
Malam itu, mobil terus berkejaran di jalan raya. Si pengendara yang memimpin di depan hanya menyeringai, tersenyum gemas melihat ada seseorang yang mengikuti kemanapun ia pergi. Dan bisa ia pastikan, kalau itu adalah bawahan dari putra sang Tuan besar.
Tak mampu mengelak lagi, akhirnya suara decitan mobil menjadi akhir bagi mereka.
Cittt...
Roni menjegal mobil itu di tempat yang cukup sepi, tak memberi ruang untuk mobil yang mengikutinya untuk kabur, Roni memposisikan dirinya di tengah-tengah.
Lelaki itu keluar, mengetuk kaca pintu, hingga tampaklah seseorang didalamnya.
"Turunlah, kita perlu bicara." Ucap Roni santai, karena sang Tuan besar telah menyerahkan semuanya kepada dirinya.
Tak menunggu waktu lama, seseorang itu keluar, keduanya saling tatap dan berhadapan.
"Aku tahu kau mengikutiku, ada apa?" Tanya Roni masih dengan nada yang sama. Tidak terlihat gugup apalagi takut.
Detektif seperti dirinya sudah sering mendapat kasus seperti ini, tak ayal ia bisa mengendalikan suasana, dan emosi diri.
"Apa maksud anda? Saya sama sekali tidak mengerti apa yang anda bicarakan." Sangkal lelaki itu. Bisa-bisa ia di pecat oleh Juna secara cuma-cuma, kalau misi ini gagal, dan ia malah ketahuan.
Mendengar itu, Roni justru terkekeh, lucu sekali pikirnya.
"Kau tidak perlu berpura-pura, bukankah kau bawahan asisten Juna?" Tebak Roni.
Deg!
Lelaki itu menatap tak percaya, kenapa tepat sasaran seperti ini. "Anda jangan asal bicara!"
"Ow, masih belum mau mengaku?"
"Sebenarnya, anda ini siapa?"
Roni menghela nafas panjang, tangannya yang tadi terlipat, kini terulur ke arah lelaki itu. "Kenalkan, aku Roni. Orang suruhan Tuan besar Jonathan." Lalu menyeringai.
Mata lelaki itu melebar. "Anda tidak sedang membohongiku kan?" Tegasnya.
"Hah, memangnya apa keuntunganku membohongimu?"
Lelaki itu tetap bergeming, ia harus ekstra hati-hati jika tidak ingin terjebak dengan situasi yang ia hadapi. Dia tidak boleh percaya pada sembarang orang, apalagi kini menyangkut nama Tuan besar Jonathan.
Melihat lelaki di depannya nampak tak percaya, akhirnya mau tak mau, Roni menghubungi Jonathan.
"Bicaralah dengan Tuan besar." Roni menyerahkan ponselnya yang sudah terhubung dengan lelaki tua itu, di ujung sana, sang Tuan sedang duduk di ruang belajar.
Tempat dimana ia mendengarkan semua rahasia Yolanda, Roni memanglah anak buahnya, detektif yang ia kirim untuk mencari tahu kebusukan demi kebusukan calon menantunya.
"Tuan," sapa lelaki itu seraya menunduk hormat.
"Kau anak buah asisten Juna?" Tanya Jonathan to the point.
Ditanya seperti itu, lelaki itu lebih dulu meneguk ludahnya, lalu perlahan mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, kau sudah bekerja keras hari ini. Lepaskan saja anak buahku, dan bilang pada Tuanmu, kalau kau kehilangan jejak." Tegas Jonathan.
"Tapi Tuan."
"Serahkan semuanya padaku, aku yang akan bicara pada asisten Juna."
Mendengar itu, mau tak mau, akhirnya lelaki mengangguk patuh.
"Baik, Tuan."
Panggilan video itu berakhir.
"Bagaimana, kau sudah percaya?"
Lelaki itu mengangguk. Sedangkan Roni kembali menarik sudut bibirnya keatas. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, lalu menepuk bahu lelaki itu sekilas.
"Istirahatlah, dan berhenti untuk mengikutiku." Ucap Roni kemudian berlalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu malam berlalu, setelah malam itu, Jonathan memanggil Juna ke rumah, tanpa sepengetahuan sang putra.
Keduanya duduk di ruang belajar, Jonathan di kursi kebesarannya. Sedangkan Juna tepat didepan lelaki tua tersebut. Meja, menjadi satu-satunya penghalang diantara keduanya.
Juna masih di selimuti tanda tanya, mencari jawaban, kira-kira alasan apa, ia di pinta datang ke rumah, tanpa ada embel-embel nama sang Tuan, Alva.
"Santai saja asisten Juna, tidak perlu terlalu gugup. Aku hanya akan sedikit bertanya kepadamu. Minumlah." Ucap Jonathan, lalu meminum teh yang telah di sediakan oleh Mona, beberapa saat yang lalu.
Juna mengangguk patuh, lalu ikut menyeruput secangkir teh itu. Namun, percayalah itu sama sekali tak mengurangi kegelisahannya.
Pertanyaan itu sukses membuat Juna mengangkat kepala. Lagi, lelaki muda dengan netra coklat pekat itu mengangguk.
"Aku ingin tahu, kenapa kau bisa bersama Yolanda di hotel malam itu?"
Deg!
Netra Juna membulat sempurna, ia tidak berfikir kalau sampai Jonathan tahu, ia bersama Yola di hotel malam itu.
"Jawablah dengan jujur, aku tahu ini menyangkut putraku!"
Awalnya gamang, namun karena sudah tertangkap basah, mau tidak mau Juna menjelaskan semuanya, tentang Alva yang ingin mencari bukti pengkhianatan Yola, menjadikan itu semua, senjata untuk melawan sang ayah. Dan memperlihatkan bahwa Yola, bukanlah wanita baik-baik yang seperti Jonathan kira.
Hingga di malam itu, tanpa sepengetahuan sang Tuan, Juna mengambil langkah untuk mengerjai Yolanda. Ternyata benar, Yola tidak lebih dari seekor rubah yang haus akan belaian.
Jonathan menumpu dagunya dengan kedua tangan. "Kau pasti bingungkan kenapa aku bisa tahu?"
Lelaki itu menunduk dalam. "Maafkan saya Tuan."
"Tidak perlu minta maaf, berkat kau. Aku jadi tahu semuanya. Kau menutup semua mulut karyawan hotelku, tetapi aku bersyukur ada salah satu dari mereka yang masih setia kepadaku, dia memberitahuku, bahwa asisten Juna memesan sebuah kamar bersama tunangan Tuannya." Terang Jonathan.
Malam itu, setelah Juna pergi. Salah satu karyawan yang menjadi tangan kanan Jonathan menghubungi lelaki tua itu. Takut, kalau Juna memiliki niat terselubung dan benar-benar berkhianat pada putranya. Meskipun nyatanya tidak demikian.
__ADS_1
"Satu lagi yang ingin aku tanyakan..."
Lagi, Juna menatap ke arah Jonathan. Perasaannya selalu was-was, jika lelaki tua itu kembali buka suara.
"Kenapa Alva melakukan ini semua? Benarkah dia hanya ingin pertunangannya dengan Yola itu batal?"
Dilema, Juna benar-benar merasa tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Benarkah ia harus membeberkan semua rahasia Alva pada ayah lelaki itu sendiri? Atau justru menyimpannya rapat-rapat, dan mengunci mulutnya?
Tahu kalau Juna tidak mungkin serta merta memberitahu, Jonathan kembali buka suara, "Aku akan mengikuti semua keinginan putraku, menggagalkan pertunangannya? Aku akan lakukan, asal kau beritahu aku, alasan sesungguhnya."
Glek!
"Tuan Alva..." Juna menjeda, menarik nafas sejenak seraya memejamkan mata. "Dia memiliki hubungan dengan Nona Chilla."
Jantung Jonathan serasa ingin merosot dari tempatnya. Tak menyangka, satu alasan itu menjadikan Alva, kini berani menentang dirinya. Benarkah anak lelakinya itu tulus mencintai Chilla? Gadis yang tinggal di sebelah rumahnya. Kalau hanya ingin bermain, namun rasanya tidak mungkin, bahkan Alva sekeras itu ingin menggagalkan pertunangannya dengan Yolanda.
"Sejak kapan mereka berhubungan?"
"Sebelum pertunangan."
Deg!
Itu artinya, semua yang ia lihat saling berkaitan. Dari mulai Alva yang mengantarkan Chilla pulang, hilangnya mereka di pesta pertunangan, dan lagi, pada pesta ulang tahunnya, Alva bersikeras mencari Chilla, dan mereka justru kembali ke rumah hanya berdua. Hah, memikirkannya ternyata Jonathan ingin tertawa.
"Jadi ternyata Papa sudah tahu semuanya?" Kini Alva buka suara.
Malam ini, Jonathan sengaja memanggil sang putra. Ingin bicara empat mata, dan dari hati ke hati. Ia tidak ingin hubungannya dan Alva terus menerus merenggang. Ia tahu, kalau selama ini ia salah, tidak membiarkan putranya memiliki pilihan. Yang ia pikirkan hanya, apa yang terbaik untuk Alva dan itu adalah pilihannya.
Jonathan mengangguk. "Maafkan Papa, tapi kau juga salah, kau telah menyembunyikan semuanya dari kami, tahu kalau kau mencintai Chilla, dari dulu Papa jodohkan kau dengannya, Papa tidak perlu mencarikanmu wanita dewasa, yang akhirnya Papa menemukan Yolanda."
"Papa tidak pernah memberiku pilihan." Tukas Alva apa adanya dengan mata yang memerah.
"Dan kau tidak pernah menolak pilihan Papa." Balas Jonathan dengan cepat.
Mendengar itu, Alva mengangguk. "Yah, Alva memang pengecut." Ungkapnya, tidak bisa mempertegas apa yang menjadi keinginannya sendiri, itulah kesalahannya selama ini.
"Tapi si pengecut ini sudah menjadi si pemberani." Jonathan menepuk pundak sang putra, menatap dalam netra yang sangat mirip dengannya. "Papa menyayangimu Alva, setelah malam itu, Papa sadar, bahwa kau ternyata sudah besar, kau mempunyai impian yang ingin kau wujudkan. Maafkan Papa, selama ini Papa selalu mengekangmu. Tapi percayalah, semua yang Papa lakukan, karena Papa ingin yang terbaik untukmu."
Tersentuh, membuat Alva tidak bisa membendung air matanya. Cairan bening itu mengalir begitu saja. Untuk pertama kalinya, kata-kata sang ayah begitu menusuk, jauh ke dasar hatinya. Ia sudah salah sangka, berpikir Jonathan tidak ingin melihatnya bahagia. Tapi ternyata dia salah besar, Jonathan tetaplah ayah terbaik untuknya. Sosok yang mengenalkan dunia, dan sosok yang memiliki pundak terkokoh baginya untuk bersandar.
Alva terisak, lalu tanpa segan ia bangkit dan memeluk sang ayah lebih dulu. "Maafkan Alva, Alva sudah banyak sekali berburuk sangka pada Papa. Percayalah kau adalah lelaki terbaik untukku dan Mama."
Jonathan ikut terhanyut, perlahan ia membalas pelukan Alva, ia mengelus punggung lebar itu dengan penuh sayang. Setelah beberapa tahun, tidak merasakan kehangatan sebagai sepasang ayah dan anak, namun malam ini, Jonathan dan Alva kembali menghadirkannya.
"Terimakasih. Tetapi sebentar lagi, Mama dan Papa akan melepasmu, putra kecilku yang dulu selalu aku timang-timang, kini akan menjadi seorang suami dan seorang ayah. Sayangi istrimu, bahagiakan dia meski kelak dunia bukan lagi milikmu, dia akan menjadi harta paling berharga, jika kau menjaganya dengan baik." Ucap Jonathan, memberi nasihat pada sang putra.
Tak mampu membalas dengan kata-kata, Alva hanya bisa mengeratkan pelukannya, menumpahkan segala kebencian, keangkuhan yang bersarang hingga kelegaan itu benar-benar ia dapatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yok ngaku yang kemaren benci sama Papa Jo 🙈🙈🙈