
Waktu bergulir sangat cepat, enam bulan telah terlewati dengan penuh suka dan duka, banyak sekali hal yang tak terduga, dapat mereka lewati bersama. Apalagi saat mengurus Shaka.
Namun, semua itu justru semakin memperkuat tali cinta mereka.
Seperti sekarang, di malam yang dingin dengan semilir angin yang berhembus kencang. Dua sejoli tengah melupakan sejenak kewarasan mereka.
Bergelut di atas peraduan, dengan gelombang asmara yang masih sama, membuncah dan selalu memabukkan.
Pernah merasakan tak menyatu terlalu lama membuat kerongkongan hasrat cinta mereka berdahaga, hingga keduanya ingin terus menerus meneguk nikmatnya surga dunia yang sudah beberapa kali mereka capai bersama.
Dari mulai posisi terfavorit hingga posisi yang terbaru yang belum pernah mereka coba. Keduanya benar-benar melepas gelora itu sebanyak-banyaknya.
"Kau tidak pernah berubah, Honey. Kau selalu membuatku mabuk," Alva mencengkram dua bulatan di bawah sana, menekan pinggul itu hingga senjatanya melesak semakin dalam.
Permainan kali ini di dominasi oleh istri kecilnya. Itu terbukti dari Chilla yang sedang bergerak lincah menyenangkan Alva, dengan gerakan maju mundur begitu teratur lengkap dengan wajah sensualnya.
Dan rasa ini benar-benar membawa Alva ke puncak nirwana yang paling tinggi. Lelaki itu tak bisa untuk tidak mendesah hebat karena permainan wanita kecilnya.
"Aku suka suaramu, Sayang," goda Chilla sambil menggigit bibir bawahnya, saat mendengar Alva yang tak berhenti mengerang karena permainannya.
Melihat itu, sontak saja membuat Alva kembali beringas, dia menatap Chilla dengan sorot mata yang berkabut hebat, lalu tanpa ba bi bu dia menyerang leher jenjang Chilla, hingga wanita itu semakin bergerak cepat, dan melengkingkan tubuhnya.
Sesapan kasar namun terasa menyenangkan kembali memenuhi sukmanya, dia suka Alva yang kuat dan bertenaga. "Jangan lupa untuk menggigitku, Al." Lenguh Chilla semakin menggoda.
"Oh my God, kau semakin nakal, Honey." Alva memberi sedikit jarak, hingga akhirnya jerit tertahan itu lolos, saat puncak yang menegang itu dilahapnya dengan rakus, seperti Shaka yang menemui sumber energinya.
Chilla melenguh di antara kekehannya, dia terus membenamkan wajah Alva di dadanya, membiarkan lelaki itu menyesapi buah kesukaannya.
__ADS_1
Candu nikmat yang tak pernah bosan untuk mereka arungi bersama.
Hingga gelombang itu kembali datang dan tercapai bergantian, nafas memburu bersahutan, dengan bermandikan peluh yang menyatu seiring melemahnya derit ranjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam waktu enam bulan itu, Shaka kini sudah tumbuh dan berkembang, bayi mungil itu terlihat semakin aktif dengan bobot tubuh yang bertambah berat.
Wajahnya yang tampan dilengkapi gigi susu yang mulai tumbuh, membuat Shaka jadi terlihat semakin lucu.
Dia kerap berguling kesana-kemari saat diajak main di atas karpet tebal yang berada di kamarnya sambil belajar untuk merangkak.
Melihat perkembangan bayi tampannya itu, Chilla merasa sangat bahagia, dia selalu dibuat gemas oleh tingkah Shaka.
Apalagi kalau sudah berebut dirinya bersama sang Daddy. Suka sekali Alva mengerjai anaknya itu, dengan berpura-pura merebut Chilla, dan akhirnya Shaka hanya bisa menangis.
Daniah yang mendadani sesuai keinginan Alva.
Seperti sudah menjadi rutinitasnya, di hari libur seperti ini, ayah muda itu akan mengajak baby hiunya berenang, di kolam renang yang ada di tengah-tengah rumah besar itu.
Shaka hanya berjingkrak kegirangan, menendang-nendang kakinya ke udara saat tangan Alva terulur untuk menggendongnya menuju kolam renang.
"Go! Kita berenang sama Mommy." Alva bersorak sambil melangkah keluar dari kamar Shaka.
Di ruang tengah Alva bertemu Mona, wanita paruh baya itu langsung menghentikan aktivitasnya, dan mendekat ke arah Alva untuk menyapa cucu kesayangannya itu.
__ADS_1
"Wah, cucu Oma yang ganteng, mau berenang sama Daddy yah?" Mona mencubit dan menciumi pipi gembul Shaka, bayi tampan itu tak merespon apapun, dia hanya menunjuk-nunjuk meminta untuk segera keluar.
"Iya Oma, biar aku cepat besar. Aku berenang sama Daddy dulu yah, Oma lanjut masak aja," Alva yang menjawab, dia mengangkat tangan Shaka untuk melambai ke arah wanita paruh baya itu.
Kemudian dia melangkah ke arah kolam renang. Di sana, Chilla sudah menunggu. Bahkan dia sudah menceburkan setengah kakinya ke dalam air.
Melihat kedatangan Alva dan juga Shaka, Chilla mengulum senyum, dia suka sekali berquality time dengan keluarga kecilnya.
"Oh my Baby, sini Sayang." Chilla mengulurkan tangannya, meminta Shaka.
Shaka yang sangat berantusias jika sudah menyangkut ibunya, langsung meminta digendong oleh Chilla.
Sementara Alva mulai turun ke air setelah mengecup pipi dan bibir Chilla. Alva mengambil pelampung berbentuk bebek yang mengapung tak jauh darinya, lalu kembali membawa Shaka bersamanya.
Lagi-lagi bayi mungil itu berjingkrak kegirangan sambil tertawa renyah. Bermain air bersama kedua orang tuanya yang begitu mencintai dan menyayanginya.
"Baby Shak tudududu baby Shak tudududu." Alva tiba-tiba menyanyikan lagu yang pernah viral di kalangan anak-anak, untuk meledek bayi tampan itu, karena Shaka pasti akan tertawa.
Mendengar itu, Chilla mencubit perut Alva. "Memangnya Shaka itu bayi hiu apa?" Cebiknya.
Tak menjawab, Alva justru terkekeh, lalu satu tangannya menarik pinggang Chilla untuk mendekat, dan mencium gemas bibir yang mengerucut itu, bahkan menggigitnya. "Ini Mommy Shak tudududunya." Goda lelaki itu.
Chilla mendengus, tetapi mendengar Shaka yang tiba-tiba tertawa keras membuatnya ikut tertawa pula. Ah rasanya lengkap sudah kebahagiaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hallo aku udah gede 🍭
__ADS_1