
Pagi harinya.
Nana langsung membulatkan matanya dengan sempurna, saat dia menyadari dirinya dan Juna tidur tanpa mengenakan busana. Gadis itu berteriak kencang, hingga membuat lelaki yang masih nyenyak dengan tidurnya, terlonjak kaget.
"Sayang, ada apa?" tanya Juna dengan suara parau. Dia mengucek sebelah matanya agar pandangannya nampak lebih jelas.
Nana menarik selimut sampai ke dada. Dan mencengkeramnya kuat. "Kenapa kita tidur nggak pake baju? Perasaan pas aku naik ke kasur, baju aku masih lengkap." Tanya Nana menggebu.
Mendengar pertanyaan itu, Juna mengulum senyum, membuat Nana menatapnya curiga, dengan kening yang berlipat-lipat.
"Ya ampun, Sayang. Aku kira ada apa. Kamu masa nggak inget, semalem kamu lho yang minta. Kamu naik ke badan aku, padahal aku kan udah tidur duluan, kamu nggak lupa kan?" Juna mulai beralibi, sebisa mungkin ia menutupi kejadian yang sebenarnya.
Bisa diamuk pagi-pagi kalau dia sampai jujur pada Nana.
Nana terlihat bergeming, otaknya mulai mengingat kejadian semalam, dia membernarkan perkataan Juna, bahwa lelaki itu memang tidur lebih dulu dari pada dirinya.
Tetapi apa benar dia yang meminta untuk melakukan itu?
"Bagaimana, sudah ingat?" tanya Juna, dia memiringkan tubuhnya menghadap Nana.
"Itu bukan mimpi, Kak? Perasaan mimpi deh," Nana mulai menunduk dengan suara yang melunak, malu sendiri kalau sampai dia benar-benar memintanya lebih dulu.
"Nggak, Sayang. Apa perlu aku ceritain secara detail, dari awal kamu cium-cium dada aku?" Juna menunjukkan bekas kemerahan yang ada di dadanya, seraya mengingat tingkah Nana semalam.
Nana meneguk ludahnya kasar, dan menggeleng cepat. "Nggak usah." Pipi gadis itu merona, Juna yang gemas segera bangkit, dan memeluk tubuh Nana.
"Nggak perlu malu, Sayang. Kalo kamu emang mau aku siap terus kok," ucap Juna sambil terkekeh.
__ADS_1
Nana hendak memukul Juna, tetapi secepat kilat lelaki itu menahan tangan Nana. Pandangan mereka bertemu, dan terkunci cukup lama, Nana tersadar saat Juna kembali membawanya berbaring di atas ranjang, dan ciuman panas itu terjadi begitu saja.
Hingga pagi itu, keduanya kembali menyatu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa bulan kemudian.
Kandungan Chilla sudah memasuki usia 9 bulan, menurut HPL (Hari perkiraan Lahir) ibu hamil itu akan melahirkan dua minggu lagi, dan hal itu membuat calon ayah satu ini, semakin bertambah hati-hati.
Alva berubah sepuluh kali lipat lebih cerewet, mengingatkan Chilla tidak boleh ini, tidak boleh itu. Semuanya ia lakukan hanya karena tak mau sesuatu terjadi pada Chilla dan calon bayi mereka.
Bahkan dia sudah memperkejakan seorang baby sitter bernama Daniah, wanita berkepala tiga yang ditugaskan memenuhi kebutuhan Chilla ketika dirinya tidak ada di rumah.
Seperti pagi ini.
Sebelum berangkat bekerja, di dekat pintu utama Alva sedang memberikan kecup basah di bibir istri kecilnya. Decapan kecil, tanda perpisahan mereka.
"Sayang, aku berangkat yah," pamit Alva saat mereka sudah berada di teras rumah. Lelaki itu mengusak puncak kepala istrinya, dan memberikan kecupan singkat di kening sempit itu.
Chilla mengangguk sambil mengulum senyum, satu tangannya menyanggah pinggang, menahan beban perutnya yang terasa semakin berat.
"Iya, Daddy hati-hati, dan jangan lupa makan siang," balas Chilla seraya menyerahkan tas kerja Alva.
Satu tangan Alva meraih uluran tersebut, kemudian dia meletakkan tangannya yang lain ke perut Chilla, satu tendangan dari dalam sana berhasil membuat keduanya mengulum senyum. Alva mengusap-usap dengan sayang, mengalirkan seluruh cinta.
Bahkan saat pertama kali merasakannya, Alva menangis haru, merasa tak percaya, bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Tidak ada hal yang paling membahagiakan, selain merasakan perkembangan malaikat kecilnya yang berada di dalam perut Chilla. Dia benar-benar sudah tidak sabar, menunggu hari itu datang.
Buah cintanya dengan Chilla, hadir diantara mereka. Menjadi pelengkap dan penguat rumah tangga keduanya.
"Kau yang harus hati-hati, Sayang. Kau ingat kan harus apa?" ujar Alva, seraya mengusap lembut pipi Chilla, dia memang selalu merasa tak rela, jika dia harus berjauhan dengan istri dan anaknya.
"Iya ingat, Sayang." Chilla menangkap pergelangan tangan Alva. Hingga mata mereka beradu, getaran cinta itu selalu membuncang hebat, membuat keduanya tak memiliki alasan untuk berpaling pada hati yang lain.
"Apa?"
"Tidak boleh melakukan aktivitas berat, jangan terlalu lelah, makan yang cukup, tidur siang, jangan lupa minum susu, tidak boleh naik ke atas tangga, mau apapun minta tolong pada mbak Niah." Chilla menguraikan semua ultimatum yang Alva buat.
Tidak bosan-bosannya sang suami mengingatkan hal itu setiap hari. Andai mulut itu sebuah sabun, mungkin sudah berbusa dan menipis, saking banyaknya Alva mengulang kalimat tersebut.
"Bagus, aku akan menelponmu setiap saat supaya kau selalu mengingatnya." Alva kembali mengulum senyum, menunduk dan mengecup buah hatinya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
"Iya Sayang iya," balas Chilla, akan lebih lama jika dia terus meladeni ucapan Alva, bisa-bisa lelaki itu terlambat bekerja.
Lihat, di ujung sana Juna sudah jamuran menunggu Alva berpamitan pada istrinya.
Sedangkan yang di dalam rumah hanya bisa geleng-geleng kepala, setiap hari mereka selalu menjadi patung bagi dua sejoli yang tak kehabisan akal untuk menunjukkan bahwa mereka saling mencinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Huahhhhh!!!
Ada yang kangen mereka?
__ADS_1
Daddy munduran, kamu gantengnya kelewatan 🤧