Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Alva mengoceh


__ADS_3

Belum ada beberapa menit di dalam angkot, Alva sudah mulai kepanasan. Dengan nafas yang memburu, dia membuka jas mahalnya, menyisakan kemeja putih yang digulung hingga ke siku.


Namun, itu semua tak berarti apa-apa. Peluh mengucur deras dari pelipisnya menuju tulang selangka. Dia beberapa kali mengibaskan tangan, merasa tak sanggup akhirnya dia menarik dasi secara kasar dan membuka satu kancing teratas kemejanya.


Dada putih yang dipenuhi keringat itu terlihat begitu kentara. Membuat lelaki tampan itu semakin mempesona.


"Kak," Chilla yang melihat itu lantas memanggil Alva.


Sedangkan beberapa pasang mata kaum hawa langsung melotot, dengan ludah yang terasa keluar semakin banyak, melihat mahkluk ciptaan Tuhan yang begitu indah tengah berada dalam satu tempat dengan mereka.


"Hah, Sayang, apa di sini tidak ada AC? Kenapa panas sekali, tolonglah kalau ada dinyalakan." keluh Alva, wajahnya sudah tampak memerah, dia terus membuang nafasnya kasar, tidak tahan dengan suasana seperti ini.


Panas, berdesakkan, bahkan bau tidak sedap terus menguar-nguar tidak karuan.


Tempat sialan!


"Tentu saja tidak ada, Sayang," jawab Chilla, dia mengelap dahi Alva, rambut lelaki itu terasa basah.


Sebenarnya dia juga kasihan, tapi mau bagaimana lagi, ini semua keinginan anak mereka.


"Cih, kenapa orang-orang mau naik kendaraan seperti ini sih. Sudah sempit, tidak ada AC, bau lagi, aku tidak tahan!" gerutu Alva dengan wajah masam.


Membuat semua orang yang ada di sana, langsung melayangkan tatapan aneh, ke arah lelaki yang tengah menggerutu itu.


"Ya sabar, Sayang." Chilla mengelus-elus punggung kekar Alva, wajah lelaki itu semakin terlihat frustasi.


Dia menggeram, lalu mengepalkan tangan kuat, dan meninju udara di sekitarnya.


"Kurang sabar apa aku? Lagian kenapa tidak di pasang AC, setidaknya jangan membuat orang tersiksa, hah panas sekali!" Lelaki satu ini semakin banyak mengoceh, apalagi cuaca ibu kota yang sedang terik-teriknya, dengan kepadatan jalan raya yang tak pernah ada sepinya.


Dan gerutuan itu, membuat satu ibu berdaster menatapnya sinis. "Mas, kalo angkot ada AC nya, yang ada dari rumah sampe ke pasar ongkosnya seratus ribu, lah ini modal 3 rebu minta ada AC, noh ke bus pariwisata, lengkap AC, kamar mandi, WiFi juga ada." paparnya menanggapi ocehan Alva.


Semua orang menahan tawa, sedangkan Alva langsung memicing tajam dengan tangannya yang semakin terkepal kuat, menahan kesal.


"Sayang, sudah. Makanya jangan marah-marah terus," Chilla mencoba menenangkan, dia memeluk lengan suaminya erat.


"Bagaimana aku tidak marah-marah, ini namanya penyiksaan, Sayang."

__ADS_1


"Mas," panggil si supir angkot.


"Apa? Kau mau bicara kalau aku suruh baik bus pariwisata juga? Ku jahit mulutmu nanti!" cetus Alva, menghentikan niatan si supir angkot yang akan kembali bicara. Padahal dia sudah mangap-mangap, hendak mencairkan suasana.


Seram sekali. Batinnya.


"Kakak!"


"Hah, aku benar-benar tidak tahan, kenapa sih anak kita meminta naik kendaraan seperti ini," sumpah demi apapun, Alva sebenarnya ingin mengumpat, tetapi karena menghargai Chilla, dia tidak berani melakukannya.


Mendengar itu, Chilla melepaskan pegangan tangannya pada Alva. Bola matanya mulai menggenang, dengan bibir yang mengerucut.


"Jadi kakak tidak ikhlas menemaniku?" suaranya terdengar bergetar, menahan tangis.


Alva buru-buru menahan tangan Chilla, satu tangannya menangkup pipi ibu hamil itu. "Bukan seperti itu, Sayang. Maksudku, yang wajar kan bisa."


"Memangnya angkot itu tidak wajar?"


"Jelas tidak wajar. Bagaimana seseorang menciptakan mobil seperti ini_"


Tampan, tapi mulutnya lemes.


"APA?" cetus Alva dengan suara yang meninggi.


"Dih, kok galak kan dia sih?" ucap salah satu dari mereka.


Alva kembali tersulut emosi, siap untuk memaki. Tetapi cengkraman tangan Chilla membuatnya urung, ibu hamil itu terlihat meringis. "Aduh, aduh!"


Wajah Alva berubah pias, dengan perasaan cemas yang membuncah, lelaki itu memegangi tubuh Chilla. "Sayang, kau kenapa?"


"Perutku sakit, Kak." keluh Chilla, dia semakin mencengkram kuat lengan Alva hingga kulit lelaki itu memerah. Perutnya melilit, dengan pinggang yang terasa semakin kencang.


Sedangkan peluh mulai menderas.


"Hah, pasti gara-gara kau naik angkot ini!!" maki Alva tak habis-habis.


"Mas, Kak!" lagi-lagi orang memanggil lelaki tampan itu berbarengan.

__ADS_1


"APA?" Alva hendak menanggapi picingan mata semua orang, tetapi Chilla justru mencakar tangannya.


"Kak perutku sakit," gadis itu mengerang kecil.


"Sayang, kau jangan bercanda. Jangan buat aku takut Chilla."


"Neng sakitnya kaya gimana?" tanya seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya, dia ikut mengelus-elus punggung Chilla.


"Kenceng gitu, Bu."


"Kan benar, ini pasti gara-gara naik angkot ini."


"Mas!!!"


"Apa? Apa salahku?"


"Istrimu itu mau melahirkan, Mas," jawab wanita paruh baya itu dengan lembut. Dia yakin, menghadapi Alva dengan emosi, malah berujung panjang dan tak habis-habis.


Mendengar itu, mulut Alva langsung menganga, bahkan dia sedikit menggelengkan kepala, merasa tak percaya.


"Hah? Melahirkan? Sayang benarkah? Bukannya seminggu lagi?"


Chilla menggeleng, dia tidak tahu. Tetapi rasa sakitnya semakin menghujam, hingga dia meraung keras, membuat semua orang ikut panik.


"Nggak tahu, Kak. Tapi perut aku sakit banget, ngghhh."


"Kalau begitu, pergi ke rumah sakit!!!" pekik Alva cepat, dia langsung memukul kursi kemudi, hingga si supir terkesiap, dia memegang dada, tempat dimana jantungnya berada, jantung yang hampir saja terlepas dari sarangnya.


"Heh, Mas kita ini ada yang mau pergi kerja, kuliah_"


"Ke rumah sakit sekarang!!!!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Si kakak ngamokkk🙈🙈🙈


__ADS_1


__ADS_2