
Kedua netra Alva mengikuti telunjuk Chilla yang mengarah ke jalan raya. Raut wajahnya langsung berubah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, apa dia tidak salah? Ibu hamil itu ingin menaiki kendaraan yang belum pernah ia naiki sebelumnya?
"Sayang, kau tidak salah kan?" tanya Alva memastikan, dan Chilla dengan cepat menggeleng.
"Aku mau naik itu, Kak," rengeknya masih menunjuk-nunjuk.
Membuat perhatian Mona dan juga Sarah teralihkan. Kedua wanita paruh baya itu ikut menatap kemana arah telunjuk Chilla. Mereka kompak menahan senyum, apalagi Mona yang tahu kalau sang putra tidak pernah menaiki kendaraan seperti itu sebelumnya.
"Lain kali saja lah, Sayang. Nanti pinggangmu makin sakit," tawar Alva, sekali lagi dia menarik pintu dan Chilla justru menjejak-jejakan kakinya.
Bibirnya mengerucut, tanda kesal. "Pokoknya mau naik itu. Kalo Kakak nggak mau, biar aku sendiri aja yang naik." ancam Chilla tak main-main, lantas dia melipat kedua tangannya di depan dada.
Alva menelan salivanya susah payah, kalau sudah seperti ini rasa-rasanya dia tidak bisa membantah. Dia membuang nafasnya kasar, lalu melihat ke arah Mona yang terdengar sedang cekikikan, pasti ibunya itu tengah meledeknya.
"Ngidamnya anak kamu tuh," ledek Mona, wanita itu lagi-lagi terkekeh kecil merasa puas dengan wajah kesal Alva.
Kemudian dia menarik lengan Sarah, untuk segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Daniah. Sebelum benar-benar pergi, Mona melambaikan tangannya ke arah Alva dan Chilla.
"Sayang, Mama duluan yah, kan kamu sudah ada Alva. Alva, ingat turuti kemauan istrimu, kalo nggak nanti bayi kamu ileran," ledek Mona sekali lagi, membuat Alva semakin memicingkan matanya tajam.
Mobil Daniah melandas lebih dulu ke jalan raya, membawa wajah sumringah Mona yang menertawai putra semata wayangnya. Dia begitu puas, karena akhirnya ada yang bisa membalaskan kekesalannya selama ini, pada bocah tengil itu.
"Kakak, ayo!" ajak Chilla, menyadarkan Alva yang sedari tadi bergeming, dan terus memandangi mobil yang membawa ibunya, sedangkan Juna yang tidak mengerti sama sekali hanya senantiasa menunggu dibalik kemudi.
"Sayang, kau benar-benar ingin naik angkutan umum seperti itu? Itu tidak higienis Chilla, bagaimana kalau nanti ada virus yang menempel di tubuhmu?" Alva masih mencari cara untuk menggagalkan rencana Chilla.
__ADS_1
"Virus apa? Di kampung oma aku sering naik angkot kok, aku tidak apa-apa. Ini kemauan baby kita lho sebelum dia lahir ke dunia."
"Haish! Tapi aku tidak pernah naik mobil yang seperti itu. Lagian apa enaknya sih? Enak juga naikin aku," Alva mendesah kecil, lelaki itu terlihat frustasi sendiri. Dan hal itu tak luput dari pandangan mata Chilla.
"KAKAK!"
Ibu hamil itu mendengus kesal, dan akhirnya dia mencoba menggerakkan kursi rodanya sendiri untuk sampai ke angkutan umum, yang biasa membawa penumpang dengan jumlah berjubel itu.
"Hei, Sayang. Kau mau kemana?" Alva berteriak kencang sambil mengejar Chilla, kali ini dia benar-benar pasrah, sepertinya keinginan Chilla tidak bisa bisa dibantah.
Melihat aksi kejar-kejaran itu, Juna pun ikut turun. Dengan sigap dia mengikuti Alva hingga mereka sampai di pinggiran jalan raya. Chilla masih memasang wajah masam, sementara Alva sedikit ngos-ngosan.
"Pak, aku mau naik," pekik Chilla dan langsung disambut anggukan serta senyuman dari si supir angkot.
Mendengar itu, Alva langsung mengangkat kepalanya, netranya menungkik tajam pada sang supir angkot yang sudah berani senyum-senyum pada istrinya.
"Sayang, kau benar-benar ingin naik kendaraan seperti ini?" tanya Alva sekali lagi, seraya menunjuk mobil yang hampir terisi penuh itu.
Dengan bibir yang masih mengerucut Chilla pun mengangguk.
Alva menghela nafas panjang, yang mampu ia lakukan sekarang hanyalah mengikuti seluruh kemauan istri kecilnya. Dia membantu Chilla untuk bangkit, lalu pelan-pelan membawa ibu hamil itu masuk ke dalam angkot.
Alva hendak menyusul, dia sudah menaikkan satu kakinya, tetapi pertanyaan Juna membuatnya urung.
"Tuan, apa anda juga mau ikut naik kendaraan ini?"
__ADS_1
Alva menoleh dengan picingan tajam, sedangkan gigi depannya sudah merapat bertautan, tangannya mengepal kuat tanda geram. "Sialan! Tentu saja aku ikut, kalau terjadi sesuatu pada istriku memangnya kau mau tanggung jawab?" ketus Alva.
Glek!
Juna menelan salivanya dengan kasar, lalu mengangguk patuh.
"Baiklah, Tuan."
Alva melanjutkan kembali niatannya untuk menyusul Chilla, tapi lagi-lagi Juna membuatnya menghentikan langkah, karena lelaki itu menepuk pelan punggungnya.
"Ada apa lagi, Juna? Kau mau ku turunkan jabatan jadi supir angkot?" tanya Alva menahan geram, dia mulai tidak sabaran. Nafasnya terdengar memburu, apalagi bau-bau tidak sedap sudah mulai menguasai indera penciumannya.
"Maaf, Tuan. Tapi bagaimana dengan saya?" tanya Juna dengan polosnya.
"Ya Tuhan... Semenjak menikah entah kemana perginya kepintaranmu, wahai asisten Juna. Shitt! Ikuti mobil ini, kalau sampai kau tidak ada di saat aku membutuhkanmu, kau benar-benar akan ku jadikan supir angkot!" sumpah serapah Alva layangkan.
Hingga mengundang perhatian semua orang. Mereka kompak memandang Alva dengan beberapa pertanyaan yang bercokol di kepala.
Tetapi anehnya, ada saja salah satu diantara mereka yang merasa terkagum-kagum, hanya karena lelaki yang tengah marah-marah itu, terlihat begitu tampan dan juga sempurna.
"Sayang, cepat masuk! Mobilnya sudah mau jalan," Chilla mulai menyadarkan semua orang. Termasuk Alva sendiri, tanpa memperdulikan Juna lagi, lelaki tampan itu langsung duduk didekat sang istri, tepat di belakang sang supir angkot.
Dan perjalanan naik angkot pun dimulai...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sabar ya, Kak🙈 Kita buat Mama Mona seneng dulu hari ini.