
Di rumah besar Jonathan.
Di kamar dua sejoli, terlihat Alva dan Chilla baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut keduanya sama-sama basah, setelah keramas dan mandi dengan air hangat.
Alva mendekat, lalu memeluk tubuh ramping itu dari belakang. Tak pernah bosan, lelaki itu selalu menghirup aroma tubuh sang istri yang begitu memabukan.
"Sayang, hari ini ada jadwal periksa kandungan kan?" Tanya Alva, semalam ia sempat melihat kalender di ponselnya.
Dan dia selalu menandai hari-hari penting yang menyangkut sang istri.
Ditanya seperti itu, Chilla mengangguk sebagai jawaban. "Nanti aku sama pak Zul saja, Sayang."
Chilla mencoba melepaskan pelukan Alva, dia membungkuk dan mengambil dalaman untuknya dan sang suami, dari dalam lemari pakaian.
Alva menerima uluran itu, tanpa tahu malu dia langsung memakainya di depan Chilla, membuat gadis itu hanya bisa menghela nafas sambil geleng-geleng kepala.
"Nanti aku yang antar, kau ikut saja ke kantor yah." Ucap Alva, lalu meminta sang istri memakaikan kemeja kerjanya.
Patuh, bahkan dengan senang hati Chilla memasangkan kemeja itu di tubuh tegap suaminya. Lelaki yang menjadi pusat hidupnya kini, dan nanti.
"Memangnya tidak apa-apa? Bukankah Kakak ada rapat, nanti kalau aku mengacaukannya seperti waktu itu bagaimana? Kan Kak Juna sedang cuti, Sayang." Tangan Chilla sibuk dengan kancing, sedangkan mulutnya tak berhenti bicara.
Alva mengusap pipi mulus itu pelan, dan meninggalkan kecupan singkat di sana. "Semuanya akan beres, tenang saja."
Gadis itu mengulum senyum, lalu membalas kecupan pula di bibir suaminya.
Chilla mendudukkan Alva yang sudah rapih dengan pakaiannya, dia mengambil handuk kecil, lalu mengeringkan rambut suaminya yang basah.
Sedangkan tangan Alva terulur, mengelus perut buncit itu. Keduanya sama-sama melempar senyum, lalu Alva membungkukkan kepala, untuk sekedar mencium buah hatinya yang masih ada dalam perut Chilla.
"Sehat-sehat anak Daddy. Sebentar lagi kita akan bertemu, jangan buat Mommymu susah ya, Sayang." Ucap Alva, tak berhenti mengelus perut buncit itu.
Tak ada kebahagiaan lain di dunia ini, selain merasa begitu dicintai.
Dengan jejuta buncahan kebahagiaan, Chilla menangkup rahang Alva, dia memberikan ciuman yang dalam, tanda terimakasih telah menjadi suami siaga untuknya dan calon buah hati mereka.
"Terimakasih sudah berusaha menjaga kami. Meskipun awal kita adalah sesuatu yang salah, tapi aku berharap, Kakak tidak akan pernah menganggap dia sebuah kesalahan." Ucap Chilla saat ciuman itu berakhir, kini ia berganti menatap netra sang suami. Sedangkan tangannya dengan setia mengelus pipi lelaki itu.
"Ini kewajibanku, Sayang. Dan ingat, jangan pernah berkata seperti itu lagi, bagiku kau dan dia adalah anugerah terindah yang Tuhan kirimkan, melebihi apapun di dunia ini, kau dan dia jauh lebih berharga."
Alva menggapai tangan Chilla, lalu mengecupinya bertubi-tubi menyalurkan semua cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah rapat selesai, Alva mengajak sang istri untuk ke pergi ke Dokter kandungan, sesuai dengan rencana mereka.
__ADS_1
Dia pun ingin merekomendasikan Chilla memakai kursi roda, agar gadis itu tidak mudah lelah.
Seperti saat ini, menuju parkiran Chilla digendong oleh Alva dan disaksikan oleh semua karyawan yang ada disana.
Desas-desus mulai terdengar, mereka berbisik satu sama lain menyuarakan kecemburuan, ingin juga memiliki suami seperti Alva, bos mereka.
Sedangkan dibalik dada bidang itu, Chilla terus menyembunyikan wajahnya, yang tak berhenti untuk mengulum senyum.
Dia terlalu malu, untuk menjadi pusat perhatian para karyawan perusahaan.
"Sayang, kenapa harus gendong sih, aku masih kuat berjalan." Gumam Chilla saat mereka hampir sampai ke basemen.
"Aku hanya ingin merasa berguna untuk istri dan anakku." Balas Alva singkat, dan lagi-lagi hanya uluman senyum yang Chilla berikan.
Keduanya masuk ke dalam mobil, tanpa ba bi bu Alva langsung menyalakan mesin dan meninggalkan halaman perusahaan, menuju rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Tempat dimana dokter Susan berada.
Sesampainya disana, Chilla merasakan kantung kemihnya penuh. Dia meminta izin pada Alva untuk ke toilet sebentar.
"Sayang, aku ke toilet dulu yah." Pamit Chilla, saat sabuk pengaman itu lepas dari dirinya.
"Aku antar yah." Tawar Alva, jujur ia selalu merasa tidak tenang, jika Chilla pergi sendiri tanpa didampingi siapapun.
Pelan, Chilla menggeleng. "Masa ke toilet harus ditemani, nanti apa kata orang-orang Sayang. Aku akan baik-baik saja, sudah yah, sudah tidak tahan."
Chilla merasakan kelegaan yang luar biasa, beberapa saat mengantri membuatnya harus menahan rasa tak nyaman itu, dan ketika hendak berlalu dari sana, tak sengaja ada seseorang yang menabrak bahunya, hingga dia sedikit oleng.
"Aw!"
Brugh!
Chilla jatuh ke pelukan Alva, dengan perasaan khawatir lelaki itu langsung memeriksa bahu Chilla. "Sayang apa ada yang sakit?" Tanya Alva cemas.
Dia memang sengaja menyusul sang istri, takut terjadi sesuatu. Dan dugaannya benar.
Chilla menggeleng. Dan Alva tidak percaya itu. Dia langsung mengecupi bahu Chilla dengan sayang. "Katakan kalau memang ini sakit, biar aku tuntut orang yang menabrakmu."
"Maafkan Saya, Nona. Saya tidak sengaja." Ucap seorang wanita yang tak sengaja menyenggol bahu Chilla. Wanita dengan kerudung panjang yang membungkus kepalanya.
Posisi mereka tadi sedikit berdesakkan, hingga membuat dia tidak melihat ibu hamil itu hendak keluar.
Mata Alva memicing tajam ke arah wanita yang hampir saja mencelakai istrinya itu, membuat wanita itu menelan salivanya susah payah.
"Kak sudah, aku sudah tidak apa-apa." Chilla memeluk erat lengan Alva sambil mengusap-usap bahu lelaki itu supaya tenang.
__ADS_1
Tahu, emosi Alva pasti langsung terpancing jika menyangkut tentang dirinya.
"Tapi dia hampir melukaimu dan anak kita, Sayang." Cetus Alva masih tidak terima. Seandainya dia tidak datang, bagaimana nasib Chilla?
"Sekali lagi, maafkan saya Tuan, Nona." Wanita itu terus menunduk dalam, merasa bersalah.
"Iya, Mbak. Aku juga tidak apa-apa," sahut Chilla, ingin masalah ini cepat selesai.
"Tidak apa-apa, bagaimana? Bahumu pasti sakit, Sayang. Bagaimana kalau sampai mengganggu perkembangan anak kita?"
"Kak, yang sakit itu bahuku, tidak akan terjadi apapun dengan Baby kita." Chilla merasa akan semakin kacau kalau Alva masih ada di sana.
Belum lagi, semua mata yang tengah memandang ke arahnya.
Dengan tergesa, Chilla menunduk untuk pamit, dan segera menarik lengan Alva untuk menjauh. Sedangkan lelaki itu tak berhenti untuk merutuk, masih tidak terima.
"Sayang, lain kali aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri." Tegas Alva saat mereka sudah sampai di depan ruangan Dokter Susan.
Dan kali ini, Chilla hanya mampu mengangguk pasrah, atas semua kemauan suaminya. Dia tahu, Alva sedang berusaha melakukan yang terbaik untuknya, dan dia tidak akan terbebani oleh itu.
"Iya, Sayang." Balas Chilla dengan senyum mengembang.
"Kalau begitu cium dulu," jurus pamungkas agar hatinya kembali tenang.
Cup!
Satu kecupan melandas di pipi kanan lelaki itu, mereka sama sekali tak peduli dengan seluruh mata yang memandang, mereka semua bagai manekin hidup di mata Chilla dan Alva.
Dengan saling mengulum senyum, keduanya masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Seperti biasa, Chilla diminta untuk berbaring, sedangkan Alva dengan setia berdiri di samping brankar, dengan menggenggam tangan istrinya.
Kini mereka tengah melakukan USG.
"Dok, apa kita sudah bisa melihat jenis kelamin bayinya?" Tanya Chilla antusias, dia sudah tidak sabar untuk menyiapkan segala keperluan sang anak. Pasti sangat menyenangkan, batinnya.
Dokter Susan tersenyum. "Belum, Nona. Nanti sekitar satu bulan lagi baru bisa, kita akan sama-sama melihat jenis kelamin anak kalian." Terangnya. Ikut merasakan kebahagiaan pasangan satu ini.
Chilla dan Alva saling melirik, lelaki itu dengan sayang mengecup dahi Chilla. "Aku sudah tidak sabar ingin mengetahuinya."
Chilla makin tersenyum lebar, sama halnya dengan Alva, diapun sudah tidak sabar ingin melihat jenis kelamin bayi mungil yang mengisi rahimnya.
Kira-kira jenis kelaminnya apa yah?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Menurut kalian apa? Cowok ngeselin kayak Kakak suami, atau cewek gemesin kayak Mommy Chilla?
Salam anu👑