
Pagi ini Alva sudah sikat gigi 5 kali, di tambah kumur-kumur dengan laserin sebanyak ia menggosok giginya. Ia yakin, jejak ciuman bibir itu sudah tidak ada, bahkan semalam ia sudah memandikan bibirnya dengan bunga tujuh rupa, kurang apalagi coba?
"Sepertinya sudah bersih," ucap Alva seraya memandangi pantulan wajahnya didepan kaca wastafel. Beberapa kali berputar, sambil memegangi dagunya.
Tampan. Pujinya dengan mengulum senyum.
Merasa sudah sempurna ia membersihkan diri, saatnya ia bergegas untuk memakai pakaiannya, pakaian yang setiap hari bergonti-ganti warna. Yang penting nggak gonta-ganti pasangan ya Kak.
Tepat, selesai dengan penampilan, Juna datang. Tak banyak basa-basi, keduanya lanjut untuk pergi ke perusahaan bersama.
Didalam mobil, Juna kembali melaporkan keanehan, tentang lelaki yang masuk ke apartemen tunangan Tuannya malam itu.
"Mobil yang dia kendarai adalah mobil rental, dan dia tidak meninggalkan identitas apapun, Tuan," terang Juna mengakhiri, ia pun merasa aneh, tetapi begitulah adanya.
Lelaki bernama Roni itu tidak memiliki identitas di negara tempat yang di pijak oleh Juna dan Alva. Entah hubungan apa antara Roni dan Yola, sepertinya sangat rumit, terlebih jika Alva masuk kedalamnya.
"Lalu bagaimana dia bisa meminjam mobil itu, kalau dia tidak memiliki identitas?" Cetus Alva, berpikir keras untuk bisa memecahkan teka-teki ini.
"Saya juga tidak tahu Tuan, sepertinya ada orang lain dibelakangnya, yang tentunya lebih berkuasa," ucap Juna menduga. Tidak mungkin hanya Yola, pasti ada orang lain, yang melindungi Roni.
Dan Juna yakin, orang itu memiliki kuasa yang cukup kuat.
Shittt!
"Wanita iblis itu benar-benar, apalagi yang dia rencanakan?" Kesal Alva mengumpat seraya meninju udara.
"Anda harus tenang Tuan, karena secepatnya proyek dengan L group akan kita garap, dan anda bisa memanfaatkan Tuan Daniel," terang Juna, menenangkan sang Tuan yang suka esmosian.
Alva menghembuskan nafasnya kasar, mencoba untuk tenang. Ia mengangguk, membenarkan ucapan Juna. Daniel adalah harapan satu-satunya untuk membongkar semua kebusukan Yolanda didepan kedua orang tuanya.
*********
Alva dan Juna sudah turun sampai ke lobby perusahaan untuk makan siang, tetapi langkahnya terhenti begitu gadis berponi, dengan paras cantik melenggang ke arah keduanya.
"Kakak," sapanya dengan riang, tersenyum menunjukkan gigi depannya yang putih dan juga rapih.
Alva terlihat memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana. Memandang dengan seulas senyum, gadis manis yang sudah berdiri sempurna didepannya.
"Halo Kak—" Alva langsung melotot, dengan senyum yang memudar, memberi peringatan pada Chilla yang akan menyapa Juna, tidak boleh, begitulah arti tatapan matanya.
Chilla bungkam, lalu tersenyum kikuk, secepat kilat Alva menggandeng tangan Chilla untuk masuk kembali kedalam lift.
"Tuan, kita tidak jadi makan siang?" Tanya Juna membuntuti dua orang yang tengah di mabuk asmara itu.
"Kau tidak lihat Jun, apa yang ada di tangan Chilla?" Alva balik bertanya. Juna pun mengangguk, mengerti kalau gadis berponi itu pasti sudah membawakan makan siang untuk Tuannya.
Tapi bagaimana kalau hanya untuk Alva?
Alva meraih paper bag yang ada di tangan Chilla, lalu menyerahkannya pada Juna.
"Mama sama Papa udah pulang, itu oleh-oleh sama makan siang, untuk Kakak pacarku yang paling tampan," ucap Chilla. Bergelayut manja di lengan Alva. Ia sedikit mendongak, untuk melihat ekspresi wajah kekasihnya.
Gemas, Alva mengusak lalu mencium kepala Chilla. Membuat pipi gadis muda itu mengeluarkan semburat merah. Keduanya saling menautkan jari-jemari mereka.
Namun, entah kenapa tiba-tiba hidung Chilla mencium bau yang menusuk, mengusik indera penciumannya. Ia mencoba mengendus bau tubuh Alva, tanpa diketahui oleh lelaki itu, tetapi tidak bau apa-apa, malah sangat wangi dan aroma ini adalah candunya.
"Kak?" Panggil Chilla, setelah sedikit mengendus ke belakang, tempat Juna berdiri.
"Hem," Alva sama sekali tak melepaskan pegangan tangannya.
__ADS_1
"Kok tiba-tiba Kak Juna bau yah?" bisik Chilla tak enakan. Takut, Juna mendengar dan tersinggung akan ucapannya.
Alva mengernyit. "Bau apa?"
"Tidak tahu, baunya tidak enak," rengek Chilla.
Alva mengendus-endus ruang lift tersebut untuk memastikan, tetapi tidak menemukan bau yang Chilla maksud sedikitpun, semuanya wangi.
"Bagaimana? Baukan?"
Alva menggeleng, ia memang tidak merasakannya.
"Tapi Chilla nyium bau nggak enak, nggak suka, gelay," ucapnya semakin manja, bahkan bibirnya mengerucut imut.
Tak ingin gadisnya merasa tak nyaman, akhirnya Alva terpaksa mengusir Juna dari lift tersebut.
"Jun, keluarlah, pakai lift yang lain,"
"Tapi—"
"Sudah, tunggu saja aku di ruanganku," potong Alva ketika asistennya itu hendak memprotes.
Cih, makan siang tidak jadi, sekarang disuruh keluar, maksudnya apa?
Juna keluar di lantai tersebut, dengan hati yang menggerutu, menyisakan tanda tanya bagi pegawai yang lain, karena kini Juna memakai lift karyawan biasa.
"Jangan bilang itu hanya alasan kau ingin berdua denganku?" Ucap Alva memandang ke arah gadisnya yang sudah merasa lega.
Chilla menggeleng, "Tidak, Kak Juna memang bau, Sayang,"
Cup
Seperti singa yang tidak di beri makan beberapa hari, Alva langsung membawa Chilla merapat ke pojok lift, dekat dengan tombol-tombol berada.
Alva menelusupkan tangannya kebagian belakang leher, diantara riapan rambut Chilla yang tergerai indah.
Dan detik berikutnya, Alva sudah menyergap bibir mungil itu, bibir yang sebentar lagi, akan merancau tanpa henti.
Alva menyesapnya tanpa jeda, tak memberikan kesempatan pada Chilla untuk memprotes apa yang dilakukannya. Lelaki itu menelusupkan lidahnya untuk berpaut dengan lidah milik Chilla. Tak ingin hanya diam, akhirnya gadis itu mulai membalas, bergerak seirama dengan Alva.
Hingga ciuman panas itu tercipta, keduanya terus bertukar saliva dan saling menyesap bibir satu sama lain.
Puas dengan ciuman, Alva menyusuri bagian belakang tubuh Chilla, hingga tengkuk itu benar-benar basah, dan kembali menyembulkan tanda merah. Sedangkan gadis itu hanya bisa menggeliat seraya mengalungkan tangannya erat di leher kokoh Alva.
Ting!
Bunyi pintu lift terbuka, tak ingin ada yang mengganggu kesenangannya dengan sang kekasih. Secepat kilat Alva kembali menutupnya.
Tangan Alva mulai bergerak aktif, merayap dari perut, naik ke punggung dan membuka pengait untuk memudahkan aksesnya untuk menemui pegunungan Himalaya, yang memiliki bebatuan kecil berwarna pink.
"Sayang, jangan disini," pinta Chilla saat Alva sudah menyingkap pakaian yang ia kenakan. Dua bulatan yang menggunung itu terlihat menegang, dan menantang.
Namun, bukan Alva namanya, jika perkataannya bisa di bantah.
"Tenanglah, mereka tidak akan melihatnya," balas Alva yakin. Ia kembali menunduk, untuk menggapai benjolan pink yang sangat menggoda itu.
Chilla melenguh tanpa di pinta, ia meremas kepala Alva saat lelaki itu menghisapnya kuat-kuat, menambah gairah keduanya semakin membuncah.
Alva meraupnya semakin dalam, memberikan sengatan yang begitu memabukan, Chilla dibuatnya tidak berdaya. Nafasnya memburu, dan tak berhenti untuk melenguh.
__ADS_1
Alva benar-benar sudah gila.
Lelaki itu menghentikan aksinya, begitu lift hampir sampai di gedung tertinggi, yang ada di perusahaan ini. Chilla segera membenahi pakaiannya dengan di bantu oleh Alva.
"Tidak perlu terlalu rapih, karena kita akan melanjutkannya setelah ini," ucap Alva mengulum senyum. Lebih tepatnya senyuman nakal, khas pria mesumm.
Sedangkan Chilla membelalakkan matanya. Tapi lagi-lagi, sebelum protes Alva justru sudah menyeret tangannya, karena pintu lift sudah terbuka, dan Alva membawanya untuk masuk ke ruangan lelaki tersebut.
Juna sudah ada didalam, ia sudah menyiapkan makanan yang di bawa Chilla di atas meja. Berharap, mereka datang akan langsung makan.
"Tuan, makanannya sudah siap," ucap Juna saat Alva dan Chilla baru saja masuk.
Tetapi bukannya lekas duduk, Alva justru menarik Chilla untuk masuk ke ruangannya. Ruangan yang memiliki ranjang, tempat yang dulu ia gunakan untuk percobaan membobol Chilla, namun gagal.
"Makanlah lebih dulu, karena aku masih ingin menikmati makanan pembukaku," ucap Alva ambigu, lengkap dengan senyum yang terlihat menyebalkan sekali di mata Juna.
"Baik Tuan," balas Juna tak membantah. Tahu akan maksud bosnya.
Haish, tahu begitu dari tadi aku makan duluan, tidak tahu apa, aku sudah kelaparan.
Akhirnya Juna menikmati makanan itu sendiri, tak peduli, pada kedua sejoli yang akan memadu kasih.
"Ahhhh..." Terdengar suara dari dalam.
Juna menghentikan kunyahannya, saat ia mendengar suara horor memenuhi gendang telinga.
Astaga, bagaimana aku bisa makan dengan tenang kalau begini?
Suara-suara laknat itu kembali terdengar, malah semakin kencang, dan itu benar-benar mengganggu konsentrasi Juna yang ada di luar sana. Namun, karena lapar, akhirnya ia memilih untuk mengabaikan, ia memasang earphone, lalu kembali melahap makanannya dengan tenang. Yang penting kenyang.
Sedangkan Chilla mendesaah panjang, saat hentakan terkahir ia rasakan. Tubuh molek yang di aliri peluh itu tergeletak lemah diatas ranjang dengan nafas yang memburu. Dadanya naik turun, seiring oksigen yang ia hirup.
Mata Chilla mengerjap-ngerjap, menormalkan kembali tekanan darahnya yang baru saja mengalir lebih cepat, debaran di dadanya mencuat. Gairah panas itu menjalar ke seluruh urat syarafnya, melemahkan kesadaran Chilla saat Alva berhasil membawanya ke puncak nirwana.
Cup
Alva mengecupi seluruh wajah Chilla, turun ke leher, dada, perut, lembah penuh rumbai-rumbai, paha hingga ke kaki jenjang gadis itu.
"Lihat, aku melakukannya dengan cepat dan panas bukan?" ucap Alva bangga, kini ia sudah berbaring di samping tubuh Chilla, tubuh yang terlihat semakin berisi, dan bikin nagih.
"Apa? Kakak bilang yang kemarin adalah yang terakhir," gerutu Chilla dengan nafas pendek-pendek, meskipun tak di pungkiri, bahwa ia pun menikmati, percintaan singkat dan panas mereka siang ini.
Mendengar itu Alva terkekeh, "Tapi aku tidak bilang, tidak akan menyentuhmu lagi bukan?"
Bugh!
"Ada saja alasannya," Chilla berpaling, namun secepat kilat, Alva menyentuh pipi gadis itu, agar kembali menatapnya.
"Tentu saja, karena kau, benar-benar candu yang tidak bisa aku tolak,"
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Baju merah jangan ampe lolos🔥
__ADS_1