
Alva melirik ke bawah, tepat ke arah belalainya. Dia memejamkan mata sejenak, merutuki kebodohannya, yang tidak merasakan handuk itu terlepas dari tubuhnya.
Alva meneguk ludah, dengan wajah memerah dia bangkit. Dan secepat kilat lari ke dalam rumah. Begitu sampai di ambang pintu, lelaki itu berteriak kencang. "Aaaaaaa..."
Semua orang tergelak dengan memegangi perut masing masing, tak terkecuali Pram. Benar, baru kali ini lelaki paruh baya itu, tertawa lepas melihat kekonyolan menantunya.
Lelaki yang biasa berdiri tegak, dengan begitu sempurna, tengah merasakan malu luar biasa.
Untung Alva masih memakai celana berbentuk segitiga. Kalau tidak, Mona dan yang lain bisa menganga dengan ukuran juniornya. Ingat, besar, kokoh dan terpercaya.
Bak belalai gajah.
"Ya ampun, Chilla. Suami kamu itu bener-bener yah, saking bucinnya sama istri sampe nggak kerasa handuknya jatuh dimana?" Ujar Mona masih tertawa keras bersama Sarah.
Bahkan dua wanita paruh baya itu sampai meneteskan air mata, saking lamanya mereka terbahak, menikmati wajah Alva yang terlihat sangat merah, menahan malu.
Chilla menggigit bibir bawahnya, sambil menahan senyum. Sedangkan para bapak-bapak, makin asyik dengan obrolan mereka, seraya tepuk-tepukan pundak, mengingat masa muda.
Gadis itu bangkit, lalu pamit pada kedua ibunya itu. "Ma, aku nyusul kakak dulu yah." Ucapnya seraya menunjuk ke dalam rumah.
Mona dan Sarah yang masih traveling dengan benda yang menggantung dibalik kain segitiga itu, hanya mengangguk kompak.
Mulai deh, curhat ukuran junior suami masing-masing, dengan gaya-gaya favorit mereka.
Dengan hati-hati Chilla menapaki anak tangga menuju kamarnya. Tanpa mengetuk, Chilla menyelonong masuk, dan mendapati Alva sudah mengenakan kaos santai berwarna putih. Dan sedang merapikan rambutnya di depan cermin.
Melihat Chilla datang, Alva langsung berbalik.
"Sayang," Alva menyerang tubuh Chilla dengan memeluk erat tubuh istrinya itu, meski tidak bisa seerat dulu. Rasa malu itu masih membekas, bahkan wajahnya masih sedikit memerah.
"Ada yang hilang nggak, Kak?" Canda Chilla dengan menahan tawa, berniat meledek suaminya itu. Alva menarik diri, dan menatap Chilla dengan tatapan yang entahlah.
Alva memegang pergelangan tangan Chilla. "Periksa sendiri." Ucap Alva setelah jemari lentik itu berada di area belalainya.
__ADS_1
Chilla mendelik, dan Alva mulai bisa tersenyum penuh seringai licik, "Ayo periksa aku, Sayang. Aku takut belalai kesukaanmu terbang tadi." Rengek Alva, seraya menghimpit tubuh itu hingga mendesak ke arah ranjang.
Niat meledek Alva, sekarang dia yang kena getahnya.
Sadar dirinya sudah terkunci, Chilla menatap sebal suaminya itu, dia memukul dada Alva keras, dia ingin terlepas. "Kakak ih, jangan mesum terus. Ayo ah keluar, udah ditungguin tahu sama Mama Papa."
Chilla melengos dan hendak melangkah, tapi Alva buru-buru mencekal lengannya.
Alva malah menyeringai, mencurigakan. Dan Chilla mulai waspada.
Dengan seribu jurus pamungkasnya, Alva menarik tengkuk Chilla dan melumaat bibir mungil itu, awalnya Chilla berusaha mendorong dada Alva untuk menjauh.
Namun, lama kelamaan, Chilla justru meremat kaos yang Alva kenakan. Lumataan itu semakin terasa menuntut, lidah berbelit itu tak bisa lagi dibilang wajar, karena membuat keduanya sama-sama hampir tidak sadar.
Hingga ketukan di pintu kamar mereka, menghentikan semuanya. Rasa panas yang tengah berkobar hebat itu terpaksa harus padam, kilatan kabut gairah itu terpaksa harus hilang.
"Siapa?" Alva berteriak kesal dari dalam kamar, karena seseorang orang yang mengetuk pintu, tak lekas buka suara.
"Anu, Tuan. Tuan sama Nona ditunggu Nyonya di depan." Ucap Bi Sumi takut-takut. Bagi seseorang yang jauh dari suami seperti dirinya, apapun yang berkaitan dengan Alva dan Chilla, semuanya terasa horor dan begitu menakutkan.
Tak menjawab lagi, dari dalam sana justru terdengar suara Chilla merintih. Membuat Bi Sumi tahan nafas, dengan segala pemikirannya.
Sabar, sabar.
Dianggap seperti pengganggu, tanpa bicara sepatah katapun, Bi Sumi buru-buru pergi, dan untuk suara-suara itu, biar dia simpan saja di dalam hati.
Chilla mencebikkan bibirnya, dan mendengus kesal dengan tingkah Alva. Tiba-tiba saja lelaki itu menggigit lehernya, karena terkejut Chilla reflek mengeluarkan suara, suara yang terdengar mendesaah.
Alva tergelak kencang, menangkup kedua sisi pipi Chilla dan menciuminya bertubi-tubi. "Kenapa istriku menggemaskan sekali sih."
Dan detik selanjutnya, Alva membawa tubuh ibu hamil itu mengudara. Menggendongnya ala bridal style, keluar dari dalam kamar menuju halaman.
Tempat dimana pesta kecil-kecilan itu diadakan.
__ADS_1
"Berasa kaya penganten baru terus yah. Kalo udah di kamar bawaannya nggak pengen keluar-keluar." Gerutu Mona saat Alva dan Chilla baru saja tiba di sana.
Wajah Chilla merona menahan malu, sedangkan Alva bersikap biasa saja, bahkan terkesan acuh.
"Memproses cucu Mama kan tidak sekali jadi, perlu juga pengembangan dan pengawasan." Ujar Alva menanggapi ucapan ibunya, seraya menurunkan Chilla dari gendongannya.
"Pengembangan, emang anak kamu roti?" Cetus Mona. Membuat semua orang yang ada di sana terkekeh.
Bahkan Jonathan dan Pram geleng-geleng kepala.
Semenjak menikah dengan Chilla, entah kenapa Alva jadi banyak sekali bicara, sampai Mona saja kehabisan kata-kata dan tenaga, meladeni putra semata wayangnya.
"Sudah, sudah. Nanti acara makan-makannya tidak jadi-jadi kalau kalian ribut terus." Sarah berucap menengahi ibu dan anak itu, dia menarik Chilla untuk bergabung membantu dirinya menyiapkan daging yang akan dipanggang.
Chilla menurut, dia mengambil nampan dan mengisinya dengan tusukan-tusukan daging, cumi dan lain-lain.
"Mama mertua, istriku jangan disuruh-suruh terus, nanti dia lelah." Ucap Alva lembut, tetapi dengan mimik wajah yang serius.
Mendengar itu, Sarah menoleh.
Dan Mona yang tak jauh dari Alva, reflek menggeplak kepala anak semata wayangnya itu, hingga Alva mengaduh. "Auch! Kenapa sih, Ma? Aku salah apalagi?" Protes Alva seraya menggapai tangan Chilla, untuk mengelus-elus kepalanya.
"Otakmu, otakmu itu kayanya udah bener-bener geser, jalan tidak boleh, ini itu tidak boleh, tapi kalo ngelayanin kamu nomor satu, sebenarnya itu kamu yang bikin Chilla lelah. Aneh-aneh tingkahnya." Omel Mona, dia bertolak pinggang sambil menunjuk-nunjuk wajah Alva.
"Kalo itukan beda, Ma," bela Alva menggebu-gebu.
"Halah, terserahlah Alva." Ucap Mona akhirnya, dia mengibaskan tangan, dia yakin, putranya itu akan terus menyangkal ucapannya.
"Kenapa Mama jadi marah-marah terus. Dulu Alva dijengukin setiap hari sama Papa tidak masalah."
"ALVA!!!" Pekik Mona dengan suaranya yang cetar membahana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kakak mau jadi Daddy kok makin ngeselin yah 🤣🤣🤣