
Akhirnya pesta telah usai, semua tamu silih berganti, dan satu persatu mulai pergi. Lelah tak lagi terasa, semua tergantikan oleh buncahan haru dan rasa bahagia.
Namun, lain untuk seseorang yang tengah merasakan kecewa, dalam hatinya terus mengutuk, kenapa ia tidak bisa mendapatkan gadis yang ia cinta? Ditambah ia di bohongi oleh sahabatnya.
Ya, Satria. Lelaki yang merasa sedang hancur sehancur-hancurnya. Ia baru saja memasuki club yang sering ia kunjungi, ia sempat melewati hotel yang menjadi saksi pernikahan sahabat dan gadis yang ia cintai.
Ingin rasanya ia masuk, tetapi hatinya tak bisa bohong, ia takut kalau-kalau ia akan mengamuk disana, merusak suasana. Dan sebagai gantinya, ia justru ke tempat ini, memesan beberapa botol minuman, yang akan ia jadikan teman.
Entah kebetulan, atau sengaja. Wanita bernama Yolanda juga ada disana, dengan seutas senyum ia menghampiri Satria.
Kembali ke hotel.
Mona dan Sarah masuk ke kamar mereka masing-masing, setelah memberitahu kamar yang sudah di siapkan untuk Alva dan Chilla malam ini. Para lelaki terlihat masih mengobrol dengan beberapa rekan bisnis, dan Juna, setelah mengantar Nana, ia menjadi komando para panitia, yang sibuk bebenah.
Sedangkan pengantin kita, tanpa adanya pengganggu, Alva sudah menggendong istri kecilnya menuju kamar utama. Ada kelopak bunga mawar yang berserakan, mengiringi langkah Alva menuju peraduan.
Begitu sampai, mereka di hadapkan dengan kamar nomor 69. Alva berkedip genit, meminta Chilla mendorong pintu, gadis itu terkekeh, lalu menurut. Dan saat tubuh mereka masuk, keduanya di buat takjub, suasana kamar yang terlihat sangat mendukung, dengan kegiatan yang akan berlangsung.
Bisa-bisa Alva tidak tidur sampai pagi, kalau begini.
Mama benar-benar terbaik. Pekiknya dengan girang di dalam hati.
Tumpukan hadiah pernikahan tertata rapih, di sudut ruangan. Tak hanya di luar, kelopak mawar itu bertebaran dimana-mana, harum aromanya membuat kedua pengantin itu tak sabar untuk memadu kasih, menuai puncak bersama-sama. Sepuasnya.
Alva dan Chilla lebih dulu membersihkan diri, dan saling menyabuni. Air hangat mengucur, membasahi tubuh yang lelah, namun jika menyangkut tentang bercinta, keduanya seolah memiliki kelebihan tenaga.
Lelaki itu berkali-kali menggoda, mencecap tengkuk istrinya, membuat gadis itu terkekeh sambil menggeliat geli, dan akhirnya mereka hanya benar-benar mandi.
__ADS_1
Alva merasa lebih segar sekarang, tak ingin berjauhan sedikitpun dengan sang istri, tanpa berbalut apapun, Alva langsung mengangkat tubuh mungil itu menjauh dari kamar mandi.
"Pakai handuk dulu." Rengek Chilla, karena tubuh mereka benar-benar masih sangat basah. Lelaki yang diajak bicara itu nampak tak peduli, ia justru menggigit gemas daun telinga Chilla sambil berbisik. "Kita nikmati saja malam ini."
Derap langkah menuju ranjang, seolah bersahutan dengan degub jantung mereka yang berdetak lebih kencang. Pipi Chilla tidak bisa untuk tidak merona, apalagi tatapan Alva kini berubah menjadi tatapan yang begitu mendamba. Binar kelembutan, yang kerap membuat Chilla lagi-lagi jatuh cinta pada orang yang sama.
Lantas, saat Alva mengungkung tubuh gadisnya, sekali jentik, lampu langsung berubah temaram, membuat suasana semakin mendukung, senyap dan terasa hangat.
Terlihat dari siluetnya, mereka berdua saling memandang lekat, tak berapa lama, ada lengkungan senyum yang menyatu dengan bias lampu tidur menghiasi bibir keduanya.
"Sudah siap?" Tanya Alva tiba-tiba.
Tersipu, Chilla memalingkan wajah. Kenapa pakai ditanya. Entah sudah semerah apa pipinya sekarang, mendengar kata itu seolah mereka baru pertama kali melakukannya, padahal sudah tak terhitung berapa banyak, sel-sel itu masuk kedalam rahim Chilla.
Cup
Alva memulai, gadis itu mengulum senyum tipis. "Ingat, pelan-pelan." Ucapnya mengingatkan. Bukan apa, kini di perut Chilla sudah ada calon buah hati mereka.
Setelah adanya anggukan di kepala, bibir itu mulai menyatu, dan saling memberi lumataan. Decapan paling manis, yang terasa sangat memabukan. Tak peduli sudah sebanyak apa mereka menyambangi nirwana, dan serumit apa kisah cinta mereka, kegiatan ini akan tetap menjadi sesuatu yang candu untuk keduanya.
Perlahan lelaki itu mengangkat dan memberi bantal dibawah punggung mungil Chilla, dan membuka kaki itu lebar-lebar. Detik selanjutnya gadis itu menjerit nikmat, saat kepala Alva menghilang dan berganti dengan permainan lidah diinti tubuhnya yang sedang berdenyut hebat.
Seolah memiliki rasa, Alva terus menghisapnya hingga basah. Membuat tubuh Chilla menggelinjang, menikmati sensasi panas yang Alva berikan.
Alva mengangkat kepala, kembali mengungkung tubuh mungil yang terlihat semakin menggoda di matanya, dada Chilla naik turun dengan nafas pendek-pendek, belum apa-apa dirinya sudah ingin meledak dengan pemanasan yang Alva buat.
Lagi, getaran itu belum usai, Alva sudah membuat Chilla kembali mengerang, saat puncak payudaraanya di gigit dan dihisap, gadis itu mencengkram kuat pundak suaminya.
Sedangkan senjata laras panjang itu, sudah berkali-kali mengenai pangkal pahanya.
Nafas keduanya terdengar memburu, dengan tatapan sayu, Alva mengunci netra pekat milik istrinya. Ia meneguk ludahnya dengan berat, sebelum berucap.
__ADS_1
"Aku benci mengakuinya." Alva menyatukan keningnya. "Tapi aku benar-benar mencintaimu, istriku."
Ribuan kupu-kupu langsung berterbangan, menggelitik didalam perut Chilla. Gadis itu seperti terhipnotis oleh kalimat yang di ucapkan oleh suaminya.
Saking tersihirnya, gadis itu langsung menangkup rahang Alva, menarik dan menyatukan kembali bibir mereka. Uluman senyum menyatu dengan lenguhan keduanya yang terdengar syahdu.
Hingga tak berapa lama kemudian, belalai yang membuatnya kerap tak sadar, menelusup masuk, menjenguk calon buah hati mereka yang masih ada di dalam perut.
Ranjang mulai berderit, seiring pompaan yang perlahan Alva berikan. Suara kulit yang saling bergesekan, dan himpitan dibawah sana, menjadi alunan lagu cinta, penambah semangat bagi keduanya meraih surga dunia.
Kini tubuh keduanya kembali basah, bermandikan keringat yang mengucur menjadi satu. Chilla terus melenguh, di saat Alva bergantian mengentak-hentak dan berputar.
Tak hanya keduanya, mungkin malaikat kecil yang tengah mereka jenguk juga merasa bahagia. Merasakan kehadirannya diinginkan, di sambut dengan hangat oleh kedua orangtuanya.
Percintaan kali ini benar-benar terasa berbeda. Di setiap tarikan nafas, Alva terus menyebut nama istrinya. Memberikan kalimat sayang yang teramat banyak, membuat Chilla tak berhenti untuk terus tersenyum di tengah erangannya.
"Open your eyes, Honey." Pinta Alva saat Chilla terlihat memejamkan mata.
Gadis itu merasakan gelombang itu akan datang, hingga tanpa sadar kelopak matanya terpejam, Alva masih terus bergerak, hentakkan nikmat itu tak habis-habis, hingga akhirnya Chilla benar-benar merasakan orgasmeenya lebih dulu.
Kakinya gemetar, dan hanya nama Alva yang terus ia lantunkan, karena kenikmatan itu tak dapat ia definisikan.
Lelaki itu bergerak sedikit lebih cepat, agaknya ia pun ingin menyusul istrinya. Hasrat membuncang itu akhirnya mencuat, membasahi liang senggamaa Chilla yang baru saja memberikan rasa yang menggila.
Nafas Alva terengah, ia masih menekan miliknya hingga bisa itu habis, keluar memberikan kesan menggelitik.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi, karena pada saat itu, kau akan lihat, betapa gilanya aku. Kau bukan lagi simpananku, karena sekarang kau adalah istriku, ibu dari anak-anakku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bukan malam pertama, tadinya mau kasih judul itu🤣