Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
ANU


__ADS_3

"Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong."


~Tere Liye~


***


Pukul 10 pagi, di hari Minggu kali ini Alva mengajak sang istri untuk mengunjungi rumah orang tua mereka.


Berangkat menggunakan mobil hanya berdua. Membuat si Tuan gila satu ini, melakukan hal yang membuat kita hanya bisa geleng-geleng kepala.


Lelaki itu meminta Chilla duduk di pangkuannya. Sedangkan dia menyetir, bagaimana bisa? Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Alva?


Meja dapur saja ia jadikan tempat bercinta. Coba bayangkan, kalau saja meja itu bekas sambal cabe merah? Apa tidak pedas itu pantat istrinya?


Tak butuh waktu lama, keduanya sampai di halaman rumah besar milik Jonathan. Alva memarkiran mobilnya, sedangkan Chilla sudah berpindah ke kursi di samping lelaki itu.


Sebelum turun, Alva mengecup pipi gembul itu terlebih dulu. "Jangan keluar! Sebelum aku yang menggendongmu."


Tanpa menunggu jawaban, Alva keluar dari sana. Membuka pintu sang istri, lalu menggendong tubuh yang semakin berisi itu.


Chilla benar-benar tak berkutik, Alva memang tipe lelaki tidak bisa dibantah sedikitpun. Tetapi kalau perlakuannya seperti ini? Apa yang mau Chilla keluh kan?


Ia justru seperti di atas awang-awang. Diperlakukan bak seorang ratu, disanjung dan disayang.


Alva masuk tanpa mengetuk pintu. Membuat Mona yang tengah asyik menonton drama mengalihkan pandangannya.


Melihat Chilla digendong, sontak saja membuat Mona langsung bangkit dan menghampiri pasangan suami istri tersebut.


Takut sang menantu kenapa-kenapa.


"Alva, Chilla kenapa?" Tanya Mona cemas. Keningnya sampai berlipat-lipat mengkhawatirkan sang menantu yang tengah berbadan dua itu.


"Dia kan sedang hamil, Ma. Tidak boleh banyak berjalan. Alva takut Chilla kecapean." Balasnya, lalu mengecup kening sang istri yang sudah bersandar di dadanya.


Mendengar itu, Mona menghela nafas panjang. Kenapa juga dia mesti bertanya. Seperti tidak tahu saja bagaimana kelakuan putranya.


"Untuk ibu hamil, berjalan itu lebih bagus Alva. Untuk membuka jalan lahir." Terang Mona, kembali duduk di atas sofa. Menonton drama, sambil ngemil snek kesukaanya.


"Cih, tidak perlu. Aku bisa membuka jalan lahir itu dengan caraku sendiri. Ayo sayang, kita buat jalan lahir untuk si baby." Cetus Alva.

__ADS_1


Dan bugh!


Bantal sofa langsung melayang mengenai badan tegap lelaki itu. Mona melotot ke arah sang anak dengan wajah sangar. Tetapi Alva hanya menggedikan bahu, acuh.


"Sayang, benar apa yang dikatakan Mama. Aku pernah membacanya, salah satu caranya adalah berjalan." Ucap Chilla menengahi ibu dan anak ini.


"Aku bilang tidak perlu ya tidak perlu. Aku akan membuat metode baru." Alva mulai melangkah, meninggalkan sang ibu untuk pergi ke kamarnya.


"Cih, untuk apa kemari kalau tujuanmu itu hanya ke kamar?" Pekik Mona menghentikan langkah lelaki itu. Seperti tidak ada tujuan lain saja, batinnya.


Dengan tersenyum, Alva menoleh ke belakang, mengedipkan sebelah matanya ke arah Mona. "Hanya ganti suasana. Hahaha" Ucapnya lalu tertawa.


"Bocah edan!"


******


Mona berkemas di dapur. Setelah ia membantu sang asisten rumah tangga memasak makanan untuk makan siang.


Semuanya sudah terhidang, tinggal menunggu orang-orang datang.


Jonathan yang baru saja selesai bermain dengan burungnya, lantas cepat-cepat cuci tangan. Menghampiri sang istri, dan meninggalkan kecupan di pipi wanita paruh baya itu.


"Pram sama Sarah sudah diundang?" Jonathan bertanya, memastikan besan sekaligus sahabat mereka itu, sudah mendapatkan undangan makan siang dadakan.


Dan benar saja. Di ambang pintu dapur, terlihat Sarah dan Pram baru saja datang.


Dengan senyum mengembang mereka saling menyapa. Padahal mereka tinggal bersebelahan, tetapi pakai ada acara cipika-cipiki segala, seperti tidak bertemu sebulan.


Semua orang sudah duduk. Tinggal dua sejoli itu saja yang belum turun.


Sedang malas menaiki tangga. Akhirnya Mona menyuruh asisten rumah tangganya, untuk memanggilkan Chilla dan Alva.


Wanita paruh baya dengan tahi lalat besar itu menurut, melangkah ke arah kamar Alva. Tempat dimana lelaki itu, setia menghabiskan waktu jika berada di rumah besar ini.


Namun, baru saja akan mengetuk pintu bercat putih itu. Tiba-tiba indera pendengarannya menangkap sesuatu. Ingin memastikan, dia merapatkan tubuh, menempelkan daun telinga itu pada daun pintu.


"Ahhh... Sayang!" Desaah seseorang.


Sreng!

__ADS_1


Bulu romanya langsung berdiri, ia meneguk ludahnya ingin menyudahi. Tetapi naluri berkata lain, ia ingin mendengar sekali lagi.


"Enak tidak?" Suara seorang lelaki, yang ia yakini anak dari sang Nyonya.


"Ahhh... Ini enak Sayang."


Glek!


Ada denyutan tidak menentu di bawah sana. Tak ingin kebablasan, akhirnya ia memilih untuk turun, dan melaporkan kejadian itu pada sang Nyonya.


Dengan langkah tergesa, dan nafas yang terengah-engah, sang pembantu langsung menuju ke arah Mona.


"Kemana mereka Bi? Kenapa belum turun juga?" Tanya Mona, saat melihat sang pembantu hanya datang seorang diri.


Sedangkan yang ditanya nampak cemas. Dengan keringat yang mengucur deras.


Mona menatap dengan tatapan menyelidik, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh pembantunya tersebut.


"Bi!"


"Anu Nyonya." Jawabnya dengan tergagap. Seolah lidahnya kelu ingin menjelaskan.


"Anu apa maksudnya?" Mona terlihat semakin penasaran. Begitu pun dengan semua orang. Mereka dengan setia menunggu jawaban.


Dan akhirnya, wanita paruh baya itu hanya dapat membuat sebuah gerakan. Bahasa tubuh yang mengatakan kalau Alva dan Chilla sedang melakukan sesuatu.


"Mereka sedang anu."


"APA! JADI MEREKA SEDANG ANU?" Kompak keempat orang itu.


***


Epilog.


Di dalam kamar, Chilla sedang berbaring, menikmati sentuhan tangan sang suami yang sedang memijat-mijat kakinya.


Dengan mengulum senyum gadis itu mengusak kepala Alva. "Pijatan Kakak memang yang terbaik." Ungkapnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Garing banget dah, tengah malem 🤣🤣🤣🤣


Vote aman? Sini lempar 🙈


__ADS_2