Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Pulang (Kita langsung coba)


__ADS_3

Hari ini, sepasang suami istri yang telah menghabiskan bulan madu dadakan itu akan kembali ke rumah. Chilla sudah membeli banyak oleh-oleh untuk dibagikan, dari mulai souvernir sampai makanan ringan.


Semalam Mona telah memberitahu keduanya, untuk langsung menempati rumah baru yang sudah disiapkan sebelum mereka pulang. Karena barisan orang tua, akan menunggu mereka disana.


"Sayang, aku masih betah disini." Cebik Chilla merasa kurang. Ia memandangi laut lepas dari arah balkon, tak rela jika harus pergi secepat ini.


Alva memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dan mengecup pipi kiri Chilla sekilas. "Kalau begitu biar aku pulang sendiri." Tawarnya.


"Tidak mau!" Tolak Chilla mentah-mentah, lalu berbalik, menatap wajah Alva.


"Kenapa? Bukankah kau bilang disini itu sangat indah?"


"Percuma saja, tidak ada Kakak. Yang indah akan menjadi jelek, yang menyenangkan akan terasa membosankan. Selagi ada Kakak, dimana saja akan terasa berbeda."


Mendengar itu, Alva terkekeh geli, lalu tanpa bosan menciumi pipi yang semakin menggembung itu tanpa henti.


Dengan menghabiskan waktu satu setengah jam, Alva dan Chilla berhasil tiba di ibu kota. Disana, sang supir yang ditugaskan oleh Mona, siap mengantarnya ke rumah.


Lalu kemana Juna? Hei, selama Alva tidak ada, lelaki itu sangat sibuk bekerja menggantikan Tuannya.


"Tidurlah, kalau sudah sampai nanti aku bangunkan." Ucap Alva perhatian, merasa kasihan terhadap istrinya yang terlihat kelelahan. Karena hampir setiap malam mereka begadang, hanya demi menjenguk sang anak yang masih dalam kandungan.


Chilla tersenyum tipis, lalu mengangguk setuju. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, dan mulai memejamkan mata.


Benar saja, belum lama dalam posisi seperti itu, Chilla sudah nampak terlelap, pulas dalam dekapan Alva yang terasa hangat dan sangat nyaman.


Sedangkan lelaki itu tak berhenti untuk mengelus punggung sang istri, sambil sesekali mengecup puncak kepalanya dengan sayang.


Setibanya di rumah, mereka disambut begitu antusias, oleh Mona, Sarah, Jonathan dan juga Pram. Alva mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk istri kecilnya.


Mata Chilla berbinar-binar saat ia melihat tatanan rumah baru mereka. Tidak ada yang sederhana, semuanya serba wah, tetapi bukan itu yang akan menjadi poin pentingnya. Bersama siapa, adalah satu-satunya nilai yang membuat buncahan bahagia di hati Chilla.


Dengan tidak sabaran, gadis itu mengajak sang suami untuk masuk, disusul sang supir yang membawa barang bawaan mereka, keduanya bergandengan tangan dan berhenti tepat di depan pintu. Semua orang sudah menyambut, tak terkecuali para pekerja yang sudah ditugaskan oleh Sarah.

__ADS_1


"Mama, Papa." Sapa Chilla dengan riang, setengah berlari, menghambur memeluk satu persatu secara bergantian.


"Bagaimana? Apa honeymoon kalian menyenangkan?" Tanya Mona dengan senyum menggoda. Yakin, kalau sang putra tidak sedikitpun melepaskan istrinya.


"Sangat, honeymoon kita sangat menyenangkan. Bahkan kita berdua selalu begadang hampir setiap malam." Balas Chilla jujur. Membuat semua orang saling pandang dengan gelengan di kepala diiringi kekehan.


"Wah, apa maniac ini yang memaksamu?" Tunjuk Jonathan pada Alva.


Sebelum menjawab Chilla menarik dan memeluk erat lengan sang suami, ia menggeleng lalu berkata. "Tidak, kali ini Chilla yang memintanya."


Tergelak, semua orang merasa gemas dengan jawaban gadis itu. Sedangkan Alva mengacungkan jari jempol sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Chilla, bangga.


Setelah menyelesaikan candaan itu, Sarah mengajak semua orang untuk masuk, begitu sampai di ruang tamu, ia menarik Rani, asisten rumah tangga yang akan membantu Chilla membereskan rumah.


"Sayang, ini Rani. Asisten rumah tangga kalian. Dan Rani, ini adalah kedua majikanmu, Chilla dan Alva. Ayo perkenalkan dirimu." Ucap Sarah memperkenalkan lebih dulu. Ia mendapatkan gadis muda itu dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja, yang di rekomendasikan oleh teman-temannya.


"Perkenalkan saya Rani, Nyonya, Tuan. Saya yang akan membantu Nyonya mengurus rumah. Bila nanti ada kesalahan, mohon langsung tegur saya saja. Terimakasih." Ucap Rani, memandang ke arah Chilla dan Alva bergantian.


"Mbak Rani umur berapa?" Tanya Chilla antusias, membuat senyum di bibir itu menyurut. Dilihat dari wajahnya, Rani masih sangat muda.


"25 tahun, Nyonya." Balas Rani cepat.


"Wah, umurnya sama dengan Kakak. Kalau begitu jangan panggil Chilla nyonya, aku masih 18 tahun." Ucapnya, ia berniat menjadikan Rani sebagai teman, untuk menemaninya di rumah saat Alva bekerja.


Rani merasa kikuk sendiri. Apa dia tidak salah dengar, masih muda tapi sudah menikah? Sedangkan dirinya? Horang kaya mah bebas yah?


"Ah, iya baik, Nona." Melirik ke arah Alva yang terlihat terus bergeming.


"Alva." Panggil Mona, yang dipanggil hanya melirik acuh. Tahu, pikiran sang ibu.


Lelaki itu malah merengkuh pinggang sang istri, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Chilla, menunjukkan sisi manjanya. "Tidak mau, Ma. Aku takut istriku cemburu jika aku bicara dengan wanita lain." Tuturnya.


"Heh, memangnya Mama bukan seorang wanita?" Pekik Mona.

__ADS_1


"Kalau begitu aku tidak mau bicara dengan Mama juga." Semakin melesakan kepalanya sambil mengendus aroma tubuh Chilla. Tidak tertarik sama sekali dengan apa yang dibicarakan.


Semua orang saling pandang, sedangkan Rani menundukkan kepalanya dalam. Menyadari, sifat Tuannya yang dingin terhadap orang asing.


"Sayang." Chilla yang merasa tak enakan ingin menegur sang suami. Namun, belum juga melanjutkan kalimatnya, Alva sudah mengangkat tubuhnya ke udara.


Reflek, gadis itu langsung mengalungkan tangannya di leher Alva. "Mau kemana?" Tanya Chilla.


"Kita istirahat saja. Aku lelah, semalam kau membuatku kehabisan tenaga." Ucap Alva manja, ingin seisi dunia tahu, kalau hanya Chilla yang mampu mengisi ruang di hatinya hingga penuh.


"Ma, Pa. Kami berdua pamit yah." Sambungnya, tanpa menunggu jawaban lelaki itu melangkah, menapaki anak tangga menuju ke lantai dua.


Kekehan kecil terdengar dari bibir keduanya, dapat mereka lihat sesekali Alva menggerakan kepala, beradu dengan milik Chilla. Semua manusia di bawah seperti patung tak bernyawa, lagi-lagi dunia hanya milik berdua.


"Anakmu, Jo, Jo." Gumam Pram sambil geleng-geleng kepala.


Sesampainya di lantai dua.


"Memangnya Kakak sudah tahu kamar kita dimana?" Tanya Chilla yang dijawab gelengan oleh Alva.


"Lalu?" Tanyanya lagi dengan kening yang mengernyit.


Alva berhenti di salah satu pintu, pintu dengan ukiran kayu yang diberi warna cokelat tua. Yakin, ruangan di depannya adalah kamar utama.


"Inikan rumah kita, dimana saja akan menjadi tempat kita bercinta. Jadi, kita bebas memilih yang mana saja." Balas Alva dengan senyum sumringah. Ia meminta Chilla membuka pintu, dengan patuh gadis itu memutar kenop hingga ruangan itu sukses terbuka.


Mata Chilla melebar, di dalam sana benar-benar sudah tampak rapih, dengan ranjang king size, sofa dan yang lainnya. Warna putih adalah yang paling dominan, memberikan kesan hangat bagi penghuninya.


"Sepertinya kamar ini sangat nyaman." Ungkap Chilla.


Tanpa menunggu lama, Alva melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kamar tersebut. Dengan seringai nakal, lelaki itu berbisik menggoda. "Kita langsung coba."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2