
"Kita mau kemana yah?" tanya Vina ketika Radit membelokkan mobilnya.
"Sewa kamar," kata Radit bercanda. Vina memukul lengan suaminya dengan manja.
"Sewa kamar kok di kota sendiri. Di luar kota atau di luar negeri donk yah."
"Itu pasti Bun. Tapi waktu dekat ini belum bisa. Kita akan liburan ke luar setelah kamu wisuda."
"Benar yah?. Serius?
Radit mengangguk. Sejak keuangannya sudah membaik beberapa bulan ini. Radit sudah menyisihkan uang pribadi untuk membawa keluarga kecilnya pergi berlibur ke luar negeri. Melihat wajah Vina yang berbinar, Radit sebenarnya ingin segera mewujudkan impiannya. Tapi ada hal yang membuat Radit tidak bisa secepat itu membawa Vina dan anak anaknya berlibur. Selain karena berkaitan dengan perusahaan, Radit juga tidak ingin menganggu Vina yang akan menyusun skripsi.
"Harusnya bukan sekarang untuk memberitahukan itu. Tapi karena kamu menyinggung luar negeri. Aku jadi tidak bisa menahan diri untuk memberitahukannya."
"Gak apa apa donk yah. Aku tahu sekarang. Aku jadi tahu untuk berhemat."
"Berhemat?. Apa uang yang aku kasih beberapa bulan ini terlalu pas pasan?" tanya Radit sudah mulai merasa bersalah setelah mendengarkan kata berhemat.
"Sebenarnya iya yah. Apa apa sekarang ini naik turun. Cabe, tomat, minyak goreng, bawang. Semuanya naik. Jujur jatah bulanan yang kamu kasih itu pas untuk kebutuhan rumah, keperluan bayi, dan membayar para pekerja."
"Maaf, maaf Bun. Aku kan tidak tahu harga harga yang kamu sebutkan itu."
"Belum ikan, daging, sayur, buah dan yang lainnya yah. Semua...."
"Sudah, sudah Bun. Tidak perlu diteruskan. Aku akan menambah jatah bulan ini 50 persen dari sebelumnya. Kira kira dengan segitu sudah cukup tidak. Termasuk biaya kamu kalau misalnya mau memanjakan diri," kata Radit serius. Demi apapun dia tidak ingin Vina kesusahan atau bingung untuk membagi uang jatah bulanan itu. Apalagi jika harus berhemat.
"Sepertinya sudah melebihi cukup kalau ditambah 50 persen yah. Segitu saja bisa dicukupkan apalagi kalau ditambah."
"Iya cukup. Tapi jangan menghemat apalagi sampai menghemat perut dan keperluan bayi bayi kita. Aku bekerja untuk mencukupi bahkan mensejahterakan keluarga. Aku tidak perduli tidak memegang uang asal kebutuhan kita tercukupi."
"Iya yah. Terima kasih karena sudah menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak anak kita," kata Vina sambil menunduk. Dia tidak tega melihat wajah Radit yang merasa bersalah. Dia tidak berbohong tentang jatah bulanan yang diceritakan kepada Radit. Hanya saja dia tidak cerita jika dia sudah menaikkan gaji para pekerja di rumahnya. Itulah yang membuat jatah bulanan itu tidak bersisa sama sekali. Dan itu masih terjadi dua bulan terakhir ini. Vina juga tidak langsung menuntut ke Radit karena dia tahu jika perusahaan baru beberapa bulan ini bangkit.
"Kita dimana ini yah?" tanya Vina ketika Radit sudah menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sudah masuk ke dalam gang.
"Turun Bun," kata Radit. Mereka turun bersamaan dari mobil. Vina melihat lahan kosong yang lumayan luas yang hanya ditumbuhi semak. Di sebelah lahan kosong tersebut ada rumah rumah sederhana yang sebagian berdindingkan papan. Vina menghitung rumah rumah sederhana itu dalam hati ada sebuah sekitar sebelas rumah. Rumah itu berjejer hingga ke belakang sebuah ruko bertingkat tiga yang menghadap ke jalan besar.
"Ini tanah yang diganti atas namaku itu yah?" tanya Vina menebak. Radit mengangguk. Dia menunjukkan harta tak bergerak yang sudah menjadi milik Vina. Menikah dan memilih berdamai dengan takdir membuat Vina menjadi wanita yang berbahagia, dicintai suami dan menjadi wanita kaya.
"Ini milikmu semua Bun," kata Radit sambil memakaikan kaca hitam ke Vina. Radit kemudian memakai kaca mata untuk dirinya sendiri.
"Ya ampun yah. Lahannya sangat luas. Apa tidak sebaiknya kita memberitahu ini kepada papa. Aku takut, sama seperti kamu. Papa juga sudah pernah melihat sertifikat itu."
"Tidak Bun, tidak perlu. Papa pun sebenarnya sudah mengetahui ini semua. Tapi papa pura pura tidak tahu. Dan papa senang sekali mengetahui sertifikatnya sudah berganti nama dengan namamu. Jadi jangan khawatir tidak akan ada kesalahpahaman suatu hari nanti."
"Jadi rumah itu bagaimana?" tanya Vina lagi.
"Mereka adalah pengontrak. Aku akan menyuruh seseorang setiap bulan untuk menagih uang kontraknya. Kemarin aku sudah kemari dan ternyata sudah satu tahun ini mereka tidak membayar kontrakan. Jika bulan depan mereka menunggak maka akan diusir."
"Jangan main usir donk yah. Kan kasihan. Sekarang ini makan saja susah, payah cari uang. Mereka tidak membayar mungkin karena tidak punya uang yah."
"Orang pemalas jangan dibela Bun. Tuh lihat di warung sana. Mereka adalah para kepala rumah tangga yang mengontrak di rumah ini. Tapi mereka seakan tidak ada tanggung jawab untuk membayarkan kontrakan karena selama ini, mama terlalu mudah kasihan."
"Kita kok urusin orang sih yah. Ayo pulang. Aku sudah tahu letak warisan yang sudah aku terima dari mama. Tidak ada alasan lagi kita berlama lama di tempat ini. Lagian Sinta sudah menunggu lama ini yah," kata Vina berjalan cepat menuju mobil. Selain karena sudah terik, Vina tidak ingin Sinta terlalu lama menunggunya. Mereka sudah janji hari ini untuk mengurus judul skripsi yang mereka ajukan.
"Sudah disetujui?" tanya Vina. Kini Vina sudah berada di hadapan Sinta di depan kolam. Sinta mengangguk lemah.
"Dosen pembimbingku Pak Joni. Vin," kata Sinta lemah. Pak Joni adalah seorang doktor lulusan luar negeri yang terkenal killer. Dan juga sangat susah ditemui. Tidak jarang mahasiswa yang menjadi bimbingan pak Joni. Banyak yang malas mengerjakan skripsinya karena pak Joni sulit ditemui. Pak Joni memang dosen yang sangat terkenal di kota ini. Dia mengajar bukan hanya di universitas ini. Pak Joni juga mengajar di universitas favorit lainnya.
"Tetap semangat donk Sin, Jangan langsung loyo begini. Sebentar aku tinggal ya. Aku tanya judul aku dulu," kata Vina pamit untuk ke ruang tata usaha. Vina setengah berlari menuju ruangan tata usaha. Dia juga sangat penasaran dengan tiga judul yang sudah diajukan. Dia berharap bukan pak Joni yang menjadi dosen pembimbing maupun dosen pengujinya.
Sama seperti Sinta. Kini Vina juga sudah duduk lemas di sebelah Sinta di depan kolam itu. Dosen pembimbing mereka sama. Sinta sedikit merasa lega. Ada Vina sahabat yang akan menjadi teman memburu pak Joni ke universitas lain. Sama seperti yang dilakukan mahasiswa senior yang dosen pembimbingnya adalah pak Joni.
"Tetap semangat donk Vin. Jangan langsung loyo begini," kata Sinta mengulangi perkataan Vina. Vina tertawa.
"Kenapa ya bukan suami kamu yang menjadi dosen pembimbing kita."
__ADS_1
"Aku justru lebih suka jika dosen pembimbingku bukan mas Andre."
"Kenapa Sinta?.
"Biasa urusan ranjang Vina. Kalau di kampus mas Andre tidak akan menyangkut pautkan pernikahan kami. Tapi jika di rumah. Urusan belajar, jika mas Andre mengajari aku. Maka imbalannya olahraga ranjang dua ronde yang biasanya hanya satu ronde."
"Kalian setiap malam melakukannya," tanya Vina pelan. Sinta mengangguk.
"Kecuali kalau si merah bertamu," bisik Sinta lagi. Pembicaraan keduanya tidak lagi tentang judul skripsi dan dosen pembimbing. Kini Keduanya mengalihkan pikiran dari dosen pembimbing si dosen killer.
"Kamu dijemput kak Radit?. Vina mengangguk. Mereka berdua tidak menyadari jika Andre dan Radit sudah memperhatikan mereka dari parkiran.
"Jangan pergi dulu Vin, Sebentar lagi mas Andre akan turun."
"Itu bukannya kak Andre dan suamiku. Iya. Itu mereka. Kita ke sana sekarang," kata Vina. Dua sahabat itu sama sama berdiri dan menghampiri Andre dan Radit yang serius berbicara.
"Mau ke pantai mi?. Tanya Andre setelah dua wanita itu berada di hadapan mereka.
"Pantai. Tengah hari seperti ini?" tanya Sinta heran. Radit sudah menuntun Vina untuk masuk ke dalam mobil.
"Radit mengajak ke pantai. Dia berencana mentraktir kita berdua sebagai ucapan terimakasih karena aku sudah membantunya selama ini. Bagaimana mi. Setuju kan?" tanya Andre. Sinta berpikir sejenak.
"Kita pulang sore kan?.
"Iya. Pulang donk," jawab Andre. Dia sudah membuka pintu mobil untuk Sinta. Andre kemudian memberikan kode kepada Radit untuk jalan terlebih dahulu.
"Kita mau kemana yah. Sepertinya mobil kak Andre mengikuti kita," kata Vina. Mobil sudah meluncur ke arah berlawanan dengan jalan menuju rumah mereka.
"Sewa kamar," jawab Radit sambil tertawa.
"Aku serius yah. Bukan bercanda," kata Vina lagi. Nadanya sudah kesal karena sudah dua kali dia bertanya. Jawaban Radit mengatakan sewa kamar.
"Jangan kesal gitu donk sayang. Kita mau refreshing dulu. Supaya kalian semangat mengerjai skripsi," kata Radit sambil membelai rambut Vina dengan tangan kirinya.
"Rencana apa Bun?" tanya Radit lembut.
"Aku ada janji dengan Tini dan Tante Mia di rumah Tini."
"Jadi bagaimana ini Bun, tidak mungkin aku membatalkan rencana ini. Andre tadi terlihat sangat senang sekali."
"Aku juga tidak mungkin membatalkan rencana aku dengan Tante Mia. Kalau dengan Tini tidak masalah. Ini dengan orang tua loh yah."
Radit jadinya bingung. Andaikan dia hanya mengajak Vina. Mereka bisa langsung putar balik.
"Jadi bagaimana. Apa kita terlebih dahulu ke rumah Tini kemudian ke pantai?"
"Akan kelamaan. Kami janji jam tiga. Begini saja yah. Kamu ke pantai dengan Sinta dan Andre. Aku ke rumah Tini. Tapi sebelum ke rumah Tini aku mau ke rumah sebentar melihat anak anak."
"Tidak bisa. Aku tidak mau jadi penonton kemesraan Sinta dan Andre di sana."
"Jangan egois donk yah. Aku tidak suka," kata Vina semakin kesal. Radit tiba tiba menghentikan mobil dan melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Kemudian Radit duduk menyamping menghadap Vina dan meraih kepala istrinya. Radit membungkam mulut istrinya dengan ciuman lembut.
"Jangan gila yah. Ini jalan raya. Bukan jalan nenek kita yang bisa sembarangan parkir seperti ini."
"Ada apa dengan kamu Bun. Kok sangat sensitif seperti ini?" tanya Radit sambil menatap wajah istrinya.
"Kamu dapat tamu?" tanya Radit lagi. Vina mengangguk. Radit menarik nafas lega. Radit mengambil ponsel dan menghubungi Tini.
"Tante Nia hanya ingin memberikan sesuatu untuk si kembar. Dan sudah dititip di rumah Tini. Nanti sore bisa singgah di sana sebentar. Kita ke pantai ya sekarang?.
Vina akhirnya mengangguk setuju. Tidak ada alasan baginya lagi untuk menolak ajakan Radit.
"Yah, sebentar," kata Vina ketika Radit hendak menjalankan mobilnya kembali.
"Ada apa Bun?.
__ADS_1
'Yah, aku mau tanya. Di jawab jujur ya!. Apa aku sering menjengkelkan dan kekanakan?" tanya Vina. Radit tertawa dan mencubit pipi Vina gemas.
"Kadang kadang sayang. Dan itu sifat alami manusia. Lagipula mana ada manusia sempurna. Dan kamu adalah wanita yang paling baik yang pernah aku kenal setelah mamaku. Itu sudah cukup bagiku."
"Ini bukan gombal kan."
"Bukan, tapi rayuan pulau kelapa," jawab Radit sambil tertawa. Radit sudah menjalankan mobilnya. Vina hanya menatap wajah suaminya dari samping. Dia tidak menyangka rumah tangganya bisa bahagia seperti ini. Mengingat bagaimana dulu mereka mengawali pernikahan.
"Jangan diliatin seperti itu Bun. Nanti berkurang kadar ketampanan suamimu ini."
"Kalau dilihat dari samping, ternyata kamu memang tampan yah. Tapi jika dilihat dari depan....,"
"Pasti jelek. Itu kan yang mau kamu bilang."
"Bukan. Aku mau bilang kalau suamiku dilihat dari depan lebih tampan dan berwibawa."
"Terima kasih bunda," kata Radit tersenyum. Semua tingkah istrinya selalu bisa membuatnya tersenyum.
Vina merentangkan tangannya. Angin laut menyambut mereka di pantai itu. Vina memejamkan matanya. Angin yang menerpa wajah ikut menentramkan hatinya yang sedang berbahagia. Radit menghampiri istrinya yang masih betah dengan tangan terentang. Posisi itu memudahkan Radit memeluk Vina dari belakang. Sinar matahari yang terik tidak menghalangi dua pasang suami istri itu untuk menikmati alam.
Tidak jauh dari mereka. Andre dan Sinta saling berpegangan tangan menyusuri bibir pantai. Celana bahan yang dipakai oleh Andre sudah digulung sampai lutut. Lengan kemeja juga digulung sampai siku. Sepasang suami istri kompak tidak menggunakan alas kaki.
"Sebentar mi," kata Andre. Sinta berhenti. Andre sudah berjongkok di depan Sinta dan menggulung celana Sinta sampai beberapa gulung. Sinta tersenyum melihat aksi suaminya itu.
"Terima kasih papi ku sayang," kata Sinta sambil tersenyum. Tangannya langsung cepat mendarat di pinggang Andre. Mereka kembali menyusuri pantai itu.
"Mau berenang?" tanya Andre.
"Tidak Pi. Begini saja," kata Sinta sambil bergelayut manja di lengan Andre. Andre memegang tangan Sinta.
"Pi, terima kasih karena mengajak aku ke mari. Aku pernah memimpikan berjalan dan bergandengan mesra di tepi pantai seperti ini. Dan hari ini mimpi itu terwujud," kata Sinta. Mereka kini sudah duduk di pasir dengan menghadap ke lautan luas.
Andre menoleh ke Sinta. Ada rasa bersalah di hatinya yang mengikat Sinta dengan pernikahan siri. Masa muda istrinya terenggut hanya untuk melayani dirinya di ranjang.
"Sebelum menikah denganku. Apa kamu tidak pernah pacaran sebelumnya?" tanya Andre sambil menatap wajah istrinya yang sudah kemerahan karena diterpa sinar matahari.
"Belum."
"Berarti aku adalah cinta pertama kamu. Betul?.
"Bukan hanya yang pertama. Kamu semuanya yang pertama bagiku. Suka dan duka."
"Dukanya tidak perlu disebut. Aku akan menjadi suka dalam setiap nafas hidupmu," kata Andre sambil merangkul bahu istrinya.
Tidak jauh dari mereka. Radit dan Vina juga sudah duduk menghadap ke lautan lepas. Tangan mereka saling menggenggam. Sepasang suami istri itu merasakan kedamaian. Hembusan angin itu membuat Radit semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Vina.
"Mau minum air kelapa bun?" tanya Radit. Vina mengangguk. Radit berdiri dan berjalan mendekati Andre.
"Bro mau nitip tidak. Aku mau beli air kelapa," tanya Radit. Bukan menjawab Andre justru berdiri dan pamit ke Sinta untuk membeli air kelapa. Sinta akhirnya mendekat ke Vina dan duduk disebelahnya.
"Sinta, apa kamu merasa bahagia dengan kak Andre?.
"Sangat. Dan aku berharap selalu seperti itu selamanya walau ada pertengkaran pertengkaran kecil. Tapi justru itu yang membuat kami saling bisa memahami karakter masing masing. Bagaimana dengan kamu. Apa kamu bahagia dengan kak Radit?"
"Aku bahagia Sinta. Terimakasih karena sudah memberikan nasehat terbaik untuk aku. Andaikan aku menuruti rasa benciku waktu itu. Pasti tidak berada di tempat ini," kata Vina dengan mata yang menerawang. Sinta merentangkan tangannya. Mereka berpelukan sangsi erat. Dua wanita bersahabat itu akhirnya berbahagia setelah melewati banyak cobaan pernikahan. Menikah dengan pasangan tanpa didasari cinta. Tapi mereka sabar dan berhasil menanti cinta suami hingga mereka berbahagia. Penantian mereka tidak sia sia. Bukan hanya suami yang baik, setia dan mencintai mereka apa adanya. Perubahan yang sangat besar dalam diri Andre dan Radit mengantarkan dua pria itu menjadi pria dewasa, bertanggung jawab dan budak cinta.
"Kita tidak berpelukan?" tanya Radit kepada Andre yang melihat istri mereka berpelukan. Mereka sudah berdiri di belakang Vina dan Sinta hanya berjarak sekitar tiga meter. Di tangan mereka kiri kanan bertengger kelapa muda. Sinta dan Vina seketika melepaskan pelukan mereka. Mereka bersamaan berbalik dan melihat Andre dan Radit.
"Enak saja. Aku masih normal bro. Lebih enak memeluk istri sendiri daripada orang lain apalagi orang lain itu kamu," jawab Radit ketus.
"Kok beli dua yah?. Satu kelapa muda bagi dua kan lebih nampak mesra," kata Vina. Hal seperti itu yang biasa dilihatnya bagi pasangan jika minum air kelapa muda.
"Terik begini tidak puas minum air kelapa bagi dua Vina. Itu berlaku untuk pasangan yang suka menghemat. Kami adalah pria royal yang bekerja keras untuk kebahagiaan keluarga. Iya kan bro?" tanya Andre. Radit hanya mengangguk.
"Jangan satu kelapa muda. Apapun itu yang membuat kamu senang. Aku akan berusaha keras untuk membelikannya," kata Radit. Vina menatap suaminya penuh cinta.
__ADS_1