. Aku juga tidak ingin Andre mengetahui ini semua. Kumohon bersabarlah!" jawab Cindy. Tangannya sudah diletakkan di paha Rian.


"Baiklah sayang, kamu tidak perlu khawatir. Kasman, Tuti dan baby sitter Alexa sudah aku bayar setiap bulan melebihi yang mereka terima dari suamimu. Mereka tidak akan buka mulut tentang kita," jawab Rian tersenyum. Tangan kirinya terulur membelai wajah Cindy.


"Fokus menyetir," perintah Cindy. Rian tersenyum dan melepaskan tangannya dari wajah Cindy


Rian, mantan pacar Cindy. Dan kini kembali berstatus kekasih Cindy. Keperkasaan Rian di ranjang membuat Cindy tidak bisa melupakan Rian dan memutuskan kembali menerima pria yang telah mengkhianatinya itu. Begitu juga dengan Rian, walau pernah berselingkuh dari Cindy dengan sekretarisnya sendiri. Tetap saja hanya dengan Cindy, dia mendapatkan kepuasan.


Profesi Rian yang pengusaha, membuat dirinya bebas bertemu dengan Cindy ketika Andre ke kampus. Semua pekerja di rumah Cindy, Rian sudah menyuap mereka dan mengancam akan menarik kembali uang yang mereka terima jika mereka buka mulut.


"Kita mau kemana?" tanya Cindy ketika Rian membelokkan mobilnya ke sebuah perumahan mewah.


"Ke rumah kita," jawab Rian santai dan tersenyum.


"Rumah kita?" tanya Cindy lagi seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Rian mengangguk. Cindy memandang keluar mobil. Nampak olehnya rumah rumah mewah yang mereka lewati. Cindy tidak sabaran untuk segera tiba di rumah mereka yang disebutkan Rian tadi.


"Sudah sampai," kata Rian setelah mematikan mesin mobilnya. Rian segera turun dari mobil. Mengitari mobilnya dari depan dan membukakan pintu untuk Cindy. Cindy turun dari dalam mobil. Cindy memandang ke arah rumah yang ditunjukkan oleh Rian. Rumah berlantai dua. Tetapi belum siap di cat.

__ADS_1


"Tukang catnya lagi libur," kata Rian seakan tahu yang ada di pikiran Cindy. Rian menuntun Cindy untuk masuk ke pekarangan rumah. Rian merogoh sakunya dan mengambil sebuah kunci.


"Ini rumah kita kelak bersama anak anak kita, Silahkan buka," kata Rian meletakkan kunci rumah ke telapak tangan Cindy. Mereka sudah tepat di depan pintu rumah. Cindy mendongak menatap wajah Rian, Rian tersenyum dan mengangguk. Cindy membuka rumah tersebut. Rian mendorong pelan tubuh Cindy untuk masuk ke dalam rumah.


Cindy memandang ke penjuru rumah. Dinding di dalam rumah sudah bercat dengan warna gold. Hanya ada satu set sofa dan televisi di dinding. Rian terus mendorong tubuh Cindy untuk semakin masuk ke dalam rumah. Langkah mereka terhenti di sebuah pintu kamar.


"Ini kamar kita," kata Rian lagi. Rian mendahului Cindy untuk masuk dan duduk di tepi ranjang.


"Bukannya diajak keliling melihat isi rumah, malah langsung masuk kamar," kata Cindy manja. Dia tahu maksud Rian langsung membawanya masuk ke kamar. Rian terkekeh dan berdiri. Dia menarik tangan Cindy yang semakin mendekat ke arahnya.


"Sudah tidak tahan lagi sayang. Sejak bertemu denganmu tadi tubuhku sudah berkedut ingin kamu puaskan," kata Rian mendudukkan Cindy di pangkuannya. Cindy hanya tersenyum. Tanpa pemanasan terlebih dahulu, Rian membuka baju atasan Cindy dan bajunya sendiri.


"Ingat, aku lagi hamil muda," bisik Cindy lembut. Rian hanya mengangguk. Matanya sudah berkabut menahan gairah. Cindy mencium bibir Rian terlebih dahulu, dengan senang hati Rian membalasnya. Cindy turun dari pangkuan Rian. Melepaskan benang di seluruh tubuhnya dan naik ke atas ranjang. Begitu juga dengan Rian, dia juga melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.


"Milikmu sangat sempit dan nikmat sayang," kata Rian yang sudah dan naik ke ranjang dan bersiap menindih tubuh Cindy.


"Milikmu saja yang ukurannya terlalu besar," jawab Cindy. Dia sudah melebarkan pahanya dan menarik tubuh Rian yang masih memandang tubuh polosnya.


Cindy mendesah nikmat sementara Rian sudah berkeringat dan bergoyang di atas tubuh Cindy. Cukup lama mereka bermain dengan gaya yang berbeda. Hingga akhirnya Cindy terkulai lemas sambil memeluk tubuh Rian. Keduanya saling memeluk. Keluar bersama membuat mereka merasakan kenikmatan yang tiada tara.


"Makasih sayang, bersamamu aku bisa merasakan kenikmatan seperti ini," kata Rian mengecup kening Cindy. Cindy hanya tersenyum. Badannya terlalu lelah.


Rian turun dari ranjang. Hanya dengan memakai pakaian dalamnya dia keluar dari kamar. Rian masuk ke kamar kemudian dengan membawa minuman jus kemasan yang dingin. Membukanya dan memberikan ke Cindy.


"Aku ingin, kamu cepat berpikir untuk melepaskan suamimu," kata Rian lagi. Cindy berhenti meminum jusnya. Dia memandang Rian.


"Tidak secepat itu Rian, bersabarlah,"


"Kamu jangan serakah sayang dengan memiliki kami berdua. Aku terkadang tidak bisa tidur membayangkan kamu bercinta dengannya,"


"Kamu yang memulai ini semua, andaikan kamu tidak selingkuh. Mungkin saat ini, kita sudah sepasang suami istri yang berbahagia," jawab Cindy.


"Apa bedanya yang kita lakukan sekarang dengan yang aku lakukan waktu dulu. Bukankah kamu juga selingkuh dari suamimu?"


"Itu beda, kamu yang memaksaku untuk ini semua,"


"Jangan munafik Cindy. Aku memang memaksamu. Tapi kamu juga tidak bisa memungkiri, hanya denganku kamu terpuaskan." Cindy terdiam. Apa yang dikatakan Rian sangat benar. Tapi untuk melepaskan Andre, Cindy tidak rela. Suaminya itu memanjakan dan menuruti semua keinginannya.


"Apa kamu tidak takut, jika suamimu mengetahui perselingkuhan ini?, alangkah lebih bagus kamu meminta cerai sebelum perselingkuhan ini terbongkar," kata Rian lagi. Dia berusaha mempengaruhi Cindy. Tidak bisa dipungkiri bahwa Rian masih sangat mencintai Cindy. Di tambah lagi Cindy sangat pandai memuaskannya di ranjang.


"Selagi kamu dan para pekerja di rumah tidak buka mulut. Hubungan ini masih bisa kita jalani dengan diam diam. Tapi, kalau kamu buka mulut. Aku pastikan aku tidak mau lagi berhubungan denganmu. Jadi jangan coba coba untuk buka mulut," ancam Cindy. Rian terdiam. Ancaman Cindy begitu menakutkan baginya. Takut tidak bisa berhubungan lagi dengan Cindy.

__ADS_1


__ADS_2