
Sinta merasa seperti di dalam mimpi. Satu kata yang dinantinya dari Andre sudah terucap dari mulut suaminya. Tidak mau menyakiti diri sendiri, Sinta mencubit pinggang Andre untuk memastikan bahwa dirinya tidak di alam mimpi. Bahagia, tentu saja Sinta merasa bahagia. Tapi sayangnya Sinta seperti merasakan kebahagiaan yang semu.
Suara Andre yang meringis jelas nyata di telinga Sinta. Ini memang benar benar nyata. Walau jantungnya berdetak kencang. Sinta masih tidak percaya akan pernyataan cinta Andre. Hatinya masih terasa hampa. Tiga laki laki sudah menyatakan cinta kepadanya secara langsung tapi satupun tidak ada yang romantis. Termasuk Andre suaminya.
"Kok dicubit sayang?" tanya Andre lembut. Walau akibat cubitan itu sangat sakit. Tapi Andre sama sekali tidak marah. Andre sangat bahagia. Andre merasa lega setelah mengucapkan kata Sinta itu. Dia berharap, Sinta juga masih mencintainya seperti dulu.
"Jangan bercanda mas. Aku tidak suka," jawab Sinta. Pernyataan cinta Andre, Sinta masih menganggapnya sebagai candaan. Andre memang memperlakukan Sinta dengan baik, tapi entah masih trauma dengan sikap Andre yang selalu baik dan bisa mencampakkan begitu saja membuat Sinta belum yakin tentang pernyataan cinta Andre.
"Aku tidak bercanda sayang. Aku benar benar mencintaimu," kata Andre lagi. Sama seperti Sinta Andre juga merasakan detak jantungnya kencang. Dia memegang kedua pipi Sinta dengan kedua tangannya. Matanya juga menatap mata Sinta yang mendongak ke wajahnya. Sinta melepaskan kedua tangan Andre dan menunduk. Dia mundur dan duduk di tepi ranjang. Andre juga demikian. Dia menyusul Sinta duduk di tepi ranjang.
"Aku tidak memaksa kamu untuk percaya sayang. Tapi aku mohon, jangan sembunyikan hal apapun dari aku. Tentang aku akhir akhir ini sibuk tidak ada kaitan dengan Cindy," kata Andre lagi. Andre dapat merasakan keraguan Sinta. Sinta masih diam. Dan membiarkan Andre berbicara. Sejujurnya Sinta merasa senang dengan pernyataan cinta Andre. Tetapi Sinta memilih bersikap biasa. Sinta tidak mau menunjukkan rasa senang yang berlebihan.
"Aku tidak mau kehilangan momen kehamilan kamu ini sayang. Mulai besok. Aku akan pulang seperti biasa," kata Andre lagi sambil mengelus perut rata Sinta. Sinta menatap Andre heran. Kalau mulai besok Andre bisa pulang seperti biasa itu artinya kesibukan dia hampir sebulan ini bukanlah hal yang sangat penting dan mendesak.
"Entah bagaimana aku harus membalas kebaikan Tini. Untung gadis tomboi itu tadi kelaparan dan membongkar sudut dapur," kata Andre lagi. Walau Sinta diam, Andre terus berbicara. Andre kini merangkul bahu Sinta. Dalam hati Andre masih penasaran maksud Sinta menyembunyikan kehamilannya ini.
"Sinta, apa kamu masih mencintai aku?" tanya Andre membuat Sinta gelagapan. Sinta menunduk menyembunyikan rona wajahnya. Hatinya berkecamuk antara memberitahu perasaannya atau tidak. Pernah ditolak sampai tiga kali membuat Sinta tidak percaya diri untuk mengungkapkan cintanya ke Andre. Rasa sakit itu membekas tapi anehnya tidak bisa menghapus rasa cintanya kepada Andre.
"Entahlah mas, aku tidak bisa mengartikan perasaan aku saat ini ke kamu. Melihat Airia bahagia dan mendapat kasih sayang yang cukup dari kita berdua itu sudah cukup bagi aku," jawab Sinta masih menunduk. Lebih baik mengungkapkan kata itu daripada harus mengakui cintanya kepada Andre. Sinta harus memastikan terlebih dahulu cinta Andre benar benar tulus kepadanya.
"Aku mengerti Sinta, jika rasa cinta yang pernah ada untukku kini terkikis. Kesalahan aku memang terlalu fatal. Tapi aku akan berusaha untuk meraih cinta mu lagi,"
"Bagaimana kalau tidak bisa mas, dan ternyata cinta aku bukan untuk kamu tetapi untuk yang lain,"
"Aku akan terus berusaha. Dan kamu hanya milikku selamanya. Apa Sean yang kamu maksud?" tanya Andre tidak percaya dengan apa yang diucapkan Sinta. Selama tiga bulan kembali bersama, Sinta selalu bersikap baik dan me?layani seperti keinginan Andre.
"Aku tidak menyebut nama siapapun mas. Jangan menebak sendiri. Apa kamu senang aku hamil lagi?"
"Aku sangat senang sayang," kata Andre sangat yakin. Kehamilan Sinta yang kedua ini merupakan hal yang ditunggunya selama dua bulan ini.
"Mas, aku menerima kehamilan ini sama seperti kehamilan aku yang pertama. Walau saat itu dari segi apapun keadaan aku tidak mendukung. Tapi di kehamilan kedua ini aku sangat kecewa kepada kamu mas," kata Sinta pelan. Spontan Andre menatap Sinta yang hanya berjarak beberapa centi dari dirinya. Andre sedikit gugup dan berkeringat.
__ADS_1
"Apa kamu tidak menginginkan kehamilan ini?" tanya Andre bingung.
"Aku tidak sekejam itu mas, hanya saja aku merasa kehamilan ini kamu sengaja dan alat supaya aku tidak bisa berkutik dari kamu. Kamu memberi aku pil KB, tetapi setelah aku tanya ke pihak apotik ketika membeli test pack. Itu bukanlah pil KB, melainkan pil penyubur kandungan. Dan aku juga merasa pernyataan cinta kamu hanya untuk berusaha menyenangkan aku. Bukan cinta yang sesungguhnya," kata Sinta panjang lebar. Ketika dia merasakan tidak enak di perutnya dan merasa mual pusing di pagi hari. Sinta membawa pil KB yang diberikan Andre untuk bertanya ke apotik tentang efek samping mengkonsumsinya.
Jawaban apoteker sangat mengejutkan Sinta, pil itu bukan pil KB melainkan pil penyubur kandungan. Saat itu juga Sinta membeli test pack dan mencobanya di kamar mandi apotik. Hasilnya positif garis dua. Sinta membeli susu hamil yang juga dijual di apotik itu. Dia sengaja menyembunyikan susu hamil dan meminumnya secara diam diam. Sinta tidak memberitahu Andre rentang kehamilannya karena sudah terlanjur kecewa akan Andre.
Andre terkejut mendengar perkataan Sinta. Dia memang sengaja memberi pil penyubur itu kepada Sinta. Andre tidak menyangka kebohongannya kali ini cepat terbongkar. Bukan maksud untuk membuat Sinta tidak berkutik. Andre hanya takut kehilangan Sinta. Rasa cinta itu memang nyata ada untuk Sinta.
Maafkan aku Sinta. Bukan seperti yang kamu pikirkan itu maksud aku. Aku hanya takut kehilangan kamu,"
"Tapi bukan seperti itu caranya mas. Kamu tahu jelas bahwa aku sudah semester enam. Tinggal beberapa bulan lagi semester tujuh. Bagaimana aku akan praktik kerja lapangan sedang hamil besar nanti. Kalau kamu mau Airia punya adik. Harusnya kamu bertanya kepada aku. Karena aku yang mengandung. Kita bisa menundanya sampai aku lulus kuliah. Aku jadi kasihan kepada diri aku sendiri dan kepada Airia dan calon janinku ini. Kehadiran mereka selalu di waktu yang tidak tepat,"
"Jangan katakan itu sayang, Airia dan calon janin kita ini dan juga kamu adalah berkat yang luar biasa bagiku. Aku saja yang bodoh tidak menyadarinya dari dulu. Aku akan buktikan cinta aku kepada kamu dan kepada anak anak kita kelak. Tapi aku mohon!. Tolong buka hati kamu kembali untuk aku," kata Andre serius. Dia sudah bersimpuh di kaki Sinta dan menggenggam kedua tangan Sinta.
"Jangan bersimpuh mas, duduklah di samping aku. Keseriusan tidak ditunjukkan dengan seperti itu. Keseriusan harus kamu tunjukkan dengan sikap dan tindakan kepada keluarga kecil kita ini. Aku menunggu pembuktian cinta kamu itu," jawab Sinta. Melihat Andre bersimpuh, Sinta tidak tega melihat Andre seperti itu. Walau kehamilan ini karena kebohongan Andre. Sinta tetap menerima dan memaafkan Andre. Andre sangat bahagia. Dia tersenyum dan memeluk Sinta.
"Terima kasih sayang," ucapnya tulus. Andre mengecup pucuk kepala Sinta dengan penuh kasih sayang. Ini yang pertama dia melakukan hal itu. Biasanya dekat bersama Sinta dia langsung main nyosor saja mencium bibir Sinta. Kali ini Andre memang ingin membuktikan bahwa cintanya kepada Sinta bukan karena ***** semata. Sinta juga merasakan ketulusan Andre kali ini. Dia membalas pelukan Andre. Dalam hati Sinta berdoa semoga Andre menjadi pasangannya sampai tua.
"Apa kamu tidak merasakan mual atau pusing di pagi hari?" tanya Andre. Tangannya masih mengelus perut Sinta. Sinta menatap Andre dengan malu malu.
"Kalau ada kamu, mual dan pusingnya tidak ada mas. Tapi kalau tidak ada. Aku sungguh merasakan mual dan pusing," jawab Sinta pelan. Dia merasa malu karena mengatakan itu. Jangan sampai Andre mengetahui bahwa dia memang mencintai Andre. Tapi memang itu nyatanya. Satu Minggu ini Sinta merasakan mual dan pusing jika berjauhan dengan Andre. Andre terkekeh mendengar jawaban Sinta. Andre merasa senang. Karena keberadaannya dekat Sinta bisa mengurangi bahkan menghilangkan mual dan pusing.
"Kalau begitu, aku harus mengekor kemanapun kamu pergi,"
"Ya tidak bisa begitu donk mas, kamu juga harus kerja,"
"Besok sore kita periksa ke dokter kandungan. Aku ingin mengetahui kondisi kandungan kamu," kata Andre. Sinta hanya mengangguk.
"Mau kemana mas?" tanya Sinta ketika Andre berdiri.
"Aku mau masak menu spesial untuk istri tercintaku" jawab Andre dengan tersenyum. Sinta menunduk. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
__ADS_1
Apa yang dialami Sinta berbanding terbalik dengan yang dialami Vina dan Tini. Sepanjang perjalanan Vina melihat jam tangannya. Vina takut, Radit duluan di rumah. Sebab jam sudah hampir menunjukkan pukul enam, sementara dia masih di perjalanan. Sedangkan Tini, gadis tomboi itu merasa kalah sebelum berperang. Mengingat Sean tidak menawarkan untuk kedua kali, Tini nebeng ikut mobilnya. Tini berpikir bahwa memang cintanya bertepuk sebelah tangan.
Tini melihat dirinya sendiri, gadis tomboi yang tidak pernah lepas dari celana jeans, kemeja dan sepatu kets dan juga ransel di punggung. Haruskah dia merubah penampilan supaya Sean melirik kepadanya. Tini terus berpikir dan berpikir tentang penampilannya. Dan setelah berpikir beberapa menit, Tini memutuskan tidak akan merubah penampilannya.
Dengan lesu dan ransel di punggung, Tini keluar dari warung bakso. Tadi sepulang dari rumah Sinta. Tini tidak langsung pulang. Dia masuk ke warung bakso tidak jauh dari rumah Sinta. Begitulah Tini, kalau ada masalah atau ada beban pikirannya, selera makannya meningkat. Padahal tadi di rumah Sinta, selain sarapan berujung penemuan susu hamil. Tini juga ikut makan siang.
Tini berjalan hendak menyeberang. Dia memilih naik angkutan umum daripada naik ojek atau taksi. Selain biaya yang lebih murah, Tini berharap bisa bertemu dengan orang lain untuk mengalihkan beban pikirannya.
Sinta tersentak ketika suara klakson mobil memekakkan telinganya. Dia memegang dadanya dan tidak jadi menyeberang.
"Tini, ayo masuk," ajak pengemudi mobil itu yang tidak lain adalah Sean. Sean hanya mengeluarkan kepalanya tanpa keluar dari mobil. Tini tentu saja terkejut. Pria itu tadi sudah pergi bersama Cici hampir satu jam yang lalu. Tetapi detik ini. Pria itu ada di depan matanya.
"Makasih kak, aku naik angkutan umum saja. Aku bisa pulang sendiri kok," jawab Tini yang sudah berdiri di samping pintu mobil Sean. Dia mengulangi perkataan Sean yang mengatakannya bisa pulang sendiri. Entah kenapa kata kata itu tadi sangat menyinggung perasaannya. Lagi pula Tini tidak mau berharap terlalu dalam akan Sean. Dia takut sakit hati seperti Sinta dan Vina. Melihat Sean dan Cici sangat akrab tadi, membuat Tini berencana akan mengubur dalam dalam rasa cintanya.
"Sudah naik saja!. Kalau kamu tidak mau naik. Aku akan bocorkan rahasia kamu yang menyuruh Andre memberi Sinta obat penyubur. Coba bayangkan kalau Sinta tahu, ide itu dari kamu," jawab Sean sambil memberikan senyum jahil kepada Tini. Tini merasa seperti ular yang kepalanya dipegang Sean. Tini tidak berkutik. Dalam hati dia menyesal telah memberikan ide itu kepada Andre. Akhirnya Tini naik ke mobil Sean.
"Calon pacarnya mana kak?" tanya Tini setelah dia duduk di samping Sean. Dia tidak melihat Cici lagi di mobil itu.
"Sudah aku antar sampai ke rumah indah. Katanya dia menginap di sana. Orang tua Indah ke luar kota," jawab Sean tenang. Mendengar jawaban Sean yang tidak membantah Cici sebagai calon pacarnya. Membuat Tini terdiam. Benar dugaannya bahwa Sean menyukai Cici sahabatnya sendiri.
"Tini, menurut kamu Cici itu gimana?" tanya Sean lagi. Matanya tetap fokus melihat jalanan.
"Cici itu baik kak. Selain cantik dia juga pintar. Dan juga tidak tomboi seperti aku. Sangat cocok untuk kak Sean. Aku dukung kakak dengannya," jawab Tini juga dengan tatapan lurus ke depan. Dia sengaja mengatur nada bicaranya supaya tidak ketahuan bahwa ketika mengatakan itu Tini menahan sakit hati yang teramat dalam.
"Dia tidak punya pacar atau mantan di kampus?" tanya Sean lagi. Dia benar benar tidak menyadari raut wajah Tini yang sengaja memalingkan wajahnya.
"Tidak ada kak. Mungkin dia terpesona dengan kakak di pandangan pertama hingga dia menutup hati kepada laki laki yang menyukainya di kampus,"
"Makasih informasinya Tini yang baik hati," jawab Sean sambil tersenyum. Dia menoleh ke samping dan melihat Tini yang sedang membuka ranselnya.
"Sama sama kak Sean yang ganteng, yang sudah mengisi hati Cici," jawab Tini sambil terkekeh. Di saat hatinya terluka dia masih bisa bercanda. Sean mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Tini. Tini menangkap tangan itu dan berucap.
__ADS_1
"Fokus menyetir kak, kalau Cici melihat kakak mengacak rambutku. Bisa hambar hatinya nanti," kata Tini tenang. Dia tidak akan membiarkan siapapun laki laki menyentuh dirinya walau hanya sekedar mengacak rambutnya. Termasuk Sean.